Between The Strongest and The Weakest Family

Between The Strongest and The Weakest Family
Chapter 50: No Pain No Gain



KIIIAAAKKKK.....


Blood Serpent berteriak dengan sangat kesal karena Reinherz berusaha untuk bersembunyi, walaupun Blood Serpent masih bisa merasakan Reinherz berada di sekitarnya, Blood Serpent kesal karena satu hal, yaitu ia ingin segera memakan mangsanya.


Reinherz berdiri di atas batang pohon yang tinggi yang tidak jauh dari Blood Serpent, Reinherz sedang mengatur strategi untuk melawan Blood Serpent, walaupun hutan merupakan keuntungan bagi Reinherz untuk melawan Blood Serpent, Blood Serpent masih terbilang kuat, dan Reinherz belum menemukan celah untuk membunuhnya.


“Sial..., bagaimana cara ku membunuhnya?, aku harus menemukan titik lemahnya” bilang Reinherz yang ragu.


Reinherz tidak punya waktu banyak untuk melawannya, hari sudah mulai menjelang sore, jika pertarungan ini menjadi pertarungan yang panjang, Reinherz menjadi tidak diuntungkan jika hari sudah mulai gelap.


“Tidak ada waktu untuk ragu, aku harus membunuh ular sialan itu”.


Reinherz bersiap-siap untuk menyerang, mengeluarkan Aura Mana miliknya dan memperkuat senjata miliknya, setelah persiapannya sudah matang, Reinherz langsung menyerang.


Whosh...


Blood Serpent merasakan kehadiran Reinherz yang semakin mendekati dirinya, Blood Serpent melihat Reinherz menuju ke arah, kemudian Blood Serpent membuka mulutnya dan menembakan zat asam miliknya ke Reinherz.


Splash...


Splash..


Reinherz terus maju sambil menghindar dari zat asam Blood Serpent dengan memanfaatkan pohon-pohon di sekitarnya sebagi tempat berlindung, Reinherz terus mengitari Blood Serpent untuk mencari celah untuk menyerang, ketika ada celah untuk menyerang, Reinherz langsung menyerang dari belakang.


Whosh...


Akan tetapi Blood menyadari Reinherz yang ingin menyerang, Blood Serpent langsung menggunakan ekornya untuk menyerang balik Reinherz.


Whosh...


Duar...


Whosh..


Reinherz berhasil menghindar serangan Blood Serpent dengan melompat ke atas, Reinherz kemudian mengumpulkan mana di salah satu belatinya dan langsung menyerang Blood Serpent.


“[Fire Thrust]”


Whosh...


Reinherz menembakan tembakan api ke Blood Serpent.


Whosh..


Sraaahhh....


KKIIAAAKK......!!!


[Fire Thrust] milik Reinherz berhasil melukai Blood Serpent dengan luka bakar, akan tetapi tembakan api milik Reinherz tidak sampai luka fatal.


“Sial.., walaupun aku berhasil melukainya, tapi tetap saja ini tidak mempan”


Blood Serpent menjadi marah, Blood Serpent kemudian menyerang Reinherz dengan ekornya.


Whosh...


Serangan Blood Serpent terlalu cepat sehingga Reinherz tidak bisa menghindar.


“Sial...”


Whosh...


Duar...


Reinherz terkena serangan Blood Serpent dan terpental cukup jauh sampai salah satu pohon menghentikannya.


“aaarrrgghhh....!!!” teriak Reinherz yang kesakitan.


Reinherz langsung berdiri lagi sambil menahan rasa sakit, kemudian Reinherz melihat ke arah Blood Serpent, ketika melihat Blood Serpent Reinherz baru sadar, bagian yang paling lunak hanya ada satu yang Reinherz lihat, yaitu bagian mata Blood Serpent, hanya itulah satu-satunya kesempatan Reinherz untuk mengalahkan Blood Serpent, pada akhirnya Reinherz mempunyai peluang untuk menang, akan tetapi butuh pengorbanan yang besar jika ingin membidik matanya.


“*haa...* No Pain No Gain\, serpertinya aku akan merasakan sakit yang luar biasa setelah pertarungan ini selesai” bilang Reiherz sambil tersenyum.


Blood Serpent maju menyerang Reinherz dengan cepat, kemudian Blood Serpent menyerang Reinherz dengan mencoba menggigit Reinherz.


Whosh...


Duar..


Reinherz langsung menghindar dengan melompat lagi, akan tetapi ketika Reinherz melompat, ekor Blood Serpent sudah menunggu Reinherz dan langsung menyerang Reinherz.


“Sial...”


Whosh..


Brak...


“aaarrrgghhh...”


Reinherz terkena serangan ekor Blood Serpent dan terpental mengenai pohon, tanpa memberikan waktu untuk bernafas, Blood Serpent langsung menyerang Reinherz.


Whosh...


Akan tetapi Reinherz bangun dan langsung menghindar serangan Blood Serpent.


Duar..


Duar...


“Sial..., aku harus membuka celah” bilang Reinherz sambil mengusap darah yang keluar dari mulutnya.


Blood serpent yang melihat Reinherz menghindar, Blood Serpent membuka mulutnya dan menyerang Reinherz dengan cairan zat asam miliknya.


Splash..


Splash...


Reinherz yang melihat Blood Serpent menembakan zat asam miliknya, Reinherz langsung berputar-putar diantara pohon-pohon di sekitarnya, dan menghindar dari serangan zat asam.


Whosh...


Splash..


