Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 53



Matthew memang telah menjelaskan maksudnya kepada Chloe, namun Chloe masih saja tidak mengerti akan apa yang sedang dibicarakan oleh Matthew.


Karena menurut Chloe, apa yang dia dan Matthew lakukan itu adalah dua hal yang berbeda.


Chloe hanya berniat untuk membersihkan wajah Matthew dari sisa makanan yang mengotorinya.


Sedangkan apa yang dilakukan oleh Matthew justru terkesan jorok, karena dia yang memakan sisa krim yang menempel di wajah Chloe, yang menurut Chloe, sisa makanan itu pasti sudah kotor.


Walaupun demikian, Chloe manggut-manggut saja, berpura-pura seolah-olah dia memang mengerti maksud dari Matthew itu.


Akan tetapi, Matthew tampaknya tidak bisa dibohongi oleh Chloe, karena dia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berkata,


"Kelihatannya kamu masih tidak paham dengan apa yang sedang aku bicarakan."


Chloe tersenyum malu-malu, karena keberpura-puraannya yang masih bisa diketahui oleh Matthew.


Sembari mengeluarkan suara mendesis dari mulutnya, Matthew yang tampak gemas karena tingkah Chloe itu, kemudian bergerak cepat mencubit salah satu pipi Chloe.


"Auch! ... Itu sakit, Sir!" ujar Chloe meringis kesakitan, sambil mengusap-usap pipinya yang sakit.


"Sakit? ... Aku akan mencubitmu lagi!" Sambil membesarkan matanya, Matthew tampak bersiap-siap untuk mencubit pipi Chloe.


Namun dengan menggunakan kedua tangannya, Chloe segera menutup kedua pipinya, agar tidak menjadi sasaran dari jari-jari Matthew. "Please, don't tease me, Sir!"


Matthew lalu tersenyum lebar, dan hanya sekadar mencubit pelan hidung Chloe yang tidak terlindungi.


"Kalau kamu selalu seperti ini, maka tidak mengherankan jika ada-ada saja yang bisa salah paham," celetuk Matthew, lalu mendengus kasar.


Sambil menatap Chloe lekat-lekat, Matthew kemudian lanjut berkata,


"Matteo pasti akan semakin membenciku karenamu, tapi ... Sudahlah! ... Tolong Antarkan saja aku ke kamar!"


Chloe terdiam sejenak, sambil melihat ke piring di atas meja, di mana masih tersisa sebagian besar potongan kue di sana. "Anda tidak mau memakannya lagi?"


Seandainya Matthew memang tidak berminat untuk menghabiskan kue itu, maka Chloe akan menyingkirkannya dari atas meja, sebelum mengantarkan Matthew ke kamarnya.


"Aku mau memakannya, asalkan kamu mau menyuapkannya untukku," jawab Matthew, sambil melirik Chloe dengan ujung matanya.


Walaupun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Chloe mau saja menyuapkan Matthew, dengan sedikit demi sedikit potongan kue itu.


"Jika menilai dari kata-katamu tadi, kedengarannya kamu belum menerima pernyataan cinta dari Matteo," kata Matthew, tiba-tiba.


"Hmm ... Iya, saya tidak bisa menerimanya begitu saja," jawab Chloe ragu-ragu, sambil menyuapkan potongan kue terakhir kepada Matthew.


"Lalu, apa kamu sudah menolaknya?" tanya Matthew, setelah menelan makanan di mulutnya.


"Belum," jawab chloe. "Rasanya percuma saja, jika saya berbicara padanya sementara dia sedang mabuk. Karena kemungkinan besar, dia tidak akan mengingat apa-apa lagi nantinya."


"Jadi kamu berniat untuk menolaknya?" Matthew tampak semakin penasaran.


Chloe berdiri membawa piring bekas kue, dan membersihkannya di dalam bak cuci piring, sebelum dia kembali duduk dekat Matthew dengan membawa segelas air minum.


