
Perhatian dari Matteo dan David yang lebih tertuju kepada Harold, membuat percakapan di situ terdengar seperti sedang membahas tentang orang ketiga, dan Chloe seakan-akan hanyalah sebuah bayangan yang tidak terlihat di antara mereka.
"Seharusnya kalian sudah bisa menarik kesimpulan, dari apa yang aku bicarakan dengannya tadi...." kata Harold, sembari memandangi David dan Matteo bergantian.
Seolah-olah mereka sedang berbincang-bincang lewat telepati, David, Matteo dan Harold, lalu saling bertatap-tatapan.
Dan secara tiba-tiba saja, Matteo segera berdiri dari tempat duduknya, sembari berkata,
"Harold! ... Terima kasih! ... Tapi aku harus pergi sekarang. Ada yang harus aku lakukan."
Hampir di saat bersamaan, David juga melakukan hal yang sama.
David berpamitan kepada Harold dan Chloe, lalu segera pergi dari paviliun, sehingga hanya tersisa Chloe serta Harold yang tertinggal di sana.
Walaupun demikian, Chloe tidak terlalu memikirkan, tentang apa yang dipikirkan dan yang akan dilakukan oleh Matteo dan David.
Perhatian Chloe justru tertuju kepada Harold.
Karena seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, Harold tampak melanjutkan makan siangnya yang sempat terhenti, karena perdebatan dan percakapan tadi.
"Harold! ... Apa kamu masih marah?" tanya Chloe, berhati-hati.
Harold tidak segera menanggapi pertanyaan Chloe, dan justru tampak berkonsentrasi pada capit kepiting yang sedang dia keluarkan isi dagingnya.
"Maafkan aku...." ucap Chloe, lirih.
Harold lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian memasukkan ke dalam piring makan Chloe, sedikit daging kepiting yang baru saja berhasil dia keluarkan dari cangkangnya.
"Kalau aku masih marah, tidak mungkin aku masih berada di sini," ujar Harold, sembari menatap Chloe lekat-lekat, lalu lanjut berkata,
"Chloe...! Sejujurnya aku menyayangimu, dan menginginkan segala hal yang terbaik yang bisa terjadi kepadamu. Tapi aku membenci caramu berpikir tentang 'status sosial', karena itu membuatku sangat tersinggung....
...Tolong berhentilah berprasangka buruk! Jangan hanya karena kesalahan dari satu orang, lalu kamu menjadikannya sebagai alasan dan patokan, untuk menyamaratakan penilaianmu terhadap orang lain....
... Aku tahu bahwa sulit untuk mengubah cara berpikir yang sudah terlalu lama, hingga menjadi sebuah kebiasaan bahkan keyakinan. Tapi demi persahabatan kita, aku berharap agar kamu mau berusaha untuk berubah."
Chloe manggut-manggut mengerti.
"Maafkan aku, jika aku telah membuatmu merasa tersinggung. Dan maafkan aku, yang telah menduga yang tidak-tidak tentangmu tadi," kata Chloe, bersungguh-sungguh.
"Harold! ... Aku bukan ingin membela diri. Tapi aku rasa, kamu juga telah salah mengartikan tentang apa yang aku pikirkan. Karena aku hanya kesulitan untuk percaya, bahwa orang kalangan atas tidak akan berniat buruk, ...
...saat mereka berhubungan cinta dengan orang kalangan bawah. Dan bukan berarti, aku tidak bisa percaya bahwa orang-orang dengan status sosial tinggi bisa menjadi teman yang baik....
...Kamu pasti bisa membedakan antara hubungan 'kekasih' ataupun 'teman', bukan?!...
... Sehingga seharusnya kamu mengerti, kalau sebagai 'teman', aku tidak akan berprasangka buruk kepada siapapun itu. Baik dia berasal kalangan atas, maupun kalangan bawah."
Seteguk air dari dalam gelasnya, ditelan Chloe untuk membasahkan tenggorokannya yang terasa cekat dan kering, sebelum dia kemudian lanjut berkata,
"Sejujurnya, sulit bagiku untuk mengubah cara berpikirku yang seperti itu. Jadi, aku berharap agar kamu mau mengerti, karena tentu saja itu bukan tanpa alasan...
... Lagi-lagi aku telah mengalami kejadian serupa, seperti saat aku berkencan dengan Bernard. Sehingga membuatku tetap yakin, bahwa apa yang aku pikirkan itu memang benar."
