Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 17



Chloe yang berniat untuk meminta izin dari Matthew, kemudian memasuki kamar Matthew dengan disusul oleh Matteo.


"Sir! ... Saya akan pergi bersama Mister Matteo. Tidak jauh ke mana-mana, kami hanya akan melihat rumah Mister Matteo saja," kata Chloe.


Sembari dia memberitahu Matthew, Chloe memperhatikan penampilan Atasannya itu, yang tampak sangat mirip dengan Matteo.


Itu akibat dari Chloe, yang tadi memilihkan kaus longgar untuk Matthew, meskipun untuk celana panjangnya, Chloe masih memberikan celana berbahan kain drill.


Apalagi di saat ini, Matthew tidak menata rambutnya yang berpotongan sama seperti Matteo, dan tampak hanya disisir biasa saja.


Sehingga membuat Chloe, hampir tidak bisa lagi untuk membedakan antara Matthew dengan Matteo.


"Untuk apa kamu ikut dengannya?" tanya Matthew, membuyarkan lamunan Chloe.


"Ugh?" Chloe tersentak.


"Ayolah, Matthew! ... Kami tidak akan lama. Aku hanya ingin mengajaknya melihat-lihat di rumahku," kata Matteo, menimpali.


Matthew tampak tidak setuju, dan bahkan hampir terlihat kesal, karena dia yang akan ditinggal sendiri di kamarnya, hingga Chloe sempat berniat hendak membatalkan rencananya untuk ikut dengan Matteo.


Namun, sebelum Chloe mengutarakan kalau dia telah berubah pikiran, Matthew sudah lebih dulu berkata,


"Pergilah! ... Tapi jangan terlalu lama."


"Ugh? ... Okay!" sahut Chloe, keheranan. "Kami pergi dulu! Anda bisa menghubungi ponsel saya, jika Anda butuh sesuatu. Dan saya akan segera kembali ke sini."


"Iya," jawab Matthew singkat.


Matteo serta Chloe kemudian segera berlalu pergi, dan cukup dengan berjalan kaki, mereka mendatangi rumah Matteo yang tepat berada di sebelah rumah Matthew itu.


Di depan rumah dengan gaya arsitektur yang sama seperti bangunan rumah Matthew, terlihat ada beberapa truk pengangkut barang yang terparkir di sana.


Begitu juga dengan beberapa orang yang terlihat sibuk berjalan masuk dan keluar, sembari membawa barang-barang ke dalam rumah Matteo itu.


Ketika Chloe mengikuti langkah Matteo yang berjalan masuk ke dalam rumah, baik penataan perabotan maupun pembagian ruangan, tampak kurang lebih sama saja dengan yang ada di rumah Matthew.


Sehingga Chloe cukup penasaran, bagian mana dari rumah itu yang direnovasi.


Akan tetapi, kelihatannya walaupun Chloe tidak mengutarakan pertanyaannya, Matteo sudah menyadari hal itu.


"Ayo ikut denganku ke sebelah sini!" ajak Matteo, mengarah ke sebuah ruangan di lantai dasar, yang jika disamakan dengan rumah Matthew, maka itu adalah ruang kerja.


Setelah melangkah masuk ke dalam ruangan yang dimaksud oleh Matteo, ukuran ruang itu terlihat dua kali lebih besar dari ruang kerja Matthew.


"Di sebelah sana—" Matteo menunjuk ke salah satu arah.


"... awalnya ada dinding pembatas. Tapi aku membongkarnya, agar ruangan ini bisa jadi lebih luas," lanjut Matteo.


Setelah beberapa saat memperhatikan ruangan itu, Chloe akhirnya menyadari, kalau di seluruh bagian dinding, langit-langit, bahkan sampai ke pintu, tampak dilapisi ulang dengan material soundproof.


"Apa saya boleh tahu? Kenapa Anda membutuhkan tambahan peredam suara?" tanya Chloe, penasaran.


Selain itu, di ruangan tersebut, Chloe juga tidak melihat satu pun jendela di sana, dan justru terdapat sekat berdinding kaca tebal di salah satu sudut ruangan, yang membentuk satu ruangan baru di dalam ruangan itu.