"Mungkin saja." Chloe menjawab pertanyaan dari Matthew yang sempat tertunda tadi.


Matthew tampak menatap Chloe, dengan alisnya yang mengerut dalam-dalam. "Apa maksudmu?"


"Tsk!" Chloe berdecak.


"Sir! ... Sama seperti Anda yang tidak mudah percaya dengan orang asing. Saya juga tidak bisa percaya begitu saja, saat seseorang mengucapkan cinta....


...Apalagi, orang seperti Mister Matteo, yang notabene adalah seseorang dari kalangan atas. Dan saya juga tahu kalau dia sedang gusar karena pertemuannya dengan mantan kekasihnya....


... Saya khawatir kalau-kalau Mister Matteo salah mengartikan perasaannya kepada saya. Sehingga saya takut untuk berharap untuk menjadi kekasihnya, yang mungkin nanti hanya akan membuat saya terluka," kata Chloe, menjelaskan.


"Tidak perlu berbelit-belit! ... Katakan saja kalau kamu menyukainya!" ujar Matthew, ketus.


"Wanita mana yang tidak akan menyukai laki-laki seperti Mister Matteo yang ramah, tampan dan mapan?" sahut Chloe, lalu segera terpikir untuk mengejek Matthew.


Sambil tersenyum lebar dan melirik Matthew dengan ujung matanya, Chloe kemudian buru-buru lanjut berkata,


"Anda yang galak saja, masih bisa membuat Miss Parker jatuh cinta."


Matthew mendengus kasar. "Don't tease me!"


"Pffftt...! Benar yang saya katakan, bukan?" ujar Chloe, sambil tertawa.


"Jadi yang sebenarnya, kamu akan menolak atau menerima cinta Matteo?" tanya Matthew, terdengar seolah-olah ingin mengalihkan pembicaraan tentang dirinya dan Judy.


"Saya akan memikirkannya terlebih dahulu," jawab Chloe, sambil tersenyum.


"Tsk!" Matthew berdecak kesal, tampak seolah-olah masih tidak puas dengan jawaban Chloe.


"Hmm ... Apa Anda ingin menjadi perantara pencari jodoh untuk saya dan Mister Matteo?" tanya Chloe, sambil menahan tawa.


"Dalam mimpimu!" sahut Matthew, ketus. "Apa kamu pikir aku tidak ada pekerjaan lain?"


Chloe tertawa puas, karena berhasil mengejek Matthew, sementara Matthew justru tampak kesal dibuatnya.


"Apa kamu senang sekarang?" tanya Matthew, yang terlihat benar-benar merasa sebal.


Chloe mengangguk, sambil mengatur napasnya agar bisa berhenti tertawa, lalu melihat waktu di arlojinya.


"Mari saya antar Anda ke kamar!" kata Chloe, sambil berdiri dari tempat duduknya. "Saya masih harus kembali ke paviliun sebentar."


Matthew yang ikut berdiri dan merangkul pundak Chloe, lalu bertanya,


"Untuk apa?"


"Tentu saja saya perlu membersihkan diri," sahut Chloe, sambil merangkul pinggang Matthew dan membantunya berjalan bersamanya.


"Kamu bisa memakai kamar mandiku," ujar Matthew.


"Sir! ... Paviliun hanya beberapa langkah saja dari rumah ini. Saya tidak akan lama meninggalkan Anda sendirian," sahut Chloe, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu akan ke paviliun, atau akan pergi menemui Matteo di kamarnya?" tanya Matthew, sinis.


Chloe mengehentikan langkah mereka, lalu mendongakkan kepalanya, agar bisa melihat wajah Matthew yang sekarang sudah sedikit menundukkan kepalanya.


"Kenapa Anda selalu saja bersikap seperti ini?" tanya Chloe, sambil bertatapan dengan Matthew, lalu lanjut berkata,


...Saya tahu kalau Anda memiliki krisis kepercayaan. Tapi rasanya, ini semua sudah terlalu berlebihan, dan cukup untuk membuat saya tersinggung. Karena itu berhubungan langsung dengan pribadi saya....


