
Sisa waktu makan malam yang dihabiskan Chloe bersama dengan David, rasanya jadi tidak menyenangkan lagi, dan justru hanya membuat Chloe merasa tertekan.
Bagaimana tidak?
Selain gelagat David yang tampak membenci Matthew hingga mengeluarkan kata-kata bernada ancaman, David juga kelihatannya juga agak mabuk karena wine yang diminumnya secara berlebihan.
Dengan demikian, Chloe tidak mengizinkan David mengemudikan mobilnya sendiri, untuk mengantarkan Chloe kembali ke rumah Matthew.
Perdebatan kecil sempat terjadi antara Chloe dengan David, karena David yang bersikeras agar dia bisa mengantarkan Chloe, atau Chloe menginap di rumah David.
Cukup mengherankan bagi Chloe saat melihat sisi pribadi David yang jauh berbeda dari biasanya, hanya karena pengaruh alkohol yang menguasai laki-laki itu.
Namun, setelah beberapa saat Chloe mencoba memberikan pengertian kepadanya, pada akhirnya David mau menyerah, dan mengizinkan Chloe pergi dari rumahnya dengan menumpang taksi.
Setibanya Chloe di rumah Matthew, di tangga bagian depan rumah, terlihat ada Matthew atau mungkin Matteo yang sedang duduk di sana.
Akan tetapi, laki-laki yang duduk di situ yang terlihat segera berdiri dan menghampiri Chloe dengan setengah berlari, meyakinkan Chloe bahwa itu adalah Matteo.
Seolah-olah Matteo memang sudah menunggu kedatangan Chloe, laki-laki itu terlihat tidak sabaran menunggu Chloe melintasi gerbang pagar rumah Matthew.
"Hai, Sir!" sapa Chloe, ketika Matteo sudah berada di dekatnya.
"Hai!" Sambil tetap menghadang langkah Chloe, Matteo balas menyapa, dengan memasang raut wajah kecewa. "Kamu dari mana saja? ... Aku menghubungimu berkali-kali."
"Maafkan saya, Sir ... Tapi tadi saya sedang makan malam dengan Mister David. Dan rasanya tidak sopan jika saya membiarkannya, lalu saya justru berbincang-bincang di ponsel dengan Anda," jawab Chloe, menjelaskan.
"Kamu makan malam dengan David? ... Lalu kenapa David tidak mengantarkanmu pulang?" tanya Matteo yang tampak seperti orang keheranan.
"Mister David terlalu banyak minum wine. Jadi akan berbahaya, jika dia harus mengemudi sendiri," jawab Chloe, lalu mencoba untuk menghindar dari Matteo, agar dia bisa berjalan memasuki rumah Matthew.
"Tunggu! ... Aku ingin bicara denganmu!" kata Matteo sembari bergerak ke samping, agar Chloe tidak bisa melewatinya.
Chloe melihat arloji di pergelangan tangannya sambil mengira-ngira, jika mungkin masih ada sedikit waktu baginya, untuk berbincang-bincang dengan Matteo. "Ada apa, Sir?"
Tanpa berkata apa-apa, Matteo memegang tangan Chloe, dan seolah-olah akan membawa Chloe pergi melintasi gerbang pagar rumah Matthew.
"Sir!" Chloe menahan langkahnya, agar Matteo tidak bisa membawanya pergi dari rumah Matthew itu.
"Saya tidak bisa ke mana-mana lagi, karena sudah hampir larut malam. Mister Matthew mungkin membutuhkan saya sekarang ini," kata Chloe, memberi pengertian kepada Matteo.
"Tsk!" Matteo berdecak sebal. "Matthew, Matthew, Matthew! ... Aku membencinya!"
Matteo kelihatannya sangat kesal, dan menggerutu dengan nada suara meninggi, sebelum akhirnya dia tampak menyesali tingkah lakunya itu. "Maafkan aku...."
Matteo lalu menghela napas panjang dan mengembuskannya kasar, kemudian berkata,
"Aku tahu kalau kamu hanya melakukan pekerjaanmu. Tapi aku ingin bicara berdua denganmu. Sebentar saja...!"
Dengan memasang raut wajah memelas, Matteo tampaknya tidak akan mau mendengar jawaban tidak dari Chloe.
Sehingga, Chloe kemudian mengajak Matteo untuk duduk di kursi gantung, yang ada di halaman bagian depan rumah Matthew itu. "Kita bicara di situ! ... Anda mau?"
