
Chloe terbelalak saat mendengar perkataan dari Matthew. Karena menurut Chloe, persyaratan yang diajukan oleh Matthew itu, terasa sangat menggelikan baginya.
"Apa Anda mendengar apa yang Anda katakan?" tanya Chloe, sambil tertawa kecil.
Kali ini, Matthew justru yang tampak tersentak.
Seperti ada sesuatu yang salah dari ujaran Chloe, hingga Matthew terlihat mengerutkan alis, melengkapi ekspresi wajahnya yang seolah-olah tidak mengerti.
"Kamu lebih memilih David?" tanya Matthew, seakan-akan dia sendiri tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.
"Sir! ... Saya tidak memilih siapa-siapa. Anda ingin saya menjauhi Mister David? ... Mungkin saya bisa berkata 'iya saya setuju'....
... Tapi, apa Anda yakin bahwa saya tidak akan berhubungan dengannya di belakang Anda?" sahut Chloe, sambil tersenyum.
"Jangan mempersulit keadaan Anda sendiri. Pada dasarnya Anda tidak percaya pada saya. Lalu untuk apa memaksakan diri? Itu sia-sia dan membuang-buang energi saja....
... Dan satu lagi! Saya bahkan telah berjanji padanya, bahwa saya akan menghabiskan waktu dengannya. Tidak mungkin Anda ingin saya membatalkan janji saya, bukan?" lanjut Chloe.
"Kenapa kamu menjanjikan hal seperti itu? Apa kamu berkencan dengannya?" tanya Matthew.
"Hmm ... Kurang lebih seperti itu. Bukan berkencan antar sepasang kekasih. Melainkan bertujuan untuk bisa saling mengenal pribadi masing-masing, dengan lebih baik," jawab Chloe.
Matthew terlihat kesal. "Bukankah katamu kalian sudah saling mengenal dalam waktu yang lama?"
Chloe yang merasa kalau kakinya mulai pegal karena terlalu lama berdiri, kemudian duduk di salah satu sofa kosong.
"Memang benar! ... Tapi kami tidak pernah berinteraksi secara intens. Kesibukan dari pekerjaan masing-masing, hanya membuat kami hanya bisa sekadar bertegur sapa....
... Kami hampir tidak pernah berbincang-bincang, lebih dari hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Itu sebabnya, hingga Mister David berinisiatif untuk mengajak saya berkencan, dan saya menyetujuinya," jawab Chloe.
"Tidak bisa dipercaya!" ujar Matthew, sambil menyandarkan punggungnya dengan kasar di kursi kerjanya.
Chloe mendengus kasar.
"Terserah Anda saja! Apakah Anda akan mempercayainya atau tidak. Karena saya tidak mau berusaha untuk membela diri. Apalagi sampai saya harus berbohong....
... Sudah lebih dari cukup saya berbohong dengan orang-orang di kantor selama ini, hanya demi menjaga hubungan antara CEO dan para pemegang saham," kata Chloe.
Chloe lalu teringat sesuatu, dan terpikir untuk mengatakan semuanya, berhubung sekarang ini dia memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Matthew.
"Apa Anda tahu, Sir? Saya sempat khawatir jika saya harus bekerja di tempat yang asing. Tapi setelah saya memikirkannya ulang, saya justru bisa merasa lega....
... Karena saya bisa memulai semuanya dari awal, dan berkesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru. Anda mungkin juga bisa mencobanya. Rasanya pasti akan luar biasa," lanjut Chloe, sambil tersenyum lebar.
***
Setelah percakapan antara Chloe dan Matthew yang cukup intens, Matthew justru tampak semakin uring-uringan.
Walaupun demikian, Matthew tidak berkata kasar atau membentak Chloe.
Matthew hanya memerintahkan, agar Chloe meninggalkan dia sendirian di ruang kerjanya, dan Chloe cukup menunggunya di luar.
Sebelum waktunya makan siang, Matteo yang entah baru datang dari mana, kemudian menghampiri Chloe, yang duduk di dekat ruang kerja Matthew.
