Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 68



Untuk beberapa saat kemudian, Chloe melihat kalau sepertinya tidak ada tanda-tanda jika amarah Matthew akan segera mereda.


Walaupun demikian, Chloe juga tidak mau berbohong kepada Matthew, karena laki-laki itu mungkin akan semakin meradang, jika dia sampai tahu bahwa Chloe membohonginya.


"Mister David...." jawab Chloe, dengan suara yang hampir berbisik-bisik.


Dengan kedua alisnya yang mengerut dalam-dalam, sepasang mata Matthew bergerak liar, dan hanya sesekali saja dia melihat ke arah Chloe. "


"Gosh! ... Ini sangat sulit!" Matthew yang menggerutu, serta gerak-geriknya, tampaknya saat ini Matthew sedang gusar bercampur gelisah.


Namun, Chloe masih tidak mengerti akan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Matthew, sehingga dia hanya memandangi laki-laki itu, tanpa berkata apa-apa.


Tiba-tiba saja, dengan raut wajahnya yang tampak seperti orang yang sedang merasa cemas, Matthew lalu berkata,


"Aku tidak tahu apa aku bisa menahannya...."


"Hubungi David! ... Katakan kalau kamu bisa bertemu dengannya sekarang. Tapi kalian jangan pergi ke mana-mana. Cukup bertemu di rumah ini saja!" lanjut Matthew, sambil memijat-mijat keningnya.


"Apa Anda bersungguh-sungguh?" tanya Chloe memastikan.


"Iya ... Maafkan aku yang telah memarahimu. Seharusnya aku tidak bisa terlalu mengaturmu. Walau bagaimanapun, David telah membantumu di saat kamu membutuhkannya....


... Jadi rasanya, sudah sepantasnya jika kamu berterima kasih kepadanya dengan layak," kata Matthew, tanpa mau bertatapan mata dengan Chloe.


"Ingat kataku...! Jangan pergi ke mana-mana! Kalian bisa berbincang-bincang di ruang tengah, dan kamu bisa menjamunya di sana....


... Karena bisa saja, jika aku nantinya membutuhkan sesuatu darimu," lanjut Matthew, masih dengan gelagatnya yang sama.


Chloe mengangguk setuju. "Baik, Sir!"


"Saya ke depan sekarang!" lanjut Chloe, lalu segera berbalik dan berjalan keluar dari kamar Matthew.


Sembari berjalan pelan, menuju gerbang pagar depan rumah itu, Chloe memikirkan gelagat aneh yang diperlihatkan Matthew.


Ada apa sebenarnya dengan Atasan Chloe itu?


Tetapi, Chloe tidak mau berlama-lama memikirkannya, karena rasanya tidak ada satupun petunjuk yang bisa dipakainya untuk membuat dugaan.


Sesuai arahan Matthew yang mengizinkannya untuk bertemu dengan David dan berterima kasih dengan pantas, Chloe kemudian segera menghubungi David.


Dan tanpa terdengar sedikit pun keraguan, David menyetujui ajakan Chloe untuk bertemu di rumah Matthew.


***


Sudah sedari tadi Chloe memutus sambungan teleponnya dengan David, tetapi Judy belum juga tiba di rumah Matthew.


Justru mobil David, yang sudah terlihat menghampiri gerbang pagar rumah Matthew lebih dulu.


Chloe melihat arloji di pergelangan tangannya, Judy terlambat datang hampir 1 jam, melewati waktu perjanjiannya dengan Chloe siang tadi.


"Hai, Chloe!" sapa David, sambil tersenyum lebar, ketika dia menghampiri Chloe yang berdiri di dekat pintu pagar. "Kamu menungguku di sini?"


"Hai, Sir!" Chloe balas menyapa sambil tersenyum. "Saya menunggu Miss Parker."


"Ugh?" David terlihat bingung.


"Anda jangan salah paham. Bukannya saya tidak berniat untuk menunggu kedatangan Anda," kata Chloe, lalu lanjut menjelaskan dengan berkata,


"Kebetulan saja, saat ini bertepatan dengan janji Miss Parker yang akan bertemu dengan Mister Matthew. Tapi entah mengapa, Miss Parker belum juga tiba di sini."


David lalu manggut-manggut seolah-olah dia memang mengerti. "Kenapa kamu tidak menghubunginya lagi?"


Bertepatan dengan David yang selesai berbicara, mobil yang biasanya digunakan untuk mengantarkan Judy, terlihat berhenti di depan gerbang pagar.


