
Setelah melihat wajah Chloe, dengan pelupuk matanya yang mulai terisi penuh dengan air mata, Matthew yang tadinya berekspresi sinis, tiba-tiba saja mengubah raut wajahnya, drastis.
"Maafkan aku ... Aku tidak berniat untuk membuatmu menangis." Matthew lalu memeluk Chloe dengan erat. "Aku hanya bercanda. Tapi, kelihatannya aku sudah kelewatan."
Chloe yang tadinya hampir menangis, lalu bisa merasa sedikit lebih tenang. Bahkan mungkin rasanya justru terlalu nyaman, hingga terbuai dengan pelukan hangat dari Matthew kepadanya itu.
Chloe yang tidak mau terlena lebih lama, berusaha untuk mengembalikan kesadarannya, lalu sedikit mendorong Matthew dengan terburu-buru, agar Matthew mau berhenti memeluknya.
Namun, Matthew justru tampak tidak mau melepaskan Chloe begitu saja, dan terasa semakin mempererat pelukannya, sembari berkata,
"Please, Chloe...! Maafkan aku ... Apa kamu masih marah kepadaku?"
"Tidak, Sir ... Tapi pelukan Anda hanya membuat saya merasa sesak," kata Chloe, beralasan.
Untuk beberapa saat lamanya, Matthew hanya terdiam, tidak menanggapi perkataan Chloe, dan tetap saja menahan Chloe dalam pelukannya.
"Chloe!" ujar Matthew, tiba-tiba.
"Iya, Sir!" Chloe segera menyahut Matthew yang menyebut namanya itu.
"Apa kamu tidak lagi marah kepadaku?" tanya Matthew.
"Iya, Sir!" sahut Chloe.
"Kamu tidak membenciku, kan?!" ujar Matthew lagi.
"Iya, Sir!" Lagi-lagi Chloe menyahut dengan jawaban yang sama.
"Apa kamu akan selalu membantuku?" Sambil tetap memeluk Chloe, Matthew masih saja bertanya kepada Chloe.
"Iya, Sir!" jawab Chloe, yang mulai merasa bosan.
"Apa kamu akan menemaniku?" Seolah-olah dia tidak merasa bosan, Matthew lagi-lagi mengajukan pertanyaannya.
"Iya, Sir!" jawab Chloe, asal-asalan.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Matthew.
"Iya, Sir! ..."
Chloe yang menjawab pertanyaan Matthew tanpa berpikir panjang, akhirnya kebingungan sendiri karenanya, hingga terburu-buru lanjut berkata,
"Ugh? ... Apa yang Anda tanyakan, Sir?"
Secara tiba-tiba saja, Matthew melepaskan pelukannya dari Chloe, lalu memegang kedua sisi lengan atas Chloe, dengan kedua tangannya.
Matthew yang tampak sedikit menunduk, bertatap-tatapan mata dengan Chloe, lalu berkata,
"Apa kamu masih tidak mau memberitahuku, siapa yang telah membuatmu jatuh cinta?"
Chloe menggelengkan kepalanya.
"Tsk!" Sambil memalingkan wajahnya, Matthew berdecak sebal, lalu kembali menghadap ke arah Chloe. "Kamu hanya membuatku penasaran setengah mati."
"Apa Anda masih menginginkan makanan penutupnya?" tanya Chloe, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Sembari memejamkan matanya, Matthew menghela napas panjang dan dalam, lalu mengembuskannya kasar.
"Aku tidak pernah merasa sekhawatir ini sebelumnya," kata Matthew, setelah dia membuka matanya lagi, dan menatap Chloe lekat-lekat.
"Ugh? ... Apa yang Anda bicarakan, Sir?" tanya Chloe, tidak mengerti akan ke mana arah pembicaraan Matthew.
"Chloe! Aku ingin tahu...." Matthew tampak kesulitan untuk mengutarakan tentang apa yang ingin dia katakan kepada Chloe, hingga dia hanya menghentikan perkataannya begitu saja.
"Tsk!" Entah apa yang mengganggu pikirannya, lagi-lagi Matthew berdecak seolah-olah sedang merasa kesal akan sesuatu.
"Ada apa, Sir?" Chloe benar-benar kebingungan dibuatnya.
Matthew terdiam untuk sesaat, sambil menatap Chloe. "Aku lelah berdiri ... Antarkan aku ke kamar!"
Tanpa berlama-lama lagi, Chloe segera membantu memapah Matthew, dan berjalan mengantar Matthew menuju ke kamarnya.
