
"Apa itu?" tanya Matteo.
"Ugh?" Chloe kebingungan.
"Seperti apa kebodohanmu? Jika kamu mau memberitahuku, maka aku bisa membandingkannya," ujar Matteo.
"Tsk! ... Tidak ... Itu terlalu memalukan," sahut Chloe, enggan untuk menceritakan tentang Brad.
"Memalukan, atau kamu memang hanya sekadar menghiburku saja, dengan mengatakan bahwa kamu telah melalui sesuatu yang lebih konyol?" tanya Matteo, terdengar sangsi.
"Geez! ... Baiklah! ... Saya akan menceritakannya, asalkan Anda berjanji agar tidak tertawa," ujar Chloe.
"Coba saja!" Matteo tampak bersemangat untuk mendengarkan cerita Chloe.
Sama seperti saat Chloe bercerita kepada David.
Chloe menceritakan tentang bagaimana dia yang tertipu oleh Brad, sampai-sampai dia harus membayar hutang yang dibuat Brad di lintah darat, selama hampir dua tahun lamanya.
Mungkin saking nyamannya bercerita dengan Matteo, Chloe bahkan tanpa sadar telah memberitahu Matteo setiap detailnya, tanpa terkecuali.
Hingga bagaimana dia menutup sisa hutang yang dibantu oleh David, lalu David membuat rancangan, seolah-olah Chloe harus membalas budi baik David dengan berkencan pun, diceritakan oleh Chloe kepada Matteo.
"Tunggu! ... Tunggu sebentar! ... Kalau begitu, sama saja dengan David sedang memerasmu," ujar Matteo, menyela perkataan Chloe.
"Hmm ... Tidak. Kedengarannya mungkin buruk, tapi yang sebenarnya tidaklah seburuk itu. Mister David bahkan sudah menganjurkan, untuk membatalkan acara berkencan kami....
... Saya yang tetap ingin melanjutkannya. Karena menurut saya, kapan lagi saya bisa berkencan dengan seseorang yang baik, walaupun itu hanya sekadar teman," sahut Chloe.
Matteo terdiam, sambil menatap Chloe lekat-lekat.
"Setelah mendengar cerita saya, bagaimana menurut Anda?" tanya Chloe.
"Yeah! ... Itu adalah kesalahan bodoh yang sangat merugikan," jawab Matteo.
Chloe tertawa kecil.
"Lihat, kan?! Bagaimana saya bisa menertawakan Anda? Sedangkan pengalaman saya, masih jauh lebih buruk dari yang Anda alami," sahut Chloe, sambil tersenyum.
Karena sudah merasa puas untuk berjalan-jalan, Chloe serta Matteo akhirnya kembali ke rumah Matthew.
Setelah Matteo berpamitan kepada Chloe, lalu menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, Chloe kemudian masuk ke dalam kamar Matthew.
Chloe tidak mau berbaring di atas tempat tidur Matthew, dan tetap memilih untuk beristirahat di kursi, yang sudah ditatanya di dekat jendela.
Namun sebelumnya, Chloe masih menyempatkan untuk memeriksa keadaan Matthew, memastikan kalau Atasannya itu beristirahat dengan baik.
Setelah yakin kalau Matthew merasa nyaman, Chloe kemudian mengambil sebuah bantal, lalu mempergunakannya sebagai sandaran tambahan, sambil duduk berselonjor di kursi.
Rasanya belum terlalu lama Chloe terlelap tidur di situ, ketika dia mendengar namanya dipanggil sampai beberapa kali.
"Chloe! ... Chloe!"
Ketika Chloe membuka matanya, siluet dari bentuk badan Matthew, tampak seperti sedang terduduk di bagian tepi tempat tidur.
"Sir?" Chloe menurunkan kaki-kakinya, yang tadi dia luruskan di atas kursi, yang diletakkan di depannya, kemudian segera menghampiri Matthew. "Ada apa, Sir?"
"Aku harus ke kamar mandi," jawab Matthew.
"Okay! ... Mari saya bantu!" kata Chloe, kemudian segera membantu membawa Matthew ke kamar mandi, dan menunggunya dengan berdiri di depan pintu.
Tidak terlalu lama, Matthew kembali memanggil Chloe dari dalam kamar mandi. "Chloe! Kamu sudah bisa masuk sekarang!"
