
Entah berapa lama waktu yang dihabiskan Chloe, untuk memantau keadaaan kaki Matthew, di dalam kamar Atasannya itu.
Chloe yang merasa cukup kelelahan karena sibuk dengan berbagai aktivitasnya seharian, justru tertidur di dalam kamar Matthew, tanpa dia sadari lagi.
Secara tiba-tiba saja, Chloe tersentak bangun dari tidurnya dan membuka matanya, lalu melihat Matthew yang tertidur dengan posisi yang tampaknya sangat tidak nyaman.
Matthew masih duduk berselonjor, menyandarkan punggung dan kepalanya di kepala ranjang.
Di kepalanya, Chloe juga merasa kalau ada tangan yang memegangnya, atau mungkin hanya tergeletak begitu saja di situ.
Setelah beberapa saat berada dalam keadaan linglung, Chloe akhirnya menyadari, bahwa dia bukan hanya tertidur di kamar Matthew saja.
Saat ini, Chloe bahkan tertidur meringkuk di atas tempat tidur Matthew, dengan kepalanya yang tersandar hampir di bagian lutut Atasannya itu.
Dengan terburu-buru, Chloe mengangkat kepalanya, hingga sebelah tangan Matthew yang tadinya diletakkan di atas kepala Chloe, terjatuh ke samping badan Matthew.
Dan di saat itu juga, Matthew kemudian ikut terbangun, sembari menyipitkan matanya, melihat ke arah Chloe.
"Maafkan saya, Sir," ujar Chloe yang panik, dan berusaha untuk memberi penjelasan. "Saya tidak ingat lagi, kalau saya telah tertidur di sini."
"Auch!" Matthew meringis kesakitan.
"Apa kaki Anda masih sakit?" tanya Chloe, lalu buru-buru memeriksa kaki Matthew.
Bantalan es yang ada di situ, sudah tidak mengompres mata kaki Matthew lagi, dan justru terlihat sudah terjatuh ke lantai.
Sehingga Chloe buru-buru hendak bergerak turun dari tempat tidur, untuk memungut bantalan es itu kembali.
Akan tetapi, dengan sigap, Matthew segera menahan gerakan Chloe, dengan memegang lengannya, sehingga Chloe kemudian berbalik, dan melihat ke arah Atasannya itu.
"Pahaku kram!" Matthew menunjuk dengan gerakan matanya, ke arah kakinya yang tadi sempat menjadi bantal bagi kepala Chloe.
Chloe terbelalak, dan justru merasa semakin panik, hingga secara spontan saja, Chloe lalu memijat-mijat bagian paha Matthew, seraya mengutarakan penyesalannya.
"Maafkan saya, Sir...." ucap Chloe, cemas.
"Kamu tidak meneteskan air liur di kakiku, kan?" tanya Matthew, tiba-tiba.
Chloe yang tadinya menundukkan kepalanya, memandangi bagian paha dari kaki Matthew yang sedang dipijatnya, kemudian mengangkat pandangannya, dan menatap Matthew lekat-lekat.
"Kamu jangan melihatku seperti itu ... Aku hanya bercanda," ujar Matthew.
Matthew lalu tersenyum lebar dan tampak seolah-olah dia akan tertawa, hingga membuat Chloe terpana, karena terkejut melihat pemandangan yang tidak biasa itu.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Matthew, sambil tetap tersenyum, lalu mengusap-usap wajahnya dengan sebelah tangannya.
"Ugh!" Chloe tersentak, saat menyadari kalau dia terlalu lama memandangi wajah Matthew.
Chloe lalu segera memalingkan wajahnya, dan kembali berkonsentrasi untuk memijat-mijat kaki Matthew.
"Sudah cukup...! Kakiku sudah terasa lebih baik," kata Matthew, sambil memegang tangan Chloe, dan menggenggamnya dengan erat.
"Anda pasti merasa tidak nyaman," celetuk Chloe, sembari memandangi tangan Matthew, yang masih menggenggam tangannya untuk sejenak.
"Kenapa Anda tidak segera membangunkan saya?" tanya Chloe, setelah dia kembali mengangkat pandangannya.
"Kamu kelihatannya sangat lelah ... Aku jadi tidak tega untuk membangunkanmu. Apalagi, kamu telah berusaha sebisamu untuk merawatku," jawab Matthew. "Terima kasih."
Matthew yang masih menggenggam tangannya, sambil tersenyum dan menatap Chloe lekat-lekat, membuat Chloe merasa kalau ada sesuatu yang aneh di dalam perutnya.
Suhu di wajah Chloe pun rasanya mulai meningkat, hingga dia berpikir cepat untuk segera menjauh dari Matthew, sebelum Matthew melihat wajahnya yang sekarang ini pasti akan memérah, karena terasa panas.
"Saya akan memeriksa kaki Anda yang terkilir," kata Chloe beralasan, agar dia bisa segera beranjak turun dari tempat tidur, dan memungut bantalan es dari lantai.
Setelah memperhatikan mata kaki Matthew untuk beberapa saat, pikiran Chloe akhirnya teralihkan, dan dia bisa merasa seperti biasa kembali.
"Apa masih terasa sangat sakit?" tanya Chloe.
Matthew mencoba menggerakkan kakinya, kemudian berkata,
"Hmm ... Masih sakit. Tapi sudah tidak sesakit malam tadi."
Chloe yang kemudian melihat arloji di pergelangan tangannya, menyadari kalau sekarang ini sudah pagi, dan bahkan sudah hampir waktunya untuk berangkat ke kantor.