Chloe hampir mengantarkan Matthew ke kamar mandi, namun Matthew menolaknya dan justru memilih untuk duduk di tepi tempat tidurnya.
"Saya akan ke paviliun sebentar!" kata Chloe, lalu berbalik dan bersiap untuk pergi dari kamar Matthew.
"Tunggu!" ujar Matthew, menahan langkah Chloe. "Sini! ... Duduk sebentar di sini! Aku belum selesai bicara denganmu!"
Chloe yang menuruti perintah Matthew, kemudian ikut duduk, meskipun hanya di bagian ujung dari tempat tidur Matthew itu.
"Apa yang kamu lakukan di situ? ... Mendekat ke sini!" ujar Matthew yang terlihat geram, sampai Chloe bergeser hingga terduduk di dekatnya.
"Chloe!" ujar Matthew, seolah-olah sedang meminta perhatian Chloe, agar benar-benar tertuju kepadanya.
Menurut Chloe, sekarang ini Matthew terlihat cemas dan ragu-ragu.
Matthew bahkan sampai meminum sedikit air yang diletakkan di atas nakas di dekat tempat tidurnya itu, sebelum akhirnya dia berkata,
"Jika jawabanmu tidak sesuai keinginanku, maka kamu harus berpura-pura seolah-olah aku tidak pernah menanyakan hal ini kepadamu. Setuju?"
"Anda ingin menanyakan tentang—" Sebelum Chloe sempat menyelesaikan kalimatnya, Matthew sudah buru-buru menyelanya terlebih dahulu dengan berkata,
"Apa mungkin, kalau kamu mencintaiku?"
Chloe terbelalak, tetapi Matthew masih saja menatapnya, seolah-olah dia memang menunggu jawaban dari Chloe.
"Apa saya harus menjawabnya?" Chloe balik bertanya.
"Iya ... Aku sudah memberanikan diri untuk menanyakan ini. Jadi, kamu harus menjawabnya," kata Matthew yang tampak tidak sabaran.
"Tidak, Sir!" jawab Chloe, sambil memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Matthew yang tampak seolah-olah lupa caranya untuk berkedip.
"Chloe! ... Jawab aku sambil tetap melihatku!" kata Matthew yang terdengar memaksa, hingga Chloe kembali melihat ke arahnya. "Apa mungkin, kalau aku orang yang kamu cintai?"
Setelah menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri, Chloe yang berniat untuk berbohong, lalu berusaha untuk tetap terlihat yakin dengan jawaban yang akan diucapkannya.
"Tidak, Sir!"
Entah apa yang dipikirkan oleh Matthew, yang secara tiba-tiba saja mengembangkan senyuman yang lebar di wajahnya, dan berujar dengan nada suara bersemangat. "Gotcha!"
Matthew yang terlihat senang, hanya membuat Chloe kebingungan dan terdiam melihatnya.
"Oh, gosh! ... Kamu sangat bodoh!" kata Matthew lagi, sambil tetap tersenyum, dan tampak seperti ingin menertawakan Chloe.
Tingkah laku Matthew yang seolah-olah sedang mengejeknya, hanya membuat Chloe menjadi kesal, hingga berdiri dari tempat duduknya sembari berkata,
"Saya akan ke paviliun sekarang!"
"Tunggu! ... Kamu jangan ke mana-mana dulu!" kata Matthew, menahan Chloe dengan memegang tangan Chloe dengan erat.
"Ada apa lagi, Sir? ... Saya bukan bahan tertawaan!" sahut Chloe, ketus.
"Siapa yang menertawakanmu?" Walaupun dia mengelak, namun Matthew masih memperlihatkan ekspresi mengejek di wajahnya.
Seolah-olah dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Matthew lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu memang sangat bodoh!" ujar Matthew lalu menarik Chloe, hingga kembali terduduk di dekatnya, dan lanjut berkata,
"Semua yang kamu lakukan selama ini, hanya membuat aku, Matteo dan David salah paham kepadamu. Dan di saat bersamaan, kami bertiga juga tergila-gila kepadamu....
... Aku yakin kalau kamu pasti tidak tahu, bahwa Matteo dan David telah jatuh cinta kepadamu, sama seperti aku yang juga mencintaimu. Benar begitu, bukan?!"
