
Pertemuan Matthew dengan beberapa orang utusan dari pemerintah kota, tampak berjalan lancar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada Matthew sebelum pertemuannya itu.
Matthew yang notabene adalah seorang CEO yang berusia cukup muda, benar-benar bisa bekerja dengan profesional, hingga orang-orang yang bertemu dengannya itu yang rata-rata berusia jauh lebih tua darinya, terlihat segan kepada Matthew.
Walaupun pekerjaan Matthew berjalan lancar, namun masih ada yang mengganggu pikiran Chloe, hingga Chloe tidak bisa berkonsentrasi dengan baik dalam melakukan tugasnya sendiri.
Percakapan antara Chloe dan Maddison tadi, terngiang-ngiang di telinganya, dan membuat Chloe mungkin akan mati penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Chloe kebingungan dan sedikit merasa cemas, kalau-kalau dia telah melakukan kesalahan.
Karena dari suaranya, kedengarannya Maddison seperti merasa kecewa kepada Chloe.
Tetapi Maddison masih berusaha keras untuk menutup-nutupi rasa kecewanya, hingga Maddison seolah-olah kesulitan untuk berbicara dengan Chloe.
Dan sebagai penutup perbincangannya dengan Chloe di ponsel, Maddison pun memastikan, kalau mereka akan segera kembali ke negara ini.
Iya, mereka.
Bukan hanya Maddison dan Nathan.
Tidak ketinggalan Jackson McLean, Grandpa dari Matthew yang akan ikut berkunjung, setelah beberapa puluh tahun dia tidak pernah menginjakkan kakinya di negara ini.
Mungkin karena sesuatu yang menjadi bahan perbincangan antara Jackson dan Matthew tadi lah, yang membuat adanya keputusan yang tiba-tiba seperti itu.
Dan menurut Chloe, sudah pasti bahwa bukan sesuatu yang main-main yang bisa menjadi alasan dari pemilik dan pendiri McLean grup itu, hingga dia mau kembali ke negara ini secara mendadak.
"Chloe...!"
"Miss Fern!"
Chloe yang tenggelam dalam pikirannya sendiri, tersentak mendengar suara Matthew yang mencoba menarik perhatiannya dengan memanggil namanya berkali-kali.
"Ugh? ... Iya, Sir!" sahut Chloe, buru-buru.
Matthew tampak mengerutkan alisnya dalam-dalam, kemudian mendekat ke salah satu sisi wajah Chloe, dan berbisik-bisik dengan berkata,
"Apa yang sedang kamu pikirkan? ... Kita masih bekerja."
"Maafkan saya, Sir," sahut Chloe, yang kemudian segera berdiri dari tempat duduknya.
Chloe lanjut melayani para tamu yang menemui Matthew itu, yang sekarang ini sedang bersiap-siap untuk pergi dari restoran yang menjadi tempat pertemuan mereka.
Setelah semua sudah saling berpamitan sambil berjabat tangan, Chloe lalu mengantarkan para utusan dari pemerintah kota itu, hingga ke luar restoran.
Ketika Chloe kembali menemui Matthew, Atasannya itu tampak sedang menatap layar ponselnya.
"Mereka semua sudah pergi, Sir," kata Chloe, yang membuat Matthew mengangkat pandangannya dan menatap Chloe. "Apa kita juga akan pergi sekarang?"
Matthew lalu melihat arloji di pergelangan tangannya. "Masih ada sisa waktu. Kita bisa beristirahat di sini saja, sebentar."
"Baik, Sir!" sahut Chloe, kemudian kembali duduk di kursinya yang semula.
"Chloe!"
Mendengar namanya dipanggil, Chloe segera menoleh ke arah Matthew yang duduk di sampingnya, dan tampak sedang menatapnya lekat-lekat.
"Iya, Sir ... Ada apa?" Chloe menunggu apa yang akan dikatakan oleh Matthew.
"Hmm ... Sewaktu aku bermimpi buruk, apa aku mengigau?" Matthew yang tampak penasaran, terdengar ragu-ragu saat melontarkan pertanyaannya itu.
