Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 76



Kelihatannya, kedekatan antara Chloe dengan Harold, cukup menarik perhatian dari hampir setiap anggota keluarga McLean.


Sebenarnya jika dipikir-pikir lagi, maka tidaklah terlalu mengherankan, mengingat Harold yang adalah seorang pewaris tunggal untuk bisnis raksasa, lalu berhubungan dekat dengan Chloe yang hanyalah orang biasa saja.


Chloe lalu menjelaskan kepada Maddison, akan apa hubungannya dengan Harold, hingga Chloe bisa akrab dengan laki-laki itu.


Dan Maddison yang mendengarkan penjelasan Chloe, tampak manggut-manggut mengerti.


"Kalau begitu, memang tidak salah jika kami mempercayaimu. Putra dari Gunther saja, tidak ragu-ragu untuk berteman denganmu," celetuk Maddison, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sehebat apa Gunther's itu, jika dibandingkan dengan McLean's?" tanya Matteo, tampak penasaran.


Maddison melirik Chloe sambil tersenyum. "Maklumi saja ... Matteo memang tidak mengerti tentang bisnis keluarga."


Perkataan Maddison kepada Chloe, yang seperti sedang mengejek Matteo, hanya membuat Matteo terlihat kesal, hingga berujar dengan suara meninggi.


"Mommy!"


"Pffftt...!" Maddison tertawa tertahan, lalu menjelaskan seadanya kepada Matteo, dengan berkata,


"Sayap bisnis Gunther's, sama besarnya dengan McLean's. Bahkan, Gunther's mungkin akan jadi lebih besar lagi....


... Karena Harold, walaupun masih berusia sangat muda, tetapi berani untuk merambah bisnis di bidang yang baru."


Maddison melihat ke arah Chloe, lalu berkata,


"Apa kamu sudah dengar, kalau Harold berencana untuk membuat Gunther's juga bisa menguasai bisnis ritel? ... Harold lah yang mengambil keputusan untuk mengakuisisi Sunny Corp."


"Hmm ... Harold tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu kepada saya, Madam," sahut Chloe, jujur.


"Coba lihat di sebelah sana!" kata Maddison, sambil menunjuk ke arah orang tua Harold, yang tampak sedang berbincang-bincang dengan Presdir dari JT Corp.


"JT Corp sekarang ini cukup was-was, karena kehadiran sosok Harold yang berambisi untuk memonopoli bisnis...." lanjut Maddison, sambil senyum-senyum sendiri.


Menurut Chloe, Maddison tidak mungkin berbicara bohong kepadanya.


Sehingga, walaupun Chloe bangga dengan sosok Harold, namun Chloe pun terpikir akan bagaimana nasib JT Corp, jika Harold berhasil mengguncang bisnis di bidang itu.


Kemungkinan, Chloe hanya bisa bekerja sementara waktu di JT Corp, jika perusahaan itu sampai tergeser karena pergerakan dari Gunther Corp.


"Menyebalkan!" celetuk Matteo tiba-tiba, dan tampak kesal. "Hanya aku saja yang tidak mengerti tentang apa yang kalian bicarakan."


Maddison tersenyum lebar, kemudian tampak memeluk Matteo dengan penuh kasih sayang, sembari berkata,


"Honey...! Tidak perlu merasa kecewa ... Kamu hebat dalam bidangmu. Tentu kamu tidak bisa membanding-bandingkan hal yang tidak sama."


Tidak berapa lama, terlihat David serta Harold yang datang menghampiri, lalu segera saling menyapa dengan Maddison, sambil tersenyum lebar.


"Hai, aunty!"


"Hai, Madam!"


"David! ... Harold Gunther ... Tidak apa-apa jika saya bicara informal?"


"Tentu saja, Madam!" jawab Harold, sembari tetap tersenyum. "Saya tidak keberatan."


"Okay!" sahut Maddison, manggut-manggut mengerti, lalu tampak seperti tersentak, dan lanjut berkata,


"Hmm ... Maafkan saya ... Tapi saya sampai lupa, kalau Matteo diminta Grandpa-nya untuk menampilkan permainan pianonya."


"Oh! ... Silahkan Madam!" sahut Harold, mendahului perkataan dari yang lain.


"Mom!" ujar Matteo yang terlihat enggan.


"Matteo...! Kamu tentu tidak ingin membuat Grandpa-mu kesal, bukan?!" sahut Maddison, tampak memaksa.


Walaupun dia terlihat mau tidak mau saja, dan memasang raut wajah cemberut, namun Matteo tetap mengikuti langkah Maddison, menjauh dari situ.


