
"Kamu hanya membuatku terkejut!" ujar Chloe, ketus, sembari mengusap-usap dada, ketika menyadari kalau Harold telah berdiri di dekatnya.
"Kami sudah selesai membersihkan semuanya," kata Harold, tampak ikut melongok ke dalam lemari es yang terbuka. "Apa lagi yang bisa aku lakukan untuk membantumu?"
"Hmm...." Chloe bergumam, sambil berdiri tegak dan menutup pintu lemari es, lalu memandangi sekelilingnya.
Dengan berdiri di tempat terpisah, Matteo serta David, tampak memandangi Chloe yang berdiri bersebelah-sebelahan dengan Harold.
"Bumbunya masih sebagian lagi yang belum disiapkan," kata Chloe, menatap rempah-rempah dan bumbu pelengkap lain, yang masih tergeletak di atas meja. "Mungkin kamu bisa membantuku dengan itu!"
"Okay!" sahut Harold, masih tampak bersemangat, dan dengan terburu-buru menghampiri meja dapur.
Beberapa saat kemudian, seolah-olah tidak ada orang lain lagi di situ, Chloe melanjutkan pekerjaannya dengan segala persiapan untuk makan siang, berdua saja dengan Harold.
Ke sana kemari, apa pun dan di mana pun Chloe berdiri dan bergerak, hanya Harold yang mengikuti gerak-gerik Chloe dan membantu semua pekerjaannya.
Sementara itu, Matteo serta David yang terduduk di situ, tidak banyak berbicara dan tampak hanya memandangi kegiatan Chloe dan Harold.
Bahkan, jika Chloe tidak salah lihat, seolah-olah Matteo dan David lebih suka mengamati apa yang dilakukan oleh Chloe serta Harold, sehingga tidak ada sedikit pun perbincangan yang terjadi di antara kedua laki-laki itu.
Tetapi, Chloe tidak terlalu memperhatikannya, apalagi sampai memikirkannya berlama-lama, dan hanya berkonsentrasi pada persiapan untuk makan siang mereka saja.
Hingga akhirnya, yang menjadi menu makanan sudah matang, dan mereka berempat kemudian makan siang bersama.
Chloe duduk bersebelahan dengan Harold, dan berhadap-hadapan dengan Matteo serta David yang duduk bersebelahan.
Baik Matteo maupun David tampak seperti orang penasaran, ketika melihat Harold mengambilkan beberapa potong udang, dan memasukkannya ke dalam piring Chloe.
Dan kelihatannya, Harold menyadari tatapan Matteo serta David yang ditujukan kepadanya, sehingga sembari balas menatap kedua laki-laki itu, Harold kemudian berkata,
"Kalian tidak keberatan, kan?! ... Chloe hanya suka udang. Dan anggap saja, ini sebagai reward bagi kerja kerasnya, yang sudah memasak untuk kita."
"Harold...! Jangan berkata seperti itu...!" kata Chloe, buru-buru menimpali. "Ini juga terlalu banyak. Belum tentu aku menghabiskannya, walaupun aku menyukainya."
"Jangan menyisakannya!" Sembari membesarkan mata melihat Chloe di sampingnya, Harold tampak memaksa. "Kamu kelihatannya telah kehilangan banyak berat badan."
Sementara itu, Matteo tampak tetap mempertahankan ekspresi datar di wajahnya, tanpa memperlihatkan reaksi apa-apa, dan David justru tersenyum sembari berkata kepada Harold.
"Apa aku bisa merasa iri? ... Kamu mengetahui banyak hal tentang Chloe. Aku juga mau, agar aku bisa sepertimu."
Harold tidak segera menanggapi perkataan David, dan justru menikmati makan siangnya bersama dengan yang lain, hingga beberapa waktu lamanya.
Sampai-sampai, apa yang dikatakan oleh David, sudah hampir terlupakan oleh mereka semua di situ.
"Hmm ... Tidaklah menyenangkan jika kamu terlalu mengenalnya. Chloe memiliki banyak kebiasaan buruk, yang hanya akan membuatmu kesal," sahut Harold, lalu menoleh ke arah Chloe.
"Salah satunya, adalah kebiasaannya meminum kopi. Apalagi, saat dia sudah berkonsentrasi pada tugas atau kegiatannya, dia pasti lupa untuk makan....
... Sampai pada akhirnya, dia beberapa kali jatuh sakit karenanya, lalu hanya menyusahkan rekan-rekannya saja." Harold memandangi Chloe dari atas ke bawah. "Dan aku rasa, kebiasaan itu masih berlanjut sampai sekarang."
