
"Gosh! Geez!" Chloe benar-benar terkejut, sampai mengelus-elus dadanya sendiri, ketika Matthew atau mungkin Matteo, yang entah dari mana datangnya, dan mendadak saja sudah berdiri di depan Chloe.
Chloe tidak yakin apakah itu adalah Matthew atau Matteo, karena pakaian yang dikenakan laki-laki itu, berbeda dari apa yang dipakai Matthew sore tadi
Namun untuk sesaat, Chloe menatapnya dengan perasaan sebal, lalu berusaha menghindar dari hadangan laki-laki itu.
Namun, Matthew atau Matteo itu justru ikut bergerak ke kiri ke kanan, agar Chloe tidak bisa melewatinya, sembari berkata,
"Chloe! ... Apa kamu belum puas bersenang-senang sendiri? ... Siapa yang mengantarmu tadi? ... Aku rasa itu bukan David."
Setelah mendengar perkataan yang diucapkan oleh laki-laki itu, Chloe sekarang jadi yakin, kalau yang ada di depannya adalah Matthew.
"Teman...." sahut Chloe seadanya, tanpa mau bergerak sia-sia lagi, hanya untuk menghindari Matthew. "Apa Anda bisa menyingkir? Saya harus berganti pakaian, dan ingin segera beristirahat."
"Kelihatannya kamu cukup populer bagi laki-laki kalangan atas," celetuk Matthew, yang terdengar sinis. "Padahal katamu kamu tidak bermimpi untuk menjadi Cinderella."
"Saya tidak merencanakannya," sahut Chloe, datar. "Asal Anda tahu saja. Saya sudah berteman dengannya, sejak semester pertama di universitas."
"Hmm ... Jadi, sudah sedari dulu kamu bergaul dengan orang-orang dari orang kalangan atas?"
Menurut Chloe, pertanyaan Matthew itu seolah-olah hanya ingin mengusik Chloe, dan hendak memancing perdebatan di antara mereka berdua.
Walaupun merasa sangat kesal, namun Chloe tidak mau termakan pancingan Matthew, dan justru mengalihkan pembicaraan, dengan berkata,
"Kenapa Anda menghalangi saya? ... Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Berhenti bersikap keras kepala!" ujar Matthew, dengan nada suara meninggi.
Chloe menghela napasnya yang terasa berat. "Sebenarnya, apa yang Anda inginkan?"
"Aku menginginkanmu! ... Apa aku harus mengulang perkataanku?" ujar Matthew, sambil mengerutkan alisnya dalam-dalam.
"Iya, saya sudah mendengarnya," sahut Chloe, tetap berusaha untuk tetap tenang. "Tapi untuk apa?"
Sembari mempertahankan ekspresinya, Matthew terdiam.
"Anda sudah mendapatkan asisten yang baru. Dan rasanya tidak akan membutuhkan waktu lama, Miss Dawn pasti sudah siap menggantikan saya untuk melayani Anda....
... Ditambah lagi, Anda juga kelihatannya sudah tidak mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain. Lalu untuk apa, sehingga Anda masih menginginkan saya?" lanjut Chloe, datar.
Bukannya menjawab pertanyaan Chloe, Matthew justru balik bertanya. "Hanya itu yang bisa terpikirkan olehmu?"
Chloe mendengus kasar.
"Anda ingin tahu semua tentang saya. Bagaimana jika saya juga melakukan hal yang sama?" ujar Chloe, sambil mengangkat kedua alisnya.
"Anda dari mana saja? Anda bersama siapa? Apa hubungan Anda dengan orang itu? Apa yang Anda lakukan dengannya? Apa yang Anda pikirkan?"
Chloe melontarkan pertanyaannya dengan suara datar, sambil mengamati gelagat Matthew, sebelum dia lanjut berkata,
"Bagaimana jika saya bertanya semua hal itu? Apa Anda bisa, ... Ah! Apa Anda mau memberitahu semuanya kepada saya?"
Walaupun Chloe menunggu tanggapan Matthew hingga beberapa saat kemudian, namun laki-laki itu hanya terdiam.
"Jika tidak ada lagi yang penting, saya permisi dulu, Sir!" kata Chloe, lalu berjalan melewati salah satu sisi Matthew, yang hanya berdiri terpaku di situ.
Malam itu, Chloe tidak lagi menemani Matthew.
Chloe memilih untuk tidur di paviliun, yang menurutnya, jika disesuaikan dengan pekerjaannya, maka sudah seperti itulah seharusnya.
***
Entah sudah ke berapa kalinya ponsel Chloe yang diletakkan di atas nakas, bergetar menandakan bahwa ada panggilan masuk di sana.