Kebingungan karena semua hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya itu, sehingga Chloe tidak tahu harus berkata apa, dan hanya tetap terdiam, sampai Matthew lanjut berkata,
"Apa kamu masih tidak mau mengakui, kalau kamu terlalu bodoh untuk menyadari apa yang sebenarnya dirasakan oleh orang lain kepadamu?"
Chloe tidak mau menjawab pertanyaan itu, hingga dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, agar tidak bertatap-tatapan dengan Matthew.
"Chloe!" ujar Matthew, sambil menggerakkan kepalanya mengikuti ke mana saja arah mata Chloe memandang.
Sehingga mau tidak mau, Chloe akhirnya harus berhenti menghindarinya, dan kembali bertatapan dengan laki-laki itu.
"Aku mencintaimu, Chloe! ... Aku tidak segera mengungkapkannya, karena aku merasa kalau kamu masih membenciku atas sikapku yang kasar selama ini....
...Ditambah lagi, perhatianmu kelihatannya tidak hanya tertuju kepadaku saja. Matteo dan David, juga mendapat perlakuan dan perhatian yang sama darimu....
... Sehingga aku merasa ragu-ragu, apakah kamu bisa mencintaiku. Bahkan sampai detik ini pun, aku rasanya masih tidak bisa percaya kalau kamu bisa jatuh cinta kepadaku."
Sejujurnya, pernyataan cinta dari Matthew itu tentu bisa membuat hati Chloe berbunga-bunga.
Namun, Chloe segera menyadari sesuatu yang membuatnya merasa sangat kesal, dan buru-buru berkata,
"Jangan membuat saya kehilangan rasa hormat saya kepada Anda!"
Matthew yang tampak terkejut, lalu mengerutkan alisnya dalam-dalam, sambil menatap Chloe lekat-lekat.
"Saya tidak pernah mengatakan kalau saya mencintai Anda, bukan?! ... Lalu, apa Anda pikir saya ini terlalu bodoh, hingga Anda bisa mempermainkan saya?" ujar Chloe, ketus.
Kelihatannya, perkataan Chloe itu telah memicu kekesalan Matthew, hingga laki-laki itu tampak menggertakkan gigi, sambil memberi Chloe tatapannya yang tajam.
"Oh! ... Jadi kamu sudah pintar sekarang ini?" Baik dari raut wajah hingga nada suaranya, Matthew seolah-olah hanya sedang mengejek Chloe saja.
"Kamu merasa pintar, hingga sudah bisa memberikan penilaianmu. Menyebutku sebagai seseorang yang suka mempermainkan perasaan orang?" lanjut Matthew, yang terlihat benar-benar geram.
Karena tidak mau jika dia hanya menjadi bulan-bulanan Matthew, sehingga Chloe tidak merasa ragu-ragu lagi untuk menantang Matthew, dan dia pun ikut bicara dengan nada mengejek.
"Apa penilaian saya itu salah? ... Apa Anda bisa membuktikan bahwa Anda tidak seperti itu?"
Melihat kalau Matthew tidak segera menanggapi pertanyaannya, Chloe kemudian lanjut berkata,
"Anda berkencan dengan Miss Parker. Lalu Anda mengatakan bahwa Anda mencintai saya? Apa Anda mengira, bahwa saya akan mempercayai kata-kata Anda begitu saja?
... Please, Sir! ... Seandainya saya jatuh cinta kepada Anda pun, saya tidak akan dengan mudahnya bertekuk lutut pada kebohongan Anda."
Setelah dia hanya terdiam untuk beberapa saat, sambil melirik Chloe dengan ujung matanya, Matthew kemudian tertawa terbahak-bahak, lalu berkata,
"Gosh! ... It feels so great! ... Akhirnya aku bisa membuatmu cemburu. Benar begitu, bukan?!"
Kali ini, Chloe yang terdiam.
"Terserah kamu saja, mau percaya atau tidak. Yang penting, aku sudah tahu kalau yang sebenarnya kamu telah jatuh cinta kepadaku," lanjut Matthew, sambil tersenyum lebar.
"Bagaimana Anda bisa seyakin itu?" tanya Chloe, dengan nada suara yang sinis.
"Chloe! ... Apa kamu sudah lupa? ... Ini!" Matthew lalu menunjuk sudut mata Chloe, sembari lanjut berkata,
"Mulutmu bisa berbohong, tapi tidak dengan matamu ini. Aku pasti akan segera mengetahuinya, jika kamu sedang berbohong atau tidaknya, setiap kali kamu memberikan jawaban dari pertanyaanku."