"Chloe! ... Bekerja memang keharusan, tapi makan teratur untuk kesehatanmu itu kewajiban!" lanjut Harold, mengingatkan.
"Jadi apa kamu pikir pekerjaan Chloe terlalu berlebihan?" Pertanyaan bernada sinis, kemudian dilontarkan oleh Matteo, setelah beberapa saat yang lalu dia hanya terdiam.
"Hmm ... Mungkin saja!" Harold menanggapi pertanyaan Matteo, lalu lanjut berkata,
"Matthew mungkin terlalu banyak memberikan Chloe tanggung jawab. Sementara dia tidak tahu, jika Chloe memiliki kebiasaan berfokus pada tanggung jawabnya, sampai bisa melupakan kebutuhan untuk dirinya sendiri."
"Perkataanmu itu tidak salah." David ikut menimpali perkataan Harold, hingga semua mata memandang ke arahnya.
"Belum lama ini, Chloe jatuh pingsan sampai aku membawanya ke rumah sakit. Dan coba tebak alasannya!" kata David, lalu memandangi Chloe untuk sejenak. "Chloe kelelahan...."
"Sir...! Jangan menyalahkan Mister Matthew...!" sahut Chloe, yang teringat akan apa yang terjadi pada Matthew di kala itu.
"Bukan kesalahan Mister Matthew, jika saya kelelahan ... Saya yang seharusnya bisa mengatur waktu, antara pekerjaan dan mengurus diri sendiri."
"Untuk apa kamu masih membelanya?" tanya David kepada Chloe, sambil mengerutkan alisnya dalam-dalam.
"Saya—" Chloe tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Harold menyela dengan berkata,
"Walaupun dia lebih tua dariku, tapi aku rasa Matthew masih perlu lebih banyak belajar untuk menjadi pemimpin....
...Sedikit banyak, seharusnya Matthew tahu dan memperhatikan tentang kebutuhan pegawainya. Dan bukan hanya memikirkan dirinya sendiri saja....
... Karena meskipun hanya sebagai bawahan, pegawainya itu tetaplah seorang manusia. Robot saja masih bisa rusak, jika bekerja secara berlebihan."
"Harold! ... Aku—" Lagi-lagi, Chloe tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Karena kali ini, Matteo yang menyelanya dengan mengajukan pertanyaan yang tampak di arahkan kepada Harold.
"Bagaimana menurutmu tentang Matthew?"
"Dia sangat bodoh." Harold terdengar yakin saat menjawab pertanyaan Matteo tadi, lalu buru-buru lanjut berkata,
"Apa kalian tahu? Chloe sangat menyukai seseorang yang kompeten dalam melakukan pekerjaannya, tanpa memandang apa pun jenis ataupun bidang pekerjaan yang didalami oleh orang itu....
...Selain dia telah mendapatkan Chloe sebagai salah satu pegawainya yang berintegritas, Matthew mungkin juga bisa membuat Chloe jatuh cinta kepadanya....
... Kurang apa lagi? Bukankah sebuah kebodohan, jika dia tidak bisa memperlakukan Chloe dengan baik untuk mempertahankannya? Bahkan, yang aku dengar Chloe justru akan berpindah ke perusahaan lain—"
Tanpa bisa menahan dirinya lagi, Chloe segera menyela untuk menghentikan perkataan Harold, dengan berkata,
"Harold! ... Kenapa kamu berkata seperti itu? Bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu? Aku ingin mencoba pengalaman baru."
"Chloe! ... Aku hanya menjawab pertanyaan Matteo," sahut Harold tampak tidak mau kalah.
"Walaupun Matthew adalah saudaranya, namun dia ingin mendengarkan pendapatku tentang Matthew. Apa ada sesuatu yang salah dari perkataanku?" lanjut Harold, tegas.
Seketika itu juga Chloe terdiam, dan begitu juga David dan Matteo yang tampak mengunci mulut mereka rapat-rapat, untuk beberapa saat lamanya.
Walaupun demikian, mungkin karena Chloe yang memarahinya tadi, sehingga Harold sekarang ini justru terlihat kesal, dan tampak belum merasa puas membantah.
"Aku tidak berbohong, ataupun hanya sekadar ingin menjelekkan Matthew saja. Karena sebagaimana aku tahu dengan baik bagaimana sifatmu, aku hanya bicara apa adanya....
