
Entah apa yang ada dalam pikiran Matthew, sehingga sejak dia memberikan jawaban yang terasa menggantung, sampai mereka pergi makan malam bersama, Matthew hanya lebih banyak terdiam.
Tidak ada kemarahannya yang meledak-ledak, tidak juga bersenda gurau, tidak ada reaksi apa-apa yang diperlihatkan oleh Matthew yang hanya memasang raut wajah datar.
Bahkan, sampai di perjalanan mereka yang pulang dari restoran pun, Matthew masih mengunci mulutnya rapat-rapat.
Walaupun merasa sangat janggal, namun Chloe juga tidak mau memaksa Matthew untuk berbicara. Sehingga Chloe hanya membiarkan Matthew tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Dan seperti biasanya, setelah Chloe berganti pakaian, dia segera mendatangi Matthew di kamarnya, dan menemani Atasannya itu dengan tidur di sana.
Setelah beberapa malam belakangan Chloe menemani Matthew, tetapi baru kali ini ada sesuatu yang tidak biasa yang kemudian terjadi di sekitar tengah malam, saat Chloe sedang tertidur pulas.
Chloe berusaha mengumpulkan kesadarannya, saat dia harus terbangun secara tiba-tiba, karena suara Matthew yang mengerang, seakan-akan dia sedang merasa kesakitan.
Ketika Chloe menyalakan lampu meja yang ada di sisinya, dia mendapati kalau Atasannya itu tampak masih telentang, dan mengeluarkan suara-suara rintihan dari mulutnya.
Chloe terduduk, lalu bergeser mendekat kepada Matthew.
Matthew terlihat masih memejamkan mata, namun alisnya mengerut dalam-dalam, ditambah lagi dengan keringat yang hampir sebesar butiran-butiran jagung yang memenuhi dahinya.
"Sir! ... Apa Anda baik-baik saja?"
Chloe menduga kalau Matthew sekarang ini sedang bermimpi buruk, sehingga Chloe mencoba untuk membangunkannya.
Sampai beberapa saat berlalu, meskipun Chloe berusaha membangunkan Matthew dengan menepuk-nepuk pipinya, tetapi tidak ada tanda-tanda kalau Matthew akan terbangun dari tidurnya.
Karena keadaan Matthew terlihat cukup mengkhawatirkan, dan begitu juga suaranya yang terdengar seakan-akan dia kesulitan bernapas, sehingga tanpa berpikir panjang lagi, Chloe lalu memeluknya dan berusaha membuat Matthew terduduk.
Yang anehnya, Matthew masih tetap terlihat sama, dan justru tampak sangat lemas, sampai-sampai Chloe harus tetap memeluknya agar dia tidak terjatuh.
"Sir! ... Tolong, bangun Sir!" Dengan rasa paniknya yang menjadi-jadi, Chloe mengulang-ulang perkataannya.
Melihat Matthew yang tidak bereaksi dengan apapun yang Chloe lakukan, membuat ingatan sewaktu daddy-nya akan mengembuskan napas terakhirnya, yang situasinya terasa mirip-mirip dengan saat ini, melintas di pikiran Chloe.
"Please...! Wake up...!"
Pikirannya yang kacau, membuat jantung Chloe berdegup sangat kencang, dan Chloe bahkan hampir menangis.
Begitu juga dengan sekujur tubuh Chloe yang mendadak ikut berasa lemas, karena seolah-olah kejadian dengan daddy-nya sedang terulang sekarang ini.
Agar dia tidak berpikiran yang tidak-tidak, Chloe berusaha keras untuk tetap tersadar, bahwa bukan daddy-nya yang sekarat yang sedang berada dalam pelukannya, melainkan Matthew.
"Sir...! Bangun! Anda membuat saya sangat takut...."
Untuk ke sekian kalinya, akhirnya Matthew bereaksi dan menggerakkan tangannya, walaupun terlihat sangat lemas.
"Sir...! Apa Anda baik-baik saja?" tanya Chloe.
"Apa yang terjadi?" Dari suaranya yang bertanya, Matthew terdengar masih linglung.
"Anda mungkin bermimpi buruk," jawab Chloe, sambil tetap menahan Matthew yang tersandar dalam pelukannya.
"Tapi kenapa Anda sulit untuk dibangunkan? Apa Anda pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya?" tanya Chloe buru-buru, karena penasaran.
"Aku bermimpi buruk?" Matthew justru terdengar bingung, sampai-sampai dia malah balik bertanya kepada Chloe.
Kemudian, Matthew tampaknya ingin melepaskan pelukan Chloe darinya, tetapi Matthew terlihat masih sangat lemas.