Seperti anak kecil yang berhasil dibujuk dengan permen kesukaannya, Matteo terlihat cukup senang dan buru-buru mengangguk setuju.
Tidak berlama-lama lagi, Chloe serta Matteo kemudian pergi ke bawah pohon besar yang memiliki kursi yang bergantung di sana, dan segera duduk bersebelah-sebelahan.
"Hmm ... Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Chloe, memecah keheningan.
"Aku ingin memastikan, apakah aku hanya bermimpi," jawab Matteo, lalu menoleh ke samping dan menatap Chloe lekat-lekat. "Aku merasa kalau aku pernah berciuman denganmu."
Chloe terbelalak, dan tidak tahu harus berkata apa, hingga dia hanya terdiam sambil bertatap-tatapan dengan Matteo.
"Oh, gosh! ... Sepertinya aku memang hanya bermimpi," celetuk Matteo, lalu menundukkan pandangannya, dan memasang raut wajah kecewa.
"Chloe! ... Aku tidak berniat untuk menakutimu. Tapi aku tidak bisa menahannya lagi," kata Matteo, setelah mengangkat pandangannya kembali dan menatap Chloe. "Aku benar-benar mencintaimu. Apa kamu mau menjadi kekasihku?"
Walaupun wajah, fisik, dan bahkan suara Matteo yang sangat mirip dengan Matthew, dan sulit untuk dibedakan, namun perasaan Chloe seakan-akan tidak bisa tertipu.
Tidak ada sedikitpun rasa bahagia yang bisa membuat hati Chloe berdesir, saat mendengar ungkapan cinta dari Matteo.
"Sir! ... Saya sudah mengatakannya pada Anda malam itu. Anda hanya salah mengartikan perasaan Anda kepada saya. Anda—"
Chloe tidak sempat menyelesaikan perkataannya itu, karena Matteo buru-buru menyela dengan berkata,
"Aku tahu apa yang aku mau, Chloe! ... Katakan padaku! Apa yang harus aku lakukan, agar kamu percaya kalau aku jatuh cinta kepadamu?"
Chloe mendengus kasar. "Apa teman-teman Anda masih menginap di rumah Anda?"
Matteo terlihat bingung akan pertanyaan yang diajukan oleh Chloe itu, tetapi dia tetap menanggapinya, walau hanya sekadar menganggukkan kepalanya.
"Sebaiknya Anda pulang, dan selesaikan permasalahan di masa lalu. Maka Anda nantinya akan menyadari, bahwa bukan saya yang Anda cintai," kata Chloe, lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Chloe!" Dengan cepat, Matteo menangkap sebelah tangan Chloe dan sedikit menariknya, hingga Chloe berbalik melihatnya. "Kenapa kamu seperti ini? ... Apa kamu mencintai David?"
"Ugh? ... Apa yang Anda bicarakan?" Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Saya tidak mencintai Mister David. Saya hanya menganggapnya sebagai seseorang teman dan kenalan yang baik....
... Mister David juga sudah memiliki seseorang yang dia sukai. Anda sendiri juga mendengar perkataannya kemarin, bukan?" kata Chloe, seadanya.
Matteo terbelalak, dan tampak kesulitan untuk berkata-kata, hingga dia hanya terdiam sampai beberapa saat lamanya.
"David...." Matteo kelihatannya memang ragu-ragu untuk mengutarakan apa yang dipikirkannya, hingga dia kembali menghentikan kalimatnya begitu saja.
"Sudah tidak ada lagi yang ingin Anda bicarakan? ... Saya harus menemui Mister Matthew sekarang ini," kata Chloe, sambil berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Matteo darinya.
Matteo yang tampak seperti orang linglung, tidak memaksakan kehendaknya, dan mau saja melepaskan tangan Chloe.
"Saya pergi dulu ... Selamat malam, Sir!" kata Chloe, lalu melangkahkan kakinya menuju rumah Matthew, tanpa menunggu balasan dari Matteo.
"Chloe!" Tiba-tiba saja, Matteo memanggilnya lagi, hingga Chloe berbalik untuk melihatnya.
Matteo melangkah terburu-buru menyusul Chloe, lalu berkata,
"Apa kamu bisa memberikan nomor ponsel David? ... Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya."