Namun, Chloe masih merasa enggan untuk beranjak dari pembaringannya.
Chloe yang bertelungkup, justru membenamkan wajahnya di bantal, dan menutup telinganya dengan tangan.
Bukanlah sebuah kebiasaan bagi Chloe untuk bermalas-malasan.
Untuk hari ini, karena suasana hatinya yang buruk, sehingga walaupun dia sudah terbangun sedari tadi, namun Chloe tidak ingin diganggu oleh siapapun itu.
Bosan mendengar getaran yang berasal dari ponselnya, Chloe akhirnya beranjak turun dari tempat tidurnya, lalu mematikan daya ponsel, tanpa melihat lagi akan siapa yang menghubunginya.
Sekadar membasuh wajah dan menyikat giginya, Chloe kemudian menikmati secangkir kopi instan, sembari melihat-lihat tampilan layar komputer tablet.
Sambil memperhatikan jadwal kerjanya dan membuat catatan, Chloe menyusun tugas awal, yang bisa langsung dia serahkan tanggung jawabnya kepada Amber.
Chloe yang sedang tenggelam dalam pekerjaannya, dikejutkan dengan bunyi ketukan di pintu.
Dengan harapan agar bukan Matthew yang mendatanginya, Chloe berdiri dari sofa, dan bergegas membuka pintu depan paviliun.
Sesuai dengan harapan Chloe.
Bukanlah Matthew yang berdiri di balik pintu, melainkan David.
"Hai, Chloe!" sapa David, yang terlihat memasang raut wajah cemas. "Apa kamu baik-baik saja?"
"Hai, Sir!" Chloe balas menyapa. "Saya baik-baik saja. Ada apa?"
"Aku mengubungimu berulang kali. Tapi kamu tidak menerima teleponku. Justru ponselmu tidak aktif lagi, ketika aku mencoba menghubungimu kembali. Aku mengira kalau terjadi sesuatu kepadamu."
Setelah mengatakan alasannya sampai mencemaskan Chloe, David lalu buru-buru lanjut berkata,
"Apa aku boleh masuk?"
"Hmm...." Chloe sebenarnya sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa, tetapi....
Chloe lalu bergeser sedikit, memberi kesempatan bagi David untuk berjalan masuk ke dalam paviliun. "Silahkan masuk, Sir ... Tapi di dalam sini berantakan, karena saya sedang bekerja."
"Tidak apa-apa ... Terima kasih!" kata David, lalu mengambil tempat duduk di sofa.
Chloe merapikan kertas-kertas yang menjadi catatannya, dan beberapa berkas di atas meja, kemudian menggesernya ke bagian tepi.
"Anda ingin minum sesuatu?" tanya Chloe, sembari bersiap untuk berjalan ke dapur.
David melihat cangkir kopi Chloe yang masih ada di atas meja. "Kopi."
"Okay! ... Tunggu sebentar, Sir!" Chloe kemudian pergi membuatkan secangkir kopi instan untuk David.
"Ini, Sir!" Setelah meletakkan cangkir kopi ke atas meja, Chloe kemudian ikut duduk di sofa.
"Aku tadi pergi ke rumah orang tua Matthew," celetuk David, membuka percakapan. "Matthew serta Matteo ada di sana, tapi aku tidak melihatmu."
"Itu pesta untuk keluarga. Saya tidak wajib untuk menghadirinya," sahut Chloe, lalu menyesap sedikit kopinya.
"Apa kamu benar-benar sibuk?" tanya David, sambil bergantian memandangi Chloe, dan benda-benda yang ada di tepi meja. "Aku ingin mengajakmu bepergian."
Chloe tidak segera menjawabnya, dan justru memandangi pekerjaannya yang belum selesai dia lakukan.
"Aku jamin kalau kamu pasti akan menyukai tempat yang akan kita kunjungi," kata David, tampak ingin meyakinkan Chloe, agar mau ikut dengannya.
Sebenarnya pekerjaan Chloe memang tidak banyak, dia melakukannya hanya untuk menghabiskan waktu saja.
"Ayolah! ... Aku sudah mempersiapkannya sejak lama." Dengan suara dan raut wajah memelas, David mengulang ajakannya.
David tersenyum lebar, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan gerakan cepat. "Tidak masalah ... Aku akan menunggumu."
***
Setelah mereka singgah makan siang di sebuah restoran, David lalu membawa Chloe ke daerah perbukitan yang jauh dari kawasan perkotaan, di mana Chloe belum pernah mendatangi daerah itu sebelumnya.
