Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 60



Kata Matthew, dia mengajak Chloe pulang agar dia bisa berhenti tertawa, tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian.


Di sepanjang perjalanan kembali ke pulang ke rumahnya, sampai mereka tiba di rumah Matthew pun, Atasan Chloe itu tampak masih kesulitan untuk berhenti tertawa, sembari sesekali dia melihat ke arah Chloe.


Entah apa yang menurut Matthew sangat lucu, sampai-sampai dia bisa tertawa geli selama itu.


"Apa yang sebenarnya Anda pikirkan, Sir?"


Chloe yang sudah hampir kehilangan kesabarannya, tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya lagi, sehingga dia memang memilih untuk bertanya kepada Matthew.


Matthew yang sedang bersiap-siap untuk berbaring di atas tempat tidurnya setelah dia dan Chloe sudah membersihkan diri, hanya tersenyum lebar sambil menatap Chloe, tanpa mau menjawab pertanyaan Chloe itu.


"Apa kamu sudah mengantuk?" tanya Matthew, seolah-olah hendak mengalihkan pembicaraan.


"Belum," jawab Chloe, yang kemudian duduk bersebelahan dengan Matthew, di tepi ranjang. "Apa ada sesuatu yang Anda butuhkan?"


"Tidak ada...."


Kelihatannya, masih ada yang ingin Matthew katakan, hingga Chloe hanya terdiam menunggu apa yang akan dikatakan oleh Matthew selanjutnya.


"Chloe! ... Apa yang dikatakan mommy-ku padamu tadi?" tanya Matthew.


"Hmm...." Chloe bergumam sambil berpikir, apakah dia harus mengatakan hal yang menjadi pembahasan antara Chloe dan Maddison.


"Katakan saja...! Tidak apa-apa."


Matthew memegang dagu Chloe dan sedikit mendorongnya naik, hingga Chloe yang tadinya sempat menunduk, bisa kembali mendongakkan kepalanya.


"Mommy Anda kurang setuju, akan rencana pengunduran diri saya. Dia tampak khawatir, jika orang lain yang menggantikan saya untuk menjadi asisten bagi Anda."


Chloe meringkas bahan pembahasan yang dibicarakan antara dirinya dan Maddison tadi.


"Apa hanya itu saja?" tanya Matthew, tampak penasaran.


"Iya ... Itu saja!" jawab Chloe, merasa yakin.


Matthew lalu tampak manggut-manggut sambil menundukkan pandangannya untuk beberapa saat, seolah-olah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.


"Lalu, apa kamu akan mempertimbangkan keinginan mommy?" tanya Matthew lagi, sambil mengangkat kedua alisnya.


"Sir! ... Maafkan saya. Tapi, apa ada alasannya, hingga keluarga Anda terlalu mempermasalahkan tentang saya yang akan digantikan oleh orang lain?"


Demi memuaskan rasa ingin tahunya, Chloe memang harus mengutarakan apa yang dipikirkan olehnya.


Manalah tahu, jika alasan sebenarnya dari Matthew dan keluarganya bisa menjadi bahan pertimbangan bagi Chloe, untuk tetap bertahan menjadi asisten bagi Matthew.


"Aku tidak mau mendapatkan belas kasihan darimu." Matthew kemudian segera berbaring di atas tempat tidurnya.


Perkataan Matthew itu, menampakkan dengan jelas, kalau ada sesuatu yang memang disembunyikan olehnya.


Dan tentu saja, Matthew yang tidak mau bicara terbuka, justru hanya membuat Chloe jadi semakin penasaran karenanya.


Namun, sebagaimana yang sudah menjadi kebiasaan, Chloe tidak akan memaksa Matthew untuk bicara, jika Atasan Chloe itu memang tidak mau membicarakannya.


***


Hari ini, Chloe merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya sendiri.


Semenjak bangun tidur pagi tadi hingga sekarang ini, saat dia sedang beraktivitas di dalam dan di luar kantor, Chloe sudah beberapa kali merasa pusing.


