Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 58



Sejujurnya, Chloe tidak mengerti mengapa Maddison bisa terlihat sangat cemas sekarang ini.


Menurut Chloe, Matthew bukanlah anak kecil.


Terbiasa atau tidaknya, Matthew tetaplah orang dewasa, dan tentunya dia pasti bisa berusaha beradaptasi dengan orang lain yang akan menggantikan Chloe nantinya.


Buktinya, Matthew bisa lebih santai saat bersama Judy, meskipun Matthew baru dua kali bertemu dan berbincang-bincang dengan wanita itu.


"Madam! ... Maafkan saya ... Tapi, saya tidak bisa menjanjikan apa-apa," kata Chloe, menanggapi perkataan Maddison kepadanya tadi.


Seketika itu juga, raut wajah Maddison tampak berubah drastis. Kekecewaan terlihat jelas di wajah nan cantik dan keibuannya itu.


"Chloe! ... Aku—"


Maddison mengehentikan kalimatnya, karena secara tiba-tiba saja terdengar bunyi ketukan di pintu ruangan tempatnya berada bersama Chloe.


Maddison yang terganggu perhatiannya karena bebunyian itu, kemudian menoleh ke arah pintu yang terbuka, dan dilewati oleh seseorang di sana yang segera berkata,


"Madam! ... Anda dipanggil oleh Mister McLean. Katanya, Mister McLean ingin Anda mengajak Miss Chloe Fern bersama Anda."


Asisten rumah tangga yang menyampaikan pesan itu, kemudian segera berlalu pergi, setelah Maddison menerima pesannya dengan mengangguk pelan.


"Maafkan kami yang mungkin hanya menyusahkanmu saja. Tapi, kamu dengar apa yang disampaikan oleh asisten tadi. Apa kamu bisa ikut denganku lagi?"


Chloe mengangguk setuju. "Iya, Madam."


Saat itu juga, Maddison bergegas kembali ke ruangan di mana Matthew, Jackson dan Nathan berada, sembari disusul oleh Chloe yang berjalan di belakang Maddison.


Chloe lalu dipersilahkan untuk mengambil tempat duduk, dan Matthew segera memberikan tanda agar Chloe ikut duduk di sebelahnya saja, sesaat setelah Chloe melewati pintu ruangan itu.


"Aku ingin bicara berdua saja dengan Miss Fern."


"Grandpa!" ujar Matthew, tampak tidak setuju dengan keinginan dari Jackson.


"Matthew!" Meskipun dengan nada suara yang datar, namun ketegasan masih terdengar dari suara Jackson, yang tampaknya tidak mau jika Matthew membantahnya.


"Ayolah, Grandpa! ... Biarkan aku menemaninya! Kita sudah membuat Chloe merasa tidak nyaman ... Aku berjanji tidak akan mengganggu percakapan Grandpa dengannya."


Tampak tidak mau mengalah, sembari menggenggam sebelah tangan Chloe dengan erat, Matthew tetap bersikeras agar bisa bertahan di situ menemani Chloe.


Sembari mengeraskan rahangnya, Jackson juga tampak mengerutkan alisnya dalam-dalam, sambil menatap tangan Matthew yang memegang tangan Chloe untuk beberapa saat.


Ketika Jackson kembali mengangkat pandangannya, lalu memandangi wajah Matthew serta Chloe bergantian, Jackson kemudian berkata,


"Baik ... Grandpa akan memegang janjimu."


Tanpa perlu diberikan arahan lagi, Nathan serta Maddison segera beranjak pergi dari ruangan itu, meninggalkan Chloe, Jackson, dan Matthew.


Kemudian, seolah-olah dia hanya berdua saja dengan Chloe, Jackson yang tampak seperti ingin menyelidiki sesuatu, lalu mulai bertanya, sembari menatap Chloe lekat-lekat.


"Apa alasanmu menerima tawaran Nathan untuk menjadi asisten pribadi Matthew? Katakan dengan detail tanpa ada yang terlewatkan!"


