Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 52



Walaupun terlihat sedikit kecewa, namun Judy mau saja untuk mengakhiri kencannya dengan Matthew malam ini.


Judy bahkan terlihat tidak keberatan, meski tidak ada seorangpun yang bisa mengantarkannya keluar dari rumah Matthew, karena Chloe juga tidak bisa melepaskan Matteo yang akan terjatuh, jika Chloe tidak menahannya dalam pelukannya.


Setelah Judy menghilang dari pandangan, dengan memasang raut wajah yang menampakkan kekesalannya, Matthew kemudian berkata,


"Apa yang kalian lakukan? Kalian hanya membuatku malu di depan Judy ... Kenapa Matteo bisa sampai seperti itu?"


"Maafkan saya, Sir ... Saya sama sekali tidak berniat untuk mempermalukan Anda. Tapi saya juga tidak bisa menghalang-halangi kehendak Mister Matteo, yang bersikeras ingin minum alkohol," sahut Chloe, beralasan.


"Seharusnya kamu membiarkannya di rumahnya saja! Kenapa kamu justru membawanya ke sini? Apa kamu sengaja untuk membuatku kesal?"


Sembari dia berbicara, tatapan mata Matthew seolah-olah bisa membuat lubang di wajah Chloe.


"Sir! ... Anda mungkin mengira bahwa saya hanya beralasan untuk membela diri. Tapi saya berkata jujur. Saya sudah melarang Mister Matteo untuk menyusul saya ke sini....


...Saya bahkan sudah berpamitan dengannya, sehingga saya mengira dia sudah pulang ke rumahnya. Tapi Anda lihat sendiri, Mister Matteo mabuk berat, saya tidak mungkin memaksanya untuk berjalan pulang ke rumahnya....


... Karena bisa-bisa, Mister Matteo justru hanya akan terjatuh dan tidak sadarkan diri di jalan." Chloe berusaha sebisanya agar Matthew mau mengerti situasinya sekarang ini.


"Chloe...! Aku mencintaimu....!" Matteo yang tidak bisa berhenti meracau, tampaknya hanya membuat Matthew benar-benar meradang.


Tanpa terlihat ragu-ragu, Matthew lalu menampar bagian belakang kepala Matteo dengan cukup keras, sampai-sampai Chloe bisa ikut merasakan getaran dari pukulan Matthew itu.


"Sir! ... Please! ... Anda menyakiti Mister Matteo!"


Chloe buru-buru memelas agar Matthew tidak mengulangi perbuatannya, sambil mengusap-usap bagian belakang kepala Matteo yang dipukul oleh Matthew.


Walaupun menurut Chloe tamparan Matthew itu pasti terasa menyakitkan, namun Matteo tampak tidak terganggu, dan justru terlihat semakin nyaman dalam pelukan Chloe, lalu menggeser kepalanya, hingga hidungnya tersandar di leher Chloe.


Terang saja Chloe merasa geli karenanya, sehingga Chloe berusaha menggeser sedikit kepala Matteo, agar wajah laki-laki itu bisa agak menjauh dari lehernya.


Namun, Matteo seakan-akan tidak mau menjauh dari Chloe, dan justru membenamkan wajahnya di leher Chloe itu.


"Chloe! ... Lepaskan dia sekarang!" Matthew tampaknya tidak bisa mengendalikan emosinya lagi, hingga dia membentak Chloe. "Biarkan saja meskipun dia akan terjatuh ke lantai!"


Namun, Chloe tidak mungkin membiarkan Matteo terjatuh, sehingga dia tidak menuruti perintah Matthew, dan justru hanya terdiam sambil menatap Matthew di situ.


Matthew terlihat semakin geram, hingga dia mengerutkan alisnya dalam-dalam, dan begitu juga dengan bagian rahangnya yang tampak mengeras, karena dia yang merapatkan gigi-giginya.


"Please, Sir...!" Chloe mencoba untuk menenangkan Matthew.


"Saya tahu kalau kami telah melakukan kesalahan, dengan mengganggu kencan Anda. Tapi saya minta agar Anda bisa sedikit berbelas kasihan kepada Mister Matteo....


... Dia baru saja melewati situasi yang sulit," lanjut Chloe, sambil berharap agar Matthew mau menoleransi kekonyolan yang terjadi malam ini.


Memanfaatkan jeda waktu di mana Matthew yang masih terdiam menatapnya, sambil berpikir cepat untuk mengevakuasi Matteo dari jangkauan Matthew secepatnya, Chloe melihat waktu di arloji di pergelangan tangannya.


Akan tetapi, saat ini sudah melewati jam kerja dari para asisten rumah tangga, dan yang pastinya sekarang ini mereka sudah pulang ke rumahnya masing-masing.


Dengan demikian, maka tidak ada seorangpun yang bisa membantu Chloe untuk membawa Matteo pulang ke rumahnya, atau sekadar membawanya ke lantai atas di mana kamar sementara Matteo berada.