Sehingga, jika saja Chloe terlambat untuk menangkapnya lagi, maka Matthew yang berada di tepi ranjang, mungkin akan terjatuh dari tempat tidurnya itu.
"Tidak apa-apa." Chloe memastikan bahwa dia tidak keberatan, jika Matthew bersandar padanya untuk sementara. "Apa Anda ingin berbaring?"
Melihat Matthew yang mengangguk pelan, maka dengan berhati-hati, Chloe kemudian membantu Matthew agar bisa kembali telentang di atas tempat tidurnya.
Chloe kemudian mengambilkan segelas air, dan membantu Matthew untuk meminumnya, dengan mengangkat sedikit kepala Matthew.
"Anda sudah merasa lebih baik?" tanya Chloe, memastikan.
"Iya ... Terima kasih," sahut Matthew.
Chloe kemudian pergi ke sisi ranjang berlawanan, dan berbaring di sana, setelah mematikan lampu meja.
"Chloe! ... Apa kamu bisa berbaring di dekatku?" tanya Matthew, dengan suaranya yang terdengar hampir berbisik-bisik, seolah-olah dia merasa ragu untuk menanyakan hal itu kepada Chloe.
Dan jika Matthew merasa ragu, maka Chloe juga merasakan hal yang sama.
Karena, tidur di satu ranjang yang sama dengan Matthew saja, rasanya sudah tidak nyaman bagi Chloe. Apalagi, kalau Chloe harus tidur terlalu berdekatan dengan Matthew.
"Aku rasa, aku mengingat sebagian dari apa yang jadi mimpiku tadi. Dan itu membuatku merasa cukup takut untuk tidur lagi...." kata Matthew, lirih.
"Maafkan aku ... Aku tahu kalau permintaanku itu terlalu berlebihan," lanjut Matthew buru-buru, lalu berbaring menyamping, memunggungi Chloe.
Matthew kelihatannya memang tidak berbohong, kalau mimpinya tadi cukup mengganggu, sampai dia kesulitan untuk melanjutkan tidurnya.
Hingga rasanya, hampir satu jam yang telah berlalu, tetapi Matthew masih merasa tidak nyaman, dan bergerak ke sana kemari di atas tempat tidurnya.
Chloe pun tidak bisa tidur, karena ranjang yang terasa sedikit berguncang, setiap kali Matthew bergerak.
Sambil mendengus kasar, Chloe akhirnya bergeser hingga mendekat kepada Matthew. "Cobalah untuk tidur, Sir! ... Jadwal Anda untuk besok cukup padat."
"Apa aku bisa memegang tanganmu?" tanya Matthew.
Chloe terdiam untuk beberapa saat.
"Ini!" Chloe mendekatkan sebelah tangannya, sampai Matthew bisa memegangnya. "Asalkan Anda jangan membawa saya berjalan ke mana-mana. Saya masih sangat mengantuk."
"Selamat malam, Sir! ... Sleep well!" sahut Chloe.
***
Ketika Chloe terbangun di pagi hari, Matthew terlihat sudah duduk berselonjor di atas tempat tidur.
Jika melihat dari wajahnya, tampaknya walaupun Chloe menemaninya dan bahkan mengizinkan Matthew untuk memegang tangannya, namun Matthew tetap tidak bisa tertidur dengan baik.
Matthew yang terlihat lelah dengan bola matanya yang kemerahan dan kering, menampakkan dengan jelas kalau Matthew kurang tidur.
"Morning, Sir!" ucap Chloe, lalu beranjak turun dari tempat tidur. "Bagaimana perasaan Anda? Kelihatannya, Anda tidak bisa beristirahat dengan baik."
"Aku tidak bisa tidur," jawab Matthew, dengan suaranya yang hampir berbisik-bisik.
"Apa Anda ingin beristirahat di rumah saja hari ini?" tanya Chloe, cemas.
"Tidak. Aku akan ke kantor. Aku tidak mau mengacau jadwal kerjaku." Matthew lalu bergerak menurunkan kakinya ke bagian samping tempat tidur.
Chloe mendengus kasar.
Menurut Chloe, dengan kondisi Matthew yang seperti itu, seharusnya Atasannya itu beristirahat saja dulu, dan bukannya memaksakan diri untuk terus bekerja.
Namun, Chloe juga tidak bisa mengatur apa yang ingin dilakukan oleh Matthew, sehingga Chloe kemudian membantunya pergi ke kamar mandi.
Setelah itu, Chloe pun segera ke paviliun, mempersiapkan dirinya untuk berangkat kerja.
***
"Sebelum rapat direksi, Anda sudah saya jadwalkan untuk presentasi dari Centra," kata Chloe.
