
“aaarrrgghh..., sial...” bilang Eizarath.
Tangan kiri Eizarath bergetar, tak hanya itu tangan miliknya menjadi agak hitam akibat sengatan petir dari Varmound, terlepas dari itu, Eizarath sedikit kagum dengan semangat bertarung Reinherz.
“Dasar..., kenapa aku harus repot – repot bertarung ya kalau difikir – fikir” bilang Eizarath yang bertanya – tanya pada dirinya sendiri.
Tap..
Tap...
Ketika Eizarath berbicara dengan dirinya sendiri, dia mendengar suara langkah kaki dari belakang, suara langkah kaki tersebut mendekati dirinya, dia pun menoleh ke belakang, Eizarath melihat dua orang yang menghampiri Eizarath, mereka adalah Zeke dan Shaka.
“*haa..*\, lihatlah apa yang kamu perbuat..\, apakah kamu punya hati nurani\, bertarung dengan anak kecil” bilang Shaka.
“aku tidak asal menghajar anak kecil tau..., ayah juga melihat kan siapa anak ini dari aura miliknya” bilang Eizarath.
“aku juga sudah tahu.., tapi kamu terlalu berlebihan” bilang Shaka
“tidak perlu khawatir, anak ini tidak mati juga..., tapi ngomong – ngomong.., siapa Dwarf yang bersama mu” bilang Eizarath sambil melihat Zeke.
“aaahhh..., ini hanyalah teman menonton ahahaha...” bilang Shaka sambil tertawa.
“Dasar.., kalian memang orang – orang yang sangat menyusahkan” bilang Zeke sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.
Ketika sedang mengobrol Eizarath melihat ke arah belakang Shaka dan Zeke, dia merasakan aura yang sangat familiar baginya.
“apakah kamu masih ingin bersembunyi bajingan...?!” bilang Eizarath.
Tap...
Tap...
Seseorang muncul dari sisi lain rumah Zeke, orang tersebut tak lain adalah Baron Raven.
“seperti diharapkan dari teman ku.., aku tidak bisa bersembunyi..” bilang Baron Raven.
“Dasar..., asal kamu tahu.., anakmu sungguh merepotkan” bilang Eizarath.
“begitukah.., seperti yang diharapkan anaku ahahahah...” bilang Baron Raven sambil tertawa.
“tapi ini cukup menyenangkan, aku sudah lama tidak terluka seperti ini” bilang Eizarath sambil melihat tangan kirinya yang hangus.
Tap...
Tap...
Baron Raven berjalan mendekati mereka berempat, ketika berjalan Baron Raven tidak langsung menyapa, akan tetapi Baron Raven langsung menghampiri anaknya yang terbaring di tanah, dan terluka cukup parah.
Baron Raven langsung mengangkat Reinherz dan menggendong di bahunya, kemudian Baron Raven melihat ke arah mereka bertiga.
“sepertinya sudah cukup berbicara dulu disini, lebih baik kita kembali ke dalam kota” bilang Baron Raven.
“*hhooaamm..*\, kalau begitu cepatlah..\, aku sudah lelah dan ingin beristirahat” bilang Eizarath yang menguap.
“Baiklah kalau begitu, tapi sebelum itu, ada sesuatu yang ingin aku katakan pada mu Zeke” bilang Baron Raven sambil menatap Zeke.
“hhhmm.., ada apa..?, apakah kamu ingin meminta minta maaf karena telah membuat ku berdandan seperti ini?” bilang Zeke yang kesal.
“bukan itu.., kalau yang itu aku tidak akan minta maaf ahahahaha...” bilang Baron Raven sambil tertawa.
“cih..., dasar bajingan...” bilang Zeke yang kesal sambil mengepal tangannya.
“aku hanya bercanda.., tapi yang ingin aku katakan adalah, sepertinya Reinherz tidak akan bertemu mu dalam waktu yang dekat” bilang Baron Raven.
“baiklah kalau kamu mengerti, kalau begitu maaf atas kegaduhan yang terjadi, aku akan pergi bersama tamu ku” bilang Baron Raven.
“tapi sebelum itu.., perbaiki dulu atap ku sialan..” bilang Zeke sambil menunjukan atapnya yang rusak.
Eizarath pun memalingkan pandangannya ketika Zeke menunjukan atapnya yang rusak, Baron Raven yang melihat Eizarath seperti itu, Baron Raven terpaksa yang akan memperbaikinya.
“*haa..*\, baiklah.. aku akan membayar perbaikannya” bilang Baron Raven.
“ahahaha.., maaf kan aku kawan..” bilang Eizarath yang bercanda.
