
Clang...
Clang...
Clang...
Suara Reinherz sedang menambang, Reinherz menambang dengan sekuat tenaga, sudah 1 bulan lebih Reinherz menambang, sekarang stamina Reinherz semakin bertambah, Reinherz bisa menambang lebih lama dan lebih cepat.
Disisi lain Zeke sedang mengawasi Reinherz yang sedang menambang sambil duduk di tanah, sembari memberikan arahan untuk Reinherz, Zeke juga berjaga – jaga sebagai alarm kalau ada monster yang datang untuk menyerang mereka.
Zeke dan Reinherz perlahan – lahan menambang ke dalam untuk mendapatkan Ore yang lebih bagus, mereka menambang semakin dalam setiap 15 meter, Zeke tidak ingin mengambil resiko berbahaya jika langsung masuk terlalu dalam, Zeke tidak ingin mengambil resiko kalau Balrog muncul, jadi Zeke menyarankan bertahap, sembari Reinherz mengasah kemampuan bertempurnya melawan monster,.
Clang...
Clang...
“Aaarrgghh..., sudah berapa lama aku tidak mendapatkan apa – apa” bilang Reinherz yang kesal sambil menambang.
“jangan mengeluh bocah...!, cepat lakukan perkerjaan mu” bilang Zeke.
“(aarrgghh..., menyebalkan sekali orang ini)” bilang Reinherz dalam hati.
Clang..
Clang...
Reinherz pun tak punya pilihan lain selain terus manambang, tak lama Reinherz menambang, beliung Reinherz menyentuh sesuatu yang keras.
Tang....
“huh...!, apa aku menyentuh sesuatu” bilang Reinherz heran.
Reinherz pun mengambil lentera yang ada didekat dia, Reinherz pun mengarahkan lentera tersebut ke sumber yang dia sentuh, ketika lentera menerangi tempat Reinherz menambang, Reinherz melihat cahaya lentera memantul dari batu yang menyentuh beliung Reinherz, batu tersebut bentuknya bulat abstrak dan berwarna silver terang.
Reinherz langsung memangil Zeke yang sedang duduk.
“Paman Zeke.., aku menemukan sesuatu” bilang Reinherz.
Zeke langsung berdiri dan menghampiri Reinherz, Zeke pun langsung melihat apa yang di temukan Reinherz.
“oohh.., ini adalah Iron Ore (bijih besi), sepertinya kita semakin dalam semakin menemukan sesuatu yang bagus” bilang Zeke.
“oohhh..., apakah akhirnya aku bisa membuat senjata?” tanya Reinherz.
“ya.. tentu saja, dan sepertinya memang kamu sudah saatnya belajar membuat sebuah senjata, sudah sebulan lebih kamu hanya membuat pisau, sampai – sampai aku lupa ahahahaha...” bilang Zeke yang tertawa.
“(uugghhh..., dasar guru sialan)” bilang Reinherz dalam hati.
Clang...
Clang...
Reinherz pun langsung menambang Iron Ore yang dia temukan, setelah Iron Ore diambil, kemudian Iron Ore tersebut diamasukan ke dalam kantong yang mereka bawa.
“sepertinya ada banyak Iron Ore di lokasi ini, jadi kita sementara tidak masuk kedalam lagi, jadi tambang sebisa mu disini” bilang Zeke.
“Baik paman..” bilang Reinherz.
Tap...
Tap....
Reinherz dan Zeke mendengar suara derap langkah yang mengampiri mereka, suara langkah tersebut semakin dekat dengan Reinherz dan Zeke, suara tersebut tak lain adalah suara monster yang datang dari dalam tambang.
“aarrgghhh..., monster sialan...!!, mereka menggangu sekali” bilang Reinherz yang kesal.
“*haa..*\, sepertinya kamu bekerja ekstra” bilang Zeke sambil menghela nafas.
Tang...
Reinherz melepaskan beliung miliknya dari tangannya, dengan ekspresi wajah yang kesal Reinherz mengeluarkan Aura Mana miliknya.
“Bajingan sialan..., kalian datang di waktu yang sangat tidak tepat, aku akan menghambisi kalian dengan cepat, Varmound” bilang Reinherz yang kesal.
Wwwhhhoosshh...
Reinherz mengeluarkan tombak Varmound miliknya, dan tanpa basa – basi Reinherz maju menghabisi semua monster yang membuat dia kesal.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Creak...