"Studio," kata Matteo, sambil tersenyum. "Tempat ini akan menjadi studio. Aku harus membuatnya jadi kedap suara, agar kebisingan dari luar tidak mengganggu di sini. Dan begitu juga sebaliknya."


"Aku bekerja sebagai komposer. Di ruangan ini, nantinya akan diisi dengan beberapa perlengkapan bermusik, dan begitu juga dengan peralatan untuk merekam suaranya."


Matteo terlihat bersemangat, ketika menjelaskan apa fungsi dari ruangan itu kepada Chloe.


"Karena itulah, sehingga Matthew berkata agar aku jangan membuat keributan. Dia tidak mau jika aku bermain musik di rumahnya," lanjut Matteo.


"Jadi ruangan ini yang kata Anda perlu direnovasi?" Chloe sekadar bertanya, walaupun dia sudah tahu.


"Iya ... Sekarang ini pengerjaannya sudah 90 persen. Tinggal semua jalur kelistrikan yang masih perlu diatur, dan begitu juga barang-barang milikku, yang akan ditata di dalam sini."


Sama seperti Chloe, Matteo juga tampak sekadar memberitahu, meskipun sudah terlihat jelas di sana, kabel-kabel jalur listrik yang tampak masih berantakan, sehingga barang-barang Matteo masih diletakkan di luar.


"Katamu, kamu suka musik," celetuk Matteo, lalu membawa Chloe berjalan keluar dari ruangan itu.


Matteo membawa Chloe ke bagian tengah rumah, di mana terlihat ada sebuah piano yang terpajang di sana.


"Genre musik seperti apa yang kamu suka?"


Sembari bertanya, Matteo menggeser bangku yang ada di dekat piano itu, lalu membuka penutup tuts piano dan menekan tuts-tutsnya perlahan, hingga mengeluarkan bunyinya.


"Hmm ... Saya rasa tidak ada yang spesifik. Saya bisa menikmati semua aliran musik," sahut Chloe, yang tetap berdiri di dekat piano.


"Sini! ... Duduklah di sini!" ajak Matteo, agar Chloe duduk di sampingnya, di satu bangku yang berhadapan dengan piano itu.


Kelihatannya, Matteo akan memainkan pianonya, karena jari-jari tangannya tampak bersiap-siap di atas tuts, dan hanya menunggu sampai Chloe ikut duduk bersamanya.


"Kamu bisa bermain piano?" tanya Matteo, yang segera dijawab oleh Chloe, dengan menggelengkan kepalanya.


Chloe menganggukkan kepalanya. "Iya."


Matteo yang menoleh ke samping, agar bisa saling melihat dengan Chloe, lalu tersenyum lebar, kemudian segera menekan tuts-tuts dari piano.


Jari-jari di kedua tangan Matteo, terlihat seperti sedang menari di atas tuts piano, yang mengeluarkan bunyi nada yang merangsang indra pendengaran Chloe.


Setelah beberapa saat Chloe mendengar permainan piano dari Matteo, Chloe lalu menyadari, bahwa Matteo sedang memainkan salah satu lagu klasik, yang familiar di telinga Chloe.


Matteo hanya mengubah nada-nadanya sedikit, sehingga Chloe tidak bisa langsung tahu lagu apa itu.


Walaupun Matteo mengubah nadanya, namun lagu itu justru jadi semakin menarik untuk didengar.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Matteo, setelah satu lagu itu berakhir dimainkannya.


"Bagus ... Saya menyukainya," sahut Chloe bersemangat, sambil tersenyum.


"Kamu mau bernyanyi?" tanya Matteo, sembari menatap Chloe dengan tatapannya yang teduh.


"Hmm ... Suara saya hanya akan mengganggu pendengaran Anda saja," kata Chloe, lalu tertawa kecil.


"Coba saja dulu! ... Aku ingin mendengarnya." Matteo kemudian memainkan intro sebuah lagu, yang cukup familiar bagi Chloe. "Kamu pasti tahu lagu ini. Kita bisa menyanyikannya berbalas-balasan."


"Hmm ... Okay!" sahut Chloe.


Ternyata, Matteo bukan hanya pintar bermain piano, suara laki-laki itu juga indah, dan tanpa ada sedikit pun bagian dari nyanyiannya yang terdengar sumbang.