"I-iya, Sir...." Chloe pun terikut merasa ragu-ragu untuk menjawabnya.
"Apa yang kamu dengar? ... Apa yang aku katakan?" tanya Matthew, yang tampak semakin penasaran.
"Anda meracau, seolah-olah ada orang asing yang membawa Anda ke suatu tempat yang juga asing bagi Anda," jawab Chloe, berhati-hati.
"Itu saja?" tanya Matthew, tampak ingin memastikan.
Apa saja yang diucapkan Matthew saat berada di alam bawah sadarnya, melintas di pikiran Chloe, hingga Chloe kemudian berkata,
"Maafkan saya, Sir ... Tapi kedengarannya, orang asing itu menyakiti Anda, sampai Anda mengeluh kesakitan."
"Hmm...." Matthew bergumam. "Kamu tahu kalau itu hanya mimpi. Jadi sebaiknya, kamu jangan sampai menceritakannya kepada orang lain, agar tidak ada kesalahpahaman."
"Iya, Sir!"
Walaupun Chloe bisa menjawabnya dengan yakin, namun pernyataan Matthew itu tetap mengganggu pikiran Chloe.
Menurut Chloe, Matthew tidak perlu menjelaskan bahwa itu hanyalah sekadar bunga tidur, karena Chloe pasti tahu hal itu.
Dan tanpa Matthew melarangnya untuk menceritakan tentang mimpinya itu kepada siapa-siapa, sudah barang tentu Chloe tidak perlu membicarakannya dengan orang lain.
Sehingga dengan demikian, justru pernyataan Matthew itu hanya memancing rasa penasaran bagi Chloe.
"Apa kamu tadi makan dengan baik?" tanya Matthew, terdengar ingin mengalihkan pembicaraan.
Matthew tersenyum lebar. "Kamu bisa memesannya lagi. Pesan dua sekaligus! Karena aku juga masih ingin makanan yang manis."
"Baik, Sir!" Chloe lalu memberi tanda pada pelayan restoran, agar menghampiri meja mereka, dan segera membuat pesanannya.
Sementara menikmati makanan penutup tambahan yang diantarkan oleh pelayan restoran, Chloe memeriksa ponselnya yang sedari tadi diaturnya dalam mode hening.
"Oh, gosh!" celetuk Chloe, tanpa sadar.
"Ada apa?" tanya Matthew, tampak tertarik untuk ikut melihat tampilan layar ponsel Chloe.
Chloe buru-buru menyembunyikan ponselnya, agar Matthew tidak bisa melihat isinya. Tetapi tampaknya sia-sia saja, karena Matthew kemudian berkata,
"Apa dia tidak bisa menunda untuk bertemu denganmu?"
Matthew berarti sempat melihat kalau terdapat banyak panggilan tidak terjawab dari David, dan begitu juga beberapa pesan singkat yang dikirimkan David kepada Chloe.
Karena terlalu memikirkan tentang percakapannya dengan Maddison, hingga Chloe memang melupakan perkataan Agatha tentang pesan dari David.
Chloe tidak ingat untuk memberitahu David, bahwa Chloe tidak bisa makan siang bersama dengannya, sebab perubahan jadwal Matthew yang tiba-tiba.
Dengan terburu-buru, Chloe menyampaikan penyesalannya yang tidak bisa makan siang bersama David, dengan mengirimkan pesan kepada laki-laki itu.
Menjelaskan kepada David, bahwa Chloe harus makan siang bersama Matthew dan orang-orang yang melakukan pertemuan dengan Atasan Chloe itu.
"Menyebalkan!" Matthew menggerutu dengan suaranya yang hampir terdengar seperti sedang berbisik-bisik, dan memasang raut wajah kesal, sambil melirik Chloe dengan ujung matanya.
"Ugh?" Chloe kebingungan.
"Haruskah kamu meminta maaf kepadanya?" tanya Matthew, dengan suaranya yang sinis.