Creak....
Reinherz dan Zeke sedang berjalan untuk pulang dengan kereta mereka, tinggal beberapa menit lagi mereka sampai ke rumah Zeke, didalam kereta terdapat 10 buah Iron Ore yang Reinherz tambang, jumlah tersebut cukup untuk membuat beberapa senjata yang akan Reinherz buat.
Sssrraaakk...
Zeke memberhentikan kereta miliknya, Zeke langsung turun dari tempat kemudi kemudian menghampiri Reinherz yang ada didalam kereta.
“Kita sudah sampai Reinherz” bilang Zeke.
“aaahhh..., baiklah paman” jawab Reinherz.
Reinherz yang diberitahu sudah sampai, Reinherz pun turun dengan membawa peralatan dulu untuk diturunkan, ketika Reinherz sudah turun, Reinherz melihat Zeke menjaga jarak agak jauh sama Reinherz, Reinherz pun bingung karena Zeke biasanya menunggu di samping kereta dekat kereta pengangkut, dan entah kenapa Zeke berhenti dengan jarak cukup jauh dari rumahnya.
“(hhmm...?, paman Zeke tidak seperti biasanya, dan kenapa jarak kereta berhenti cukup jauh dengan rumah paman Zeke)” bilang Reinherz dalam hati.
Wwwhhhoosshh...
Reinherz merasakan Aura dari seseorang yang menyerang dia, Reinherz merasakan orang tersebut bergerak sangat cepat dan membidik Reinherz, Reinherz langsung mengambil beliung dengan cepat dan langsung mengaliri beliung dengan Aura Mana miiknya.
Wwhhosshhh....
Cccllaannggg.....
Ssrrraakkk....
Reinherz berhasil menahan serangan dari orang yang belum diketahui, serangan tersebut sangat kuat sampai Reinherz terseret beberapa meter ke belakang.
“dasar.., ku tinggal sebentar ternyata skill bertarung milik mu masih lemah” bilang suara seorang pria.
Reinherz melihat kedepan, dia melihat sosok pria memakai pakaian bangsawan berwarna hitam dan merah, di terlihat sangat rapih dan dia memakai sarung tangan berwarna putih, dia tak lain adalah Baron Raven yang sudah pulang.
“Ayah...?!” bilang Reinherz.
“ ya.., sudah lebih sebulan tidak jumpa Reinherz” bilang Baron Raven.
Reinherz pun tidak menunjukan ekspresi wajah yang girang, melainkan dia terlihat ingin mengabaikan ayahnya.
“oohh..., kalau ayah sudah datang bagus, aku ingin belajar menempa, jadi tolong jangan ganggu” bilang Reinherz dengan wajah datar.
Baron Raven yang melihat perilaku anaknnya seperti itu Baron Raven kesal, Baron Raven mengepalkan tangannya dan memukul kepala Reinherz.
Wwhoosshh...
Bbraakk...
“aaawwww...” teriak Reinherz yang sakit sambil memegang kepalanya.
“Dasar.., anak kurang ajar, biasakah kamu menghargai orang tua sedikit” bilang Baron Raven.
“uuugghh..., aku ingin belajar dulu dengan paman Zeke, aku akan menemui ayah nanti” bilang Reinherz.
“aku tidak ingin menunggu, aku ingin melihat hasil latihan mu” bilang Baron Raven sambil melirik ke Zeke.
“*haa..*\, sebelum itu..\, bisakah kamu menyapa dengan cara normal” bilang Zeke.
“ahahahaha.., aku ingin membuat kejutan ke anakku” bilang Baron Raven sambil tertawa.
“baiklah..., sebelum itu kita lebih baik ke rumah ku dulu untuk menurunkan barang, baru aku akan berbicara dengan mu Raven” bilang Zeke.
“Baiklah.., sepertinya itu cara yang terbaik” bilang Baron Raven.
Zeke, Baron Raven, dan Reinherz pun jalan ke rumah Zeke yang sudah dekat, ketika sampai di rumah Zeke, Reinherz menurunkan barang – barang dan menaruhnya didalam Workshop milik Zeke, ketika sudah selesai, Reinherz dengan cepat mengambil peralatan untuk memulai melakukan pekerjaannya.
“Paman Zeke apa yang harus aku buat?” tanya Reinherz.
“terserah kamu mau membuat apa pun, setelah selesai baru aku menilai dari cara kamu membuat sampai hasil akhir” bilang Zeke.
