
Sembari memegang tangan Chloe, Matteo tampak bersemangat memperlihatkan setiap bagian di dalam studio miliknya, yang sekarang ini sudah tertata semua peralatan bermusik, dan perlengkapan untuk merekam suara yang dihasilkannya.
Chloe yang merasa tidak nyaman karena tangannya yang dipegang terlalu lama oleh Matteo, kemudian berpura-pura hendak menyentuh salah satu alat musik di situ, untuk menjadi alasan agar Matteo melepaskan genggamannya.
"Apa saya bisa menyentuhnya?" tanya Chloe, melengkapi keberpura-puraannya, hingga Matteo akhirnya mau melepaskan tangannya.
"Iya," jawab Matteo.
Chloe kemudian memegang dua tongkat pemukul dari sebuah vibrafon, alat musik perkusi yang berbahan logam aluminium. "Apa Anda bisa memainkan semua alat musik yang ada di sini?"
Matteo tidak segera menjawab pertanyaan Chloe, dan justru hanya tersenyum, kemudian bergeser sampai berdiri tepat di belakang Chloe.
Matteo yang seperti sedang memeluk Chloe dari belakang, kemudian memegang tangan Chloe yang masih memegang tongkat, dan mengarahkannya sampai memukul bilah logam vibrafon, sampai mengeluarkan bunyi nada yang beraturan.
"Kalau kamu mau, aku bisa mengajarimu semuanya," kata Matteo.
Suara berat dari Matteo yang sedang berbisik dengan jarak dekat di telinga Chloe, dan begitu juga embusan napas laki-laki itu yang mengenai leher Chloe, hanya membuat Chloe merasa kalau jantungnya tidak baik-baik saja.
Di saat ini, rasanya pemompa darah di dada Chloe itu berdegup terlalu cepat, hingga seolah-olah akan meloncat keluar dari dalam dada Chloe.
Chloe ingin segera menghindar dari situasi yang mungkin hanya akan membuatnya malu, namun kelihatannya, rasa gugupnya hanya akan mengacau.
Bergerak dengan terlalu terburu-buru, Chloe ingin menjauh dari Matteo dengan berbalik arah, justru tersandung kakinya sendiri dan hampir terjatuh.
Dengan sigap, Matteo menangkap Chloe.
Akan tetapi, posisi penyelamatan yang dilakukan oleh Matteo, menjadikan situasi di situ justru terasa semakin canggung saja bagi Chloe.
Sedikit membungkuk, Matteo memeluk Chloe yang hampir telentang, wajah mereka pun berjarak sangat dekat, hingga embusan napas Matteo bisa menyapu wajah Chloe.
Bertatapan mata dengan Matteo, hanya membuat detak jantung Chloe semakin tidak beraturan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Matteo, terdengar cemas.
Chloe terbelalak, dan buru-buru berusaha agar bisa berdiri tegak kembali, sambil tetap berpegangan pada dua sisi lengan atas Matteo.
Walaupun Chloe sudah berdiri dengan baik, namun Matteo belum mau melepaskan pelukannya dari Chloe.
Bahkan saat ini, baik raut wajah maupun bentuk mata Matteo saat menatap Chloe, terlihat berubah drastis.
Entah apa yang dipikirkan oleh Matteo, tetapi Chloe tidak mau terlalu memikirkannya, dan segera memalingkan wajahnya.
"Chloe!" ujar Matteo, hingga Chloe mendongakkan kepalanya lagi, agar bisa melihat ke mata Matteo.
Dengan perlahan-lahan, Matteo tampaknya mendekatkan wajahnya pada Chloe, seolah-olah dia akan mencium Chloe di situ.
Namun, sebelum sesuatu yang bisa membuat Chloe sesak napas itu terjadi, ponsel Matteo kemudian tiba-tiba saja berbunyi.
Oleh karena gangguan itu, baik Chloe maupun Matteo, kemudian secara bersamaan bergerak menjauh dari satu sama lain.
Chloe yang berjalan mengarah ke pintu keluar, sempat melihat dengan ujung matanya, di mana Matteo tampak menerima panggilan telepon yang masuk di ponselnya.
"Chloe! ... Tunggu sebentar!" seru Matteo, sambil setengah berlari menyusul, tampak ingin menahan langkah Chloe.
"Tolong, tunggu sebentar!" kata Matteo dengan suara memelas, sambil memegang tangan Chloe.
Chloe yang tidak ingin bersikap kasar, mau tidak mau, bertahan dengan berdiri di situ, sembari membiarkan Matteo berbincang-bincang di ponselnya.
Sembari menunggu Matteo berbicara dengan seseorang di seberang telepon, Chloe memperhatikan gerak-gerik Matteo.
Kelihatannya, walaupun Matteo berkata-kata dengan bahasa asing, namun dari raut wajah dan begitu juga dari nada suaranya, Matteo tampak gusar saat dia berada di dalam sambungan telepon di ponselnya.
"Aku tidak percaya ini...!" Matteo menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menyimpan ponsel ke saku celana panjangnya.
Matteo kemudian mengangkat pandangannya, dan menatap Chloe lekat-lekat, sambil menggigit bibirnya sendiri, seolah-olah ada yang dia pikirkan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia lalu berkata,
"Chloe! ... Maafkan aku. Apa aku tadi menakutimu? Aku terbawa suasana. Dan aku rasa aku meโ"
Kedengarannya, Matteo ingin membahas kejadian tadi lebih jauh, dan Chloe tidak menginginkan hal itu, yang mungkin hanya akan membuatnya malu.
Sehingga, Chloe yang lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan yang akan mengarah ke situ, buru-buru menyela perkataan Matteo, dengan berkata,
"Tidak ada sesuatu yang perlu dimaafkan."