Sementara itu, pekerjaan Chloe tetaplah padat seperti biasanya.


Baik itu menemani Matthew menemui beberapa orang untuk perusahaan, ataupun saat mengerjakan tugasnya di depan komputer di meja kerjanya.


Pandangan Chloe berkunang-kunang, hampir di setiap kali dia berdiri dari tempat duduknya, atau pada saat dia berdiri terlalu lama.


Chloe menduga, mungkin karena jam istirahatnya yang terganggu dalam tiga malam belakangan inilah yang menjadi penyebabnya.


Bagaimana tidak? Sampai malam tadi, Matthew masih bermimpi buruk.


Dengan demikian, Chloe harus terbangun dari tidurnya untuk mengawasi Matthew, sampai Atasannya itu bisa kembali tenang dan bisa tertidur lagi.


Walaupun begitu keadaannya, tetapi Chloe tidak mau mengeluh kepada Matthew. Karena menurut Chloe, Matthew pasti merasa lebih lelah jika dibandingkan dengannya.


Akan tetapi, Chloe sepertinya telah menggunakan tubuhnya untuk tetap aktif, sampai menyentuh ambang batas kemampuannya.


Sehingga pada saat ini, karena sudah waktunya istirahat makan siang, maka Chloe berniat untuk pergi menemui Matthew di ruang kerjanya.


Chloe yang baru saja selesai menginput data ke dalam komputernya, dan buru-buru berdiri dari tempat duduknya, akhirnya tidak bisa memaksakan dirinya lebih jauh lagi.


Chloe ambruk, dan segera kehilangan kesadarannya sebelum tubuhnya menyentuh lantai.


***


"Maafkan aku...." Matthew yang berucap dengan penuh penyesalan, menjadi hal yang pertama didengar oleh Chloe, ketika dia membuka matanya.


Tidak butuh waktu lama, Chloe sudah bisa menyadari, bahwa saat ini dia sedang berbaring telentang di atas sebuah ranjang, dengan selang infus yang terpasang di salah satu punggung tangannya.


Dari wajahnya, Matthew tampaknya sedang merasa gusar, ketika Chloe melihatnya sedang terduduk di sebuah kursi yang diletakkan di samping ranjang.


Chloe kemudian berusaha untuk bangkit dari pembaringannya, namun Matthew segera menahannya dengan berkata,


"Istirahat saja dulu! ... Jangan membuatku semakin merasa bersalah!"


"Apa yang terjadi, Sir?" tanya Chloe, yang akhirnya tetap berbaring di atas ranjang.


"Kamu jatuh pingsan ... Jadi sekarang ini kamu sedang berada di rumah sakit ... Dan kata dokter, kamu terlalu kelelahan."


Seolah-olah dia memang merasa bersalah, Matthew tampak kesulitan untuk bicara, dan menghindarkan pandangannya dari tatapan Chloe.


"Sir!" Chloe mencoba menarik perhatian dari Matthew, agar mau bertatapan mata dengannya.


Ketika Matthew mau melihat ke arahnya, Chloe lalu tersenyum lebar, dan berkata,


"Tapi tidak denganku. Aku yang jadi penyebabnya, sampai kamu kelelahan," sahut Matthew, yang masih terlihat gusar.


Terpikir untuk menenangkan Atasannya itu, Chloe yang melihat sebelah tangan Matthew berada di dekatnya, kemudian memegang dan menggenggamnya.


Dengan ekspresi terkejut, Matthew lalu memandangi tangannya yang dipegang oleh Chloe.


"Pffftt...!" Chloe tertawa tertahan karenanya, hingga Matthew kembali mengangkat pandangannya dan menatap Chloe.


"Anda jangan menyalahkan diri sendiri...! Merasa lelah itu hal yang biasa. Dan bukanlah sesuatu yang terlalu mengkhawatirkan," kata Chloe sambil tersenyum, lalu melepaskan pegangannya dari tangan Matthew.