Entah ada apa sebenarnya, sehingga Chloe bisa diperlukan seperti itu. Sampai-sampai, Chloe merasa seolah-olah dia saat ini sedang berada dalam sebuah persidangan.


Sikap Jackson itu, sudah seperti seorang jaksa yang sedang mencari kesalahan dari tersangka, sekaligus menjadi hakim untuk menentukan seberapa bersalahnya Chloe, sehingga membuat Chloe merasa sangat tidak nyaman.


Namun, Matthew yang menggenggam tangannya dengan erat, seakan-akan sedang berusaha memberikan Chloe rasa tenang, sanggup untuk membangkitkan keberanian Chloe.


Sehingga, Chloe bisa berterus terang kepada Jackson, tanpa sedikitpun merasa ragu ataupun merasa malu.


Tidak ada yang terkecuali, Chloe memberikan jawabannya secara terperinci kepada Jackson.


Bahkan, tentang asal muasal yang menjadi penyebab dan mengakibatkan dirinya harus terlibat dengan lintah darat pun, dikatakan Chloe secara gamblang.


Sementara Chloe bercerita kepadanya sampai usai, ekspresi di wajah Jackson sama sekali tidak menunjukkan tanda apa-apa.


Raut wajah Jackson tetap datar, seolah-olah dia masih menimbang kebenaran dari jawaban Chloe kepadanya, lalu melanjutkan pertanyaannya dengan berkata,


"Bagaimana hubunganmu dengan Jordan, atau siapapun itu yang menjadi petinggi di McLean property?"


"Seharusnya baik-baik saja ... Saya tidak bisa memastikannya. Karena semua orang bisa menutup-nutupi perasaan aslinya. Tapi saya rasa, Anda pasti lebih mengetahui hal seperti itu."


Mungkin karena tadinya dia sudah sempat berbicara banyak hal, hingga sekarang ini, Chloe sudah bisa merasa sedikit lebih berani untuk berinteraksi dengan Jackson.


"Apa maksudmu?" tanya Jordan, seakan-akan ingin mendapatkan penjelasan lebih jauh dari Chloe.


"Anda pasti sudah tahu, bahwa baik Mister Nathan maupun Mister Matthew, tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar disetujui untuk memimpin, oleh sebagian besar para pemegang saham....


...Walaupun saya hanya berniat untuk menjaga hubungan antara CEO dengan para pemegang saham, namun belum tentu semua orang benar-benar mau mengerti akan hal itu. Bisa saja, jika saya yang justru dipersalahkan....


... Dengan demikian, bagaimana saya bisa memastikan bahwa hubungan saya dengan semua petinggi perusahaan benar-benar baik-baik saja?"


Kali ini, ketika Chloe selesai berbicara, Jackson tampak manggut-manggut seolah-olah dia memang mengerti maksud perkataan Chloe.


"Apa itu berlaku pada seluruh petinggi perusahaan?" tanya Jackson lagi, seolah-olah masih belum puas dengan jawaban Chloe.


"Iya, tentu saja. Bahkan tidak menutup kemungkinan, jika CEO pun tidak bisa mempercayai saya sepenuhnya," jawab Chloe, dengan mantap.


"Sulit?" Pertanyaan Jackson yang mengulang-ulang tentang situasi dalam pekerjaan Chloe, mulai terasa menyebalkan.


Namun, Chloe masih menjawabnya dengan berkata,


"Bukankah pekerjaan apapun itu, pasti ada tantangannya tersendiri? ... Kesulitan? Pasti. Apalagi, jika harus terjebak di antara dua kubu yang bertentangan."


"Lalu bagaimana menurutmu? Kubu yang mana yang akan kamu dukung?" Lagi, Jackson masih saja bertanya.


"Yang mempekerjakan saya, tentu saja." Chloe menjawabnya tanpa ragu.


Jackson kemudian tampak mengetuk-ngetuk lantai dengan ujung tongkatnya, seolah-olah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya untuk beberapa saat, sebelum dia akhirnya berkata,


"Apa menurutmu CEO memang pantas untuk kamu berikan dukungan?"