Matteo yang terlihat membawa sebuah buket bunga di tangannya, tampak tersenyum lebar, sembari memberikan bawaannya itu kepada Chloe.
"Untukmu!" ujar Matteo.
"Aku tadi berjalan-jalan di kota. Seseorang menawarkan bunga ini, dan aku teringat padamu. Jadi, aku membelinya," lanjut Matteo.
Chloe tertawa kecil, lalu mengendus aroma harum dari kumpulan bunga mawar merah yang terikat dengan sehelai pita.
"Terima kasih!" ucap Chloe, sambil tersenyum.
"Kamu menyukainya?" tanya Matteo.
"Tentu saja! ... Bunganya indah dan masih segar," jawab Chloe, tanpa melepaskan buket bunga itu dari pegangannya.
"Oh, iya! Masih ada lagi!" Matteo terlihat meraba-raba jaket yang dipakainya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
Sebuah kotak yang tampaknya berisi sebotol parfum, dan beberapa bungkus permen cokelat, disodorkan oleh Matteo kepada Chloe.
"Apa Anda juga membeli ini semua, karena ada yang menawarkannya?" tanya Chloe, sambil menahan diri agar tidak tertawa.
"Iya ... Di dalam pusat perbelanjaan, banyak barang menarik yang ditawarkan di sana, dengan harga promo," jawab Matteo, lalu tersenyum lebar.
Tingkah Matteo yang seolah-olah dia tidak sadar bahwa telah dipengaruhi oleh salesman, justru terasa lucu bagi Chloe, hingga akhirnya tertawa dibuatnya.
"Geez! ... Ada-ada saja ulah Anda ini...." ujar Chloe, sambil berusaha untuk berhenti tertawa.
Matteo kemudian ikut mengambil kursi kosong yang ada di dekat tempat Chloe duduk, lalu berkata,
"Apa Matthew sedang bekerja?"
Matteo menggerakkan kepalanya, seperti sedang menunjuk ruang kerja yang ada di belakangnya.
"Iya," jawab Chloe.
"Pasti suasana hatinya lagi-lagi sedang buruk."
Chloe menghela napas panjang. "Iya, kelihatannya begitu. Mister Matthew tidak ingin saya berada di dalam bersamanya."
"Melelahkan ... Sementara kalau tidak salah, justru seharusnya hari ini kamu tidak bekerja karena libur akhir pekan, benar kan?" ujar Matteo.
Chloe menganggukkan kepalanya. "Iya."
"Lalu, apa kamu tidak ada rencana untuk malam ini?" tanya Matteo lagi.
"Hmm ... Sebenarnya, Mister David mengajak saya berkencan hari ini. Tapi saya belum bisa mengiyakan, karena saya belum mendapatkan izin dari Mister Matthew," jawab Chloe.
Matteo menatap Chloe lekat-lekat. "Apa kamu mau pergi? ... Maksudku apa kamu mau berkencan dengan David?"
"Hmm ... Tentu saja saya mau. Tapi...." sahut Chloe ragu-ragu.
"Kamu pergi saja! ... Aku yang akan menjaga Matthew," kata Matteo.
Chloe tidak segera menanggapinya, melainkan ikut menatap Matteo dengan perasaan ragu.
"Tidak apa-apa." Matteo seolah-olah ingin meyakinkan Chloe.
"Jika kamu harus meminta izin dulu dari Matthew, maka aku rasa kamu tidak akan mendapatkannya. Karena, sedangkan aku saja tidak setuju jika kamu pergi berkencan dengan David," kata Matteo.
"Ugh?" Chloe kebingungan.
"Maafkan aku ... Bukannya aku ingin menghalang-halangi urusan pribadimu, karena itu adalah hakmu untuk berkencan dengan siapa saja....
... Tapi sejujurnya, aku memang khawatir kalau kamu semakin menyukai David. Lalu menyetujui semua tawarannya, karena menganggapnya lebih baik dariku," kata Matteo, sambil tersenyum.