Namun, Matthew justru yang mengambil tangan Chloe tadi, dan menggenggamnya dengan erat, sembari menatap Chloe lekat-lekat.


Walaupun Matthew hanya terdiam, namun menurut Chloe, Atasannya itu tampak seolah-olah ingin berkata sesuatu, dan hanya merasa ragu-ragu untuk bicara.


"Ada apa? ... Anda pasti sudah tahu, kalau saya tidak keberatan untuk mendengarkan, jika ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan pada saya," kata Chloe, mencoba untuk meyakinkan Matthew.


"Apa kamu masih ingin tahu alasannya, kenapa aku dan keluargaku cemas jika orang asing yang akan menggantikanmu?" tanya Matthew, terdengar ragu-ragu.


Chloe mengangguk pelan.


"Sewaktu aku masih berusia 3 tahun, aku pernah dibius lalu diculik oleh beberapa orang yang menginginkan uang tebusan dari keluargaku...."


Chloe terbelalak, ketika mendengar perkataan Matthew itu.


Kalau begitu, Matthew bukanlah hanya bermimpi buruk. Yang menjadi mimpi Matthew, adalah kejadian sebenarnya yang pernah dialami olehnya.


"Pada saat itu, ... aku sedang ikut dengan orang tuaku, ... mendatangi sebuah acara perusahaan di...."


Matthew tampak kesulitan untuk bicara, dan bahkan tampak seperti sedang merasa ketakutan, hingga wajahnya pun tampak pucat pasi.


Chloe kemudian beranjak turun dari tempat tidurnya, lalu sambil sedikit membungkuk, Chloe berusaha menguatkan Matthew, dengan memeluk Matthew.


Dan di saat itu juga, Chloe menyadari bahwa sekujur tubuh Matthew terasa sedang gemetar hebat, hingga Chloe berusaha untuk menenangkannya dengan berkata,


"Anda tidak apa-apa ... Sekarang Anda baik-baik saja ... Saya ada di sini menemani Anda."


Matthew lalu menghela napas panjang, kemudian membenamkan wajahnya di badan Chloe, dan membalas pelukan Chloe dengan erat.


Untuk beberapa saat kemudian, Matthew akhirnya bisa berhenti gemetar, tetapi dia tetap berpelukan dengan Chloe di situ.


"Jika Anda merasa kesulitan untuk bicara, Anda tidak perlu menceritakannya. Saya bisa mengerti, Sir," kata Chloe, sambil mengusap-usap punggung Matthew.


Walaupun Chloe tidak ingin membuat Matthew tertekan, namun Matthew tetap mau menceritakan kejadian penculikannya, yang sebagian besar masih berada dalam ingatannya kepada Chloe.


Sembari duduk berselonjor bersama Chloe di atas ranjang, Matthew yang menyandarkan kepalanya di salah satu sisi bahu Chloe, dan memegang tangan Chloe, Matthew lalu bercerita.


Ketika Matthew berada di dalam tangan para penculiknya selama kurang lebih seminggu, Matthew sempat disiksa secara mental dan fisik oleh orang-orang itu.


Chloe bahkan tidak bisa membayangkan, bagaimana rasa takutnya Matthew yang pada saat itu masih sangat kecil.


Sehingga Chloe merasa sangat geram, kepada orang-orang tidak berperasaan yang menyiksa Matthew kecil, dan bergidik ngeri ketika Matthew memberitahu siksaan yang dialaminya waktu itu.


Dan menurut Matthew, dari informasi yang dia dapatkan setelah dia beranjak dewasa, penculiknya itu berjumlah beberapa orang, dan membagi-bagi tugas agar bisa melancarkan rencana mereka.


Ada yang berpura-pura menjadi pelayan di hotel untuk acara perusahaan, lalu memasukkan obat bius ke dalam minuman Matthew.


Ada pula yang memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menyelamatkan Matthew, ketika mereka membawanya pergi dari hotel tempat acara pesta perusahaan itu berlangsung.