"Sir! ... Saya tidak punya hak untuk membuat penilaian," jawab Chloe.


"Hmm ... Seandainya diberikan pilihan untuk lanjut bekerja menjadi asisten CEO McLean property, atau bekerja di perusahaan lain, yang mana yang akan kamu pilih?"


Tanpa merasa ragu, Chloe segera menjawab pertanyaan Jackson itu, dengan berkata,


"Saya akan bekerja di perusahaan yang lain."


Sehingga Chloe kemudian berkata,


"Tadi, Anda ingin tahu apa yang saya pikirkan tentang CEO ... Menurut saya, baik Mister Nathan maupun Mister Matthew, sama-sama kompeten dan layak untuk mendapatkan dukungan....


... Tapi itu bukan berarti saya mau untuk terus menjadi asisten CEO. Sebagaimana Anda yang pasti akan memilih siapa yang sesuai untuk menjadi pegawai Anda, maka begitu juga sebaliknya."


"Apa semua kamu katakan ini bisa dipegang?" tanya Jackson, yang terdengar hanya seperti sedang berceletuk saja.


Chloe tersenyum, lalu berkata,


"Maafkan saya, Sir ... Tapi saya rasa, saya tidak perlu menjawab pertanyaan Anda itu."


Chloe sebenarnya menyadari kalau sebagian dari perkataannya belakangan, akan terdengar seperti sedikit menantang Jackson, yang notabene adalah pimpinan tertinggi dari perusahaan tempat Chloe bekerja, dan kemungkinan besar Jackson akan meradang saat mendengarnya.


Dan tampaknya memang benar dugaan Chloe.


Karena saat ini, walaupun sudut-sudut bibir dari Jackson tampak sedikit bergerak naik, tetapi raut wajah dengan senyumannya itu, tidaklah terlihat seperti seseorang yang sedang merasa senang.


"Apa kamu selalu seperti ini? Atau hanya karena ada Matthew di sini?" tanya Jackson, sambil mempertahankan ekspresi wajahnya itu.


"Dia memang seperti itu...." celetuk Matthew, menimpali dengan suaranya yang hampir berbisik-bisik, setelah sekian lama dia hanya terdiam di situ.


"Kalau begitu, sudah cukup yang ingin aku tanyakan padamu." Jackson menyudahi percakapan intens-nya dengan Chloe. "Kamu bisa menunggu di luar sebentar! Ada yang akan aku katakan pada Matthew."


"Baik, Sir!" Chloe berdiri dari tempat duduknya, lalu beranjak keluar dari situ.


Kurang lebih 10 sampai 15 menit kemudian Chloe menunggu di dekat pintu ruangan itu yang sudah ditutupnya tadi, Jackson lalu terlihat berjalan keluar melewati pintu.


"Matthew butuh bantuanmu untuk berjalan ke luar," kata Jackson, kemudian berlalu pergi, setelah Chloe menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Baik, Sir!"


Chloe lalu kembali memasuki ruangan di mana Matthew menunggunya, dan segera menghampiri Atasannya itu.


Matthew tersenyum ketika dia melihat Chloe, namun menurut Chloe, senyuman di wajah Matthew itu seolah-olah hanya dipaksakannya saja.


"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Chloe, yang merasa sedikit cemas.


"Iya," jawab Matthew, lalu menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya kasar. "Sini! ... Duduk sebentar di sini!"


"Apa Anda belum mau pulang?" tanya Chloe, sembari duduk bersebelahan dengan Matthew.


"Hmm...." Matthew bergumam, seakan-akan ada yang dipikirkannya. "Apa Matteo dan David sudah tidak menunggumu lagi?"


"Saya tidak tahu ... Sudah cukup lama saya di dalam sini. Mungkin mereka sudah pergi," jawab Chloe, ragu-ragu.


"Kita coba lihat saja dulu!" ujar Matthew. "Apa kamu mau?"