“Dasar.. sialan.., lain kali jangan merusak rumah orang” bilang Zeke yang kesal.
“sepertinya tidak ada lagi.., kalau begitu aku pergi bersama tamu ku” bilang Baron Raven.
Setelah mengobrol panjang Baron Raven, Shaka dan Eizarath pun pergi sambil membawa Reinherz yang pingsan, mereka pun berjalan masuk ke dalam Kota Phantom Harlow, ketika di depan gerbang, Baron Raven menengok Eizarath dan Shaka yang berada dibelakangnya.
“Selamat datang di Kota Phantom Harlow” bilang Baron Raven sambil tersenyum.
Shaka dan Eizarath terkesima dengan kota yang di pimpin Baron Raven, dia tidak mengira teman dan muridnya bisa mempunyai kota yang cukup indah, Shaka dan Eizarath juga melihat semua ras hidup dengan rukun, pemandangan ini cukup membuat mereka takjud dengan Baron Raven.
Tak hanya itu, ketika Baron Raven lewat, orang – orang yang mengenalinya langsung hormat padanya, dan Baron Raven membalas mereka dengan senyuman, Eizarath pun masih tidak percaya kalau Baron Raven bersikap seperti itu, apalagi jika dilihat dari masa lalunya
“Ayah..., apakah ini benar – benar si Blood Ripper?” bilang Eizarath sambil berbisik – bisik ke Shaka.
“*hhaa..*\, apa yang kau katakan..\, sudah tentu dia adalah Murakhan yang kita kenal\, apakah matamu menjadi buram setelah bertarung?” bilang Shaka.
“tidak...., aku hanya heran saja, orang seperti dia bisa seperti itu, itu membuat ku tidak nyaman ketika aku membayangkannya, ketika masih didunia iblis, tatapan matanya selalu tajam dan tidak memiliki berekspresi” bilang Eizarath.
“dasar..., kenapa kamu masih mengingat masa lalu.., asal kamu tahu.., setiap orang pasti bisa berubah, aku juga kaget melihatnya, tapi aku bangga, murid ku dan juga orang yang ku anggap anak ku, dia bisa menjadi sehebat ini” bilang Shaka sambil tersenyum senang.
“kenapa kamu senyum – senyum ayah.?, sangat menjijikan sekali” ejek Eizarath.
“cih.., dasar anak kurang” bilang Shaka yang kesal.
Tap...
Tap..
Mereka bertiga terus berjalan ke arah utara, mereka pun keluar dari gerbang utara, Eizarath dan Shaka pun heran kenapa mereka keluar lagi dari kota.
“huh...?!, kenapa kita keluar lagi, Raven” tanya Eizarath.
“aaahhh..., aku lupa bilang, kalau mansion ku berada di luar gerbang utara, biasanya kalau tamu biasa aku menyuruh mereka untuk diam di gedung Administrasi, akan tetapi kalau tamu yang aku sangat kenal dan ku akui, aku akan membawa mereka ke mansion ku” bilang Baron Raven.
“hhhmmm..., sepertinya kamu masih milih – milih dalam berteman” bilang Shaka.
“ahahahaha..., aku tidak sepenuhnya percaya dengan teman, yang aku percaya adalah keluarga, seperti kalian, kalian tidak hanya teman ataupun guru, bagiku kalian adalah keluarga, jadi aku akan selalu menyambut kalian di mansion ku” bilang Baron Raven.
“*hiks..*\, Raven kamu benar – benar...” bilang Shaka dan Eizarath yang sedih dan mata yang berkaca – kaca.
“*haa..*\, biasakah hentikan kalian itu..\, kalian sangat menjijikan tahu” bilang Baron Raven.
Tak lama mereka berjalan, mereka pun sampai di Mansion keluarga Itzbal, Eizarath dan Shaka melihat Mansion milik Baron Raven yang cukup besar, akan tetapi tidak terlalu besar seperti mansion – mansion bangsawan pada umumnya, tapi mereka senang bisa berkunjung ke rumah Baron Raven.
“ akhirnya kita sampai, lebih baik kalian istirahat dulu sampai malam, nanti kita akan makan malam bersama, dan anakku sebentar lagi juga bangun” bilang Baron Raven.
“uugghh..., baiklah..., aku juga sudah lelah dengan perjalanan yang panjang, aku juga ingin beristirahat” bilang Eizarath sambil meregangkan tubuhnya.
“terima kasih Raven, aku juga ingin beristirahat” bilang Shaka.
“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa di makan malam nanti” bilang Baron Raven.