Harold yang mendengarkan perkataan Chloe, dengan alisnya yang mengerut dalam-dalam, tampak seperti orang yang sedang kebingungan dan penasaran.
Hingga untuk beberapa saat kemudian, Harold lalu terbelalak. "Matthew! ... Apa itu Matthew?"
"Iya ... Aku jatuh cinta kepada Matthew. Dia pun sudah tahu kalau aku mencintainya, dan berkata bahwa dia juga mencintaiku," sahut Chloe, jujur.
Sejujurnya, saat ini hati Chloe sangat sakit, sampai merasa kesulitan untuk berbicara.
Namun, Chloe merasa bahwa sudah kepalang tanggung dan terlanjur basah.
Apalagi menurut Chloe, sebagai sahabatnya, Harold adalah seseorang yang bisa dia percaya, untuk mengeluarkan beban yang ada di dalam pikirannya.
Sehingga, Chloe membesarkan hati untuk mengutarakan pendapatnya kepada Harold, dengan lanjut berkata,
"Jika kami hanya berdua saja, maka dia akan bertingkah seolah-olah aku adalah kekasihnya, dan seolah-olah dia benar-benar menginginkanku....
...Tapi kamu lihat sendiri! ... Di hadapan orang lain, dia justru bertingkah mesra dengan wanita lain. Dan bagian terburuknya, dia bahkan tidak segan-segan untuk berhubungan dengan wanita itu di depanku....
... Apakah aku hanyalah sesuatu yang tidak berharga, dan bisa menjadi salah satu dari mainan yang mudah dimiliki orang berharta dan bertahta seperti dirinya?"
Harold terdiam untuk beberapa saat.
Seolah-olah dia benar-benar telah kehilangan selera makannya, Harold membuka sarung tangan yang dipakainya, lalu memasukkannya ke dalam piringnya yang kemudian digeser jauh ke bagian tengah meja.
"Tapi, Chloe...! Tentu tidak semua orang akan seperti itu!" ujar Harold, tampak berusaha meyakinkan Chloe.
"Bernard, ... lalu Matthew." Dengan terburu-buru, Chloe menyanggah perkataan Harold, lalu lanjut berkata,
"Siapa lagi yang selanjutnya? ... David? ... Matteo? Butuh berapa banyak orang yang harus aku izinkan untuk menyakitiku, hanya untuk membuktikan bahwa cara berpikirku itu salah?"
"Maafkan aku...." Harold tampak seolah-olah telah kehabisan kata-kata, sehingga dia hanya bisa meminta maaf lalu terdiam, dan bahkan tampak menundukkan kepalanya.
Setelah berulang kali tampak menghela napas panjang, dan mengembuskannya dengan kasar, Harold kemudian berkata,
"Apa kamu bisa melupakan Matthew?"
"Pertanyaan macam apa itu?" Chloe balik bertanya, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Chloe! ... Bagaimana jika aku melamarmu? Apa kamu mau menikah denganku?" Pertanyaan Harold yang tiba-tiba saja itu, hanya membuat Chloe tertawa karenanya.
"Pffftt...! Ada-ada saja...!" sahut Chloe, lalu menghela napas panjang yang terasa berat.
Namun, kelihatannya Harold memang serius menanyakan tentang pernikahan dengan Chloe itu. Karena Harold tampak tidak mengubah ekspresi di wajahnya, dan tetap memandangi Chloe lekat-lekat.
"Hey! ... Kamu hanya bercanda, kan?" tanya Chloe, memastikan.
"Tidak. Aku tidak sedang bercanda," jawab Harold, tetap terlihat sama.
"Apa kamu tidak pernah dengar, kalau cinta bisa memudar seiring berjalannya waktu? Dan justru sebaliknya. Semakin lama bersahabat, justru hubungan persahabatan itu akan jadi semakin erat."
Terlihat tanpa beban, Harold tampak ingin meyakinkan Chloe.
"Kamu menyayangiku sebagai sahabatmu, kan?" tanya Harold, sembari mengangkat kedua alisnya.
Tanpa perlu berlama-lama untuk berpikir, Chloe menganggukkan kepalanya.
...Kamu juga sudah dengar dan lihat sendiri, kalau mommy-ku justru berharap agar kamu mau menjadi istriku. Jadi tidak akan ada lagi alasan, bahwa tidak disetujui oleh keluarga....