Seperti biasanya, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, Judy selalu terlihat sempurna.


Bahkan saat ini, Judy terlihat semakin cantik, dengan gaun pendek minim kain yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang menarik.


"Apa ada yang salah?" tanya Judy, mengejutkan Chloe yang mungkin sudah terlalu lama memandanginya.


"Anda terlihat sangat cantik!" ujar Chloe, sambil tersenyum.


"Terima kasih!" sahut Judy, yang juga ikut tersenyum lebar.


Kelihatannya, bukan hanya Chloe yang terpana melihat kecantikan Judy itu.


Sembari saling menyapa dengan Judy di situ, David pun tampak tertarik untuk memandangi Judy dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.


"Silahkan masuk!" kata Chloe, lalu berjalan bersebelah-sebelahan dengan Judy, sementara David menyusul dari belakangnya.


Chloe mengantarkan Judy sampai ke depan pintu ruang tamu, lalu mengajak David untuk terus berjalan masuk sampai ke ruang tengah.


"Maafkan saya, Sir ... Tapi Anda harus menunggu di sini sebentar. Saya akan memanggil Mister Matthew," kata Chloe, sambil mempersilahkan David untuk duduk di sofa yang ada di situ.


David mengangguk setuju. "Okay!"


Dengan tergesa-gesa, Chloe kemudian menemui Matthew di kamarnya, dan segera berkata,


"Miss Parker baru datang. Saya tidak bertanya alasannya hingga dia datang terlambat."


"Tidak apa-apa." Matthew lalu berdiri, dan Chloe segera membantu memapahnya untuk berjalan.


"David sudah datang?" tanya Matthew, sembari berjalan dengan Chloe.


"Iya, Sir! ... Mister David menunggu saya di ruang tengah," jawab Chloe, seadanya.


Seketika itu juga, Matthew lalu tiba-tiba saja berhenti berjalan, hingga Chloe yang kebingungan, secara spontan saja menegur Matthew.


"Ada apa, Sir? ... Miss Parker sudah menunggu Anda!"


"Tunggu sebentar!" sahut Matthew, lalu tampak menghela napas panjang, seolah-olah dia sedang berusaha menenangkan diri.


Setelah beberapa saat, barulah Matthew lalu lanjut berjalan.


Ketika melewati ruang tengah, David yang melihatnya, lalu menghampiri dan menyapa Matthew lebih dulu.


"Hai, Matthew!" David tampaknya ingin menggantikan Chloe, untuk membantu Matthew berjalan.


"Hai, David!" Matthew balas menyapa, dan membiarkan David yang membantunya berjalan mengarah ke ruang tamu.


Cukup mengherankan bagi Chloe, melihat Matthew yang tampaknya tidak keberatan atas tindakan David yang menggantikan Chloe.


Chloe lalu memanfaatkan waktu itu untuk menemui asisten rumah tangga Matthew, dan memberikan arahan agar menyajikan teh dan camilan untuk Matthew dan Judy, juga untuk dirinya dan David.


Setelah Chloe kembali dari dapur, David terlihat sudah duduk kembali di ruang tengah.


"Tunggu sebentar lagi, Sir!" kata Chloe yang hanya melintas di situ, dan terus berjalan mengarah ke ruang tamu yang pintunya terlihat terbuka lebar.


Chloe melihat sebentar ke dalam ruang tamu, untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja, sebelum dia kembali menemui David di ruang tengah.


"Apa Matthew masih mengasarimu?" Sambil bertanya, David berpindah tempat duduk ke samping Chloe.


"Tidak," jawab Chloe, sambil bergeser sedikit, agar badannya tidak bersentuhan langsung dengan David.


"Chloe! ... Aku ingin memberitahumu—" David menghentikan perkataannya begitu saja.


Mungkin karena salah satu asisten rumah tangga Matthew yang menghampiri mereka, dan menyajikan teh dan camilan ke atas meja, dan salah satunya lagi yang terus berjalan mengarah ke ruang tamu.


"Rasanya sangat aneh!" kata David, dengan berbisik-bisik di telinga Chloe, ketika asisten rumah tangga Matthew berlalu pergi dari situ. "Apa kita tidak bisa bicara di tempat lain?"