"Hmm...." Chloe bergumam sambil berpikir. "Maafkan saya, Sir ... Tapi saya harus meminta izin dari Mister David dulu, sebelum saya memberikan informasi kontaknya kepada Anda."
"Oh! ... Okay! ... Aku mengerti," sahut Matteo, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Chloe! ... Tolong pertimbangkan untuk menjadi kekasihku! Aku tetap akan menunggu jawabanmu." Matteo lalu memeluk Chloe dengan erat, dan lanjut berkata,
"Selamat malam, Chloe! ... Sleep well! ... Dan mimpikan aku dalam tidurmu!"
Chloe tertawa kecil. "Ada-ada saja Anda ini! ... Selamat malam, Sir!"
Namun, di dalam ruang tamu terlihat kosong tak berpenghuni, sehingga Chloe melanjutkan langkahnya menuju ke kamar Matthew.
Di dalam kamar Matthew, sampai ke kamar mandi yang sempat diketuk pintunya oleh Chloe, tidak ada tanda-tanda keberadaan Matthew di sana.
Chloe lalu mencoba mencari Matthew di ruang kerjanya.
Sama saja. Chloe masih tidak mendapati Matthew berada di dalam ruang kerja Atasannya itu.
Ke mana Matthew pergi?
Chloe lalu memeriksa ponselnya, kalau-kalau ada Matthew mengirimkan pesan atau apapun itu, yang menginformasikan kepergiannya.
Tetapi, di ponsel Chloe tidak ada satupun pemberitahuan, jika ada kontak Matthew yang sempat menghubunginya.
Chloe hampir saja melangkah keluar dari rumah itu, ketika dia kemudian terpikir untuk memeriksa keadaan di ruang makan, seandainya saja mungkin Matthew berada di sana.
Chloe melangkah melintasi ruang makan, lalu terus melangkah sampai ke dapur, dan di sanalah akhirnya Chloe bisa melihat Matthew sedang duduk sendirian di island table.
"Sir!" sapa Chloe, hingga menarik perhatian Matthew. "Apa yang Anda lakukan di sini?"
Sementara Chloe melihat ke sana kemari, Matthew memandangi Chloe tanpa menjawab pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan oleh Chloe tadi.
"Anda sendirian saja?" Chloe bertanya sambil berjalan menghampiri Matthew. "Miss Parker sudah pulang?"
Dari raut wajahnya Matthew terlihat kecewa, saat dia mengangguk pelan dan menjawab pertanyaan Chloe dengan berkata,
"Judy sudah pulang sedari tadi."
Menurut Chloe, Matthew mungkin kecewa karena Judy yang terlalu cepat pulang, dan meninggalkannya di situ.
Sehingga, Chloe terpikir untuk menghibur Matthew, dengan mencoba mencari tahu apa yang bisa dia lakukan bagi Atasannya itu.
"Apa Anda ingin secangkir teh?" tanya Chloe, sambil berjalan menuju ke kabinet dapur, dan membuatkan secangkir teh camomile untuk Matthew.
"Ini, Sir!" Chloe menyodorkan cangkir berisikan teh yang baru saja dibuatnya kepada Matthew, lalu ikut duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari tempat Matthew duduk.
"Bagaimana makan malammu?" tanya Matthew, lalu menyesap sedikit cairan teh dari cangkirnya. "Matteo tadi mencarimu. Apa kamu sudah bertemu dengannya?"
"Saya sudah bertemu dengan Mister Matteo di depan tadi," jawab Chloe seadanya, yang kemudian dikejutkan dengan suara perut Matthew yang berbunyi.
"Anda belum makan malam?" tanya Chloe, buru-buru.
Matthew mengangguk pelan. "Judy pulang sebelum makan malam."
Mendengar jawaban Matthew, Chloe jadi semakin yakin bahwa Atasannya itu memang kecewa, karena tidak sempat menghabiskan lebih banyak waktunya dengan Judy.
Sejujurnya, Chloe merasakan kekecewaan yang sama sekarang ini.
Bukan karena Judy yang cepat pulang, melainkan karena kemungkinan besar Matthew memang telah jatuh cinta kepada Judy, sampai-sampai Matthew bisa terlihat kacau saat Judy meninggalkannya.
Dengan demikian, Chloe harus berbesar hati merelakan Matthew, dan berusaha untuk menghapus perasaan cintanya kepada laki-laki itu.
Mencintai seseorang bukan berarti harus memilikinya, bukan?