...Aku juga tidak tertarik untuk mencari cinta dari wanita lain, yang hanya 'mungkin' baik dan cocok untukku, karena keberadaanmu sudah lebih dari cukup....
...Dan aku rasa, persahabatan kita jauh lebih menarik dan menyenangkan daripada berkencan. Sama-sama untung! ... Atau, kamu lebih suka menunggu sampai dinikahi orang yang kamu cintai?...
... Contohnya cintamu kepada Matthew, yang digantung tanpa ada kepastian, dan justru hanya menyakitimu saja. Apa kamu lebih suka menjalin hubungan yang seperti itu?"
Setelah Chloe mendengarkan perkataan Harold yang panjang lebar, menurutnya memang cukup meyakinkan, dan layak untuk dipertimbangkan.
"Pikirkan saja dulu! ... Jika kamu setuju, maka kita bisa segera menemui orang tuaku. Dan nantinya terserah kamu, kapan kamu mau melangsungkan pernikahan, dan di mana saja."
Bertepatan dengan Harold yang menyelesaikan perkataannya, di saat itu juga terdengar suara dari seseorang yang berkata,
"Kalian berencana untuk menikah?"
Entah sejak kapan, Matthew atau Matteo telah berdiri di dekat Chloe dan Harold, tanpa mereka sadari.
Namun, jika menilai dari pertanyaannya, maka Matthew atau Matteo itu sudah mendapatkan waktu lebih dari cukup, untuk mendengarkan percakapan antara Harold dengan Chloe.
"Iya ... Aku melamar Chloe, agar dia mau menikah denganku," jawab Harold, tanpa sedikitpun terlihat ragu-ragu.
"Silahkan duduk!" lanjut Harold, sembari menggeserkan kursi. "Kamu siapa? Matthew atau Matteo?"
"Matteo," jawab laki-laki yang mengaku-ngaku sebagai Matteo itu, lalu mengambil tempat duduk yang disediakan oleh Harold, kemudian lanjut berkata,
"Kelihatannya, kalian sudah selesai makan siang. Aku datang terlambat, karena ada urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Ugh?" Serentak, Chloe serta Harold, kebingungan mendengar pernyataan Matteo.
"Apa ada yang salah?" tanya Matteo, tampak kebingungan.
"Bukannya tadi Anda juga ikut makan siang dengan kami?" tanya Chloe, dengan alis mengerut dalam. "Lalu, siapa yang tadi berada di sini bersama kami? Mister Matthew?"
"Mungkin saja! ... Karena aku benar-benar baru bisa ke sini sekarang," jawab Matteo, terdengar tanpa beban.
Sembari memikirkan ulang tentang sikap 'Matteo' yang ikut makan siang dengan mereka tadi, Chloe akhirnya tersadar, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan rasa tidak percaya.
"Mister Matthew telah menipu kita!" celetuk Chloe, terpaksa mengakuinya.
"Itu tidak penting!" ujar Matteo, lalu menatap Chloe serta Harold bergantian. "Aku ingin tahu apa yang kalian berdua pikirkan, hingga bisa membicarakan tentang pernikahan."
"Hmm ... Aku ingin menikahinya. Tidak ada salahnya, bukan?" kata Harold, terdengar tanpa beban. "Aku tidak mau, jika sahabatku hanya jadi lelucon bagi kalian."
"Contohnya sekarang ini. Matthew ataupun Matteo, aku tidak mau tahu lagi siapa satu di antara kalian. Yang pastinya, kalian hanya bertingkah sesuka hati kalian saja....
... Apa kalian pikir itu hal yang lucu? Bagaimana jika orang lain melakukan hal yang sama kepada kalian? Apakah kalian bisa tertawa?" Sembari mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya, Harold tampak geram.
"Apa maksudmu?" Matteo pun tampak ingin menantang Harold. "Aku tidak melakukan apa-apa! Lalu, kenapa kamu justru menyalahkanku?"
"Hah?! ... Kamu dan saudara kembarmu, memanfaatkan kemiripan kalian untuk mempermainkan orang lain. Apa yang kalian lakukan itu tidak salah?"
Harold tampak semakin geram, hingga suaranya terdengar bergetar, seolah-olah dia sedang berusaha keras untuk mengendalikan kemarahannya.