"Maafkan saya, Sir! ... Mister Matthew bisa saja membutuhkan saya sewaktu-waktu. Jadi, saya tidak bisa ke mana-mana," jawab Chloe, lalu teringat sesuatu, dan buru-buru lanjut berkata,


"Oh, iya! ... Saya sangat berterima kasih atas bantuan Anda, yang sudah meminjamkan uang waktu itu. Maafkan saya yang tidak tahu cara membalas kebaikan Anda, selain berterima kasih."


"Kamu keras kepala!" ujar David, yang terlihat kesal. "Aku sudah melarangmu untuk mengembalikan uangku."


"Hmm ... Sir! ... Saya meminjam uang itu dari Anda. Sudah seharusnya jika saya menggantinya," kata Chloe, berhati-hati.


"Jadi, kalau aku memberikannya bukan sebagai pinjaman, apa kamu mau menerimanya?" tanya David, sambil mengangkat kedua alisnya.


"Maafkan saya ... Tapi mungkin sebaiknya Anda tidak perlu melakukannya, karena saya tetap akan merasa berhutang kepada Anda nantinya," jawab Chloe, memberi pengertian kepada David.


"Bagus! ... Dengan begitu, kamu tidak bisa menghindar dariku begitu saja!" ujar David yang terlihat kesal. "Awas saja, kalau kamu coba-coba untuk mentransfer kembali uang itu!"


"Ugh?" Sambil menduga-duga, Chloe buru-buru memeriksa aplikasi perbankan di ponselnya.


"Sir! ... Kenapa Anda melakukannya?" tanya Chloe dengan rasa kecewa, saat mendapati bahwa David telah mentransfer kembali uangnya ke rekening perbankan milik Chloe sejak siang tadi, dan Chloe hanya tidak menyadarinya saja.


"Chloe! ... Jika hanya dengan membuatmu merasa berhutang, menjadi cara agar kamu tetap menyadari keberadaanku, maka aku akan melakukannya."


David berujar lirih, lalu mengambil sebelah tangan Chloe dan menggenggamnya erat, kemudian lanjut berkata,


"Aku akan melakukan apa saja, agar kamu tidak pindah ke JT Corp."


"Sir...!" Chloe mencoba menarik tangannya dari genggaman David. "Apa kita harus membahas tentang hal itu lagi?"


"Aku menyukaimu, Chloe!" ujar David, dengan raut wajah dan suara memelas.


"Iya...." jawab Chloe asal-asalan, sambil memalingkan wajahnya, lalu menjelaskan apa yang dipikirkannya, dengan lanjut berkata,


"Anda mungkin menyukai keberadaan saya di sini sebagai teman bicara. Tapi pilihan untuk bekerja dan tinggal di mana saja, tetaplah menjadi keputusan saya."


"Chloe! ... Lihat aku!" kata David dengan tegas, hingga Chloe bertatap-tatapan dengannya. "Aku jatuh cinta kepadamu, Chloe! ... Aku tidak mau kamu berada jauh dariku!"


"Sir! ... Anda jangan berkata yang tidak-tidak!" sahut Chloe, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anda—"


Chloe tidak sempat menyelesaikan kalimat yang selanjutnya, karena David mengeluarkan suara menyentak, menyela Chloe dengan berkata,


"Aku tidak hanya asal bicara!"


David tampak seperti orang yang sedang frustrasi sekarang ini


"Sudah kesekian kalinya aku mengatakan kalau aku menginginkan agar kamu menjadi kekasihku. Aku bahkan ingin agar kamu menjadi istriku, tapi kamu selalu saja menganggapnya sebagai sebuah candaan....


... Kali ini, aku ingin kamu tahu, dan kamu harus percaya kalau aku tidak sedang bercanda. Aku bersungguh-sungguh mengatakannya. Aku mencintaimu, Chloe!" lanjut David, tampak berusaha meyakinkan Chloe.


"Sir...! Maaf—" Lagi-lagi, Chloe tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena David buru-buru berkata,


"Jangan meminta maaf! Bukan itu yang ingin kudengar! ... Tapi, Chloe.... Apa kamu mau menjadi kekasihku? Aku tidak akan meminta agar kamu harus menjawabnya sekarang ini....


... Kamu pikirkan saja dulu! Lalu berikan jawabannya nanti, saat kamu setuju untuk menjadi kekasihku. Jika kamu masih ragu, maka sebaiknya kamu jangan buru-buru menolakku."


"Demi cintaku kepadamu, aku akan sabar menunggu!" lanjut David, dengan suara memelas.