Chloe cukup membuktikan rasa cintanya dengan membantu Matthew sebisanya, dengan harapan agar Matthew bisa menemukan kebahagiaan bersama Judy, wanita yang dicintai oleh Atasan Chloe itu.
"Saya akan menghangatkan makanan untuk Anda," kata Chloe, yang kemudian segera berdiri dari tempat duduknya.
"Aku tidak selera makan!" ujar Matthew, ketus.
Walaupun Chloe mendengar perkataan dari Matthew itu, namun Chloe tetap mengambil makanan dari dalam lemari es, lalu menghangatkannya di dalam microwave.
"Anda tetap harus makan." Chloe meletakkan piring berisi makanan ke hadapan Matthew. "Anda akan jatuh sakit, jika Anda membiarkan perut Anda kosong, sementara Anda juga kurang istirahat."
Matthew terlihat enggan untuk menyentuh makanannya, dan bahkan memalingkan wajahnya ke samping, seolah-olah dia tidak mau melihat makanan di depannya.
Chloe mendengus pelan, lalu berpindah tempat duduk sampai semakin mendekat kepada Matthew, hingga Matthew menatapnya lekat-lekat.
Kemudian, Chloe mengambil alih peralatan makan dari depan Matthew, lalu mencoba untuk menyuapkan Matthew dengan makanan itu.
"Anda tidak perlu menghabiskannya." Chloe menahan sendok di depan wajah Matthew. "Yang penting bisa mengisi perut Anda walau hanya sedikit."
Untuk beberapa saat kemudian, Matthew akhirnya menyerah, dan mau saja disuapkan oleh Chloe, hingga Chloe tertawa kecil karenanya.
"Don't making fun of me!" ujar Matthew, ketus.
"Anda jangan marah! ... Saya hanya merasa senang karena Anda mau makan, dan tidak membuat tangan saya lelah karena menggantung terlalu lama," kata Chloe, sambil tersenyum.
"Apa yang kamu lakukan di rumah David?" tanya Matthew, sembari sesekali disuapkan makanan oleh Chloe.
"Makan malam," jawab Chloe, asal-asalan.
"Selama itu?" tanya Matthew lagi.
"Hmm ... Mister David masih harus memasak terlebih dahulu...." jawab Chloe, lalu teringat percakapannya dengan David, dan apa yang didengarnya dari percakapan antara David dan Jordan.
Sehingga, Chloe terpikir untuk mencoba menggali informasi dari Matthew secara berhati-hati, agar Matthew tidak langsung mencurigai apa-apa.
"Selain Miss Parker, apa tadi Anda masih menerima tamu yang lain?" tanya Chloe, berhati-hati.
Matthew mengerutkan alisnya dalam-dalam. "Kenapa kamu menanyakan hal itu?"
"Hmm ... Maafkan saya ... Saya hanya ingin tahu saja, apa mungkin ada yang mengganggu kencan Anda dengan Miss Parker, hingga Miss Parker harus cepat pulang."
Chloe berbicara dengan berusaha sebisanya agar tetap terlihat tenang, sembari mengamati raut wajah Matthew.
"Tadi mommy datang ke sini. Tapi tidak lama, dia hanya mengantarkan obat-obatanku, lalu segera pergi," jawab Matthew, tampak seperti terpaksa saja untuk menjawab pertanyaan Chloe.
Chloe manggut-manggut mengerti, lalu berkata,
"Maafkan saya, Sir ... Tapi, apa Anda merasa terganggu, jika saat Anda berkencan dengan Miss Parker, lalu saya berada di sekitar sini?"
Kelihatannya, Matthew sudah hampir mencapai ambang batas kesabarannya, dan seolah-olah dia sudah siap meletuskan kemarahannya kapan saja.
"Anda jangan salah paham, Sir...." kata Chloe, perlahan-lahan. "Saya tidak berniat untuk mengawasi gerak-gerik Anda."
"Saya hanya terpikir, seandainya saja saya tetap berada di sini, mungkin Anda tidak perlu langsung menemui orang yang datang berkunjung....
...Apalagi jika tujuan kedatangan orang-orang itu sebenarnya tidaklah terlalu penting, dan cukup saya saja yang menemui mereka....
... Dengan begitu, kencan Anda dengan Miss Parker tidak akan terganggu," kata Chloe, mencoba menjelaskan dengan memberi alasan yang rasanya cukup masuk akal.