
Menurut Chloe, ledekan David mungkin hanya akan memicu kemarahan Matthew.
Sehingga sejujurnya, Chloe merasa cukup cemas kalau-kalau Matthew akan memarahi David saat itu.
Tetapi, tidak disangka-sangka, Matthew justru hanya tertawa menanggapi perkataan dari David, lalu memegang sebelah tangan Chloe, menggenggamnya erat, sembari berkata,
"Mungkin aku yang terbentur, tapi kepala kalian yang sakit. Benar, kan?!"
Chloe tidak mengerti apa yang dimaksud Matthew, namun seketika itu juga raut wajah Matteo serta David yang pada awalnya sudah tampak lebih santai, kemudian berubah drastis.
Ekspresi terkejut, kesal, heran, atau entah apa yang tersirat dari wajah Matteo serta David sekarang ini, Chloe tidak bisa memastikannya.
Belum sempat Chloe berpikir apa-apa, Matthew lagi-lagi tertawa dan bahkan sampai terbahak-bahak, hingga semua perhatian tertuju padanya.
"Ada apa denganmu?" tanya Matteo yang tampak kesal kepada Matthew.
Walaupun tampak kesulitan untuk berhenti tertawa, Matthew tampak memandangi Matteo juga David, kemudian berkata,
"Bagaimana rasanya? ... Apa kalian berdua baik saja-saja?"
Kemudian, Chloe sempat melihat kalau Matthew seolah-olah sedang memberi tanda kepada Matteo dan David.
Chloe tidak tahu apa yang diisyaratkan oleh Matthew, tapi Matthew tiba-tiba berkata,
"Chloe! ... Apa kamu bisa menunggu di sebelah sana sebentar?"
Matthew menunjuk ke teras depan rumah orang tuanya itu, dan lanjut berkata,
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mereka berdua ... Tidak akan lama. Nanti aku memanggilmu!"
Chloe mengangguk. "Baik, Sir!"
Tanpa perlu Matthew mengulang arahannya, Chloe segera berdiri dan berjalan menuju ke teras yang ditunjuk Matthew tadi.
Dari teras depan rumah orang tua Matthew, Chloe masih bisa melihat gerak-gerik Matthew, Matteo, dan David.
Namun, Chloe tidak bisa mendengarkan percakapan antara ketiga orang laki-laki itu.
Sehingga, Chloe tidak tahu apa yang diperbincangkan Matthew, Matteo dan David di taman.
Setelah beberapa saat, Matthew berbincang-bincang dengan Matteo dan David, Atasan Chloe itu lalu terlihat tertawa terbahak-bahak, dan bahkan terdengar sampai terbatuk-batuk saking puasnya dia tertawa.
Pemandangan yang tidak biasa, tentu sangat mengherankan dan menarik perhatian Chloe yang melihatnya dari kejauhan.
Karena mengingat selama ini, Matthew belum pernah bisa terlihat bertingkah seakrab itu dengan siapapun, baik itu dengan Matteo apalagi David yang biasanya selalu saja dimusuhi oleh Matthew.
Jika Matthew bisa mengubah sikap yang selama ini dia perlihatkan, dan meneruskan keakrabannya seperti sekarang ini, maka untuk selanjutnya, hubungan antara Atasan Chloe itu dengan Matteo serta David akan jadi lebih baik.
Matthew yang bisa bertingkah santai, dan seolah-olah menikmati percakapannya dengan Matteo dan David, terasa cukup menyenangkan untuk dilihat berlama-lama oleh Chloe.
Akan tetapi, seolah-olah Matthew menyadari bahwa Chloe sedang memandanginya, sehingga Matthew lalu melihat ke arah Chloe, sampai mata Chloe beradu pandang dengannya.
Dan entah mengapa, Matthew yang kemudian tersenyum sambil tetap melihatnya, bisa membuat Chloe merasa kalau dadanya berdebar-debar secara tiba-tiba saja.
Bahkan, Chloe bisa merasa sangat gugup, hanya karena Matthew yang memandanginya sambil tetap tersenyum.
Chloe harus berusaha ekstra hanya untuk menenangkan dirinya sendiri, agar tidak ada seorangpun yang tahu akan apa yang Chloe rasakan sekarang ini.
Apalagi, Matthew terlihat sudah melambaikan tangannya, menandakan bahwa dia memanggil Chloe untuk kembali ke taman.
Dan sementara itu juga, Chloe akhirnya menyadari sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya di waktu-waktu sebelumnya.
Chloe bahkan sudah bisa mengerti, akan apa yang menjadi alasannya, sampai dia mau berciuman dengan Matteo malam tadi.
Secara spontan saja, Chloe berbicara sendiri, dengan berkata,
"Please, God! ... Jangan biarkan aku jatuh cinta kepadanya! ... Matthew berada di luar jangkauanku ... Tidak mungkin aku bisa mengharapkan cintanya untukku."
Sembari berjalan pelan menuju ke taman di mana Matthew, Matteo dan David duduk, Chloe mengatur napasnya.