Setibanya di kantor, tanpa perlu ke ruang kerja CEO lagi, Chloe segera mengarahkan Matthew untuk pergi ke ruang konferensi terlebih dahulu.
"Seharusnya, Centra sudah menunggu Anda di sana sekarang ini," lanjut Chloe, sambil terus berjalan bersama-sama dengan Matthew.
Sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan, orang-orang dari Centra segera melakukan presentasi di depan Matthew, tidak berapa lama setelah Matthew serta Chloe memasuki ruang konferensi.
Sesudah melakukan pertemuan dengan orang-orang dari Centra, jadwal kerja Matthew langsung dilanjutkan dengan rapat direksi di ruangan yang sama.
Dan pada saat itu, Matthew sudah terlihat kelelahan, sampai-sampai Matthew tampak berulang kali menguap, sambil memijat-mijat keningnya.
Chloe yang memperhatikan gerak-gerik Matthew, terpikir untuk mengubah jadwal Atasannya itu, dengan mengosongkan waktunya walau hanya 1 jam, agar Matthew bisa beristirahat.
Hingga rapat direksi itu berakhir, dan para dewan direksi sudah berhamburan keluar dari ruang konferensi tempat rapat digelar, Matthew masih terduduk di kursinya sambil memijat-mijat keningnya.
David yang tampak mengembangkan senyum yang lebar di wajahnya, kemudian menghampiri Chloe yang masih berdiri menunggu Matthew.
"Hai, Chloe!" sapa David.
"Hai, Sir!" Chloe balas menyapa David, lalu ikut tersenyum.
Matthew kelihatannya memang tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya pada David, walaupun David hanya bertegur sapa dengan Chloe. Sehingga seketika itu juga, Matthew tampak buru-buru berdiri di samping Chloe.
Tanpa perlu menunggu Matthew berkata apa-apa, Chloe sudah tahu kalau dia harus segera pergi dari ruangan itu bersama dengan Matthew.
"Maafkan saya, Sir ... Saya pergi dulu! ... Anda bisa menghubungi saya nanti," kata Chloe berbasa-basi, untuk berpamitan kepada David. "Bye, Sir!"
Belum sempat David membalas perkataan Chloe, Matthew sudah berjalan menjauh dari situ, sambil memegang tangan Chloe dan sedikit menariknya.
"Bye, Chloe! ... Aku pasti akan segera menghubungimu," kata David, buru-buru.
Tanpa mengurangi kecepatan langkah kakinya, Matthew baru melepaskan tangan Chloe, ketika mereka sudah memasuki lift menuju ke lantai atas.
"Apa jadwalku selanjutnya?" tanya Matthew, sembari berjalan mengarah ke ruang kerjanya.
"Anda bisa istirahat saja dulu! ... Saya akan mengatur ulang jadwal Anda hari ini," sahut Chloe.
"Kenapa? Aku tidak memintamu untuk mengubah jadwalku. Lanjutkan saja sesuai dengan jadwal yang sudah ada!" Matthew tampak masih bersikeras untuk terus bekerja.
"Atau kamu akan pergi bertemu dengan David?"
Chloe rasanya tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Matthew.
"Sir! ... Saya tahu kalau sekarang ini masih jam kerja. Tidak mungkin saya akan mencuri kesempatan, hanya untuk urusan pribadi."
Chloe hanya sempat menganggukkan kepalanya ketika beradu pandang dengan Agatha, dan tetap menyusul Matthew sampai ke dalam ruang kerja CEO, kemudian lanjut berkata,
"Saya mencemaskan keadaan Anda. Karena Anda mungkin akan jatuh sakit, kalau Anda tidak beristirahat walau hanya sebentar."
Matthew terdiam sejenak, kemudian tampak memilih untuk tidak pergi ke meja kerjanya, dan hanya duduk di sofa. "Kamu ubah jadwalku di sini saja!"
"Baik, Sir!" Sembari ikut duduk di sofa, Chloe meletakkan tasnya ke atas meja, lalu memeriksa iPad yang dibawanya untuk mengatur perubahan jadwal kerja Matthew.
Sementara itu, Matthew terlihat melepaskan jasnya, melonggarkan dasi, lalu berbaring di sofa dengan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Chloe.
"Sir?" Chloe kebingungan akan tingkah Matthew.
Namun, Matthew yang memasang tampang masa bodoh, sudah memejamkan matanya, seraya berkata,
"Aku akan memastikan bahwa kamu tidak pergi ke mana-mana, kalau aku sampai tertidur."
Chloe mendengus pelan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Walaupun demikian, Chloe tidak mengomentarinya, membiarkan kepala Matthew berada di atas pangkuannya, sembari dia mengurus jadwal kerja Matthew.