...Kamu pikir aku tidak bisa mengetahui kebohonganmu? Kamu beralasan bahwa kamu ingin mencoba pengalaman baru, tapi aku yakin kalau itu bukanlah alasan yang sebenarnya....
... Karena aku tahu kalau kamu 'alergi' dengan seseorang dengan status sosial yang jauh lebih tinggi darimu. Apalagi saat ini dia telah memiliki kekasih, sehingga kamu ingin menghindar darinya."
Harold yang berbicara panjang lebar dan seolah-olah sedang mengejek, sambil menatap Chloe lekat-lekat, hanya membuat Chloe merasa terusik.
Sehingga Chloe yang meradang, segera membantah Harold dengan berkata,
"Kamu jangan terlalu sok tahu! ... Apa yang membuatmu yakin dengan pernyataanmu itu? Apa kamu pikir karena kita berteman lama, lalu kamu pasti tahu segalanya tentangku?"
Seakan-akan tidak ada orang lain di situ, Harold pun tampak ikut meradang. Dan kelihatannya, dia tidak akan segan-segan untuk saling membantah dengan Chloe.
"Hah?! ... Lamanya persahabatan kita, sudah memberiku waktu lebih dari cukup, untuk mengetahui bagaimana sifatmu," sahut Harold dengan nada suaranya yang sinis.
"Walaupun sebenarnya kamu menyukai apa yang kamu pelajari, dan nilai-nilai yang kamu dapatkan juga bagus, tapi jika bukan karena dukungan dari teman-temanmu, kamu hampir berhenti berkuliah....
... Hanya karena salah satu dosen yang tidak memiliki simpati yang sering memarahimu, dan acap kali meremehkan kemampuan finansial keluargamu."
Harold seolah-olah ingin mengingatkan, apa saja yang terjadi sewaktu mereka masih di universitas.
"Waktu itu, kamu jatuh cinta kepada Bernard, dan sempat berkencan secara sembunyi-sembunyi dengannya, bukan?" lanjut Harold, sambil menatap Chloe lekat-lekat.
"Aku tidak—" Sebelum Chloe sempat menyelesaikan kalimatnya, Harold menyela dengan berkata,
"Sebaiknya kamu jangan mengelak ... Aku mengetahuinya, walaupun kamu berusaha menyembunyikannya rapat-rapat....
... Aku juga tahu kalau laki-laki b*rengsek itu mengkhianatimu, dan bisa dengan bangga memamerkan Louisa yang adalah tunangannya."
Saat ini, Chloe merasa sangat kesal dan ingin mendebat Harold sebisanya.
Namun, karena perkataan teman laki-laki Chloe itu memang benar adanya, sehingga Chloe hanya bisa terdiam, dan berusaha mengatur napasnya, agar bisa menenangkan dirinya sendiri.
"Seharusnya kamu melabraknya, tapi kamu justru menyalahkan status sosialnya. Dasar bodoh!" kata Harold, ketus.
"Kamu!—" Chloe yang berujar dengan nada suara menantang, segera disela oleh Harold yang berbicara dengan nada suara sinis mengejek.
"Kamu dengan angkuhnya membuat anggapan, bahwa semua orang dengan latar belakang keluarga sukses dan berharta, adalah orang-orang yang berperilaku buruk....
...Hanya untuk berteman, belum tentu kamu mau, jika kamu sampai tahu status keluargaku. Apakah sebuah kesalahan jika lahir dari keluarga konglomerat? Sekarang bagaimana?...
...Kamu sudah tahu kalau aku juga berasal dari kalangan atas. Apa kamu juga 'alergi' kepadaku? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku, jika saja aku bukanlah temanmu?...
...Bagaimana jika seseorang yang adalah kalangan atas, yang bahkan mungkin belum saling mengenal denganmu, tapi sudah mendapatkan sangkaan buruk darimu?...
... Bukankah justru kamu yang menjadi orang b*rengsek? Kamu adalah orang terbodoh, sampai tidak bisa menyadari hal itu!"
Perkataan dan pertanyaan yang panjang lebar diutarakan oleh Harold itu, membuat Chloe merasa seakan-akan wajahnya baru saja ditampar dengan keras.
Chloe tidak tahu harus berkata apa untuk membela dirinya sendiri, sehingga dia hanya bisa terdiam, sampai Harold lanjut berkata,
"Seandainya Matteo atau David berkata cinta kepadamu, walaupun mereka mungkin bersungguh-sungguh, dan kamu pun merasakan hal yang sama, tapi apa kamu akan menerimanya begitu saja?