Matthew mau menemani Chloe menemui Matteo dan David?


Menurut Chloe, gelagat Matthew sekarang ini tampak cukup aneh, dan demi memuaskan rasa ingin tahunya, Chloe kemudian berkata,


"Sir! ... Apa Anda sungguh baik-baik saja?"


"Iya," jawab Matthew, sambil tersenyum. "Kenapa kamu menanyakannya berulang-ulang?"


Dengan tatapan menyelidik, Chloe berlama-lama memandangi Matthew.


Dan saat itu juga, Matthew tersenyum dan tampak hampir tertawa, lalu menutupi bagian mata Chloe dengan telapak tangannya, sembari berkata,


"Jangan melihatku seperti itu...!"


Chloe kemudian menyingkirkan tangan Matthew dari wajahnya. "Hmm ... Lalu bagaimana dengan masalah Anda? Apa sudah bisa diselesaikan?"


"Sudah ... Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa," jawab Matthew, lalu berusaha berdiri dari tempat duduknya.


"Anda mau pergi ke mana?" Dengan terburu-buru, Chloe membantu Matthew lalu berjalan pelan bersamanya, keluar dari ruangan itu.


"Kita ke taman depan saja. Aku ingin melihat wajah Matteo dan David." Matthew terdengar seolah-olah sedang mengejek, tetapi entah kepada siapa arah ejekannya itu.


Chloe tidak mau membantah ataupun berdebat dengan Matthew, sehingga Chloe hanya terdiam sambil terus berjalan bersama Matthew, menuju ke taman di halaman depan rumah orang tua Matthew.


Kelihatannya, bukan hanya Chloe yang merasa aneh, saat Matthew lebih dulu ingin bertemu dengan Matteo serta David.


Setibanya Chloe dan Matthew di taman, Matteo serta David tampak tidak bisa menyembunyikan rasa bingungnya, ketika Matthew bisa bersikap bersahabat dengan mereka di sana.


"Hai!" sapa Matthew, yang tampak seolah-olah sedang menahan diri agar tidak tertawa.


Butuh beberapa waktu lamanya, barulah Matteo serta David membalas sapaan Matthew itu, dengan berkata secara bersama-sama.


"Hai!"


"Apa aku bisa ikut duduk di sini?" tanya Matthew, masih bersikap akrab. "Dari apa yang dikatakan Chloe, pembicaraan kalian di sini kedengarannya cukup menarik."


"Tentu saja!" jawab David, tanpa terdengar ragu-ragu.


Matteo serta David kemudian pergi mengambil satu bangku taman lagi, dan diletakkan berhadap-hadapan dengan bangku yang tadinya sempat dipakai mereka untuk duduk.


Dengan demikian, satu bangku dipakai oleh Matthew dan Chloe, dan yang satunya lagi diduduki oleh Matteo serta David.


"Apa kamu mau minum?" tanya Matteo, sambil memperlihatkan botol wine kepada Matthew.


Matthew segera mengangguk. "Iya."


Matteo kemudian pergi ke dalam rumah, dan terlihat berjalan kembali, sambil membawa satu gelas kosong, lalu segera menuangkan cairan wine ke dalamnya.


Sementara itu, Matthew, Chloe serta David hanya saling terdiam, dan bertatap-tatapan.


Ketika Matteo menyodorkan gelas berisi wine kepada Matthew, dan Matthew kemudian menyesapnya sedikit, David lalu memberi tanda isyarat kepada Chloe.


Tanda dari David, yang seolah-olah sedang bertanya kepada Chloe, tentang ada apa dengan Matthew, hanya ditanggapi Chloe dengan mengangkat kedua bahunya, seolah-olah berkata bahwa Chloe juga tidak tahu apa-apa.


"Kenapa kalian diam saja? ... Apa kedatanganku di sini hanya mengganggu?" tanya Matthew, sambil menatap Matteo serta David bergantian.


"Tidak ... Aku hanya heran saja. Apa kepalamu baru saja terbentur?" sahut David, sambil tersenyum mengejek.