Bitter & Sweet

Bitter & Sweet
Part 19



Mungkin karena perkataan Chloe yang menyatakan kalau Matthew bisa jadi diri sendiri, tanpa perlu memikirkan tentang penilaian dari Chloe, sehingga Matthew kemudian kembali bersikap kaku dan kasar seperti biasanya.


Matthew bahkan membentak Chloe hanya karena Chloe yang memeriksa ponselnya, dan saling berkirim pesan dengan David.


"Siapa yang berkirim pesan denganmu?" tanya Matthew.


"Mister David," jawab Chloe, jujur.


"Berhenti sekarang juga! Suara ponselmu itu hanya menggangguku saja!" Matthew yang tadinya duduk berselonjor, kemudian berbaring menyamping dan memunggungi Chloe.


David mengirimkan pesan kepada Chloe, untuk mengajaknya berkencan besok sore.


Tetapi, karena Chloe tidak bisa memastikan kalau Matthew bisa ditinggal, sehingga Chloe kemudian membalas pesan dari David, dengan memberitahunya situasi yang sedang dihadapinya sekarang.


Chloe meminta maaf kepada David, karena dia yang tidak bisa berjanji, atas bisa tidaknya dia pergi berkencan dengan David di keesokan harinya itu.


David tampaknya mau mengerti, namun dia masih mengirimkan pesan kepada Chloe, dengan percakapan santai, sehingga Chloe juga terus membalas pesan darinya.


Chloe tidak menyangka, jika hanya karena dia yang berinteraksi dengan David lewat ponsel itu, hanya memicu kemarahan dari Matthew.


Padahal menurut Chloe, walaupun dia memperhatikan ponselnya, namun dia masih berada di dalam kamar dan menemani Matthew, dan bukannya Chloe membiarkan Matthew begitu saja.


Jika Matthew memang membutuhkan sesuatu, atau dia mungkin lelah dan ingin beristirahat, seharusnya Matthew bisa mengatakannya kepada Chloe dengan cara yang lebih baik.


Tetapi ... Sudahlah....


Menurut Chloe, Matthew memang sudah seperti itu adanya, dan percuma saja kalau Chloe terlalu mengambil hati atas sikap kasar Matthew itu.


Tanpa perlu memaksa untuk membuat alasan pembelaan diri, Chloe mengubah pengaturan ponselnya sampai tidak bersuara, agar setiap pemberitahuan yang masuk ke ponselnya itu, tidak lagi mengganggu Matthew.


Chloe kemudian menutup sebagian badan Matthew dengan selimut, sebelum dia berpindah tempat duduk ke sebuah kursi, yang ada di dekat jendela kamar Matthew.


Untuk mengusir kebosanannya, sembari melihat-lihat beranda akun sosial medianya, Chloe masih sesekali membalas pesan dari David, tanpa memberitahu David, kalau dia baru saja dimarahi oleh Matthew.


Setelah beberapa waktu berlalu, dan menurut Chloe sudah hampir waktunya untuk makan malam, dengan perlahan, Chloe kemudian berjalan keluar dari kamar, hendak memeriksa pekerjaan dari asisten rumah tangga Matthew.


Di perjalanannya kembali ke kamar Matthew, Chloe berpapasan dengan Matteo, yang kelihatannya baru saja kembali dari kantor pabean.


"Hai!" sapa Matteo, sambil tersenyum lebar.


"Hai!" Chloe balas menyapa. "Bagaimana barang-barang Anda? Apa sudah tidak ada masalah lagi?"


"Iya ... Seharusnya ... Tapi, entahlah. Besok baru akan ada kepastiannya," ujar Matteo, yang terlihat lelah.


"Anda mau minum teh? ... Saya bisa mengambilkannya untuk Anda," ujar Chloe.


"Boleh ... Aku ingin berbincang-bincang denganmu, kamu mau menemaniku minum teh?" tanya Matteo.


"Hmm ... Iya. Tapi kita duduknya di situ saja!" Chloe menunjuk dua buah kursi bersebelahan, yang ada di dekat pintu kamar Matthew.


"Okay!" sahut Matteo.


"Anda tunggu di situ sebentar, saya pergi mengambil tehnya dulu," kata Chloe, kemudian berbalik arah menuju ke dapur.


Ketika Chloe kembali menemui Matteo, dengan membawa nampan berisikan dua cangkir teh dan camilan, Matteo tampak sedang sibuk menatap tampilan layar ponselnya, sembari duduk di kursi yang ditunjuk oleh Chloe tadi.


"Silahkan, Sir!" kata Chloe, seraya meletakkan cangkir teh di atas meja yang ada di depan Matteo.


"Kamu memulainya lagi...!" ujar Matteo.


"Ugh?" Chloe kebingungan akan arah pembicaraan dari Matteo itu.


"Kamu memanggilku dengan sebutan Sir," kata Matteo, menjelaskan.


"Oh! ... Maafkan saya ... Sudah jadi kebiasaan," sahut Chloe, sambil tersenyum.


"Tsk! ... Kelihatannya aku hanya membuatmu merasa tidak nyaman. Tidak perlu meminta maaf, kamu tidak melakukan kesalahan," kata Matteo.


"Apa ada yang terjadi?" tanya Matteo, ketika Chloe duduk di kursi di sampingnya. "Maksudku Matthew ... Aku lihat tangannya diperban."


"Iya ... Saya menemukannya terjatuh di kamar mandi, ketika saya kembali ke sini tadi," sahut Chloe.


