Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 12



"Apa cerita di belakangnya?" tanya David, sembari mengemudikan mobilnya, dan sekilas melirik ke arah Chloe.


Setelah Chloe menghubunginya, David bukan hanya mengirimkan uang untuk Chloe, David bahkan menyusul Chloe di tempat lintah darat.


David juga membantu Chloe, agar tidak ditekan dan dimanipulasi oleh lintah darat, saat menyelesaikan semua hutang yang dibuat Brad—mantan kekasih Chloe, di tempat itu.


"Maafkan saya yang telah merepotkan Anda, Sir," ujar Chloe, untuk kesekian kalinya. "Ceritanya panjang."


David tersenyum lebar, dan hampir tertawa. "Hmm ... Aku tetap akan mendengarkannya, kalau kamu mau menceritakannya."


Chloe yang merasa berhutang penjelasan kepada David, akhirnya mau saja menceritakan tentang bagaimana, hingga dia bisa terlibat dengan pemberi pinjaman tadi.


David tampak mendengarkan Chloe, tanpa menyela sedikit pun, seolah-olah dia mengerti dengan apa yang terjadi pada Chloe itu.


"Begitu ceritanya, Sir! ... Saya tidak akan tersinggung, jika Anda ingin menertawakan kebodohan yang saya lakukan," kata Chloe, menutup kisah tentang Brad yang menipu dan memanfaatkannya.


"Aku tidak akan menertawakanmu. Aku hanya menyayangkan bodohnya mantan kekasihmu, yang sudah diberikan kepercayaan sebesar itu, tapi dia justru mengkhianatimu," kata David.


"Sepertinya dia tidak tahu, kalau tidaklah mudah untuk menemukan seseorang yang sepertimu...." David lalu terdiam begitu saja, dan tampak seolah-olah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.


Dan ketika dia mengeluarkan suaranya lagi, David justru bertanya kepada Chloe, dengan berkata,


"Berarti, kamu tidak memiliki kekasih sekarang ini. Benar begitu?"


"Iya, Sir," jawab Chloe singkat.


"Hmm ... Menarik! ... Apa kamu mau berkencan denganku?" ujar David, sambil tersenyum lebar, dan melirik Chloe dengan ujung matanya.


Chloe tertawa kecil, lalu berkata,


"Anda memulainya lagi!"


David akhirnya tertawa lepas. "Kenapa? Apa aku kurang menarik?"


"Hmm...." Chloe bergumam. "Karena Anda yang terlalu menarik, sehingga membuat perkataan Anda, justru jadi terlalu sulit untuk dipercaya."


Lagi-lagi, David tertawa lepas.


"Chloe! ... Bagaimana dengan Matthew? Apa yang terjadi tadi?" David seolah-olah baru teringat tentang kejadian di lokasi proyek tadi siang.


"Saya akan berhenti bekerja padanya di akhir bulan ini," kata Chloe.


"Ugh? ... Kamu serius?" tanya David.


"Iya," jawab Chloe, lalu mendengus pelan.


"Hmm ... Kedengarannya kamu sangat kecewa," ujar David.


Chloe menghela nafasnya yang terasa berat.


"Mungkin karena saya terlalu lama bekerja di bawah arahan Mister Nathan, sehingga saya sudah terbiasa dan merasa nyaman....


... Saya bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya, jika bekerja di tempat lain," kata Chloe.


"Hmm ... Aku jadi merasa bersalah," celetuk David. "Maafkan aku, Chloe ... Tidak seharusnya aku memprovokasi Matthew, sampai dia memecatmu."


Mendengar perkataan dari David yang tampak penuh penyesalan, membuat Chloe buru-buru memberikan penjelasannya, dengan berkata,


"Bukan kesalahan Anda, Sir ... Pada dasarnya, Mister Matthew memang tidak menyukai keberadaan saya."


"Walaupun saya dipercayai oleh Mister Nathan, dan saya juga tidak mau mengecewakannya, tapi rasanya terlalu sulit untuk berhadapan dengan Mister Matthew....


... Sehingga saya sendiri yang mengambil keputusan untuk berhenti. Dan bukan karena dipecat oleh Mister Matthew," lanjut Chloe.


Saat itu, David yang menoleh ke arah Chloe, tampak seolah-olah akan berkata sesuatu, namun dia membatalkannya begitu saja, dan kembali menatap lurus ke jalanan di depannya.


"Sir! ... Saya benar-benar berterima kasih kepada Anda, yang telah memberikan saya pinjaman uang, untuk menutupi hutang di loan shark....


... Setelah saya menerima gaji terakhir saya nanti, saya akan langsung menggantinya," kata Chloe.


"Hmm ... Begitu, ya? Tapi pinjaman itu harus dikembalikan dengan interested. Bagaimana?" ujar David.


"Ugh?" Chloe terbelalak.


"Apa kamu tidak tahu kalau selain direktur operasional, aku juga adalah seorang pebisnis?" ujar David, sambil menoleh sekilas ke arah Chloe.


"Berapa persen, Sir?" tanya Chloe, berhati-hati.


"5," jawab David, singkat.


"5 persen?" tanya Chloe, memastikan.


"Sir?!" Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil tersenyum dan hampir tertawa.


"Sebagai ganti rugi karena telah membantumu berurusan dengan loan shark, maka kamu akan makan malam bersamaku sekarang," kata David.


"Ugh? ... Tapi aku tidak memiliki sisa uang yang cukup untuk membayarkan makanannya," sahut Chloe, buru-buru.