... Bukankah sebaiknya Anda lebih berusaha agar bisa mengendalikan diri? Karena kalau tidak, maka tidak akan ada seorangpun yang sanggup bertahan untuk menjadi asisten Anda nantinya."


"Jika yang akan menggantikanmu tidak bisa bertahan, maka dia bisa mengundurkan diri. Karena aku bisa menggantinya lagi," ujar Matthew, tampak masa bodoh.


Chloe mendengus pelan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, karena rasanya memang sulit untuk dipercaya, betapa keras kepalanya Atasan Chloe yang satu ini.


Rasanya sia-sia saja, walaupun harus berdebat berlama-lama dengan Matthew, sehingga Chloe lanjut melangkahkan kakinya, menuju ke kamar Matthew, dan Chloe pun mengantar Atasannya itu sampai ke kamar mandi.


"Kamu dengar kataku tadi, bukan? Tidak perlu kembali ke paviliun. Kamu bersihkan dirimu di sini saja!"


Setelah dia terduduk di tepi bajan mandi, dan menyalakan air di sana, Matthew menekankan ulang arahannya tadi kepada Chloe.


"Saya ingin mandi dan berganti pakaian, Sir! ... Badan saya terasa lengket karena banyak berkeringat," sahut Chloe, berusaha untuk membuat Matthew mengerti.


"Di lemariku ada piyama yang belum pernah aku pakai. Kamu pakai itu saja!" Matthew masih tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan mengalah.


"Pakaian Anda pasti akan kebesaran untuk saya!" Chloe hampir frustrasi saat ini.


"Chloe!" Dengan suaranya yang meninggi, Matthew tampaknya tetap bersikukuh dengan keinginannya.


Chloe mendengus kasar.


"Baik, Sir! ... Apa Anda juga ingin mandi bersama-sama dengan saya? Kita bisa berendam di dalam bathtub." Chloe berkata sarkas dengan nada sinis menantang, saking kesalnya.


Tidak segera menanggapi perkataan Chloe, Matthew justru menatap Chloe lekat-lekat, dan walaupun masih memakai pakaiannya, Matthew lalu bergerak pelan masuk ke dalam bajan mandi.


"Ke sini kamu sebentar!" ujar Matthew, tegas.


Baru saja Chloe melangkahkan kakinya, secara tiba-tiba saja Matthew menarik Chloe, sambil berkata,


"Aku menyetujui tawaranmu! ... Kita bisa mandi sama-sama!"


Chloe yang tidak siap dengan gerakan cepat dari Matthew itu, terjatuh masuk ke dalam bajan mandi, hingga basah kuyup.


"Apa Anda sudah gila?" ujar Chloe, sambil berusaha untuk keluar dari dalam bak rendam itu.


Namun, usaha Chloe itu tampaknya sia-sia, karena Matthew justru memeluknya dengan erat, sambil berkata,


"Katamu, kita bisa berendam di dalam sini bersama-sama."


"Saya tidak bersungguh-sungguh mengatakannya!" sahut Chloe, dengan suara meninggi.


Matthew lalu melepaskan pelukannya dari Chloe. "Hati-hati dengan ucapanmu!"


"Anda yang memicunya lebih dulu!" sahut Chloe ketus, sembari beranjak keluar dari bajan mandi.


"Kamu tidak berpikir untuk melintas di kamarku dengan pakaian basah, bukan?" ujar Matthew, hingga Chloe berbalik melihat ke arahnya.


Matthew lalu menunjuk pembatas kaca yang ada di dalam kamar mandi itu. "Kamu pakai shower di situ saja! ... Aku tidak akan mengintip."


Walaupun dengan rasa enggan, Chloe mengambil selembar jubah mandi, lalu bergegas masuk ke dalam ruang mandi pancuran.