Matthew juga memberitahu Chloe, bahwa penculikan yang dialaminya itupun yang menjadi alasan, hingga Matthew dan Matteo harus pindah ke luar negeri dan tinggal bersama Grandpa-nya.


"Aku tidak mengizinkan seorangpun untuk mendapatkan kepercayaan dariku. Hingga pada satu waktu semasa aku di high school, mungkin karena pubertas, aku lalu jatuh cinta pada seorang gadis....


...Aku sempat berkencan dengannya, tapi aku dikhianatinya. Tanpa sengaja, aku mengetahui kalau dia berciuman dengan Matteo. Dan pada akhirnya, dia memilih untuk menjadi kekasih Matteo....


... Tanpa sedikitpun merasa bersalah, gadis itu menyebut bahwa kepribadian Matteo masih lebih menarik jika dibandingkan denganku. Dan Matteo juga tidak peduli, walaupun dia tahu kalau aku sangat kecewa karenanya."


Kedengarannya, Matthew memang bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa dia kecewa kepada sikap Matteo dan mantan kekasih Matthew itu.


"Perasaan dikhianati dan khawatir jika aku akan mengalaminya lagi, membuatku tertekan dan memicu trauma, hingga ingatan itu berubah menjadi mimpi buruk yang berulang....


... Dibutuhkan waktu yang cukup lama bagiku, untuk berkonsultasi dengan psikiater, sampai aku bisa menyingkirkan mimpi buruk itu, dan kembali menjadi diriku sendiri lagi."


Matthew lalu mengangkat kepalanya, dan menoleh ke samping, agar bisa bertatapan dengan Chloe yang juga ikut menoleh ke arahnya.


Sambil menatap Chloe lekat-lekat, Matthew kemudian lanjut berkata,


"Kamu mungkin tidak akan percaya, dan bahkan mungkin ingin menertawakan aku. Tapi sejujurnya, aku sudah terlanjur mempercayaimu....


... Rasa khawatir jika kamu akan digantikan oleh orang asing lah, sampai bisa membuatku kembali bermimpi buruk. Itu yang menjadi alasan, hingga keluargaku berharap agar kamu tidak berhenti bekerja padaku."


"Tapi, kamu tidak perlu merasa terbeban. Sudah lebih dari cukup aku menyusahkanmu. Kamu bisa melakukan apa yang kamu mau....


... Kamu tidak perlu merasa iba sampai mengkhawatirkan keadaanku. Karena aku akan segera kembali menemui psikiater," lanjut Matthew, lagi.


Setelah mendengarkan semua penuturan panjang lebar dari Matthew itu, Chloe akhirnya bisa mengerti, bahwa krisis kepercayaan Matthew masih berada dalam batas kewajaran.


Karena latar belakang yang mendasari krisisnya itu, adalah sesuatu yang ekstrem, dan tentu tidak semua orang sanggup untuk menjalaninya, dan bisa tetap terlihat tegar seperti Matthew.


Dengan demikian, Chloe mungkin sedikit merasa iba kepada Matthew, tapi benar-benar hanya sedikit perasaan iba yang timbul di hati Chloe itu.


Chloe justru merasa sangat kagum kepada Matthew, karena laki-laki itu telah jauh melebihi ekspektasi dari Chloe.


Dan sekarang ini, Chloe jadi bimbang untuk berhenti bekerja pada Matthew, bukan lagi karena dia yang khawatir akan kondisi kesehatan Matthew.


Chloe justru merasa khawatir dengan kesehatan hatinya sendiri, yang kemungkinan besar tidak akan baik-baik saja.


Chloe cemas, jika dia tetap berlama-lama berada di sisi Matthew, maka dia pasti akan semakin mengagumi Matthew, dan benar-benar tenggelam dalam rasa cintanya kepada laki-laki itu.


Untuk saat ini saja, Chloe sudah merasa salah tingkah, dengan jantungnya yang berdebar-debar, dan wajahnya yang mulai terasa panas.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Matthew, sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Chloe.