Sementara itu, Matteo mengeraskan rahangnya, dan tampaknya tetap ingin membela diri. "Aku tidak pernah berniat untuk mempermainkan siapa-siapa, terlebih lagi Chloe. Karena aku mencintainya."
"Pffftt...! You've got to be kidding!" Harold tertawa sinis. "Bukan hanya rupa kalian saja yang mirip. Sifat dan isi kepala kalian pun ternyata sama saja."
Matteo lalu berdiri dari tempat duduknya, dan seolah-olah ingin menerjang Harold di situ.
Namun, Chloe yang sedari tadi ingin menyela perdebatan antara dua laki-laki itu, lalu memanfaatkan kesempatan saat ini untuk menghentikan ketegangan yang terjadi di situ.
Chloe berdiri di antara Matteo dan Harold, lalu memandangi mereka berdua berganti-gantian.
"Please, Harold! ... Stop it!" kata Chloe, dengan lirih. "Mister Matteo...! Maafkan kami ... Tolong jangan sampai bertengkar, karena kesalahpahaman ini!"
"Ada apa?" Suara lantang, terdengar dari bagian belakang Matteo.
Sehingga, Chloe lalu memiringkan sedikit kepalanya untuk menghindari tubuh Matteo yang menghalanginya, agar bisa melihat siapa yang berbicara.
"Mister Matthew?" tanya Chloe, kebingungan.
"Aku Matteo. Dia Matthew! ... Kamu tidak bisa membedakan kami berdua?" Sambil berujar, seseorang yang mungkin saja adalah Matthew yang asli, lalu berjalan mendekat.
"B*rengsek!" Seolah-olah memiliki pemikiran yang sama, secara serentak Harold dan Matteo, mengeluarkan kata umpatan.
"Matthew! Hentikan kegilaanmu!" ujar Matteo, dengan suara yang meninggi. "Kamu hanya membuatku terlihat buruk!"
"Hey! ... Kamu yang berpura-pura menjadi aku," sahut Matthew, sembari mengerutkan alisnya dalam-dalam.
"Apa kalian tidak tahu cara berkata jujur?" tanya Harold, yang tampak sudah berdiri dari tempat duduknya, dan seolah-olah ingin menantang sepasang lelaki kembar di hadapannya.
Chloe yang masih berdiri di antara ketiga laki-laki itu, kemudian teringat sesuatu, dan segera memeriksa wajah dari Matthew serta Matteo dengan saksama, secara bergantian.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya salah satu dari si kembar, yang terlihat bingung dengan gerak-gerik Chloe.
Chloe tidak segera menanggapinya, dan justru menghela napas panjang, setelah menemukan apa yang dia cari, yaitu tahi lalat di sudut mata Matthew.
"Mister Matthew! ... Anda telah menipu kami semua, dengan berpura-pura menjadi Mister Matteo," kata Chloe, sambil mendengus kasar.
"Kamu bisa membedakan mereka?" tanya Harold, tampak terheran-heran.
"Iya," jawab Chloe, yakin sembari mengingat-ingat pakaian yang dikenakan oleh siapapun yang mengaku sebagai Matteo, hingga ikut makan siang dengan mereka tadi.
"Dia adalah Mister Matthew!" Chloe menatap Matthew lekat-lekat. "Anda yang ikut makan siang dengan kami tadi, benar bukan?!"
Matthew tersenyum lebar, lalu berkata,
"Iya. Aku ingin melihat dan mendengarkan semua yang ingin aku ketahui. Terima kasih kepada Harold, sehingga aku bisa mendapatkan semua informasi yang aku cari."
Harold serta Chloe lalu saling memandang, dengan tatapan bingung dan penasaran akan apa maksud Matthew, tentang informasi yang dia dapatkan.
"Terima kasih juga untukmu, Matteo! ... Karena kamu yang sibuk dengan urusanmu, aku bisa mendapatkan cukup waktu untuk berada di sini," lanjut Matthew, sembari tetap tersenyum lebar.
"B*rengsek!" ujar Matteo, yang tampaknya sangat kesal. "Kamu tahu kalau aku mencintai Chloe. Tapi kamu membiarkan Harold melamarnya lebih dulu?"
"Ugh?" Matthew yang memandangi Matteo, tampak terbelalak, lalu mengalihkan titik perhatiannya, menatap Harold lekat-lekat, sembari mengeraskan rahangnya.