Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 20



Matteo tampaknya tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, hingga sepasang matanya tampak membulat, dan memperlihatkan iris berwarna hijau terangnya dengan jelas.


"Kamu bersungguh-sungguh? Sekarang ini sudah pertengahan bulan," ujar Matteo, yang tampak mengerutkan alisnya dalam-dalam.


"Maafkan aku ... Aku tidak tahu bagaimana kesulitan yang kamu alami, saat bekerja bersama Matthew, tapi apa kamu tidak mau memikirkannya lagi?" lanjut Matteo.


"Hmm ... Saya sudah mengambil keputusan. Bahkan, saya sudah memberitahu Mister Matthew, kalau saya pasti akan berhenti bekerja padanya," sahut Chloe.


"Sebenarnya, saya tidak mau mempersulit Mister Matthew lebih lama. Tapi, saya sudah terlanjur menerima pembayaran dari Mister Nathan untuk bulan ini....


... Sehingga saya tidak bisa berhenti begitu saja. Jadi, saya meminta Mister Matthew untuk bersabar, sampai bulan ini berakhir," lanjut Chloe.


"Kamu mempersulit Matthew? Kamu pikir aku akan percaya hal itu? Aku sudah tahu bagaimana keras kepalanya Matthew," ujar Matteo, yang tampak kesal.


Matteo tampaknya benar-benar tidak senang dengan apa yang didengarnya dari Chloe, seolah-olah dia mungkin ingin memarahi Matthew saat ini.


Sedangkan Chloe, hanya bisa terdiam, dan tidak mau terlalu terbuka dengan alasannya memilih untuk berhenti bekerja, yang mungkin hanya akan menambah-nambah kekesalan Matteo kepada Matthew.


Setelah beberapa saat kemudian, dan mereka berdua hanya terdiam, Matteo akhirnya berkata,


"Apa kamu hanya berhenti menjadi asisten pribadi Matthew? Atau kamu juga akan berhenti menjadi asisten CEO?"


"Keduanya ... Saya tidak mau membuat Mister Matthew menjadi kesal, jika dia masih melihat saya di kantor," jawab Chloe.


"Geez! ... Tsk! Matthew, benar-benar...." Matteo menghentikan perkataannya begitu saja, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lalu, apa kamu sudah ada rencana akan bekerja di mana nanti?" tanya Matteo, yang kemudian menatap Chloe lekat-lekat.


"Maafkan aku ... Aku bukan berniat meremehkan kemampuanmu. Tapi, ... apa kamu mau menjadi asisten pribadiku? Aku ingin agar aku tetap bisa melihatmu," lanjut Matteo buru-buru, dan terdengar penuh harap.


Chloe tersenyum, lalu berkata,


"Tawaran Anda itu menarik. Tapi saya tidak bisa serta-merta menerimanya. Saya masih harus mempertimbangkannya lebih dulu."


"Ayolah...! Bekerja denganku tidak akan terlalu melelahkan. Kamu bahkan bisa menjual autograf-ku, sesukamu," ujar Matteo, lalu tersenyum lebar, dan tampak hampir tertawa.


Chloe tertawa sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya. "Apa yang Anda bicarakan?"


"Saya hanya bercanda ... Tapi saya bersungguh-sungguh memintamu untuk bekerja denganku saja. Aku rasa akan menyenangkan, jika kamu bisa berada di sisiku....


... Membantuku bekerja, sekaligus menjadi temanku. Apalagi di negara ini, yang asing bagiku," kata Matteo, lirih.


"Hmm ... Padahal, musik gubahan Anda tidaklah asing lagi di negara ini," ujar Chloe, sambil tersenyum.


"Tolong kamu memikirkan tawaranku! Sebelum kamu memilih untuk bekerja di tempat lain," kata Matteo, lagi.


"Okay! ... Tapi saya tidak bisa berjanji, kalau saya akan menerimanya. Tidak apa-apa, kan?" ujar Chloe, memastikan.


Sembari memasang raut wajah cemberut, Matteo melirik Chloe dengan ujung matanya, lalu berkata,


"Semoga saja kamu tidak diterima bekerja di tempat lain. Dengan begitu, mau tidak mau, kamu akan menerima tawaranku."


"Geez!" Chloe tertawa kecil, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Matteo kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu tampak mengintip Matthew di kamarnya.


"Matthew kelihatannya masih tertidur. Apa kamu mau berjalan-jalan denganku di kebun belakang?" ajak Matteo.


"Hmm ... Okay!" sahut Chloe, kemudian ikut berdiri dan berjalan bersama Matteo, menuju ke kebun belakang.


Sudah beberapa hari Chloe tinggal di rumah Matthew itu, namun Chloe belum sempat menjelajahi lebih jauh bagian demi bagian di tempat itu.


Sehingga Chloe tidak tahu, kalau di kebun belakang, ternyata memiliki beberapa pohon tanaman buah.


Walaupun sudah menjelang malam seperti sekarang ini, namun di kebun belakang masih terlihat cukup terang, karena banyaknya lampu yang dipasang di sana.


Dengan demikian, satu pohon apel yang berbuah cukup lebat, masih bisa terlihat dengan jelas, ketika Matteo memetik beberapa dari buahnya.


"Ini! ... Rasanya sangat manis ... Seperti kamu," ujar Matteo, sambil tersenyum lebar, saat dia memberikan sebuah apel kepada Chloe.


Sembari menerima buah apel dari tangan Matteo, Chloe tertawa geli, karena perkataan Matteo itu, yang terdengar seperti sedang merayu Chloe.


