Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 42



Sudah berakhir perjalanan wisata dengan kereta gantung itu.


Chloe serta Matthew bergegas keluar dari kereta gantung, sesaat setelah alat tumpangan itu berhenti di pos-nya.


Namun kelihatannya, Matthew masih memikirkan semua perkataan Chloe, tentang hubungan antara si miskin dan si kaya yang sulit untuk terjadi.


Sehingga, ketika mereka kembali masuk ke dalam mobil, dan bertujuan untuk pergi ke sebuah kafe untuk menikmati teh dan makanan ringan, Matthew kemudian berkata,


"Jadi menurutmu, jika aku berkata aku menyukai seseorang, tapi wanita yang aku sukai itu memiliki status sosial di bawahku, maka wanita itu tidak akan percaya?"


"Anda masih memikirkan hal itu?"


Chloe yang sedang mengemudi, lalu menoleh sebentar ke arah Matthew di sampingnya, tetapi Matthew tidak menjawab pertanyaan Chloe.


Walaupun keheranan, namun Chloe merasa kalau Matthew kelihatannya bersungguh-sungguh ingin mencari tahu tanggapan dari Chloe, hingga akhirnya Chloe berkata,


"Saya rasa kemungkinan besarnya memang demikian."


Chloe lalu terdiam sejenak.


"Akan lebih mudah, jika Anda dan wanita yang Anda sukai sama-sama masih di universitas. Karena menurut saya, pada waktu-waktu seperti itu, maka status sosial tidak terlalu dipikirkan....


... Hanya ketertarikan atas kelebihan masing-masing pribadi saja yang penting. Contohnya daddy dan mommy Anda," kata Chloe, sambil menoleh ke arah Matthew untuk sesaat.


"Tapi bisa saja wanita itu akan percaya. Asalkan Anda bisa membuktikan, bahwa Anda bersungguh-sungguh menyukainya," lanjut Chloe lagi.


"Bagaimana cara membuktikannya?" tanya Matthew, buru-buru.


"Pffftt...!" Chloe tertawa tertahan. "Maafkan saya, Sir ... Tapi saya juga tidak tahu. Saya tidak memiliki pengalaman seperti itu. Begitu juga dengan orang-orang yang saya kenal."


"Hmm ... Bagaimana kalau aku memberikan apa saja yang dia mau atau dia sukai?" tanya Matthew, terdengar serius.


"Untuk menarik perhatiannya?" Chloe balik bertanya. "Mungkin bisa. Tapi seperti yang sudah saya katakan tadi, saya tidak tahu. Jadi, mungkin sebaiknya jika Anda bertanya kepada orang lain saja."


***


Sebuah kafe terbuka yang menghadap ke sungai, menjadi pilihan bagi mereka untuk duduk bersantai, sambil menikmati pemandangan.


Pelayan kafe menyajikan secangkir teh untuk Matthew, sedangkan Chloe memesan secangkir kopi untuk dirinya sendiri.


Beberapa buah croissant atau roti sabit, juga tidak lupa disajikan oleh pelayan kafe ke atas meja, dan segera menjadi pilihan pertama bagi Chloe untuk mencicipinya.


Karena Matthew belum mengajaknya berbincang-bincang dan hanya terdiam memandang ke sungai, Chloe lalu melayangkan pandangannya berkeliling ke arah mana saja yang bisa terjangkau penglihatannya.


Di antara kursi-kursi yang tersedia di beberapa kafe berbeda yang berjejer di sana, dan hampir penuh berisi dengan pengunjung, Chloe mendapati seseorang yang familiar baginya.


David tampak sedang bersama seorang wanita.


Baik David maupun wanita yang bersamanya itu, kelihatannya sedang berbincang-bincang, juga terlihat senang, dan bahkan terlihat berinteraksi antara satu sama lain dengan cukup mesra.


Bahkan, mungkin saking menikmati keseruannya dengan wanita itu, David sampai-sampai tidak menyadari kalau Chloe dan Matthew berada di kafe yang bersebelahan dengannya.


"Apa ada yang menarik?" tanya Matthew, tiba-tiba.


"Ugh? ... Saya hanya melihat Mister David. Itu di sebelah sana!" jawab Chloe, sambil tersenyum.


Matthew lalu ikut melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Chloe. "Siapa wanita yang bersamanya?"


"Saya tidak tahu, Sir...." sahut Chloe.


"Apa kamu kecewa?" tanya Matthew, lalu menyesap sedikit tehnya, kemudian meletakkan gelasnya kembali ke atas meja. "Melihat David bersama wanita lain."