“Baiklah paman...” bilang Reinherz.
Reinherz pun langsung melakukan pekerjaannya sambil menghiraukan ayahnya, Baron Raven dan Zeke bersebelahan sambil memperhatikan Reinherz yang sedang membuat senjata.
“Kemana saja kamu?” bilang Zeke.
“aku tidak bisa mengatakannya, bahkan aku tidak akan memberitahu keluarga ku” bilang Baron Raven.
“*haa..*\, seperti biasa menghilang secara misterius\, kembali dengan hal yang misterius\, aku tidak ingin ikut campur\, tapi apakah baik – baik saja?”.
“itulah yang aku khawatirkan, tapi yang aku rasakan untuk sementara ini akan baik – baik saja”.
“baiklah.., kalau begitu aku akan ganti topik pembicaraannya, apakah kamu ingin tahu tentang Reinherz selama kamu pergi?”.
“ya.., apakah terjadi sesuatu yang mengejutkan?”
“tidak juga, ketika bertarung dia sudah sangat kuat melawan gerombolan monster dengan ukuran sedang, serangan dia sangat cepat dan agresif, tak heran aku melihatnya karena dia sudah berlatih bertarung selama bertahun – tahun, dan untuk menjadi Blacksmith, dia masih memiliki jalan yang panjang, aku hanya akan membekali skill basic saja, selebihnya biar dia yang mengeksplore kemampuan untuk menjadi Blacksmith”
“oohh..., sepertinya dia berkerja keras selama aku tinggal”
“ya.., selama dia bersama ku dia sangat tekun dan mendedikasikan diri untuk menjadi Blacksmith, untuk diluar itu, lebih baik kamu tanyakan ke Elron, dialah yang selalu menemani Reinherz”
“baiklah akan kutanya dia nanti”
Clang...
Clang...
Clang...
Reinherz membuat sebuah belati, akan tetapi baru hanya berbentuk belati tanpa gagangnya, setelah menempa menurut bentuk yang Reinherz mau, akhirnya selesai belatinya selesai.
“hhuuu..., aku membuat sebuah belati dulu, aku ingin tahu bagaimana penilaian paman Zeke” bilang Reinherz
Belati yang Reinherz buat berbentuk lurus akan tetapi ujungnya memiliki bentuk lancip di daerah tumpulnya.
Reinherz pun menghampiri Baron Raven dan Zeke yang sedang mengobrol, Baron Raven dan Zeke berhenti mengobrol ketika mereka melihat Reinherz menghampiri mereka.
“ini paman aku membuat belati” bilang Reinherz sambil menyerahkan belati yang dia buat.
Zeke pun mengambilnya dan kemudian melihatnya, Zeke melihat sebentar belati buatan Reinherz dan langsung membantingya ke lantai.
Clang..
“Buat apa kamu..!!, buatlah dengan niat dan cara yang benar..., dasar bocah bodoh..!!” bilang Zeke yang marah.
“Cih..., berisik...” bilang Reinherz yang memelankan suaranya sambil memalingkan mukanya..
“Apa yang kamu bilang bocah sialan..” bilang Zeke yang kesal
Sssrraakk...
Baron Raven berdiri dari tempat duduknya, Zeke yang sibuk memarahi Reinherz pun berhenti.
“Ayah mau kemana?” tanya Reinherz.
“sudah saatnya ayah pergi, ayah hanya akan menggangu latihan mu, sebelum ayah pergi ayah ingin memberitahu peringatan, badai yang kuat akan datang, jadi persiapkan dirimu” bilang Baron Raven.
“hhmm...?, apa yang ayah bicarakan?” bilang Reinherz yang bingung.
“kalau begitu ayah pergi, belajar lah yang baik” bilang Baron Raven.
Baron Raven kemudian pergi keluar, Zeke dan Reinherz melihat Baron Raven keluar dari Workshop milik Zeke, mereka berdua pun diam sejenak, ketika Baron Raven sudah keluar dari workshop, Zeke pun melihat Reinherz.
“Apa yang kamu lihat bodoh...!!, masih banyak yang harus kamu pelajari..” teriak Zeke.
Baron Raven yang sudah keluar dari Workshop Zeke mendengar suara omelan Zeke ke Reinherz, Baron Raven pun tersenyum, Baron Raven berharap ilmu yang didapatkan anaknya menjadi tidak sia – sia dimasa depan nanti.