Chloe benar-benar terpana dibuatnya, sehingga dia hampir tidak bisa berhenti menatap Matteo lekat-lekat, sambil tetap tersenyum.


"Kamu hanya membuatku malu." Matteo tersenyum, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Chloe tertawa kecil. "Suara Anda bagus. Selain menjadi komposer, apa Anda juga jadi penyanyi?"


"Tidak ... Aku hanya akan menyanyi di depan orang-orang tertentu saja," sahut Matteo.


"Sangat disayangkan ... Karena Anda bisa menjadi penyanyi dari lagu yang Anda gubah," kata Chloe, spontan.


"Terima kasih atas pujiannya!" kata Matteo, lalu mengambil sebelah tangan Chloe, dan mengarahkannya untuk menekan tuts piano. "Kamu tekan seperti ini!"


Chloe menuruti arahan Matteo, dan di saat itu juga Matteo memainkan tuts piano di bagian lain, hingga menimbulkan nada-nada yang cocok.


"Kalau kamu mau belajar alat musik, aku bisa mengajarkanmu," kata Matteo. "Kamu pasti sudah tahu, kalau musik bisa menjadi penghilang stres. Apalagi kalau kamu penat dengan pekerjaan kantoran."


"Waktu kami masih anak-anak, Matthew dulunya suka bermain gitar. Dia juga suka bernyanyi bersamaku....


... Tapi seiring dengan waktu, dan kami beranjak dewasa, Grandpa memberikannya banyak pelajaran tambahan, agar dia bisa menjadi seorang pebisnis yang handal....


... Sehingga waktunya banyak tersita, untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, bagaimana menjalankan perusahaan....


... Matthew akhirnya berhenti bermain musik. Aku rasa, dia bahkan tidak pernah bernyanyi lagi," kata Matteo.


"Apa selama ini Anda tinggal bersama Mister Matthew?" tanya Chloe.


"Kami tinggal serumah dengan Grandpa. Tapi hanya sampai kami menyelesaikan high school. Ketika kami berkuliah, kami mengambil jurusan yang berbeda....


... Dan saat itu juga, kami lalu tinggal di kamar apartemen yang berbeda pula, walaupun masih berada dalam satu gedung yang sama," jawab Matteo.


"Setelah kami selesai berkuliah, Matthew kembali ke rumah Grandpa. Sedangkan aku, memilih untuk tinggal sendiri, dan meneruskan kesukaanku bermusik," lanjut Matteo.


Chloe yang tertawa kecil karena sesuatu yang melintas di kepalanya, tampaknya menarik perhatian dari Matteo, hingga dia menatap Chloe lekat-lekat.


"Maafkan saya ... Saya tadi sempat membayangkan bagaimana situasinya, saat Anda dan Mister Matthew bersekolah di satu sekolah yang sama."


Chloe menjelaskan apa yang ada di pikirannya, walaupun Matteo tidak bertanya, dan kemudian lanjut berkata,


"Jika gaya berpakaian dan tatanan rambut Anda dibuat sama seperti Mister Matthew, maka orang-orang di sekitar pasti akan sangat kesulitan untuk membedakan kalian."


"Hmm ... Memang benar katamu itu," sahut Matteo.


"Waktu kami di high school, kekasih Matthew bahkan pernah salah mengira kalau aku adalah Matthew. Kekasihnya itu, lalu secara tiba-tiba saja menciumku....


... Sampai-sampai, aku bertengkar hebat dengan Matthew, yang mengira kalau aku sengaja berpura-pura menjadi dirinya," lanjut Matteo, sambil tersenyum.


Chloe tertawa.


"Tapi apa mungkin, kalau Anda memang sengaja membiarkan kekasih Mister Matthew mencium Anda?" tanya Chloe, mengejek Matteo.


"Hmm ... Aku rasa tidak apa-apa kalau aku mengakuinya sekarang. Sejujurnya, waktu itu aku memang tertarik kepada kekasih Matthew itu....


... Gadis itu cantik. Pembawaannya enerjik dan ceria. Dia bisa dikatakan sebagai idola dari sebagian besar anak laki-laki di sekolah kami," jawab Matteo, sambil tersenyum lebar.


"Saya sudah menduganya," sahut Chloe, lalu tertawa lepas, hingga Matteo juga ikut tertawa lepas bersamanya.