Pantas saja jika David meminta Chloe untuk memakai jaket, karena di sana ternyata suhu udaranya masih cukup dingin, walaupun sekarang ini sedang musim panas.
"Ayo masuk!" David mengajak Chloe untuk memasuki sebuah vila yang berdiri megah hampir di puncak bukit.
"Aku membeli tempat ini sejak 5 tahun yang lalu," celetuk David, sembari memperlihatkan isi dari vila itu. "Bagaimana menurutmu? Proses renovasinya masih 80 persen."
"Bagus!" sahut Chloe, sambil tersenyum lebar. "Aku menyukainya."
"Awalnya, aku ingin menjadikan tempat ini sebagai rumah liburan keluarga. Tetapi, aku berubah pikiran....
... Aku akan menjadikan tempat ini sebagai resor, dan berkonsentrasi untuk mengelolanya sampai berhasil," lanjut David, yang memandang lurus ke depan.
Mungkin dia telah merasa puas untuk memperlihatkan kepada Chloe, sebagian besar dari isi vila itu, sampai ke bangunan tambahan di bagian samping hingga ke belakang vila, David lalu membawa Chloe untuk berjalan-jalan di halaman luar di sekitar vila.
Chloe yang merasa cukup kedinginan, lalu menggosok-gosok kedua telapak tangannya, untuk mengurangi rasa menusuk yang membuat jari-jari tangannya terasa kaku.
Tanpa berkomentar apa-apa, David melepaskan jaket panjangnya, lalu memakaikannya kepada Chloe.
"Anda tidak merasa dingin?" tanya Chloe, memandangi David yang hanya memakai sweater, sebagai pelapis kemejanya.
"Dingin ... Tapi aku masih bisa menahannya." David lalu menoleh ke arah Chloe, dan menatapnya lekat-lekat, kemudian lanjut berkata,
"Chloe! ... Selain mengajakmu untuk melihat-lihat di sini, sebenarnya aku juga ingin meminta maaf kepadamu...."
"Untuk apa? ... Anda tidak melakukan kesalahan apa-apa," sahut Chloe, kebingungan.
"Aku sudah memikirkan semuanya. Dan aku rasa, selama ini aku terlalu egois, dan hanya mempersulit keadaanmu. Aku terlalu memaksakan keinginanku, agar kamu tidak pindah ke luar kota....
... Maafkan aku, Chloe ... Aku tidak akan mengganggu keputusanmu. Apalagi sampai menghalang-halangimu. Aku justru akan mendukung, apa pun dan di mana pun pilihanmu untuk bekerja nanti," kata David.
"Aku yakin, jika kamu membuat keputusan, maka itu pasti adalah yang terbaik untukmu," lanjut David, sambil menatap Chloe lekat-lekat, lalu tersenyum.
"Terima kasih, Sir!" ucap Chloe, sambil ikut tersenyum. "Tapi Anda tidak perlu meminta maaf. Saya mengerti, jika Anda pasti memiliki alasan tersendiri. Karena saya pun demikian...."
Dari raut wajahnya, David tampak penasaran setelah mendengar perkataan Chloe itu, tetapi dia tidak segera mengomentarinya.
David mengajak Chloe untuk duduk bersebelah-sebelahan dengannya, di sebuah bangku yang menghadap ke lereng bukit.
"Selain karena sikap Matthew yang menyulitkan kamu, apa kamu masih memiliki alasan lain?" tanya David, sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Saya ingin pergi ke JT Corp, bukan karena sikap Mister Matthew yang kasar. Saya hanya ingin mencoba pengalaman baru, dengan bekerja di perusahaan terbuka....
... Yang menurut saya, kemungkinan besar tidak akan ada konflik antar anggota keluarga. Selain itu, saya juga tertarik untuk mempelajari bisnis yang bergerak di bidang ritel," lanjut Chloe, menjelaskan.
"Hmm ... Bisnis ritel? ... Bukan karena Matthew?" tanya David, tampak terheran-heran sembari mengangkat kedua alisnya.
Chloe mengangguk. "Iya."
"Saya tidak mungkin bekerja sampai berusia lanjut. Jadi, saya ingin agar suatu saat nanti, saya bisa membuka tempat usaha sendiri, walaupun hanya kecil-kecilan," lanjut Chloe.
David tersenyum lebar. "Apa masih normal, jika aku sampai jatuh cinta berulang kali kepadamu?"
Chloe tertawa kecil, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ada-ada saja Anda ini...."
"Hmm...." David bergumam, lalu tiba-tiba tampak tersentak. "Aku baru ingat! ... Gunther Corp! ... Apa kamu sudah pernah mendengarnya?"