"Matteo berbakat di bidang musik?" Harold terlihat keheranan.


"Iya," jawab David, sambil mengangkat kedua alisnya. "Apa kamu tidak tahu? Matteo seorang komposer terkenal."


"Begitu, ya?!" ujar Harold, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Apa kamu masih senang mendengarkan musik klasik di piringan hitam?" tanya Chloe kepada Harold.


"Iya ... Koleksiku sekarang sudah semakin banyak," jawab Harold, yang tampak bersemangat menyampaikan kesukaannya.


"Tidak ada salahnya jika kamu mencoba mendengarkan beberapa lagu yang dikomposisi oleh Matteo," ujar Chloe, memberikan saran kepada Harold.


"Okay!" sahut Harold, terdengar tanpa beban. "Aku akan mencarinya nanti."


"Kelihatannya, kalian berdua memang berhubungan dekat, sampai bisa saling mengetahui kesukaan masing-masing," celetuk David.


"Ugh?" Chloe kebingungan.


"Kata Harold, kamu suka membaca komik untuk anak kecil, dan sama sekali tertarik dengan novel bercerita romansa." David seolah-olah ingin menjelaskan maksudnya kepada Chloe.


"Jadi katanya, jangan heran kalau kamu tidak mengerti tentang hal-hal yang berbau romantis," lanjut David, sambil tersenyum mengejek, dan tampak hampir tertawa.


Chloe terbelalak, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa yang Anda dan Harold bicarakan?"


Sembari membesarkan matanya, Chloe menatap Harold dan berujar dengan nada suara meninggi. "Harold...!"


Harold lalu tersenyum aneh, seolah-olah dia merasa salah tingkah, karena David membocorkan pembicaraan mereka tadi. "Maafkan aku...."


"Tapi aku rasa, sudah waktunya bagimu untuk mencari pasangan. Teman-teman kita yang lain, rata-rata sudah berkeluarga," lanjut Harold, tampak ingin meyakinkan Chloe.


Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa kamu sudah memiliki kekasih?"


"Ugh! ... Oh! ... Belum...." jawab Harold, gelagapan dan tersipu-sipu malu.


"Lihat! ... Kamu sama saja!" sahut Chloe, sambil tersenyum puas.


***


Setelah beberapa saat yang telah berlalu, Chloe yang asyik berbincang-bincang santai dengan Harold dan David, kemudian dihampiri oleh Nathan.


"Hai, Chloe!" sapa Nathan, lalu melihat ke arah David dan Harold bergantian. "David! ... Mister Harold Gunther!"


"Hai, Sir!" Chloe, Harold, serta David, secara bersamaan membalas sapaan dari Nathan.


"Maafkan saya, jika mungkin hanya mengganggu kalian saja. Tapi, ... apa saya bisa meminjam Chloe sebentar?" ujar Nathan, sembari memandangi David dan Harold.


"Oh! ... Silahkan, Sir!" kata Harold, sementara David terlihat mengangguk setuju.


"Chloe!" Nathan kembali melihat ke arah Chloe. "Apa kamu bisa ikut dengan saya?"


Chloe mengangguk. "Iya, Sir!"


Tanpa berlama-lama lagi, Chloe segera mengikuti langkah Nathan yang membawanya berjalan menjauh, dari para tamu undangan yang lain.


Nathan mempersilahkan Chloe untuk duduk di sebuah bangku, kemudian Nathan pun ikut duduk berhadap-hadapan dengan Chloe.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Nathan, meskipun hanya terdengar seperti sedang berbasa-basi. Tetapi, Chloe tetap menanggapinya dengan berkata,


"Saya baik-baik saja, Sir!"


"Hmm ... Saya sudah dengar semua tentangmu dan pekerjaanmu di bawah arahan Matthew. Dan saya merasa bersalah. Mungkin seharusnya saya tidak membuatmu menjadi asisten pribadi baginya....


"Sir! ... Anda tidak perlu memikirkan hal itu...." Chloe jadi ikut merasa bersalah, karena mendengar nada suara Nathan berbicara, dan melihat ekspresi yang diperlihatkan oleh Nathan.


"Anda dan keluarga Anda, sangat baik kepada saya, ... dan saya sangat menghargainya. Tapi, saya ingin mencoba pengalaman baru," lanjut Chloe, berusaha untuk memberi pengertian kepada Nathan.


"Matthew memang terlalu keras kepala...." Seperti orang yang sedang bersusah hati, Nathan tampak menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.


"Walaupun saya daddy-nya, tapi dia masih lebih menghormati Grandpa-nya."


Ketika Nathan menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja terdengar suara Matthew yang berkata,


"Apa daddy membicarakan sesuatu yang buruk tentangku di belakangku?"