Sehingga, ketika dia menghampiri Matthew, Chloe sudah bisa merasa lebih tenang, dan rasanya, tidak akan ada yang akan mencurigai akan apa yang tadi sempat dipikirkan oleh Chloe.
Matthew kemudian memegang tangan Chloe, dan sedikit menariknya, hingga Chloe yang tadinya masih berdiri, lalu mengambil tempat duduk di samping Matthew.
"Chloe! ... Kamu belum menjawab pertanyaanku yang juga menjadi pertanyaan bagi Matteo dan David."
"Ugh? ... Pertanyaan apa, Sir?" tanya Chloe, kebingungan.
Sembari menoleh ke samping, mungkin agar dia bisa bertatap mata dengan Chloe, Matthew kemudian berkata,
"Apa sudah ada seseorang yang kamu sukai?"
Matthew yang menanyakan hal itu, hanya membuat Chloe mengingat kembali rasa gugupnya tadi.
Sampai-sampai, Chloe hampir tidak bisa menatap mata Matthew, dan harus mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Kenapa Matthew perlu menanyakan hal itu?
Padahal, Matthew maupun Matteo dan David seharusnya tidak perlu menunggu sampai mendapatkan jawaban Chloe.
Namun, Chloe menduga kalau Matthew mengungkitnya hanya agar mereka ada bahan pembahasan di situ.
Sehingga, agar dia tidak terbawa perasaan jika harus memikirkan jawaban dari pertanyaan itu dengan berlama-lama, maka Chloe segera menjawabnya dengan asal-asalan.
"Belum ada."
"Hmm...." Matthew bergumam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Orang seperti apa yang mungkin bisa membuatmu tertarik?"
"Jangan asal menjawab!" lanjut Matthew buru-buru, seolah-olah dia bisa membaca pikiran Chloe di situ.
Untuk beberapa saat, Chloe terdiam sambil berpikir.
Karena jika temperamen buruk dari Matthew itu menghilang, maka tentu saja Chloe mengagumi sosok Matthew, dan berharap jika dia bisa mendapatkan kekasih seperti Atasannya itu.
"Ayolah, Chloe! ... Semua sedang menunggu jawabanmu," kata Matthew, sambil menatap Chloe lekat-lekat.
"Hmm ... Saya menyukai seseorang yang saya anggap adalah seseorang yang kompeten. Berani bertanggung jawab dengan apa saja yang dia lakukan, atau apapun yang dikatakannya....
... Saya ingin dia bisa selalu bersikap baik dan manis kepada saya, di setiap waktu saya bersamanya. Dan di waktu-waktu tertentu saat dibutuhkan, dia juga masih bisa bersikap baik kepada orang lain," jawab Chloe.
Setelah Chloe mengatakan hal itu, Matthew, Matteo serta David lalu saling bertatap-tatapan, dengan raut wajah datar, seolah-olah masing-masing dari mereka sedang memikirkan sesuatu.
"Kriteria laki-laki yang kamu inginkan itu tidak spesifik," celetuk Matteo, sambil menatap Chloe. "Bagaimana dengan wajah, bentuk fisik atau kemampuan finansial-nya?"
Chloe tersenyum, lalu berkata,
"Saya tidak akan munafik. Seandainya saja saya bisa menemukannya, tentu saja saya berharap agar orang itu berwajah tampan, dan memiliki bentuk tubuh yang bagus. Tapi itu bukanlah sebuah keharusan."
Sembari berbicara, Chloe memandangi Matthew, Matteo serta David bergantian, sambil memperhatikan reaksi yang ditampakkan di raut wajah masing-masing dari ketiga laki-laki itu.
"Sedangkan untuk keuangannya ... Saya tidak menjadikan hal itu sebagai tolak ukur. Karena menurut saya, jika dia adalah seseorang yang kompeten seperti yang saya bilang tadi, ...
... maka dia pasti bisa bekerja dengan baik, dan mendapatkan penghasilan yang sesuai dengan usahanya," lanjut Chloe, menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya.
Untuk beberapa saat lamanya, mereka semua di situ hanya terdiam sambil bertatap-tatapan, hingga akhirnya David memecah keheningan itu, dengan berkata,
"Chloe! ... Di antara kami, apa ada yang mungkin bisa menjadi contoh, akan bagaimana laki-laki yang kamu inginkan untuk menjadi kekasihmu?"
"Pertanyaan macam apa itu?!" ujar Matthew yang terlihat kesal, ketus menimpali perkataan David, sebelum Chloe sempat memikirkan jawaban dari pertanyaan David.
"Kalau kamu tidak mau mendengarnya, maka kamu bisa menutup telingamu," sahut David kepada Matthew, sambil memasang tampang masa bodoh. "Karena sudah pasti, kalau kamu tidaklah sesuai—"
Sebelum David menyelesaikan perkataannya, Chloe segera menyelanya dengan berkata,
"Apa kita bisa menghentikan pembicaraan ini?"
Chloe sengaja melakukannya, karena melihat kalau Matthew serta David seolah-olah akan kembali bersitegang, hanya karena pembahasan yang sebenarnya tidak penting itu.