"Hmm ... Tidak. Saya justru senang, jika Mister David bisa menemukan seseorang yang cocok untuknya," jawab Chloe, kemudian menyesap kopinya sedikit.


"Kenapa begitu?" Matthew terlihat bingung.


"Menurut Mister David, dia belum menemukan seseorang yang benar-benar bisa menjadi kekasihnya. Jadi, kalau sekarang dia telah menemukannya, justru itu adalah sesuatu yang bagus."


Chloe menjawab secara garis besarnya saja, akan apa yang ada di pikirannya, tanpa mau menjelaskan lebih detail dari perkataan David kepadanya waktu itu.


"Hai, Chloe! Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini," sapa David, yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat Chloe, sambil tersenyum lebar.


"Hai, Sir!" sahut Chloe, sambil ikut tersenyum, dan buru-buru berdiri dari tempat duduknya.


"Hai, Matthew!" sapa David kepada Matthew.


"David." Matthew terdengar hanya sekadar saja menyapa David di situ.


Sementara David dan Matthew saling menyapa, Chloe melihat ke arah wanita yang sedang bergelayut manja di lengan David, dan tampak berusia masih sangat muda.


"Dia adikku," kata David, lalu menyenggol wanita yang ternyata adalah adiknya itu, sambil berkata,


"Daniella! ... Perkenalkan dirimu!"


Daniella kemudian mengulurkan tangannya ke arah Chloe. "Daniella McLean."


"Chloe Fern." Chloe ikut memperkenalkan dirinya sendiri, seraya berjabat tangan dengan Daniella.


"Hmm ... Chloe Fern." Sambil bergumam dan menyebutkan ulang nama Chloe, Daniella memandangi Chloe dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.


Dengan senyuman yang mengembang lebar di wajahnya, Daniella seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya dia kemudian berkata,


"Ternyata kamu lebih cantik daripada perkiraanku. Pantas saja kalau David hampir tidak bisa berhenti membicarakanmu."


"Ugh?" Chloe terbelalak.


"Daniella! ... Kamu hanya membuatku malu!" Di saat bersamaan, David membantahnya sambil mencubit pipi Daniella.


"Jangan bicara yang tidak-tidak! ... Perkenalkan dirimu kepada sepupu kita!" lanjut David.


Walaupun dengan wajah cemberut dan sambil mengusap-usap pipinya, Daniella masih mengulurkan sebelah tangannya ke arah Matthew. "Daniella McLean."


"Matthew." Segera setelah menyebutkan nama depannya, Matthew lalu melepaskan tangannya dari Daniella.


Daniella terlihat bingung karena respon dari Matthew.


Walaupun demikian, Daniella tampak tidak terlalu mau mempedulikannya dan segera mengalihkan pandangannya dari Matthew, dan menatap Chloe.


"Apa kamu berkencan dengannya—Matthew? Kamu hanya akan membuat kakakku patah—"


Daniella tidak sempat menyelesaikan perkataannya, karena David segera menyelanya dengan berkata,


"Miss Fern bekerja menjadi asisten pribadi bagi Matthew. Wajar saja jika dia harus menemani Atasannya ke mana-mana."


Daniella lalu tampak manggut-manggut seolah-olah mengerti, setelah mendengar penjelasan dari David, lalu lanjut berkata,


"Apa di akhir pekan seperti ini Miss Fern masih harus bekerja?"


"Daniella...!" David menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan membuat Miss Fern jadi merasa tidak nyaman!"


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Matthew, tiba-tiba.


"Ini tempat umum. Kami bisa pergi ke mana saja kami mau," sahut David, datar.


"Iya, aku tahu," kata Matthew, yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya. "Tapi untuk apa kalian mendatangi meja ini?"


"Aku hanya ingin menyapa Chloe, sekaligus memperkenalkannya pada adikku," jawab David, masih terlihat tenang, dan bahkan masih tersenyum saat melihat ke arah Chloe.


"Oh! Okay! ... Apa masih ada lagi?" tanya Matthew, sambil mengangkat kedua alisnya, dan menatap David lekat-lekat.


"Kamu sama sekali tidak bisa berpura-pura menyukai keberadaanku," kata David, lalu tersenyum sinis.


"Hmm...." Matthew bergumam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lalu kamu mau aku mempersilahkan kalian duduk di sini?"


"Iya! ... Apa salahnya?" sahut David, buru-buru.


"Silahkan!" Entah apa yang ada di pikiran Matthew kali ini, hingga dia memberi kesempatan kepada David dan Daniella untuk duduk di satu meja dengannya.