Namun, hingga beberapa waktu lamanya Chloe menunggu, David tidak berkata apa-apa untuk menanggapi pernyataan Chloe tadi.


David justru membelokkan mobilnya, mengarah ke sebuah restoran ketika mereka telah kembali tiba di pusat kota.


"Aku bosan makan sendirian," celetuk David, lalu beranjak keluar dari dalam mobilnya, setelah mobilnya sudah terparkir.


"Ikut denganku sekarang! ... Kecuali kamu ingin interested dari pinjamanmu jadi bertambah," lanjut David, sambil tersenyum lebar.


Chloe lalu beranjak keluar dari mobil. "Sir! ... Apa Anda ingin agar saya membalas kebaikan Anda, dengan membuat saya harus mencuci piring di restoran ini?"


David tertawa lepas, dan tampak sangat gemas karena perkataan Chloe itu, hingga dia meremas sebelah tangan Chloe yang sedang digenggamnya.


"Tentu saja tidak! ... Kamu tidak perlu mengkhawatirkan tagihannya, karena aku yang akan mengatasinya," ujar David, lalu melirik Chloe sekilas. "Sedangkan kamu,—"


David yang tampak tersenyum lebar, sedikit menarik Chloe, agar buru-buru berjalan masuk bersamanya ke dalam restoran itu, sembari lanjut berkata,


"... hanya perlu mencuci piring di rumahku saja."


"Sir!" Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya, karena tingkah David yang seolah-olah tidak ada bosan-bosannya bercanda.


David masih terkekeh, seraya menggeserkan sebuah kursi untuk Chloe.


"Silahkan memesan apa saja yang kamu inginkan!" kata David, sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan Chloe.


Seorang pelayan restoran yang segera menghampiri meja mereka, kemudian mencatat semua pesanan yang disebutkan oleh David serta Chloe, sebelum akhirnya pelayan itu berlalu pergi dari sana.


"Apa kamu tidak ada target kapan kamu akan menikah?" tanya David, sambil menggoyang perlahan gelas berisi wine di tangannya.


"Hmm ... Saya tidak pernah memikirkannya sebelumnya. Apalagi saya tidak bisa memasak. Apa yang akan dimakan calon suami dan anak-anakku nanti?" sahut Chloe, lalu tersenyum lebar.


"Begitu, ya?! ... Rekan-rekan seusiaku, rata-rata sudah menikah. Bahkan, ada dari mereka yang sudah memiliki dua orang anak....


... Aku jadi sering membayangkan, betapa menyenangkannya, jika setiap pulang dari bekerja, lalu ada yang menunggu kedatanganku di rumah," kata David.


"Lalu kenapa Anda belum menikahi kekasih Anda?" tanya Chloe, yang saat itu juga segera menyesali perkataannya, yang mungkin telah menyinggung perasaan David. "Maafkan saya, Sir."


"Tidak apa-apa. Kita sudah lama saling mengenal, tapi kita tidak pernah membicarakan tentang hal pribadi masing-masing....


... Selalu saja yang kita perbincangkan, hanyalah hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan," sahut David, lalu menyesap sedikit cairan wine dari gelasnya.


"Kamu bisa bertanya apa saja ... Dan jawaban untuk pertanyaanmu itu, adalah karena aku belum memiliki kekasih, yang bisa aku minta untuk segera menikah denganku," lanjut David.


"Benarkah? Anda tidak memiliki kekasih?" tanya Chloe, tidak percaya.


"Geez! ... Apa kamu pikir kalau aku sedang berbohong? ... Aku berkata jujur!" David tampak ingin menekankan pernyataannya.


"Kelihatannya, aku mungkin hanya seperti sedang bercanda. Tapi yang sebenarnya, aku bersungguh-sungguh ingin mengajakmu berkencan....


...Selama ini, aku hanya tidak mau menakutimu, jika aku terlalu memaksa. Aku juga khawatir, kalau-kalau kamu sudah memiliki kekasih, lalu aku hanya mempermalukan diriku sendiri....


... Tapi setelah mendengar bahwa kamu sudah lama putus hubungan dengan kekasihmu, sehingga kali ini aku memberanikan diriku," lanjut David.


"Kenapa harus saya, Sir?" tanya Chloe, bingung.


"Hmm ... Bagaimana menjelaskannya?!" ujar David, sambil mengerutkan alisnya.


"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama? ... Tidak. Karena jika aku berkata seperti itu, maka itu hanya akan jadi sebuah kebohongan....


... Dan tidak ada yang bisa berakhir dengan baik, jika diawali dengan sebuah kebohongan." David kemudian menyesap sedikit cairan wine dari gelasnya lagi, lalu lanjut berkata,


"Mungkin lebih tepatnya jika seperti ini :


...Setelah sekian lama aku memperhatikanmu, aku merasa kalau kamu itu berbeda, dari beberapa wanita yang biasanya aku kencani....


... Dan semakin lama, aku jadi semakin tertarik dan penasaran, akan bagaimana sebenarnya sifat aslimu."


Bertepatan dengan David yang berhenti bicara, pelayan restoran terlihat kembali menghampiri meja mereka, dan menyajikan makanan di sana.


Setelah pelayan restoran itu berlalu pergi, David kemudian lanjut berkata,


"Kamu tidak perlu merasa terbeban, karena walaupun kita berkencan, bukan berarti kamu harus menjadi kekasihku....


... Anggap saja, kalau kita hanya ingin saling mengenal lebih baik, akan karakter masing-masing. Bagaimana menurutmu?"