Sontak, nada suara meninggi dari Matthew, segera menarik perhatian dari Chloe dan Nathan, hingga melihat ke arah datangnya suara secara bersamaan.


Dari raut wajahnya, Matthew terlihat sangat kesal, sampai-sampai dia tampak mengeraskan rahangnya, sembari memandangi Chloe dan Nathan dengan alisnya yang mengerut dalam-dalam.


Sementara itu, Judy yang bergelayut di salah satu lengan Matthew, tampak seperti orang kebingungan, dan hanya terdiam memandangi Chloe dan Nathan bergantian.


Entah apa yang terjadi di situ, Chloe tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya.


Yang pastinya, untuk beberapa saat kemudian, sebelum Nathan menanggapi kemarahan Matthew, di situ sudah ada banyak orang yang berkumpul.


Matteo, Maddison, David, dan Harold, tampak ikut menghampiri tempat di mana Chloe dan Nathan sedikit bersitegang dengan Matthew, yang ditemani oleh Judy.


Situasi jadi terasa semakin canggung, karena semua yang berada di situ hanya terdiam, dan saling memandangi antara satu dengan yang lain.


Hingga akhirnya, Harold kemudian memecahkan keheningan di situ dengan berkata,


"Maafkan saya ... Tapi saya ingin mengajak Chloe untuk pergi dengan saya. Orang tua saya ingin bertemu dengannya."


Chloe lalu melihat tanda yang dibuat Harold dengan gerakan matanya, seolah-olah sedang memberi isyarat kepada Chloe bahwa ada sesuatu, dan sebaiknya Chloe segera menjauh dari sana.


Sehingga, walaupun semua orang di situ terlihat bingung, namun Chloe setuju dengan ajakan dari Harold.


"Maafkan saya ... Permisi!" kata Chloe, sambil memandangi satu per satu dari anggota keluarga McLean itu, dan Judy.


Nathan dan Maddison, begitu juga David, terlihat mengangguk setuju, sementara sisanya tampak hanya terdiam dan tidak menanggapi apa-apa.


Tanpa berlama-lama lagi, Harold kemudian membawa Chloe pergi, sembari berbisik-bisik dengan berkata,


"Maafkan aku ... Tapi aku rasa, itu adalah alasan yang paling masuk akal, agar kamu tidak terjebak di dalam ketegangan di antara keluarga McLean."


"Tapi aku juga bersungguh-sungguh, kalau orang tuaku ingin bertemu denganmu," lanjut Harold buru-buru, sebelum Chloe sempat menanggapi perkataannya yang sebelumnya.


"Tidak apa-apa ... Aku justru berterima kasih, karena kamu sudah membantuku," kata Chloe, seadanya.


"Hmm ... Wanita yang bersama Matthew, apa dia yang menjadi kekasih Matthew?" tanya Harold, terdengar berhati-hati.


"Yang aku tahu, Mister Matthew memang berkencan dengannya," jawab Chloe. "Kenapa kamu menanyakan hal itu?"


"Tidak apa-apa ... Hanya sekadar ingin tahu saja. Karena yang aku dengar, Matthew sudah memiliki seseorang yang ingin dinikahinya—"


Sepertinya, masih ada yang ingin dikatakan oleh Harold kepada Chloe, tetapi dia menghentikan perkataannya begitu saja, karena mereka sudah berhadap-hadapan dengan orang tua Harold.


"Mom! ... Dad! ... Dia Chloe! ... Teman kuliahku dulu." Harold memperkenalkan Chloe kepada Orang tuanya.


Mister dan Mistress Gunther tersenyum lebar, lalu menyapa Chloe secara bergantian.


"Hai, Miss Fern!"


"Hai, Sir! ... Madam!" sahut Chloe, balas menyapa sambil tersenyum.


Harold terlihat bingung, sementara Mistress Gunther justru tampak hampir tertawa, lalu berkata,


"Kami sudah saling mengenal. Mommy dan daddy sudah beberapa kali bertemu dengannya ... Kami hanya tidak tahu saja, kalau kalian seangkatan di universitas."


Tidak butuh waktu lama, Chloe, Harold dan kedua orang tua Harold, sudah tenggelam dalam percakapan mereka, sembari duduk berhadap-hadapan.


Mulai dari perbincangan tentang pertemanan Harold dengan Chloe sewaktu berkuliah, sampai memperbincangkan tentang bisnis keluarga Gunther.


"Apa Miss Fern tidak tertarik untuk bekerja bersama Harold?" tanya Mister Gunther.