"Sekarang sudah waktunya ke kantor," celetuk Chloe, sambil menunggu tanggapan dari Matthew. "Apa Anda ingin beristirahat di rumah saja dulu? Saya bisa mengurus pekerjaan Anda untuk sementara."
"Ugh?" Chloe kebingungan.
"Kamu bantu aku pergi ke kamar mandi. Lalu, kamu juga membantuku saat kembali ke sini, dan berpakaian," kata Matthew, menjelaskan.
Chloe terdiam untuk beberapa saat sambil berpikir, sebelum dia akhirnya menyetujui permintaan Matthew, dengan berkata,
"Baik, Sir! ... Tapi saat Anda mandi, saya akan kembali ke paviliun ... Jadi mau tidak mau, Anda harus menunggu sampai saya selesai berganti pakaian. Barulah saya kembali ke sini, dan membantu Anda lagi."
"Iya ... Tidak masalah," sahut Matthew, kemudian perlahan-lahan bergerak turun dari atas tempat tidurnya, dengan dibantu oleh Chloe.
Chloe membantu Matthew berjalan ke kamar mandi, hingga Matthew bisa terduduk di bagian tepi bathtub.
Dan sebelum Chloe berlalu pergi dari situ, Chloe masih berpesan kepada Matthew, dengan berkata,
"Tolong Anda berhati-hati di dalam sini. Jangan sampai Anda terpeleset, lalu hanya menimbulkan cedera yang baru. Apalagi jika tidak ada yang tahu, apa yang terjadi pada Anda di sini."
"Okay!" sahut Matthew, yang kemudian jadi tanda bagi Chloe, untuk segera keluar dari kamar mandi Matthew itu.
Dengan tergesa-gesa, Chloe pergi ke paviliun, dan segera mempersiapkan dirinya untuk bekerja di hari itu.
Karena merasa cemas, kalau-kalau terjadi apa-apa pada Matthew di kamar mandi, sehingga Chloe benar-benar berusaha agar bisa secepatnya selesai bersiap-siap, dan kembali menemui Matthew di rumah utama.
"Sir! ... Apa Anda sudah selesai?" tanya Chloe, sebelum dia membuka pintu kamar mandi Matthew.
"Iya." Terdengar suara sahutan Matthew dari balik pintu.
Ketika Chloe membuka pintu kamar mandi, Matthew terlihat sedang duduk di tepi bathtub, hanya dengan mengenakan handuk, untuk menutupi bagian perut hingga ke lututnya.
Chloe kemudian mengambil selembar handuk lagi, dan menyodorkannya kepada Matthew. "Rambut Anda masih sangat basah!"
Matthew menggosok-gosok kepalanya dengan handuk yang diberikan oleh Chloe, sementara Chloe mengambil alat pengering rambut, dan segera menyalakannya, lalu membantu mengeringkan rambut Matthew.
Setelah itu, Chloe membantu Matthew berjalan kembali ke kamarnya, lalu mendudukkan Matthew di tepi ranjang.
"Pakaian yang mana, yang ingin Anda kenakan?" tanya Chloe.
"Kemeja biru muda ... Jas biru navy, begitu juga celananya," jawab Matthew.
Chloe kemudian mengambil semua yang diminta oleh Matthew, dari dalam walk-in closet, lalu meletakkan semuanya di atas tempat tidur. "Saya akan pergi mengambil kotak obat, karena kaki Anda butuh diperban."
Matthew lalu menarik lengan Chloe. "Apa kamu tidak merasa kalau itu masih kurang?"
Matthew menunjuk setelan pakaian, yang menurut Chloe sudah lengkap, karena Chloe juga telah memilihkan dasi, ikat pinggang dan kaus kaki, tanpa diminta oleh Matthew.
Chloe menatap Matthew dengan rasa bingung.
"Aku belum memakai pakaian dalam," ujar Matthew, yang seketika itu juga wajahnya tampak merah padam, sampai ke bagian telinga dan lehernya.
"Ugh? ... Maafkan saya." Dengan terburu-buru, Chloe kembali masuk ke dalam walk-in closet, lalu mengambilkan selembar pakaian dalam untuk Matthew.
"Sudah semuanya?" tanya Chloe, sembari meletakkan bawaannya ke atas tempat tidur.
"Iya ... Terima kasih," ucap Matthew, yang tampak malu-malu.
Sembari Chloe berjalan keluar dari kamar Matthew, rasanya Chloe tidak bisa berhenti memikirkan, bagaimana bentuk dada yang bidang dan bahu Matthew yang lebar.
Dilengkapi dengan wajahnya yang tampan, Matthew benar-benar terlihat sangat menarik. Apalagi saat Matthew tersenyum....
Hmm....
Chloe menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan secara berulang-ulang, agar dia bisa menenangkan dan menyadarkan dirinya sendiri.
Chloe tidak boleh tertarik, apalagi sampai jatuh hati kepada Matthew.
Chloe harus ingat, bagaimana sikap Matthew yang kaku dan cukup kasar, saat berhadapan dengannya.
Setelah mengambil kotak obat, Chloe kembali ke kamar Matthew, dan mendapati Matthew yang sudah hampir selesai berpakaian.
Chloe memasangkan perban di mata kaki Matthew, sebelum akhirnya dia membantu merapikan keseluruhan dari penampilan Atasannya itu, hingga Matthew siap untuk berangkat ke kantor.
Dan ketika Matthew masuk ke dalam mobil, lalu Chloe hendak duduk di jok penumpang bagian depan, Matthew kemudian berkata,
"Chloe! ... Duduk denganku di sini saja!"