...Aku yakin pasti jawabanmu adalah tidak. Kamu pasti akan membuat pendapatmu sendiri sesukamu, bahwa mereka hanya ingin mempermainkan perasaanmu....
... Kamu pasti tidak akan mencoba untuk mempertimbangkan segala kemungkinan. Mustahil, jika kamu sampai mau memperjuangkan rasa cinta itu. Benar begitu, bukan?"
Perkataan Harold yang selanjutnya itu, tampaknya cukup mengejutkan bagi Matteo dan David, yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan perdebatan antara Harold dan Chloe.
Karena dari ujung matanya, Chloe bisa melihat kalau raut wajah Matteo serta David yang tampak berubah drastis.
Baik Matteo maupun David, sama-sama tampak terbelalak, dan segera mengerutkan alis mereka dalam-dalam, sembari menatap Harold lekat-lekat.
Sementara itu, Harold tampak masih ingin menantang Chloe, dengan berkata,
"Itu hanya sebagian kecil dari contohnya! ... Apa kamu masih akan mengelak, seolah-olah aku tidak cukup tahu bagaimana sifatmu?"
Sesuatu melintas di pikiran Chloe, tetapi dia tidak segera mengutarakannya, dan justru menelan beberapa tegukan air, untuk menenangkan dirinya.
"Kamu bukan mengetahui sifatku. Kamu hanya membuat anggapan seolah-olah benar begitu," kata Chloe, dengan nada suara yang sinis.
"Apa maksudmu?" tanya Harold, dengan alisnya yang mengerut dalam-dalam.
"Kamu hanya mendengar dari Mister David ataupun Mister Matteo, kalau aku menolak permintaan mereka untuk berkencan denganku....
... Lalu kamu membuat anggapan, seolah-olah kamu tahu apa yang ada dalam pikiranku. Apa kamu sudah puas mencoba membuatku terlihat bodoh? Dasar b*rengsek!" sahut Chloe, ketus.
Harold terbelalak. "Hah?!"
Untuk beberapa saat kemudian, sepasang bola mata Harold tampak bergerak liar, dan seolah-olah dia akan tertawa mengejek Chloe, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar bodoh! ... Hahaha! ... Kamu adalah orang terbodoh yang pernah aku temui! ... Hahaha!" Akhirnya sembari berbicara, Harold tertawa terbahak-bahak meledek Chloe.
Sehingga Chloe menatap Harold lekat-lekat, dengan perasaan sebal dan terheran-heran, karena tidak mengerti akan apa yang Harold pikirkan.
"Kalian dengar?" tanya Harold, setelah dia sudah terlihat puas tertawa, sambil memandangi David dan Matteo bergantian. "Apa aku tidak cukup mengenalnya? ... Apa menurut kalian, aku memang tidak tahu sifatnya?"
Setelah beberapa waktu lamanya David serta Matteo hanya terdiam, David kemudian berkata,
"Chloe! ... Maafkan aku. Bukannya aku tidak mau membelamu, tapi menurutku kali ini kamu harus mengakui, bahwa Harold memang benar-benar mengenalmu dengan baik....
... Karena walaupun aku sempat berbincang-bincang dengannya tentangmu, tapi aku tidak pernah memberitahu Harold, kalau aku ingin agar kamu menjadi kekasihku...."
Kali ini, Chloe yang terbelalak.
Walaupun merasa bersalah karena telah membuat dugaan yang tidak-tidak kepada Harold, namun Chloe merasa malu untuk segera meminta maaf kepada teman laki-lakinya itu, dan justru hanya menundukkan kepalanya.
"Okay! ... Kalau begitu, aku rasa kamu memang bisa dipercaya," celetuk Matteo, yang tampaknya ditujukan kepada Harold.
"Lalu, seandainya saja, dia sebenarnya telah jatuh cinta pada salah satu dari kami, bagaimana caranya agar kami bisa tahu?" lanjut Matteo, tampak penasaran.
Dan seolah-olah Chloe tidak berada di situ, Matteo masih lanjut bertanya kepada Harold. "Apa bisa dengan mencoba membuatnya cemburu?"
"Tidak ... Kalau kalian sampai berpura-pura dekat dengan wanita lain, justru dia akan semakin menolak untuk mempertimbangkan keberadaan kalian," jawab Harold, terdengar yakin.