Chloe kebingungan mencari cara untuk membawa Matteo yang tampaknya sudah tidak sadarkan diri, dan bahkan sudah berhenti meracau.


Namun Chloe tidak mau menyerah, dan mencoba membangunkan Matteo, dengan menepuk-nepuk wajah laki-laki itu.


"Sir! ... Bangunlah sebentar! Agar saya bisa mengantarkan Anda ke kamar," kata Chloe, berusaha sebisanya.


Usaha Chloe itu tampaknya tidak sia-sia, karena setelah beberapa kali mencoba membangunkannya, akhirnya Matteo terdengar mengeluarkan suaranya, walaupun hanya seperti sedang bergumam.


"Maafkan saya, Sir ... Saya akan mengantarkan Mister Matteo ke kamarnya. Nanti saya kembali ke sini," kata Chloe.


Tanpa menunggu tanggapan Matthew, Chloe berdiri dan berusaha keras untuk menopang Matteo agar tidak terjatuh, lalu membawa Matteo berjalan bersamanya.


Butuh usaha ekstra bagi Chloe memapah Matteo yang hampir tidak bisa melangkahkan kakinya, apalagi saat menaiki anak tangga ke lantai atas rumah Matthew itu, sampai Chloe benar-benar kelelahan dibuatnya.


Akan tetapi, pada akhirnya Chloe berhasil membawa Matteo sampai bisa berbaring di tempat tidurnya.


Chloe lalu memastikan bahwa Matteo bisa tertidur dengan nyaman, dan menutup sebagian tubuh Matteo dengan selimut.


Untuk beberapa saat, sambil memandangi Matteo yang telah pergi ke alam mimpi, Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Oh, gosh!" ujar Chloe.


Pekerjaan Chloe sebagai asisten pribadi, malam ini jadi semakin sulit saja, karena dia harus mengurus dua orang dewasa sekaligus.


Chloe lalu tersadar kalau Matthew pasti masih menunggunya, kemudian berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari kamar Matteo, dan segera menemui Matthew.


"Maafkan saya, Sir ... Apa Anda sudah akan kembali ke kamar? ... Tolong tunggu sebentar! ... Saya sangat haus," ujar Chloe terbata-bata.


Chloe memburu napasnya, karena dia yang benar-benar kelelahan, dan tadinya sempat setengah berlari dari lantai atas menuju ke dapur.


Walaupun masih memasang raut wajah kesal, namun Matthew mengangguk setuju, hingga Chloe buru-buru mengambil air minum dari dalam lemari es.


"Apa kamu sudah makan malam?" tanya Matthew, tiba-tiba.


Karena air minum yang memenuhi mulutnya, Chloe menjawab pertanyaan Matthew dengan menggelengkan kepalanya saja.


"Makan malam saja dulu! ... Aku akan menunggumu di sini," kata Matthew, lalu mengambil sebuah apel dari dalam keranjang yang ada di atas meja, dan memakannya.


Sejujurnya, Chloe memang merasa lapar. Jam makan malamnya sudah terlewatkan, karena kejadian demi kejadian yang berlaku di malam ini.


Sehingga, Chloe yang mendapatkan izin dari Matthew, segera mengambil makanan dari dalam lemari es, dan menghangatkannya di dalam microwave.


"Apa Anda sudah makan malam?" tanya Chloe, yang baru teringat kalau-kalau Matthew mungkin juga belum makan malam.


Matthew menganggukkan kepalanya. "Aku tadi sudah makan bersama Judy."


"Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Matthew, memecah kesunyian. "Katamu, Matteo baru saja melewati situasi yang sulit."


"Hmm...." Chloe ragu-ragu untuk menceritakan, bahwa Matteo dikunjungi oleh mantan kekasih dan teman yang mengkhianatinya.


"Apa?" tanya Matthew lagi. "Apa kamu hanya beralasan, agar aku tidak memarahi kalian berdua?"


Tidak mau membohongi Matthew, Chloe lalu berkata,


"Mister Matteo sedang dikunjungi oleh teman-temannya."


"Tapi di antara mereka, ada mantan kekasih Mister Matteo, serta temannya yang merebut kekasih dari Mister Matteo itu....


... Dengan begitu keadaannya, Mister Matteo pasti merasa kesulitan saat harus berhadapan dengan mereka."


Sambil berbicara, Chloe mengeluarkan makanannya yang sudah selesai dihangatkan dari dalam microwave, lalu meletakkannya ke atas meja.


Matthew terdiam untuk beberapa saat, sebelum dia kemudian berkata,


"Apa karena itu sampai kamu merasa iba? Atau karena Matteo yang mengungkapkan rasa cintanya padamu, hingga kamu berusaha melindunginya dari kemarahanku?"


Chloe yang sudah duduk di dekat Matthew, hampir tersedak dengan makanan yang baru saja akan ditelannya, sampai Chloe harus buru-buru berdeham, untuk membersihkan saluran pernapasannya.


"Aku tahu kalau Matteo telah jatuh cinta kepadamu, karena dia telah mengatakannya padaku sebelumnya....


... Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu juga telah jatuh cinta kepadanya? Apa kamu merasa kalau dia itu istimewa bagimu?"


Walaupun Chloe belum sempat menjawab pertanyaannya yang terdahulu, Matthew seolah-olah ingin menyudutkan Chloe dengan pernyataan dan pertanyaan yang dia lontarkan.


"Hmm ... Sejujurnya, saya tidak tahu. Karena saya baru saja saling mengenal dengan Mister Matteo. Sama seperti saya yang baru mengenal Anda....


... Lagi pula, saya belum tentu bisa bertemu dengannya lagi, saat saya sudah tidak bekerja menjadi asisten Anda," jawab Chloe seadanya, sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya.


Sementara Matthew hanya terdiam dan menatap Chloe lekat-lekat, Chloe kemudian lanjut menyantap sedikit makanannya.


"Bagaimana kencan Anda dengan Miss Parker? Kelihatannya, Anda sudah mulai terbiasa dengannya." Chloe buru-buru mengalihkan pembicaraan mereka.


"Apa menurutmu itu hal yang bagus?" Matthew justru balik bertanya.


"Iya! ... Tentu saja!" jawab Chloe, bersemangat.


"Sebagai CEO, Anda sudah bekerja keras. Tidak ada salahnya, jika Anda bersenang-senang, dan nantinya bisa menikmati kebahagiaan bersama seseorang yang Anda sukai," lanjut Chloe, sambil tersenyum.


Karena melihat Matthew yang menundukkan pandangannya, dan tampak seolah-olah sedang menatap piring makan chloe, sehingga Chloe mengira kalau Matthew juga ingin menyantap makanannya itu.


"Anda mau?" tanya Chloe, sambil mendekatkan sesendok makanannya ke mulut Matthew.


Matthew menatap Chloe lekat-lekat, lalu membuka mulutnya, sampai Chloe bisa menyuapkan makanan kepadanya.


Chloe tersenyum lebar dan hampir tertawa, lalu berganti-gantian menyuap makanan ke mulutnya dan Matthew, sampai makanan di piringnya itu hampir habis.


"Apa Anda masih lapar?" tanya Chloe, sambil memperhatikan wajah Matthew, dan mendapati kalau ada sedikit saus dari pasta yang mengotori ujung mulut Matthew.


Spontan, dengan ibu jarinya, Chloe mengusap saus yang mengganggu penglihatannya itu, tetapi Matthew lalu menangkap tangan Chloe, dan menggenggamnya dengan erat.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Matthew, sambil mengerutkan alisnya.


"Maafkan saya ... Ada sedikit saus di wajah Anda," jawab Chloe, lalu mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Matthew.


Namun, tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Chloe, Matthew justru mempererat genggamannya di tangan Chloe, hingga Chloe kebingungan dibuatnya.


"Sir? ... Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya ingin membersihkan wajah Anda," ujar Chloe, yang mulai merasa panik.


Matthew akhirnya mau melepaskan tangan Chloe, dan terlihat menundukkan pandangannya, sambil berkata,


"Aku ingin makanan penutup."


"Baik, Sir!" Chloe kemudian segera pergi mengambil air minum, dan sepotong kue yang dibaluri dengan krim keju dari dalam lemari es.


"Ini!" kata Chloe, sambil meletakkan piring berisi potongan kue ke atas meja, lalu kembali duduk di tempatnya yang semula.


"Kenapa hanya satu?" tanya Matthew, tampak memandangi piring kue yang ada di depannya.


"Hmm ... Saya baru saja minum soda. Saya tidak mau mengonsumsi gula berlebihan, yang nantinya hanya akan membuat saya kesulitan untuk tidur," jawab Chloe.


Seolah-olah dia tidak mendengar alasan Chloe yang tidak ingin menyantap makanan penutup, Matthew justru mengarahkan sesendok kue kepada Chloe.


"Buka mulutmu! ... Tanganku akan pegal kalau menggantung terlalu lama," kata Matthew, sambil menatap Chloe.


Chloe mendengus pelan, lalu membuka mulutnya, dan menerima suapan sesendok kue krim keju dari Matthew.


Entah apa yang di pikirkan oleh Matthew saat ini.


Karena tiba-tiba saja, dengan ibu jarinya, Matthew mengusap ujung mulut Chloe, lalu jarinya itu kemudian dimasukkannya ke dalam mulutnya sendiri.


Chloe terbelalak melihatnya. "Apa yang Anda lakukan?"


"Bagaimana rasanya?" Matthew balik bertanya dengan nada suaranya yang sinis.


"Ugh?" Chloe kebingungan.


"Tsk tsk tsk! ... Entah kamu memang sangat lugu, hingga tidak bisa mengerti, atau hanya berpura-pura bodoh ... Kamu melakukan hal yang sama padaku tadi....


... Apa kamu tidak tahu? Kalau tindakanmu itu bisa mengirimkan 'sinyal' yang rancu. Sehingga orang bisa salah paham, akan apa tujuanmu melakukannya," sahut Matthew, datar.