"Maafkan saya, Sir ... Tapi mungkin kita bisa membicarakan tentang hal yang lain saja," lanjut Chloe.
"Hmm ... Maafkan aku, Chloe ... Bukannya aku ingin memaksa. Tapi justru karena kita tidak ada sesuatu yang bisa dibicarakan, itu sebabnya hingga aku tetap melanjutkan pembahasan yang ini-ini saja, daripada kita hanya terdiam."
Perkataan David itu terdengar seolah-olah ingin membela diri, sambil memberi tanda dengan gerakan matanya.
David seperti sedang memberitahu Chloe, bahwa dengan adanya Matthew di situ, hingga dia tidak tahu harus mengangkat hal apa yang bisa jadi bahan percakapan mereka.
Chloe manggut-manggut mengerti, bahwa mungkin kurang lebih sama saja alasan dari David dengan Matthew.
Menurut Chloe, mungkin kedua laki-laki itu menganggap kalau pembahasan yang tidak penting itu, justru adalah pembahasan paling netral yang tidak akan menyinggung siapa-siapa.
"Hmm ... Sebenarnya saya tidak memiliki hak untuk membuat penilaian. Tapi menurut saya yang sejujurnya, Anda bertiga memiliki kelebihan masing-masing. Jadi, tidak perlu merasa ragu-ragu....
... Apalagi, sampai perlu berpikir untuk menyamakan persepsi saya dengan wanita-wanita yang lain, yang kemungkinan besar akan jauh berbeda pendapatnya."
Lagi-lagi, Chloe berbicara sambil memandangi Matthew, Matteo serta David bergantian, untuk melihat reaksi mereka, sebelum Chloe mengembangkan senyumannya dan lanjut berkata,
"Saya yakin bahwa Anda bertiga pasti bisa, untuk membuat wanita-wanita yang masing-masing dari Anda sukai, nantinya akan jatuh cinta kepada Anda."
Seketika itu juga, perhatian Chloe kemudian tertuju kepada Matthew yang secara tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak.
Dan untuk beberapa saat kemudian, Matthew masih saja tertawa, sembari berkata,
"Kalian dengar sendiri. Benar kataku, bukan?"
Sementara itu, David serta Matteo, justru tampak mengerutkan alisnya dalam-dalam sambil menatap Chloe, dan hanya sesekali saja terlihat melirik ke arah Matthew.
Chloe yang kebingungan akan apa sebenarnya yang sedang terjadi, akhirnya tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, hingga Chloe akhirnya bertanya kepada Matthew.
"Apa yang Anda bicarakan, Sir?"
Matthew kemudian tampak mengatur napasnya, hingga dia bisa berhenti tertawa.
Lalu, dengan senyuman yang mengembang lebar di wajahnya, Matthew kemudian berkata,
"Mereka tadinya tidak percaya yang aku katakan, kalau mereka harus berusaha ekstra agar bisa membuat wanita yang mereka sukai, bisa jatuh cinta kepada mereka....
... Dan pada akhirnya, kamu pun ikut membenarkan hal itu ... Walaupun rasanya sulit untuk dipercaya, tapi mau tidak mau, mereka harus setuju dengan perkataanku."
Chloe mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu memandangi Matteo serta David, sembari berkata,
"Maafkan saya yang tidak bisa banyak membantu, karena saya juga tidak mengenal dengan baik wanita-wanita yang Anda berdua sukai—"
"Pffftt...!" Matthew tertawa tertahan.
Mau tidak mau, Chloe menghentikan perkataannya, karena suara Matthew di sampingnya, cukup mengganggu perhatiannya.
Dan sementara itu, Matteo serta David yang terlihat kecewa, membuat Chloe merasa perlu untuk menyemangati kedua laki-laki itu.
"Tidak perlu berkecil hati...! Yakin saja, kalau Anda berdua pasti bisa melakukannya ... Fighting!" kata Chloe sambil tersenyum.
Seketika itu juga, Matthew lagi-lagi tertawa terbahak-bahak.
Tingkah Matthew itu, menunjukkan seolah-olah Matthew merasa bahwa kesulitan dari Matteo dan David, yang belum bisa mendapatkan cinta mereka, adalah hal yang sangat lucu.
Sehingga, Matthew mengejek kekecewaan yang dirasakan oleh Matteo dan David itu, dengan tertawa sampai puas.
Sebenarnya, Chloe merasa cukup sebal dengan reaksi Matthew itu yang seolah-olah tidak berperasaan, dan tidak bisa merasa iba kepada adik dan sepupunya itu.
Namun di saat bersamaan, sedikit rasa senang juga terbesit di hati Chloe, karena melihat Matthew yang bisa tertawa lepas, seolah-olah laki-laki itu sudah tidak memiliki beban apa-apa lagi.
"Ayo kita pulang saja!" ujar Matthew, yang tampak sudah bisa bernapas dengan baik. "Aku mungkin akan mati lemas karena terlalu banyak tertawa, jika kita bertahan di sini lebih lama lagi."