"Chloe...! Aku...." Matteo yang terlihat kecewa, seolah-olah kehabisan kata-kata untuk bicara kepada Chloe.
"Apa ada masalah? Anda terlihat kurang nyaman saat berbincang-bincang di ponsel. Saya tidak mau mengganggu Anda lebih lama," kata Chloe, tetap berusaha menghindar.
"Tidak, Sir," jawab Chloe.
"Lalu kenapa aku merasa kalau kamu akan menghindariku?" tanya Matteo.
"Saya tidak menghindari Anda. Saya hanya...." Dengan terburu-buru, Chloe menjawab pertanyaan Matteo, yang pada akhirnya dia hanya merasa ragu-ragu.
Setelah beberapa saat dia hanya terdiam, Matteo kemudian tersenyum lebar, begitu juga dengan tatapan matanya yang tampak sayu.
"Aku mengerti," celetuk Matteo.
"Ugh? ... Apa yang Anda bicarakan?" tanya Chloe, kebingungan.
"Asalkan kamu tidak menghindariku, maka aku juga tidak akan terburu-buru."
Perkataan Matteo itu semakin membingungkan bagi Chloe.
Tetapi Chloe tidak sempat menanyakan maksud dari Matteo, karena tangannya yang kemudian dipegang oleh Matteo, yang membawanya kembali masuk ke dalam studio.
Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, Matteo bertingkah biasa, sambil menjelaskan satu per satu kegunaan dari alat-alat yang ada di dalam studio miliknya itu, kepada Chloe.
Oleh karena tingkah laku Matteo itu, Chloe juga akhirnya tidak memikirkan lagi akan kejadian tadi, seolah-olah itu hanyalah sebuah kesalahan yang tidak disengaja, dan kembali merasa seperti biasa saja.
"Teman-temanku akan berkunjung ke sini," celetuk Matteo, tiba-tiba. "Mereka sudah di perjalanan."
Menurut Chloe, seharusnya Matteo senang saat mendapatkan kabar seperti itu, namun raut wajah Matteo, justru menampakkan yang sebaliknya.
"Bukankah itu bagus?" tanya Chloe, penasaran.
Matteo mendengus kasar. "Mantan kekasihku juga ada bersama mereka."
"Hmm...." Chloe bergumam, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku tidak mencintainya lagi," kata Matteo, seolah-olah sedang ingin menjelaskan apa yang ada di pikirannya kepada Chloe.
"Aku juga tidak membencinya. Aku sudah memaafkan kelakuannya. Tapi bukan berarti aku masih mau bertemu dengannya lagi. Apalagi mengizinkannya untuk menginap di sini bersama teman-temanku yang lain."
Atas pernyataan Matteo yang bersifat pribadi itu, Chloe sama sekali tidak tahu harus menanggapinya seperti apa, sehingga dia hanya terdiam mendengarnya.
"Kemungkinan mereka akan tiba di sini besok siang," lanjut Matteo. "Apa kamu bisa datang ke sini nanti?"
"Maafkan saya ... Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa, karena besok adalah hari kerja," jawab Chloe, sambil tersenyum.
Sejujurnya, Chloe tidak tertarik untuk mendengarkan pembahasan tentang persoalan pribadi Matteo, ataupun masuk campur di dalamnya.
Sehingga, jeda waktu saat Matteo yang terdiam sejenak, kemudian dijadikan kesempatan yang dimanfaatkan Chloe untuk beralasan, agar bisa menghindar dan pergi dari situ secepatnya.
"Sir! ... Saya rasa, saya sudah terlalu lama meninggalkan Mister Matthew. Saya tidak ingin membuatnya menjadi kesal, jika dia mungkin membutuhkan sesuatu, lalu tidak ada yang membantunya."
"Matthew selalu diberikan semua yang terbaik." Matteo berceletuk dengan suara berbisik-bisik, tetapi Chloe masih mendengarnya walaupun tidak terlalu jelas.
"Apa yang Anda katakan, Sir?" tanya Chloe, ingin memastikan.
"Tidak ada," jawab Matteo, lalu menghampiri Chloe, seolah-olah akan mengajak Chloe berjalan bersamanya. "Biarkan aku menemanimu."
Sembari berjalan bersama Matteo mengarah kembali ke rumah Matthew, sesekali Chloe melirik Matteo yang tampak mengerutkan alisnya, seolah-olah ada yang mengganggu pikiran laki-laki itu.
Hingga tanpa sengaja, ketika Chloe yang melirik Matteo untuk ke sekian kalinya, tetapi Chloe justru beradu pandang dengannya.
Dan di saat itu juga, Matteo kemudian berkata,
"Apa kira-kira yang bisa membuatmu menolak untuk menjadi asisten pribadiku?"
"Ugh?" Chloe tidak siap untuk menanggapi pertanyaan dari Matteo yang seperti itu, namun dia tetap mencoba untuk memikirkan jawabannya.
"Hmm ... Saya tidak bisa memastikannya. Tapi yang bisa jadi kemungkinannya, adalah saat bekerja pada Anda, maka pekerjaan itu akan jadi jauh berbeda dari yang biasanya saya lakukan," jawab Chloe.
"Apa bukan karena Matthew?" tanya Matteo, sambil memasang raut wajah tidak senang.
Chloe terdiam untuk sejenak. "Saya tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya."
"Selama ini, Matthew selalu mendapatkan perhatian lebih dari Grandpa. Termasuk orang tuaku yang lebih menyayanginya dibandingkan aku....
... Apakah aku salah, jika aku juga ingin diperlakukan sama seperti Matthew?" ujar Matteo.