Permen cokelat yang diletakkan Chloe di atas meja kecil, yang berada di antara tempat duduknya dan Matteo, kemudian diambil salah satunya oleh Matteo, dan segera membuka bungkusannya.
"Katakan, 'Aaah'...!" ujar Matteo.
Secara spontan saja, Chloe mengikuti arahan dari Matteo itu, yang kemudian setelah mulutnya terbuka, Matteo segera menyuapkan cokelat ke dalam mulut Chloe.
Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara Matteo tampak tertawa puas, sembari membuka satu bungkusan permen cokelat lagi, yang kemudian dimakannya.
"Bagaimana menurutmu? Apa rasanya enak?" tanya Matteo, sambil tersenyum lebar.
"Hmm ... Iya ... Rasanya tidak buruk," jawab Chloe.
"Matthew suka dark chocolate seperti ini. Sedangkan aku, justru lebih suka white chocolate," celetuk Matteo.
"Dengan begitu, kami berdua tidak pernah bertengkar, hanya karena berebutan permen." Matteo kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu lanjut berkata,
"Aku akan ke kamarku dulu. Aku ingin mengganti pakaianku. Tidak akan lama, nanti aku kembali lagi. Kamu akan menungguku di sini, kan?"
Chloe mengangguk. "Iya."
"Okay!" Matteo kemudian menuju ke tangga, dan terus berjalan mengarah ke kamarnya di lantai atas.
Setelah Matteo menghilang dari pandangannya, Chloe kemudian memandangi permen cokelat yang masih tersisa beberapa bungkus lagi di atas meja.
Mengingat kata Matteo, bahwa Matthew menyukai cokelat itu, maka Chloe terpikir untuk memberikannya kepada Matthew saja, jika mungkin itu bisa membuat Atasannya itu bisa sedikit lebih ceria.
Chloe mengambil semua sisa permen cokelat yang ada, kemudian mengetuk pintu ruang kerja Matthew, sebelum dia akhirnya berjalan masuk ke dalam sana.
Matthew masih cemberut, ketika Chloe melihatnya dan beradu pandang untuk beberapa saat dengannya.
Walaupun demikian, Chloe tetap menghampiri Matthew, kemudian membuka satu bungkus permen. "Sir!"
Matthew menoleh sambil sedikit mengangkat pandangannya, karena Chloe yang berdiri di sampingnya.
"Katakan, 'Aaah'...!" kata Chloe, sambil tersenyum.
Matthew tampak bingung, tapi dia tetap mengikuti arahan dari Chloe, hingga mulutnya terbuka.
Dengan perlahan, Chloe lalu berniat untuk menyuapkan permen ke dalam mulut Matthew.
Namun, Matthew segera menangkap tangan Chloe itu dan menggenggamnya dengan erat, sambil menatap Chloe lekat-lekat.
"Permen cokelat," kata Chloe menjelaskan, tanpa menunggu Matthew bertanya.
Masih memegang tangan Chloe, sepasang mata Matthew tampak melihat ke arah permen yang ada di ujung jari tangan Chloe, lalu menarik tangan Chloe, sampai bisa menyuapkan permen itu ke mulutnya.
Chloe tersenyum lebar, dan hampir tertawa melihatnya. "Anda menyukainya?"
Dengan mulut tertutup, Matthew menjawab pertanyaan Chloe, hingga suaranya terdengar hanya seperti sedang bergumam.
"Maafkan saya ... Saya tidak berniat untuk 'menempelkan hidung' di urusan Anda. Tapi menurut saya, Anda tidak perlu memaksakan diri untuk terus bekerja....
... Anda butuh beristirahat walau hanya sejenak. Karena nantinya Anda akan terlalu kelelahan, dan justru tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan Anda," kata Chloe.
Entah apa yang dipikirkan oleh Matthew, hingga dia seolah-olah lupa untuk berkedip saat menatap Chloe, sembari tetap memegang tangan Chloe dengan erat.