
Mungkin karena suasana di gedung bioskop yang terlalu padat hingga tampak hampir berdesak-desakan, Matthew lalu tampak ingin mengurungkan niatnya untuk pergi menonton dengan Chloe.
"Kita pergi ke tempat lain saja!"
Matthew segera berbalik arah, meskipun Chloe belum siap dengan gerakannya yang tiba-tiba, sampai-sampai mereka berdua hampir terjatuh di situ.
"Sir!" ujar Chloe panik, sambil memeluk Matthew erat-erat. "Anda hampir membuat kita berdua terjatuh."
Walaupun demikian, Matthew tampak tidak peduli, dan tetap berusaha melangkahkan kakinya, menjauh dari kerumunan orang banyak yang mengantri tiket di loket bioskop.
Namun, dari arah berlawanan, ternyata masih banyak pengunjung yang berdatangan, dan membuat Chloe serta Matthew harus berjalan di sela-sela orang-orang yang baru datang itu.
"Kita ke sebelah sana saja dulu!"
Chloe memberi saran, sambil mengarahkan Matthew untuk berjalan ke salah satu arah, setelah dia melihat sela kosong di dekat salah satu sisi dinding yang tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang.
Mereka berdua seharusnya bisa berdiri di sela kosong yang dilihat Chloe tadi.
Akan tetapi, baru saja mereka berhasil menghindari pengunjung bioskop yang lain, sela yang kosong itu juga akhirnya terlihat sudah terisi dengan beberapa orang, yang tampaknya ingin melakukan hal yang sama seperti mereka.
"Tsk!" Matthew berdecak kesal karenanya.
Meskipun begitu keadaannya, baik Chloe maupun Matthew tidak bisa berbuat apa-apa, selain ikut berdiri bertahan di situ.
Mereka harus menunggu sampai pengunjung bioskop berkurang kepadatannya, setelah sebagian besar dari orang-orang itu memasuki ruangan tempat penayangan film.
Tiba-tiba saja, di antara orang-orang yang melintas di dekat mereka, ada yang menginjak kaki Chloe, hingga Chloe meringis kesakitan. "Auch!"
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Matthew, yang kemudian bergeser tepat di depan Chloe, hingga mereka berdua berdiri berhadap-hadapan.
"Kaki saya terinjak. Tapi saya tidak apa-apa," sahut Chloe, sambil memperhatikan gerak-gerik Matthew yang seolah-olah sedang berusaha melindunginya.
"Anda tidak perlu melindungi saya. Bisa-bisa kaki Anda yang cedera, akan jadi semakin parah kalau sampai tertabrak orang-orang itu," kata Chloe, cemas.
Walaupun dia tidak berkata apa-apa, namun Matthew kelihatannya menggeser kakinya yang cedera, mencari perlindungan di sela antara kedua kaki Chloe.
Selain itu, Matthew juga tampaknya semakin mendekat kepada Chloe yang tersandar di dinding, hingga dadanya hampir menempel di wajah Chloe.
Posisi berdirinya serta Matthew sekarang ini yang kelihatannya seperti akan berpelukan, hanya membuat Chloe merasa sangat canggung, namun dia tidak bisa berkomentar apa-apa.
"Ada beberapa film yang tayang perdana," celetuk Matthew, lalu sedikit menundukkan kepalanya. "Pantas saja, jika orang-orang ini rela berdesak-desakan."
Chloe yang mendengarkan perkataan Matthew itu, kemudian mendongakkan kepalanya, hingga dia dan Matthew jadi bertatap muka dalam jarak yang sangat dekat.
Untuk beberapa saat lamanya, Chloe benar-benar tenggelam dalam rasa kagumnya, akan keindahan warna bola mata Matthew yang melengkapi wajah tampannya.
Hingga tiba-tiba saja....
"Apa yang kamu lihat?"
Chloe merasa sangat malu karena dia yang terlalu lama memandangi seluruh bagian dari wajah Matthew, hingga Matthew sampai menegurnya seperti itu.
Oleh karenanya, Chloe kemudian segera mengalihkan pandangannya, dengan sedikit menundukkan kepala, sambil berkata dengan suara berbisik-bisik.
"Warna mata Anda...."
"Mata?" Matthew lalu tertawa kecil. "Apa hanya mataku saja yang menarik perhatianmu?"
Tepat setelah Matthew selesai bicara, secara mendadak saja, seolah-olah ada yang mendorongnya, sampai Matthew benar-benar tersandar kepada Chloe.
"Sorry, Sir!" Suara yang tampaknya berasal dari seorang pemuda, bisa terdengar oleh Chloe saat itu juga.
"It's okay!" Begitu juga suara Matthew yang menyahut perkataan pemuda tadi.
Sehingga Chloe menduga, kalau Matthew memang tidak sengaja bersandar kepadanya, dan hanyalah karena terdorong oleh kerumunan orang.
Namun yang jadi masalahnya, wajah Chloe sekarang ini benar-benar menempel di dada Matthew, dan hampir membuatnya kesulitan untuk bernapas.
Mau tidak mau, Chloe segera mendorong Matthew, agar ada sela baginya walau hanya sedikit, untuk menarik udara masuk ke paru-parunya.
"Maafkan aku ... Pengunjungnya justru bertambah ramai," kata Matthew, sambil menahan badannya dengan kedua tangan yang bersandar di dinding.