Seketika itu juga, di dalam hati, Chloe mengutuk keras matanya yang selalu berkedut saat dia berbohong, sehingga membuatnya tidak bisa mengelak dari Matthew.
Dengan kedua tangannya, Matthew lalu memegang kedua sisi wajah Chloe, dan menahannya agar tetap bisa bertatap muka dengannya, lalu berkata,
"Dengarkan perkataanku baik-baik! ... Tidak ada hubungan apa-apa di antara aku dengan Judy."
Matthew berbicara sambil menatap Chloe lekat-lekat, dan Matthew bahkan bertingkah seolah-olah dia lupa caranya untuk berkedip.
Dan Chloe yang mendengarkannya, hanya terdiam sambil berpikir, apakah pernyataan dari Matthew itu memang bisa dipercaya.
Kemudian, seakan-akan Matthew tahu kalau Chloe masih meragukan perkataannya, sehingga Matthew tampak ingin menjelaskan lebih lanjut, dengan berkata,
"Judy bahkan sudah tahu kalau aku mencintai orang lain, walaupun dia tidak tahu siapa orangnya yang telah lebih dulu mendapatkan hatiku....
...Kamu bisa saja menanyakan langsung kepadanya, jika kamu tidak percaya akan apa yang aku katakan. Selama ini, kami hanya berbincang-bincang tentang urusan pekerjaan....
... Aku hanya berpura-pura seperti kami sedang berkencan, karena aku ingin membalas tingkah lakumu yang terlalu akrab dengan Matteo dan David."
Namun, Chloe tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi pernyataan dari Matthew itu, hingga lagi-lagi Chloe hanya bisa tetap terdiam.
"Oh, gosh! ... Rasanya masih sulit untuk dipercaya!" ujar Matthew, terdengar bersemangat.
Seolah-olah dia baru saja memenangkan lotere, sepasang mata Matthew tampak berbinar-binar, dilengkapi dengan senyuman yang mengembang lebar di wajahnya.
"Aku masih ingin memastikannya lagi!" Matthew yang masih memegang kedua sisi wajah Chloe, lalu mendekatkan wajahnya, dan memberi tatapan menyelidik ke dalam mata Chloe.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Matthew.
Chloe mengangguk pelan. "Iya, Sir!"
Seketika itu juga, tanpa sempat Chloe berpikir apa-apa lagi, Matthew telah mendaratkan ciumannya yang lembut di bibir Chloe.
Rasanya, Chloe sulit untuk mempercayai akan apa yang sedang terjadi sekarang ini.
Walaupun merasa sangat gugup, namun Chloe tidak mau memejamkan matanya, dan tetap menjaga matanya terus terbuka, untuk memastikan bahwa memang Matthew yang sedang berciuman dengannya.
Melihat sebagian wajah Matthew yang tampak bersungguh-sungguh menginginkannya, membuat jantung Chloe berdegup sangat kencang.
Chloe baru bisa merasa sedikit lebih tenang, ketika dia memejamkan matanya, dan merasakan pelukan erat dari Matthew yang seolah-olah tidak akan pernah mau melepaskannya lagi.
Hingga beberapa saat kemudian, Matthew tampaknya masih tidak mau berhenti berciuman dengan Chloe.
Matthew justru terasa semakin bersemangat, menjelajahi setiap bagian dari bibir Chloe, sampai ke bagian dalam mulut Chloe, sampai-sampai Chloe merasa kalau dia mungkin akan mati lemas, karena tingkah Matthew kepadanya itu.
Chloe kemudian mendorong Matthew, agar menghentikan ciumannya, sebelum Chloe jatuh pingsan dibuatnya.
Matthew yang mengerutkan alisnya dalam-dalam terlihat bingung, hingga Chloe buru-buru menjelaskan dengan berkata,
"Napas saya sesak...."
Matthew tersenyum lebar, kemudian menarik Chloe agar berpindah duduk ke atas pangkuannya, lalu memeluk Chloe dengan erat, sembari berkata,
"Jangan salahkan aku, Chloe! ... Kamu sendiri yang mau membalas cintaku. Maka sejak detik ini, jangan pernah bermimpi bahwa aku akan melepaskanmu lagi....
...Aku akan memastikan, bahwa kamu hanya mencintaiku. Kamu tidak akan pernah bisa lagi untuk melihat laki-laki lain, selain aku....
... Siapapun itu, akan kubuat dia menyesali tingkah lakunya, jika dia sampai berani mendekatimu dan coba-coba untuk merebut cintamu dariku."