"Iya ... Aku bersantai di sini, sambil memakan apel," jawab Matteo, lalu menunjuk ke salah satu arah, sembari berkata,


"Di sebelah sana juga ada dua pohon anggur, tapi hanya satu pohon saja yang berbuah. Itupun buahnya masih belum matang."


Matteo kemudian memegang lengan Chloe, dan mengajaknya untuk duduk di sebuah bangku taman, yang ada di dekat pohon apel.


"Seandainya masih siang, aku bisa saja mengambilkan untukmu, buah berry yang tumbuh di dekat pagar....


... Kalau sudah gelap malam seperti sekarang ini, aku cukup takut kalau-kalau ada hewan melata di sana," kata Matteo, lalu menggigit buah apel di tangannya.


Untuk beberapa saat kemudian, baik Chloe maupun Matteo, asyik menikmati buah apel mereka masing-masing, sambil memandangi tanaman-tanaman yang ada di kebun itu.


"Di rumahku yang dulu, memiliki kebun belakang yang lebih luas dari ini. Aku sering menghabiskan waktu di situ, saat aku kehabisan ide," celetuk Matteo.


"Hmm ... Bagaimana rasanya, setelah sekian lama tinggal di tempat lain, lalu harus pindah tempat tinggal secara mendadak?" tanya Chloe, berhati-hati.


"Kamu mau jawabanku yang jujur? ... Sulit. Bayangkan saja, aku memang lahir di negara ini, tapi hanya beberapa tahun saja aku menetap di sini....


...Orang-orang yang ada, selain orang tuaku, walaupun mereka masih ada hubungan keluarga, tapi aku sama sekali tidak mengenal mereka....


... Teman-teman yang akrab denganku dan kukenal dengan baik, semuanya tidak berada di sini. Benar-benar terasa asing, dan pastinya kesepian," jawab Matteo.


"Hmm ... Sesekali, aku memang butuh waktu untuk sendirian, agar aku bisa mencari ide untuk menggubah lagu-lagu baru. Tapi kalau terus-menerus sendirian, tentu akan jadi membosankan," lanjut Matteo.


Seolah-olah dia belum puas jika hanya makan satu buah apel saja, Matteo kemudian memetik sebuah apel lagi.


Matteo menawarkan apel itu kepada Chloe, namun Chloe segera menggelengkan kepalanya, hingga Matteo yang menyantapnya, sembari kembali duduk di bangku.


"Aku berharap kamu mengkhawatirkan keadaanku, sehingga kamu menanyakan rasanya tinggal di tempat yang asing....


... Tapi kelihatannya, bukan karena itu yang jadi alasan mengapa kamu bertanya," ujar Matteo.


"Hmm ... Maafkan saya. Saya hanya merasa penasaran," sahut Chloe.


"Hampir sepuluh tahun saya bekerja sebagai asisten CEO di McLean property, sehingga saya telah terbiasa dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan di kantor itu....


...Baik itu orang-orangnya, maupun cara kerjanya. Dan sejujurnya, saya cukup cemas saat membayangkan bagaimana nanti, jika saya bekerja di lingkungan yang baru....


... Berada di antara orang-orang yang tidak saya kenali karakternya, ... saya tidak tahu apa mungkin saya bisa dengan mudahnya untuk beradaptasi," lanjut Chloe.


"Justru itu...." celetuk Matteo, sembari membuang sisa bagian biji dari apel, ke dekat kaki bangku.


"Kenapa kamu tidak mau memikirkannya lagi? Atau paling tidak, pertimbangkan untuk bekerja denganku saja ... Kita bisa saling melengkapi."


Matteo lalu buru-buru berdeham, seolah-olah dia sedang membersihkan tenggorokannya, kemudian lanjut berkata,


"Kenapa kedengarannya seperti aku sedang melamarmu untuk menikah denganku?"


Chloe tertawa kecil, ketika melihat Matteo yang seperti orang yang kebingungan, dengan apa yang sedang dia bicarakan.


"Maksudku, kamu mungkin akan merasa asing dengan pekerjaan yang baru. Tapi paling tidak, kamu mengenalku. Begitu juga sebaliknya. Aku juga jadi terbantu, dengan adanya seseorang yang aku kenal di sisiku."


Matteo terdengar seolah-olah ingin menjelaskan, walaupun sebenarnya Chloe sudah mengerti akan apa maksudnya.


Merasa kalau dia sudah cukup lama meninggalkan Matthew, dan ditambah lagi sekarang ini sudah waktunya untuk makan malam, sehingga Chloe terpikir untuk mengajak Matteo kembali ke dalam rumah.


Tanpa banyak protes, Matteo pun menyetujuinya, sehingga Chloe segera berjalan mengarah ke rumah utama, bersama-sama dengan Matteo yang menyusul, dengan berjalan di sampingnya.


Ketika mereka sudah di dalam rumah, Matthew terlihat sudah terbangun dari tidurnya, dan terduduk di bagian tepi ranjang.


"Kamu dari mana saja?" tanya Matthew, dengan memasang raut wajah kesal.


"Saya tadi berjalan-jalan di kebun belakang, bersama Mister Matteo," jawab Chloe, sambil bersiap-siap untuk membantu Matthew, yang akan ruang makan untuk makan malam.


"Sedari tadi, kamu terlalu sibuk dengan urusan pribadimu," ujar Matthew, ketus.


"Maafkan saya, Sir," sahut Chloe.


"Pantas saja jika Chloe ingin berhenti bekerja padamu," ujar Matteo, yang berdiri di dekat pintu kamar Matthew. "Kamu jadi penggerutu, seperti Grandpa."