Chloe tidak terlalu memperhatikan perkataan Matthew, dan justru terpusat perhatiannya pada kemeja Matthew yang tampak berbekas pewarna bibir yang dipakai Chloe.
"Sir! ... Maafkan saya ... Baju Anda jadi kotor karena lipstik yang saya pakai," kata Chloe, berhati-hati, sambil meletakkan telapak tangannya di dada Matthew.
Matthew lalu memegang tangan Chloe dengan sebelah tangannya, dan menahan posisinya hingga tetap menyentuh dadanya, sambil berkata,
Chloe lalu mendongakkan kepalanya, melihat Matthew yang tersenyum lebar dan tampak hampir tertawa.
Tanpa aba-aba, Matthew bergerak cepat mengecup kening Chloe, lalu lanjut berkata,
"Walaupun ada orang yang melihatku menciummu pun, tidak akan jadi masalah."
Dengan rasa tidak percaya atas apa yang baru saja Matthew lakukan, Chloe menatap Matthew lekat-lekat.
"Apa?" tanya Matthew, sambil mengangkat kedua alisnya.
Melihat tingkahnya yang tampak masa bodoh, Matthew tampaknya memang tidak sadar, kalau dia hampir saja membuat Chloe terkena serangan jantung karena ulahnya.
"Apa yang Anda lakukan?" tanya Chloe, kebingungan.
"Aku mencium keningmu," jawab Matthew, terdengar tanpa beban. "Kenapa? ... Kamu mau aku melakukannya lagi?"
"Don't tease me, Sir!" sahut Chloe, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Matthew lalu tertawa kecil. "Kamu terlalu membesar-besarkan hal sekecil itu. Wajar saja jika sesekali riasan wajahmu mengenaiku. Tidak perlu merasa bersalah."
"Kerumunannya sudah mulai berkurang. Apa kamu masih mau menonton? Atau kita pulang saja?" lanjut Matthew.
"Terserah anda saja," sahut Chloe.
"Hmm...." Matthew bergumam, sambil sedikit menjauh dari Chloe, dan tampak melihat-lihat di sekelilingnya.
"Kelihatannya, loket untuk film horor tidak banyak pengunjungnya," celetuk Matthew. "Apa kamu mau mencoba menontonnya?"
Chloe mengangguk setuju.
Dengan mengikuti arahan dari Matthew, Chloe berjalan bersamanya, menembus kerumunan yang terlihat sudah tidak terlalu padat lagi.
Setelah mendapatkan tiket untuk dua orang, Chloe masih menyempatkan diri untuk membeli berondong jagung, dan dua gelas soda untuk dirinya dan Matthew.
Seperti dugaan awal, di dalam ruang penayangan film itu terlihat masih banyak kursi kosong, karena kurangnya minat pengunjung akan film bergenre gore yang menampilkan banyak adegan kekerasan.
Sementara tayangan film itu berlangsung, Matthew tampaknya tidak berkonsentrasi dengan tontonannya, dan justru sering melihat ke sana kemari seolah-olah ada yang dia cari.
"Apa Anda tidak suka dengan filmnya?" tanya Chloe, dengan suara berbisik-bisik agar tidak mengganggu penonton yang lain.
Matthew tidak menjawab pertanyaan Chloe, dan hanya menatapnya sambil mengulurkan tangannya ke dalam mangkuk berondong jagung.
Setelah mengunyah beberapa butir berondong jagung, Matthew kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Chloe lalu berkata,
"Aku ingin kamu mengubah jadwal kerjaku untuk besok. Siapkan waktu kosong, agar Centra bisa melakukan presentasi."
"Oh! ... Baik, Sir!" sahut Chloe.
Chloe akhirnya menyadari, kalau yang sebenarnya, Matthew tidak hanya ingin bersantai saja dengan jalan-jalan bersama Chloe.
Matthew sedang mengamati tempat-tempat yang dia kunjungi, untuk jadi pertimbangannya akan proposal yang diajukan oleh Centra—sekelompok mahasiswa jurusan arsitektur.
Sehingga Chloe tersenyum lebar, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Matthew.
"Tidak apa-apa. Saya hanya merasa kalau saya telah salah mengira, bahwa Anda sedang ingin beristirahat. Tapi pada kenyataannya Anda sebenarnya sedang bekerja. Dan hanya kelihatannya saja yang seperti sedang bersantai."
Jawaban dari Chloe itu, segera dibantah oleh Matthew, dengan berkata,
"Aku memang ingin jalan-jalan santai denganmu. Kebetulan saja aku bisa terpikir akan proposal Centra, karena melihat tempat ini."
"Kamu kecewa?" tanya Matthew, buru-buru.
"Apa yang bisa membuat saya kecewa?" Chloe balik bertanya.
"Karena aku lebih memikirkan pekerjaan, daripada kencan kita," jawab Matthew.
Chloe segera menoleh ke samping, dan mendapati Matthew yang tersenyum lebar seolah-olah sedang mengejeknya.
"Don't tease me, Sir!" Dengan kasar, Chloe menyuapkan sedikit berondong jagung ke mulut Matthew.
Matthew akhirnya tertawa kecil, lalu buru-buru menutup mulutnya dengan punggung tangannya.
"Apa kamu tidak merasa, kalau sekarang ini kita seperti sedang berkencan?" tanya Matthew, sambil memegang tangan Chloe, dan menggenggamnya dengan erat.