
Chloe yang baru saja memotong sebagian kecil dari tart buahnya, tersenyum lebar ketika mendengar pertanyaan dari Matteo.
"Saya rasa tidak ... Tapi ... Entahlah!" Chloe sengaja mengatakan jawaban yang mengambang, karena dia hendak bersenda gurau dengan Matteo.
Dan Matteo pun, kelihatannya ikut terpancing dalam gurauan Chloe itu, karena Matteo tampak terganggu, dan berkata,
"Jawaban macam apa itu? Hanya membingungkan saja."
Chloe akhirnya tertawa kecil.
"Saya hanya bercanda, Sir ... Bagi saya, Mister David adalah orang yang baik. Karena dia yang tidak ragu-ragu untuk membantu, saat saya benar-benar dalam kesulitan....
... Dan tentu saja saya menyukainya. Tapi saya rasa, baik saya maupun Mister David, tidak ada yang memiliki ketertarikan sebesar itu, hingga ingin menjadi sepasang kekasih," kata Chloe.
"Hmm ... Kedengarannya kamu cukup mengagumi David. Jika kamu sering-sering menghabiskan waktu dengannya, kamu mungkin akan jatuh cinta kepadanya," ujar Matteo.
"Saya tidak bisa memprediksi masa depan. Jadi saya tidak akan berkata tidak mungkin. Karena, bagaimana jika pada akhirnya saya memang jatuh cinta padanya...?" sahut Chloe, dengan pertanyaan yang menggantung.
"... *You'll eat your words!" kata Matteo, menyambung perkataan Chloe.
(*Kamu akan menjilat ludahmu sendiri.)
"Benar! ... Itu sebabnya, maka akan lebih baik kalau saya tidak berkata apa-apa," sahut Chloe, sambil tersenyum, kemudian lanjut menikmati potongan tart buahnya.
"Apa kamu selalu sejujur ini, setiap kali berbicara dengan orang-orang di sekitarmu?" tanya Matteo.
"Hmm ... Saya rasa tidak. Hanya kepada orang-orang yang rasanya bisa saya percaya saja," jawab Chloe.
"Anda mungkin tidak tahu. Di kantor, saya justru sering kali berbohong pada sebagian besar orang, agar tidak terjadi ketegangan antara pemegang saham dengan CEO."
Matteo tampak tersentak setelah mendengar pernyataan dari Chloe itu, dan tampak semakin penasaran, Matteo kemudian berkata,
"Benarkah? Sesulit itu pekerjaanmu?"
"Sebenarnya, tidak sesulit yang Anda bayangkan. Di antara orang banyak, tentu kita akan bertemu dengan pribadi yang memiliki karakter yang berbeda-beda," jawab Chloe.
Chloe meletakkan sendok makan yang dipegangnya ke atas piring, lalu menyandarkan punggungnya, santai di sandaran kursi.
"Terkadang, CEO, baik Mister Nathan ataupun Mister Matthew, mungkin tidak berniat untuk memicu keributan. Hanya saja, mereka mungkin tidak menemukan cara bicara yang tepat, ...
...agar perkataan mereka tidak memancing kemarahan, dari orang-orang yang pada dasarnya memang tidak menyukai mereka....
...Sehingga saya yang akan menengahinya, karena saya sudah tahu dan menghapal, karakteristik masing-masing dari orang-orang itu....
... Saya akan membuat orang-orang yang mendengar perkataan dari CEO agar tidak tersinggung, meskipun saya harus berbohong," kata Chloe menjelaskan.
"Loyalitas dan totalitas. Masih ditambah lagi dengan kejujuran," celetuk Matteo, lalu menatap Chloe lekat-lekat. "Sebagai seorang pegawai, kamu memiliki etos kerja yang akan disukai oleh para pemimpin."
"Saya anggap, bahwa Anda sekarang sedang memuji ... Dan, terima kasih atas pujiannya!" ujar Chloe, sambil tersenyum.
"Chloe! ... Apa tidak ada dari petinggi di perusahaan, yang mengajakmu untuk bekerja pada mereka?" lanjut Matteo.
"Hmm ... Ada. Mister David," jawab Chloe.
"Tsk! ... Aku membutuhkanmu. Apa yang harus aku lakukan, agar kamu jangan sampai tergiur untuk bekerja padanya?" ujar Matteo, lalu bersandar dengan kasar di kursinya.
Chloe tertawa kecil.
Tanpa menanggapi perkataan Matteo lebih jauh, Chloe segera berdiri dan mengangkat piring-piring kotor bekas tart, lalu membersihkannya di dalam bak cuci.
"Apa Anda belum mengantuk?" tanya Chloe, yang berdiri membelakangi Matteo.
"Belum," jawab Matteo. "Bagaimana denganmu?"
"Saya juga belum mengantuk ... Justru, saya mungkin harus bergerak sedikit untuk membakar kalori dari tart tadi," sahut Chloe.
Chloe kemudian menyusun piring-piring yang sudah bersih dan kering, kembali ke tempatnya yang semula.
"Tapi saya tidak bisa pergi terlalu jauh, karena bisa saja Mister Matthew terbangun, lalu mencari saya," lanjut Chloe.
"Geez! ... Padahal, aku rencananya mau mengajakmu berjalan kaki berkeliling komplek perumahan ini," ujar Matteo.
Chloe tertawa, lalu berkata,
"Untuk apa Anda harus berjalan kaki sejauh itu? Bukan hanya membakar kalori, Anda justru hanya akan kelelahan karenanya."
"Kamu tidak tahu saja. Di luar negeri, aku biasanya berjalan kaki sampai beberapa blok dari rumahku. Selain untuk mencari inspirasi, ...