Sembari Chloe membantu Matthew kembali ke tempat tidurnya, Matthew kemudian berkata,
"Kenapa kamu tidak bisa menuruti perkataanku? Aku menyuruhmu untuk berbaring di tempat tidur, tapi kamu tetap saja tidur di kursi. Apa aku harus memaksamu?"
"Maafkan saya, Sir ... Saya tidak mau mengganggu istirahat Anda," sahut Chloe beralasan, sembari Matthew duduk di atas ranjangnya.
"Lalu bagaimana denganku? Tidakkah aku akan seperti sedang menyiksa pegawaiku?" ujar Matthew, ketus.
"Jangan membuatku semakin terlihat buruk! Tidur di sini saja!" lanjut Matthew, yang tampak bertahan dengan pendiriannya.
Chloe menghela napasnya yang terasa berat.
"Baik, Sir!" Chloe mengambil bantal yang masih di kursi, kemudian meletakkannya di bagian pinggir tempat tidur, di sisi berlawanan dengan Matthew.
Chloe yang berbaring menyamping memunggungi Matthew, segera tertidur pulas, karena dia yang kelelahan di sepanjang hari itu.
***
Masih memejamkan mata, Chloe yang hendak mengumpulkan kesadarannya, merasa kalau ada yang berbeda dari tempatnya bersandar.
Bantal yang dipakainya terasa lebih padat, dan seakan-akan sedang bergerak naik-turun secara teratur.
Begitu juga dengan getaran dengan ketukan yang berirama, yang bisa teraba di lengannya.
Merasa bahwa ada yang aneh, Chloe kemudian membuka matanya dengan perlahan-lahan, dan mendapati sepasang mata Matthew yang sedang menatapnya.
Chloe hampir melompat dari tempat tidur ketika menyadari, bahwa dia sedang dalam posisi memeluk Matthew, yang terbungkus dengan selimut.
"Maafkan saya, Sir...." ucap Chloe, lirih dan penuh penyesalan, karena tersadar bahwa dia lah yang berpindah ke sisi ranjang, di mana Matthew berbaring.
Matthew mendengus pelan.
"Seharusnya kamu memakai selimut," celetuk Matthew, sembari bergerak duduk bersandar di kepala ranjang.
"Tampaknya kamu kedinginan. Tapi aku tidak bisa memakaikan selimut padamu, walaupun aku mau ... Lihat!" ujar Matthew, membuat Chloe memperhatikan selimut yang justru ditindihnya.
Chloe bergegas turun dari atas tempat tidur, dan sambil berdiri di dekat Matthew, Chloe lalu berkata,
"Saya pasti hanya membuat Anda tidak nyaman. Kenapa Anda tidak membangunkan saya saja?"
"Sudahlah...! Tidak perlu dipikirkan...!" sahut Matthew, sambil menurunkan ke dua kakinya keluar di sisi ranjang. "Aku harus ke kamar mandi."
"Ugh? ... Okay!" Chloe segera membantu Matthew, agar bisa pergi ke kamar mandi.
"Mungkin aku akan lama. Kamu bisa kembali paviliun saja dulu," kata Matthew, ketika Chloe membantunya, hingga terduduk di tepi bathtub.
"Baik, Sir!" sahut Chloe, lalu berbalik hendak keluar dari kamar mandi.
Chloe teringat sesuatu, hingga dia kemudian menahan langkahnya, dan kembali berbalik melihat ke arah Matthew.
"Sir! ... Saya akan mencuci pakaian saya. Jadi, saya mungkin akan butuh waktu lebih lama, sebelum saya bisa kembali ke sini," kata Chloe.
Matthew yang sedang membuka kaosnya, kemudian berhenti bergerak. "Kamu bisa meminta asisten rumah tangga saja, yang mengerjakannya untukmu."
"Ugh?" Chloe kebingungan.
Matthew mendengus kasar. "Apa aku harus menunggu sampai kering di sini?"
"Oh! ... Baiklah, Sir! ... Saya hanya akan membersihkan diri saja, dan segera kembali ke sini." Chloe kemudian bergegas pergi, agar tidak membuat Matthew menjadi kesal.