"Hmm ... Sejujurnya saya baru tahu, kalau Harold sudah bekerja di Gunther Corp. Jadi, saya belum memikirkan tentang bekerja bersamanya, Sir...."


Setelah Chloe menjawab pertanyaan dari Mister Gunther, kedua orang tua Harold itu tampak manggut-manggut seolah-olah mereka mengerti.


"Aku sudah mengajaknya untuk ikut bergabung di Gunther Corp. Tapi, ... Chloe mungkin tidak yakin, jika temannya ini bisa bekerja dengan baik," kata Harold, seolah-olah sedang memperbincangkan orang ketiga.


Sehingga, Chloe serta Mister dan Mistress Gunther, sama-sama tersenyum lebar, dan hampir tertawa karenanya.


"Bukan seperti itu ... Saya hanya belum memikirkannya saja," sahut Chloe, seadanya.


"Hmm ... Kalian berdua, sama-sama masih sangat muda. Tapi, ... Saya bisa menyombongkan anak saya, kan?!" ujar Mister Gunther, sembari menatap Chloe.


Chloe tersenyum dan menganggukkan kepalanya, hingga Mister Gunther kemudian lanjut berkata,


"Okay! ... Menurut saya, kalian berdua sama-sama masih sangat muda. Kalian adalah pemimpi, dan pekerja keras. Seandainya kalian berdua bekerja sama, maka kalian berdua akan jadi pasangan yang berpengaruh di bisnis."


"Akan lebih baik lagi, jika Harold bisa menikah dengan Miss Fern," kata Mistress Gunther buru-buru menimpali, sembari tersenyum lebar dan memandangi Harold dan Chloe bergantian.


"Mommy!" ujar Harold, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa yang salah?" tanya Mistress Gunther, lalu tampak ingin mendapatkan pembenaran dari suaminya. "Benar kan, honey?"


Dan seolah-olah dia tidak mau membuat istrinya marah, Mister Gunther tampak tersenyum kikuk, dan menganggukkan kepalanya.


Karena melihat gelagat dari Mister dan Mistress Gunther itu, Chloe bahkan hampir tidak bisa menahan tawanya lagi.


"Miss Fern! ... Harold sudah saya atur untuk kencan buta. Tapi dia selalu menolak wanita pilihan saya, dengan alasan dia tidak mau berkencan dengan wanita yang tidak dikenalnya....


... Kalau saja saya tahu, bahwa Miss Fern berteman baik dengannya, maka saya sudah mengatur kencan untuk kalian berdua," kata Mistress Gunther, sembari memasang ekspresi serius.


"Mom...!" ujar Harold, terlihat sebal. "Chloe! ... Maafkan mommy-ku ... Dia pasti hanya membuatmu merasa tidak nyaman."


"Harold! ... Sampai kapan, kamu hanya akan sibuk dengan pekerjaan? Mommy ingin segera menimang Grandson!" Mistress Gunther tampak tidak mau kalah.


"Honey...! Biarkan saja mereka yang membuat pilihan...." Mister Gunther tampak berusaha untuk membujuk istrinya, dengan bicara perlahan-lahan dan terdengar berhati-hati.


"Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada mereka ... Bagaimana jika Miss Fern sudah memiliki kekasih?" lanjut Mister Gunther, memberi pengertian kepada Mistress Gunther.


"Hmm...." Mistress Gunther bergumam seperti sedang memikirkan sesuatu, lalu menatap Chloe lekat-lekat, kemudian berkata,


"Apa Miss Fern sudah memiliki kekasih? Jika belum, apa Miss Fern mau berkencan dengan anakku Harold?"


"Oh, gosh! ... Mom!" ujar Harold dengan suara meninggi, tampak frustrasi. "Apa mommy bisa berhenti membicarakannya? Pembahasan itu sudah menyinggung ranah privasi Chloe."


Walaupun Mistress Gunther tampak kesal karena Harold yang terus menghalang-halangi keinginannya, namun wanita itu kelihatannya mau mengerti.


Sehingga, Mistress Gunther akhirnya hanya terdiam, dan tidak mengungkit tentang berkencan itu lagi.


Bahkan dari raut wajahnya, Mistress Gunther justru tampak sedih, seolah-olah dia merasa bersalah karena terlalu banyak bicara, dan tidak ada yang membelanya.


Dan Harold tampaknya menyadari hal itu, hingga dia kemudian berkata,


"Mom...! Maafkan aku ... Tapi, aku yang akan membicarakannya dengan Chloe. Apakah dia mau berkencan denganku, atau kami nantinya justru berkencan dengan orang lain, mommy tidak perlu mengkhawatirkannya."