Lagi-lagi Chloe tertawa, dan bahkan kali ini, Chloe hampir tidak bisa mengatur volume dari gelak tawa yang keluar dari mulutnya, hingga Chloe harus buru-buru menutup mulutnya dengan tangan.
"Kenapa kamu tertawa?" Matteo menegur Chloe yang tertawa, sementara dia sendiri juga tertawa.
"Berapa banyak koin yang bisa Anda temukan?" tanya Chloe, yang ikut dalam lelucon Matteo.
"Hmm ... Aku pernah mengumpulkan sampai 15 penny. Lumayan untuk dipakai menelepon selama beberapa menit di telepon umum," jawab Matteo.
Cara Matteo berbicara, tampak dibuatnya hingga terdengar serius, seolah-olah apa yang dia bicarakan itu memang benar adanya.
"Apa kamu tertarik untuk mencobanya?" tanya Matteo, yang tampak berusaha menahan diri agar tidak tertawa.
"Hmm ... Tunggu sebentar! Saya periksa Mister Matthew dulu. Jika dia terlihat tidak terganggu, mungkin kita bisa jalan-jalan sebentar," ujar Chloe.
"Okay!" sahut Matteo, terdengar bersemangat.
Chloe beserta Matteo, kemudian berjalan menuju ke kamar Matthew.
Sementara Chloe berjalan masuk ke dalam kamar Matthew, Matteo menunggunya dengan berdiri di depan pintu.
Matthew tampaknya masih tertidur pulas ketika Chloe memeriksanya, sehingga Chloe hanya menarik selimut dengan perlahan-lahan, hingga menutupi sebagian badan Matthew.
Masih bergerak pelan, Chloe kemudian beranjak keluar dari kamar Matthew, lalu bergegas pergi dengan Matteo, untuk berjalan-jalan di sekitar perumahan.
Suasana jalanan di luar itu tampak sangat tenang, mengingat perumahan di situ memang untuk orang-orang kalangan atas, sehingga tingkat keamanannya cukup tinggi.
Kamera pengawas terlihat hampir di setiap sudut, dengan pantauan dari petugas keamanan yang tanpa henti, selama 24 jam di setiap harinya.
Begitu juga penerangannya yang cukup, hingga hampir tidak ada bagian di jalanan yang terlihat gelap.
Sehingga Chloe serta Matteo, bisa berjalan-jalan santai, tanpa perlu mengkhawatirkan tentang penjahat atau semacamnya, yang memang tidak akan semudah itu bisa masuk dalam kawasan itu.
Namun, di dalam keheningan, Chloe berulang kali mendengar suara napas Matteo yang berat, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Ada apa?" tanya Chloe.
"Tidak apa-apa ... Aku hanya merindukan sesuatu," jawab Matteo.
"Apa saya boleh tahu? ... Apa yang Anda rindukan?" Chloe sekadar bertanya, seandainya Matteo ingin mengutarakan beban pikirannya.
"Banyak hal," jawab Matteo. "Tapi yang paling mengganggu, adalah saat berjalan denganmu, aku jadi teringat akan mantan kekasihku."
"Ugh? ... Kalau begitu, sebaiknya kita pulang saja," ujar Chloe, yang kemudian berbalik, hendak berjalan mengarah kembali ke rumah Matthew.
"Tsk!" Matteo berdecak, seraya buru-buru menahan langkah Chloe, dengan memegang lengannya.
"Aku memutuskan hubungan kami setahun yang lalu, di musim panas seperti ini," kata Matteo, sembari membuat Chloe berbalik arah, agar bisa lanjut berjalan bersamanya.
"Kami berkencan kurang lebih 4 tahun. Tapi di tahun ketiga, dia tidak pernah mau lagi jika aku mengajaknya untuk ikut denganku, setiap kali aku ingin berjalan-jalan seperti ini....
... Padahal, sebelum-sebelumnya dia justru yang sering bertanya, apakah aku mau berjalan-jalan bersamanya, sambil membawa anjing peliharaan kami," kata Matteo.
Sembari tetap berjalan pelan, Chloe hanya terdiam mendengarkan Matteo bercerita.
"Awalnya, aku mengira kalau dia tidak mau lagi berjalan-jalan denganku, karena anjing peliharaan kami yang tiba-tiba jatuh sakit dan mati....
... Ternyata, dia telah mengkhianatiku. Dia berhubungan dengan salah satu temanku. Dan aku baru mengetahuinya, setelah mereka berbuat curang hampir setahun lamanya," kata Matteo.
Matteo menghela napas panjang, dan embusannya pun terdengar berat, sebelum akhirnya dia lanjut berkata,
"Bagian lucunya, aku bisa mengetahui bahwa dia telah berkhianat, saat aku sedang berjalan-jalan seperti sekarang ini, dan mendapatinya sedang bermesraan dengan temanku itu di pinggir jalan."
Bagi Chloe, tidak ada yang lucu dari cerita Matteo yang terdengar seperti curahan hati itu, namun Matteo berbicara sambil tertawa kecil.
Sehingga Chloe tahu, bahwa itu bukanlah tawa bahagia, melainkan menjadi cara Matteo untuk menutupi rasa sakit hatinya.
"Kamu bisa menertawakan kebodohanku," ujar Matteo, sambil tersenyum.
"Hmm ... Tidak yang bisa ditertawakan. Setiap orang pasti bisa berbuat kesalahan, dan itu bukan berarti sebuah kebodohan," sahut Chloe.
Chloe yang kemudian teringat akan kebodohannya sampai bisa ditipu oleh Brad, kemudian lanjut berkata,
"Seandainya saya menertawakan Anda, maka Anda yang akan tertawa lebih keras....
... Karena jika dibandingkan dengan Anda, maka saya justru yang lebih bodoh, kalau Anda sampai tahu apa yang saya lalui."