Sesuai dengan arahan Matthew, Chloe meminta bantuan dari asisten rumah tangga Matthew, untuk mencuci dan merapikan semua pakaian kotornya.
Chloe hanya perlu mandi dan memakai pakaian yang nyaman, untuk mengurus semua kebutuhan Matthew hari ini.
Untung saja, hari ini adalah hari pertama libur akhir pekan, jadi Chloe kemungkinan tidak akan terlalu lelah seperti kemarin.
Karena dengan demikian, maka Chloe cukup menjaga Matthew saja, tanpa perlu disibukkan dengan pekerjaan kantoran.
Ketika Chloe berjalan keluar dari paviliun, Matteo tampak sedang berolahraga di taman depan rumah.
Kelihatannya, Matteo sudah cukup lama menggerakkan otot-otot ditubuhnya, hingga kaos yang dipakainya tampak basah dengan keringat.
"Selamat pagi, Sir!" sapa Chloe, ketika dia beradu pandang dengan Matteo.
"Pagi!" Matteo segera menghampiri, menghadang langkah Chloe. "Apa kamu bisa tidur nyenyak?"
Karena Matteo mengungkitnya, Chloe jadi merasa sangat malu, mengingat bagaimana dia bisa tertidur sambil memeluk Matthew.
"Hmm ... Apa ada masalah?" tanya Matteo, tampak mengerutkan alisnya.
"Ti—tidak ada apa-apa...." ujar Chloe terbata-bata.
"Sungguh? ... Apa kamu sakit? Wajahmu merah padam." Sambil memasang raut wajah cemas, Matteo terlihat ingin menempelkan punggung tangannya di dahi Chloe.
Namun, Chloe segera menghindar dengan bergerak ke samping, hingga Matteo tidak sempat menyentuhnya.
"Maaf ... Aku lupa kalau tanganku berkeringat. Sedangkan kamu kelihatannya sudah mandi," ujar Matteo, pelan.
"Ugh? ... Bukan seperti itu, Sir! ... Itu hanya gerakan refleks saja," kata Chloe buru-buru, untuk menghindari kesalahpahaman.
"Saya sungguh baik-baik saja. Terima kasih, karena sudah mencemaskan keadaan saya," lanjut Chloe, sambil tersenyum.
"Hmm ... Tapi, sebaiknya kamu memberitahuku, kalau kamu sedang merasa tidak enak badan. Jangan menunda-nunda sampai memburuk! Okay?!" ujar Matteo, lalu ikut tersenyum lebar.
Chloe menganggukkan kepalanya. "Iya, Sir!"
"Hmm ... Maafkan saya, Sir ... Tapi saya buru-buru. Saya tidak mau membuat Mister Matthew menunggu terlalu lama. Saya tadi meninggalkannya di kamar mandi," ujar Chloe.
"Okay! ... Aku juga masih akan melakukan beberapa putaran lagi." Matteo kemudian melanjutkan olahraganya, sementara Chloe segera masuk ke dalam rumah, untuk menemui Matthew.
Chloe lalu mengetuk pintu kamar mandi. "Sir! ... Apa Anda sudah selesai?"
"Iya." Setelah terdengar jawaban dari Matthew, Chloe kemudian membuka pintu, dan mendapati Matthew, yang tampak sedang berusaha untuk mengganti perban di tangannya.
"Saya bisa melakukannya untuk Anda." Chloe lalu mengambil alih proses pemasangan perban yang baru, di tangan Matthew itu.
"Aku tidak bisa bergantung terus-menerus kepadamu," celetuk Matthew, yang tampak bersikukuh untuk melakukannya sendiri.
"Ini sudah menjadi tanggung jawab saya, selama saya masih bekerja sebagai asisten pribadi Anda," sahut Chloe.
Sambil berjongkok, Chloe yang sudah selesai memasangkan perban di tangan Matthew, kemudian lanjut mengganti perban di kaki Matthew.
"Saya berharap, agar Anda bisa segera pulih. Sehingga, saat saya sudah tidak berada di sini lagi, Anda sudah bisa melakukan segala sesuatunya sendiri, seperti biasanya....
... Atau mungkin, Anda sebaiknya segera menyiapkan asisten pribadi yang baru. Jadi, saya tidak akan terlalu mencemaskan keadaan Anda lagi," lanjut Chloe.