Sebelum Chloe menanggapi perkataannya, David telah buru-buru lanjut berkata,
"Gunther grup baru saja mengakuisisi Sunny Corp. Dan sekarang ini, Sunny Corp berubah nama menjadi Gunther Corp....
... Aku ditawari untuk berinvestasi di sana, beberapa bulan yang lalu. Tapi aku masih mempertimbangkannya, karena track record dari Sunny Corp yang cukup buruk."
"Saya tahu perusahaan itu, Sir ... Bahkan, saya mengenal dengan cukup baik Komisaris utama di perusahaan itu," sahut Chloe.
"Ugh? ... Jadi kamu mengenalnya?" tanya David, terlihat bingung. "Kalau tidak salah, namanya itu Harold. Pewaris tunggal dari Gunther grup."
"Iya ... Harold adalah teman seangkatan saya di kampus," sahut Chloe, seadanya. "Saya baru bertemu dengannya malam tadi, di acara reuni."
David lalu tampak manggut-manggut seolah-olah dia mengerti. "Bagaimana menurutmu? Apakah Harold orang yang kompeten?"
"Saya tidak berani untuk membuat penilaian. Tapi yang saya tahu, sewaktu berkuliah dulu, Harold adalah seseorang yang gigih. Dia bahkan lulus dengan predikat Summa cumlaude—"
Chloe menghentikan begitu saja perkataannya, karena di saat itu, ponsel yang tadinya sempat dinyalakannya kembali, tiba-tiba bergetar.
"... Panjang umurnya!" ujar Chloe, setelah melihat layar ponsel yang menampilkan kontak Harold yang menghubunginya di situ.
Tanpa terlihat ragu-ragu ataupun keberatan, David mempersilahkan Chloe untuk berbincang-bincang dengan Harold di ponsel.
Harold yang mengajak Chloe bertemu dengannya, tidak bisa dijanjikan apa-apa oleh Chloe.
Chloe hanya memberitahu Harold, bahwa Chloe akan menghubunginya, jika Chloe ada waktu senggang.
"Dia ingin bertemu denganmu?" tanya David, sementara Chloe memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya.
"Iya ... Dia menyebutkan tentang Presdir di Gunther Corp ... Saya rasa, dia ingin membicarakan tentang pekerjaan," jawab Chloe, jujur.
"Kelihatannya dia cukup dekat denganmu...." celetuk David, sambil tersenyum.
"Hmm ... Saya dan beberapa rekan yang lain, memang berteman dekat dengan Harold. Kami hanya putus kontak dengannya setelah kelulusan. Karena secara tiba-tiba saja, Harold mengganti nomor ponselnya."
Sebenarnya, Chloe tahu alasan Harold sampai harus mengganti nomor kontaknya. Tetapi Chloe merasa tidak nyaman, jika dia harus membicarakan tentang urusan pribadi Harold kepada David.
Walaupun sekarang ini baru menjelang sore hari, dan matahari pun masih terlihat, namun suhu udara di daerah itu sudah turun drastis.
Bahkan, jaket berlapis yang dipakai Chloe, sudah tidak mampu untuk menahan dinginnya lagi.
David yang memandangi lereng bukit, terlihat mulai menggigil, walaupun dia tidak mengeluhkan rasa dinginnya kepada Chloe.
Sambil tersenyum, Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa Anda masih ingin duduk di sini?"
"Ayo kita pergi!" kata David, sambil berdiri dengan terburu-buru, dan membawa Chloe untuk berjalan dengannya.
Ketika mereka mengarah ke vila, ponsel David tiba-tiba saja berbunyi, hingga menarik perhatian Chloe.
David terlihat enggan untuk menerima panggilan masuk di ponselnya itu, tetapi ponselnya tidak berhenti berbunyi, seolah-olah ada yang mendesak di seberang sana.
"Maafkan aku ... Aku akan menerima telepon ini dulu!" kata David, lalu berjalan menjauh, setelah Chloe mengangguk setuju.
Untuk beberapa saat kemudian, David kembali menghampiri Chloe, lalu berkata,
"Apa kamu tidak mau ikut denganku ke rumah orang tua Matthew?"
"Hmm...." Chloe bergumam ragu-ragu.
Tetapi, David tampak ingin meyakinkan Chloe, agar mau pergi bersamanya, dengan berkata,
"Kita tidak perlu berlama-lama di pesta itu. Jika kamu jenuh, maka aku akan segera mengantarmu pulang. Presdir JT Corp juga akan hadir di sana."