Chloe yang sedari tadi memandangi David serta Matthew yang bicara bersahut-sahutan, masih tetap terdiam, saat melihat David dan Daniella mengambil tempat duduk di sisi kiri dan kanannya.


Tanpa sedikitpun terlihat ragu-ragu, Daniella segera mengajak Chloe berbincang-bincang dengannya.


Dan setelah beberapa waktu berlalu yang dihabiskan mereka di situ, menurut Chloe, kepribadian Daniella ternyata kurang lebih sama seperti David.


Daniella adalah seseorang yang komunikatif, ramah, dan suka bersenda gurau, sehingga Chloe bisa dengan mudahnya menjadi akrab dengannya.


Dari semua yang dikatakan oleh Daniella kepadanya, Chloe pun jadi tahu, kalau usia David dan Daniella terpaut kurang lebih 10 tahun, dan Daniella sekarang ini masih berkuliah untuk pascasarjananya.


Daniella tampak tersentak, ketika dia mengetahui bahwa Chloe masih lebih tua hampir 5 tahun darinya.


Daniella kemudian buru-buru meminta maaf kepada Chloe, karena dia yang bicara dengan bahasa informal kepada Chloe. "Maafkan aku...."


"Tidak apa-apa ... Anda bisa bicara seperti biasa saja. Saya tidak keberatan," sahut Chloe, sambil tersenyum.


"Chloe!" Matthew yang sedari tadi hanya terdiam, tiba-tiba mencoba menarik perhatian Chloe, yang duduk berseberangan dengannya.


"Ada apa, Sir?" tanya Chloe.


"Kita harus pergi sekarang!" kata Matthew yang terdengar mantap, sambil menatap Chloe, tanpa menoleh ke kiri dan kanannya lagi.


"Baik, Sir!" sahut Chloe, lalu segera berdiri dari tempat duduknya, dan berpamitan kepada David dan Daniella.


"Senang bisa bertemu dan menghabiskan waktu dengan Anda. Tapi saya dan Mister Matthew harus pergi. Kita bisa berjumpa lagi di lain waktu. Permisi!"


"Bye, Chloe! ... See you soon!" kata David.


"Aku juga senang bisa bertemu langsung denganmu," sahut Daniella. "Bye, Chloe! ... See you next time!"


Hingga Chloe beserta Matthew berlalu pergi dari sana, tidak terdengar suara Matthew ataupun Daniella dan David yang saling berpamitan.


Namun Chloe berpura-pura tidak menyadari sikap acuh tak acuh dari ketiga orang itu, dan hanya terdiam sambil membantu Matthew berjalan bersamanya, menuju ke mobil yang terparkir.


"Apa kamu selalu seperti itu?" tanya Matthew tiba-tiba, ketika Chloe baru saja mengemudikan mobil, keluar dari pelataran parkir.


"Ugh? ... Apa maksud Anda, Sir?" tanya Chloe, yang tidak mengerti arah pembicaraan Matthew.


"Dia sangat muda, tapi caranya berbicara padamu hanya seperti sedang bicara dengan teman sebayanya saja. Lalu kamu tidak marah kepadanya....


... Apa kamu memang menganggap itu biasa saja? Atau karena kamu terlalu senang, saat mengetahui bahwa dia hanya adik dari David, dan bukan kekasihnya?" ujar Matthew.


Chloe akhirnya mengerti, kalau Matthew sedang membicarakan tentang Daniella.


Sambil tersenyum, Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya. "Miss Daniella tidak sengaja melakukannya, dia pun sudah meminta maaf."


Chloe kemudian lanjut berkata,


"Lagi pula menurut saya, cara berbicara yang formal ataupun informal, tidaklah jadi masalah. Asalkan sama-sama bisa merasa nyaman saat berbincang-bincang—" Chloe lalu menghentikan perkataannya.


"... Oh, iya! ... Dia juga tidak berkata-kata kasar," lanjut Chloe, yang berniat menyindir Matthew, sambil melirik Matthew dengan ujung matanya.


Matthew tampak mendengus kesal, tetapi tidak berkata apa-apa lagi untuk menanggapi perkataan Chloe.


"Anda mau pergi ke mana sekarang?" tanya Chloe, setelah beberapa saat berlalu dan mereka hanya terdiam.


"Apa ada bioskop di dekat sini?" Matthew balik bertanya.


"Ada," jawab Chloe, sambil melirik ke arah Matthew untuk sesaat. "Anda mau menonton bioskop?"


"Iya," jawab Matthew.