Seraya mandi di bawah air pancuran, Chloe masih merasa sebal karena tingkah Matthew itu, sampai-sampai dia seakan-akan tidak bisa berhenti menggerutu.


"Chloe! ... Aku tidak bisa melihatmu, tapi bukan berarti aku tidak bisa mendengar suaramu," ujar Matthew, tiba-tiba.


Chloe mendengus kesal, dan buru-buru menyelesaikan mandinya di situ.


Setelah memakai jubah mandi dan menggulung rambutnya dengan handuk, Chloe teringat kalau dia tidak memiliki pakaian dalam, dan tentu saja dia tetap harus kembali ke paviliun.


"Menyebalkan!" Lagi-lagi, Chloe menggerutu.


Chloe bergegas keluar dari tempat mandi pancuran, lalu menghampiri Matthew yang terlihat masih bersantai berendam dalam air busa di dalam bajan mandi, sambil memejamkan matanya.


"Sir!" ujar Chloe, hingga Matthew membuka matanya, lalu lanjut berkata,


"Saya akan kembali ke paviliun."


"Untuk apa lagi?" tanya Matthew, sambil mengerutkan alisnya dalam-dalam.


Chloe malu-malu untuk mengatakan bahwa dia harus mengambil pakaian dalam, tapi rasanya hanya itu satu-satunya alasan yang mungkin bisa diterima oleh Matthew.


"Pakaian dalam...." kata Chloe, ragu-ragu.


Matthew tidak menanggapi perkataan Chloe, dan justru memandangi Chloe dari bagian atas sampai ke bawah.


Tatapan Matthew itu, membuat Chloe bisa merasa seolah-olah dia sedang ditelanjangi, hingga Chloe merapatkan jubah mandinya dengan kedua tangannya.


"Di dalam lemari sepatu, rak paling atas sebelah kiri. Ambil kotak berwarna coklat di dalam situ!" kata Matthew, lalu kembali memejamkan matanya. "Aku rasa itu sesuai dengan ukuranmu."


Chloe kebingungan, tetapi mau saja menuruti arahan dari Matthew karena merasa penasaran.


Di dalam walk in closet, Chloe segera menemukan kotak yang dimaksud oleh Matthew, dan mendapati di dalamnya berisi sepasang pakaian dalam wanita yang tampaknya memang masih belum pernah terpakai.


"Kenapa dia bisa menyimpan pakaian dalam wanita?" Chloe bertanya-tanya sendiri, sambil menatap pakaian dalam yang tampak mewah, dan pasti akan terlihat seksi saat dipakai.


Dengan terburu-buru, Chloe kemudian mencoba pakaian dalam itu, dan ternyata memang pas di badannya.


Hmm ... Tidak sepenuhnya benar ...


Terasa sedikit longgar di bagian pinggulnya, tetapi masih bisa terpakai oleh Chloe, karena benda itu memiliki pita di kedua bagian pinggulnya yang bisa ditarik agar pas dipakai Chloe.


Sedangkan untuk br*nya tidak dipakai Chloe, karena dari yang bisa dilihat, sudah pasti benda itu akan kebesaran untuknya.


Ketika kembali ke kamar mandi, dan menyikat giginya sambil berdiri di depan wastafel, sesekali Chloe melirik ke arah Matthew yang masih berendam di dalam bajan mandi.


Chloe masih terheran-heran dan penasaran, namun dia juga tidak mau bertanya kepada Matthew, apa alasannya hingga Matthew bisa memiliki pakaian dalam untuk wanita.


"Ada apa?" Walaupun sedang memejamkan mata, namun Matthew seolah-olah bisa menyadari bahwa Chloe berkali-kali menatapnya.


"Tidak ada apa-apa," jawab Chloe.


"Kalau kamu sudah selesai, kamu bisa menunggu di luar. Kecuali kamu ingin melihatku telanjang," kata Matthew, terdengar tanpa beban.


Chloe terbelalak, lalu buru-buru berkumur-kumur, kemudian beranjak keluar dari dalam kamar mandi.