"Kamu tidak perlu terlalu merasa bersalah. Matthew itu bukan anak-anak. Seharusnya dia bisa lebih berhati-hati—"


Tampaknya, masih ada yang ingin dikatakan oleh Matteo, namun dia menghentikan perkataannya secara tiba-tiba, dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"... Jangan katakan kalau dia memarahimu," lanjut Matteo, sambil menatap Chloe lekat-lekat.


"Hmm ... Mister Matthew memang memarahiku. Tapi bukan karena itu. Mister Matthew tampaknya kelelahan, dan istirahatnya jadi terganggu, karena suara ponsel saya yang menerima beberapa pesan masuk," sahut Chloe.


"Apa mungkin karena Matthew? ... Sampai-sampai, kamu terlihat sangat berhati-hati saat bicara denganku," ujar Matteo, sambil menatap Chloe lekat-lekat.


Namun, Chloe belum sempat menanggapi perkataan Matteo, laki-laki itu sudah lebih dulu lanjut berkata,


"Chloe! ... Walaupun fisik kami sangat mirip, tapi bukan berarti sifat kami itu sama."


Kelihatannya, Matteo tampak berusaha untuk membuat pembelaan diri.


"Saya sudah tahu itu ... Anda tidak perlu memikirkannya," sahut Chloe, lalu tersenyum.


"Aku cukup merasa iri dengannya," celetuk Matteo.


Chloe tertawa kecil, lalu berkata,


"Saya tadi juga sempat berbincang-bincang dengan Mister Matthew, dengan pembahasan yang mirip-mirip dengan Anda sekarang ini....


... Saya rasa sangat wajar, jika sesama saudara bisa saling merasa iri."


"Ugh? ... Apa yang kalian bicarakan?" tanya Matteo, tampak penasaran.


"Mister Matthew bertanya kepada saya, apakah Anda lebih hebat darinya. Karena saya yang memberitahunya, bahwa saya mengagumi kemampuan Anda bermain piano dan bernyanyi."


Sembari Chloe berbicara, Matteo tampak senyum-senyum sendiri, seolah-olah ada sesuatu yang membuatnya merasa senang.


"Apa yang sedang Anda pikirkan?" tanya Chloe, secara spontan saja.


"Kamu mengagumiku?" Matthew balik bertanya, sambil tersenyum malu-malu.


Chloe tertawa kecil. "Tentu saja.... Anda sudah pasti hebat dan menguasai bidang Anda, sampai Anda bisa menjadikannya sebagai pekerjaan yang menghasilkan uang."


"Hmm ... Aku belum sehebat itu, karena aku masih membutuhkan sokongan dana dari keluargaku, untuk kebutuhanku sehari-hari," sahut Matteo.


"Anda tidak perlu merendah. Saya sudah melihat bagaimana terkenalnya hasil kerja Anda," kata Chloe.


"Ugh? ... Di mana kamu melihatnya?" tanya Matteo.


"Di internet, tentu saja," jawab Chloe.


Chloe mengambil sepotong biskuit yang menjadi camilan, lalu memakannya sambil memikirkan sesuatu.


"Anda ternyata sudah terkenal di mana-mana. Apa saya nanti bisa mendapatkan autograf Anda? Mungkin saya bisa menjualnya secara daring," kata Chloe, bercanda, kemudian tersenyum lebar.


Matteo tertawa lepas, sampai kedua bahunya tampak tersentak-sentak. "Kamu bisa saja! ... Aku jadi malu."


Matteo kemudian terlihat mengatur napasnya, agar dia bisa kembali tenang sebelum dia lanjut berkata,


"Rasanya aku jadi semakin iri dengan Matthew. Dia bisa mendapatkan asisten pribadi, yang sekaligus bisa menjadi teman, sepertimu....


... Seandainya saja aku bekerja di kantoran seperti Matthew, mungkin kamu bisa menjadi asistenku."


"Hmm ... Anda jangan berkata seperti itu. Pasti ada seseorang yang bisa menjadi teman Anda yang baik, walaupun Anda tidak bekerja di kantoran," sahut Chloe.


Matteo kemudian terlihat menyesap sedikit teh dari cangkirnya, dan mengambil sepotong biskuit, yang kemudian segera dimakannya.


"Apalagi, saya mungkin tidak sebaik yang Anda katakan. Karena buktinya, Mister Matthew justru tidak suka dengan keberadaan saya," lanjut Chloe, sambil memaksakan diri untuk tersenyum.


"Benarkah?" Matteo terbelalak. "Apa karena malam itu?"


"Saya tidak bisa memastikannya," jawab Chloe, lalu menghela napasnya yang panjang dan terasa berat, kemudian lanjut berkata,


"Yang pastinya, selama ini Mister Matthew lebih sering memarahi saya. Jika begitu keadaannya, berarti saya tidak cukup baik untuknya. Benar, tidak?"


Sepasang bola mata Matteo tampak bergerak liar, seolah-olah dia merasa tidak nyaman dengan apa yang dikatakan oleh Chloe.


"Chloe...! Apa mungkin, kamu akan berhenti menjadi asisten Matthew?" tanya Matteo.


Chloe yang tadinya sempat menundukkan pandangannya, kemudian segera mengangkat pandangannya lagi, dan menatap mata Matteo.


"Kelihatannya memang benar dugaanku," celetuk Matteo, seolah-olah dia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya tadi, walaupun Chloe tidak berkata apa-apa.


"Apa daddy-ku sudah tahu?" tanya Matteo.


Rasanya, Chloe tidak perlu lagi menyembunyikan tentang rencananya untuk berhenti bekerja dari Matteo, karena Matteo yang seakan-akan bisa membaca pikiran Chloe.


Sehingga, Chloe kemudian menggelengkan kepalanya, dan berkata,


"Belum ... Mister Nathan belum tahu, kalau saya akan mengundurkan diri di akhir bulan ini."