"Katamu, kamu tidak terpikir untuk menjadi kekasihnya. Tapi kelihatannya justru sebaliknya. Kamu tidak mau kalau David sampai tidak menyukaimu lagi. Itu sebabnya, hingga kamu selalu berusaha menjaga perasaannya, kan?!"
Kedengarannya, Matthew benar-benar kesal karena Chloe yang mengirimkan pesan kepada David itu, dan Matthew menganggap bahwa Chloe sedang berusaha menjaga perhatian David, agar tetap tertuju kepada Chloe.
Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa Anda sadar? Tingkah Anda ini, membuat Anda terlihat seperti seorang kekasih yang merasa cemburu pada pasangannya," kata Chloe, asal bicara.
"Iya! ... Aku memang cemburu!" sahut Matthew, terdengar yakin.
Chloe terbelalak.
"Kamu selalu menjaga perasaannya. Tapi kamu tidak ragu-ragu untuk membuatku merasa kesal. Siapa yang tidak akan cemburu, kalau diperlakukan tidak adil seperti itu?" ujar Matthew, sambil mengerutkan alisnya dalam-dalam.
"Pffftt...! Ada-ada saja Anda ini...." sahut Chloe, sambil tertawa.
Chloe menganggap kalau Matthew hanya sedang bercanda, tetapi kelihatannya tidaklah seperti dugaan Chloe.
Karena Matthew masih memasang raut wajah yang sama, seolah-olah dia memang serius saat berbicara tadi.
"Anda serius?" tanya Chloe, memastikan.
Matthew mengangguk.
"Oh, gosh!" ujar Chloe, lalu tersenyum lebar. "Baik, Sir ... Sekarang apa yang bisa saya lakukan, agar Anda bisa merasa senang?"
"Simpan ponselmu...! Fokuskan perhatianmu padaku saja dulu...! Kamu bahkan belum mempersiapkan penggantimu, bukan?" sahut Matthew, yang tiba-tiba saja suaranya terdengar lemas.
Sembari memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, Chloe terdiam untuk sesaat.
Chloe kemudian memegang iPad dan menyalakannya, bersiap-siap untuk membuat informasi lowongan kerja. "Anda ingin asisten yang seperti apa? ... Apa ada kriteria khusus?"
"Tidak ada yang khusus ... Laki-laki atau perempuan, tidak jadi masalah. Lakukan seleksi yang standar saja!" sahut Matthew, lalu menyuapkan sesendok makanan penutup yang tersisa di piringnya.
"Baik, Sir!" jawab Chloe, kemudian segera melakukan arahan Matthew.
Sementara Chloe mengetikkan pemberitahuan umum untuk mencari seseorang yang bisa menggantikannya sebagai asisten CEO, dari ujung matanya, Chloe melihat kalau Matthew sedang menatapnya.
Namun Chloe tidak mempedulikan tatapan Matthew, dan tetap memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya, agar bisa segera menerbitkan informasi lowongan kerja itu secepatnya.
"Sudah beres!" celetuk Chloe, setelah selesai mengirim surat elektronik, ke bagian administrasi perusahaan. "Kita tinggal menunggu kabar dari HRD."
Ketika Chloe melihat ke arah Matthew, Atasan Chloe itu kemudian memalingkan wajahnya, seolah-olah dia tidak mau bertatapan mata dengan Chloe.
"Ayo kita kembali ke kantor!" ajak Matthew, sambil berdiri dari tempat duduknya. "Apa aku belum ada jadwal kosong, agar aku bisa bertemu dengan Judy?"
"Untuk beberapa hari ini belum ada, Sir...." jawab Chloe, yang segera membantu Matthew untuk berjalan keluar dari restoran.
"Apalagi, Anda berkata kalau Anda mau bertemu dengannya, nanti setelah kaki Anda pulih," lanjut Chloe.
"Undang dia ke rumahku saja kalau begitu," sahut Matthew, sambil melangkah dengan perlahan. "Katakan padanya, kalau dia tidak sibuk, maka aku akan menunggu kedatangannya malam ini!"