"Sir! ... Saya tidak mau memberi harapan yang tidak pasti. Apalagi berjanji. Sebaiknya Anda tidak menunggu. Anda pasti bisa menemukan seseorang yang lebih baik daripada saya."


Rasanya, Chloe sudah memberi pengertian sebisanya kepada David, tetapi laki-laki itu tampak tidak mau menerimanya.


Karena David justru berkata,


"Kamu tidak bisa memaksaku untuk mencoba menemukan orang lain ... Aku menginginkanmu. Dan aku akan tetap berusaha sampai kamu jatuh cinta kepadaku."


"Anda pasti bercanda!" celetuk Chloe, dengan rasa tidak percaya akan apa yang didengarnya.


"Chloe! ... Aku memang suka bercanda. Tapi seperti yang aku katakan tadi, kali ini aku tidak sedang bercanda," kata David, tegas.


"Apa kamu masih ingat? 2 tahun yang lalu, ketika aku memintamu berdansa denganku di pesta pernikahan Luigi? Saat itu, aku sudah merasa yakin kalau aku telah jatuh cinta kepadamu....


...Tapi tiba-tiba saja, kamu ditelepon oleh seseorang yang menyuruhmu pulang, walaupun pesta itu belum berakhir. Sejujurnya saat itu aku merasa sangat kecewa....


... Mau tidak mau saja, hingga aku harus menahan diri untuk tidak mengajakmu berkencan denganku, karena kamu terlihat senang, saat berkata bahwa dia adalah kekasihmu."


Sembari David mengungkit masa lalu, Chloe justru ikut teringat akan kebodohannya yang dibutakan oleh cintanya kepada Brad.


Seandainya Chloe bisa bertemu dengan Brad, laki-laki yang menipunya itu, mungkin Chloe akan menjambak rambut pirangnya yang panjang sebahu, dan mencakar wajahnya yang cukup tampan, sampai tidak berbentuk lagi.


"B*rengsek!" Tanpa disadarinya lagi, Chloe yang merasa kesal kepada Brad, telah mengeluarkan kata umpatan dari mulutnya.


"Ugh?" David terlihat bingung.


"Maafkan saya ... Saya teringat pada mantan kekasih saya itu," ujar Chloe, buru-buru menjelaskan.


"Chloe! ... Apa kamu mendengarkan yang aku katakan tadi?" tanya David, tampak ingin memastikan.


"Iya, Sir ... Saya mendengar semuanya," jawab Chloe, yakin.


"Sudah 2 tahun lamanya aku menunggumu. Tidak mungkin kamu mengira, bahwa aku akan menyerah begitu saja, bukan?!


... Aku pasti masih bisa menunggu, sampai kamu mau menjadi kekasihku," kata David, sambil mempererat genggamannya di tangan Chloe.


"Oh, gosh! ... Please, Sir! ... Anda hanya membuang-buang waktu," ujar Chloe, lalu mendengus kasar. "Sekarang sudah saatnya bagi Anda untuk melihat wanita lain!"


"Chloe...!" ujar David tampak frustrasi. "Pikirkan saja dulu! ... Please! Jangan menolakku! ... Berikan aku kesempatan, untuk membuktikan bahwa aku bisa membuatmu bahagia!"


Bertepatan saat David mengakhiri perkataannya, lalu terdengar suara Matthew yang berdeham, dan menarik perhatian dari Chloe serta David, hingga secara bersamaan melihat ke arah datangnya suara.


Dengan adanya Judy yang membantunya berjalan, Matthew lalu ikut duduk bersama Judy, di sofa yang hampir berhadapan dengan David serta Chloe.


Dengan sebelah tangannya, Matthew lalu merangkul pundak Judy yang duduk di sampingnya, dan sebelah tangannya lagi, menggenggam tangan Judy.


Sembari memandangi David serta Chloe bergantian, Matthew yang bergaya mesra dengan Judy itu, kemudian berkata,


"Kamu tahu kalau Chloe dibayar untuk melayani kebutuhanku, bukan?! ... Walaupun dia ingin berkencan, dia harus mengutamakan pekerjaannya."


Perkataan Matthew yang merendahkan Chloe itu, tampaknya diarahkannya kepada David.


"Apa kamu tidak tahu tugasmu? Siapkan makan malam untuk kami! Sekarang!" lanjut Matthew dengan nada suara membentak, sambil menatap tajam ke arah Chloe.