Reinherz ingin mencoba menyerang Blood Serpent dari samping, Reinherz keluar di antara pohon-pohon dan langsung menyerang Blood Serpent.


Whosh...


Akan tetapi sedikit lagi mendekati Blood Serpent, ekor Blood Serpent menyerang Reinherz.


Whosh...


Duar...


Reinherz langsung menghindar ke belakang dari serangan Blood Serpent, ketika mundur Reinherz membuat pijakan di sebuah pohon untuk melompat ke arah mata Blood Serpent.


Whosh...


Whosh...


Blood Serpent yang melihat Reinherz menuju ke arahnya, langsung memukul Reinherz dari belakang dengan ekor miliknya.


Whosh...


Brak..


“aarrrghhh...”


Blood Serpent memukul Reinherz langsung menuju ke arahnya, Blood Serpent yang melihat Reinherz menuju ke arahnya, langsung membuka mulut miliknya dengan niat ingin memakan Reinherz, akan tetapi ini adalah rencana yang Reinherz inginkan.


“Kena kau...” bilang Reinherz sambil tersenyum.


Reinherz yang semakin dekat dengan mulut Blood Serpent yang terbuka lebar, ketika sudah di ujung mulut Blood Serpent, Reinherz langsung menusukan satu belati miliknya ke mulut bawah Blood Serpent.


Splash....


Satu Belati miliknya pun tertancap di mulut bawah Blood Serpent, Reinherz dengan cepat mengandalkan ujung gagang belatinya sebagai tempat pijakan untuk ke atas kepala Blood Serpent.


Whosh...


Reinherz bermanuver ke atas kepala Blood Serpent, Blood Serpent merasakan kesakitan akibat mulutnya tertancap belati milik Reinherz langsung berteriak.


Kiiiaaakkk....!!!!


Reinherz yang mempunyai kesempatan cuma beberapa detik saja, Reinherz langsung mengumpulkan mana di belati miliknya dengan seluruh kemampuannya, Reinherz dengan cepat menyerang salah satu mata Blood Serpent.


Splash...


KKIIIAAAAKK.....!!!!


Blood Serpent berteriak dan memberontak dengan mengoyang-goyangkan badannya, akan tetapi Reinherz tidak melepaskan belati miliknya dari mata Blood Serpent, dia terus memegang belati miliknya sambil berteriak sambil marah.


“MATILAH....!!!!, MATILAH...!!!, MATILAH...!!!!” teriak Reinherz sambil berjuang.


Ketika adrenalin Reinherz terus memuncak, tanpa disadari Reinherz mengeluarkan Aura Mana yang kuat yang keluar dari dirinya, dan Aura Mana yang melapisi belati miliknya menjadi memanjang hingga menembus ke mata sebelah Blood Serpent.


Whosh...


Splash....


KKKIIIAAAAKKK....!!!!!


“MATILAH...!!!, MATILAH...!!!, ULAR SIALAN....!!!!” teriak Reinherz.


Blood Serpent semakin memberontak dan tidak bisa diam, kemudian Blood Serpent memukul memukul Reinherz dengan sangat keras sampai terlepas dari belati miliknya.


Whosh..


Brak...


“aaarrrgghhh...”


Duar...


Reinherz terpental dan terjatuh ke tanah dengan benturan yang keras, Reinherz terbaring di tanah kesakitan akibat pukulan Blood Serpent, Reinherz sudah tidak punya tenaga untuk menyerang lagi, darah sudah mulai keluar dari mulut dan hidung Reinherz akibat benturan keras, akan tetapi Reinherz masih mendengar jeritan Blood Serpent.


“hahahah...., apakah aku akan mati disini, aku bahkan tidak bisa berdiri sama sekali, dan Blood Serpent masih hidup, dan disini aku hanya terbaring melihat langit-langit” bilang Reinherz yang sudah pasrah.


Akan tetapi Reinherz berfikir dia harus pergi menjauh dari Blood Serpent sejauh mungkin, Reinherz kemudian menyeret badannya sekuat tenaga menjauh sambil masih mendengar teriakan Blood Serpent.


Srett..


Sret...


Reinherz terus menyeret badannya menjauh tanpa melihat kebelakang apa yang sedang terjadi, yang Reinherz fikirkan hanya satu dalam otaknya.


“Aku harus bertahan hidup”


Reinherz menyeret badannya hingga sampai akhirnya bersandar duduk di salah satu pohon, Reinherz duduk bersandar dan melihat kebelakang, ketika melihat kebelakang Reinherz melihat Blood Serpent kesakitan akan tetapi belum mati, dia mengeluarkan banyak darah matanya sambil tetap berteriak.


KKIIAAKK...!!!!


Reinherz yang melihatnya tidak punya tenaga ataupun senjata untuk menghabisi Blood Serpent, yang Reinherz bisa lakukan saat ini hanyalah berharap Blood Serpent cepat mati.


“Kuharap kau cepat mati dasar ular sialan” bilang Reinherz yang kesal.


Setelah Reinherz berbicara, Reinherz kaget melihat Blood Serpent berdiri tegak melihat kearahnya, seakan-akan Blood Serpent tahu posisi Reinherz ada dimana.


“Sial..., kenapa dia belum mati juga?, dan sekarang dia seperti itu, apakah dia menyadari keberadaan ku?” bilang Reinherz yang kaget.


Reinherz hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya, apakah dia akan mati atau hidup, dia tidak memikirkannya sama sekali, karena Reinherz tidak punya tenaga sama sekali untuk bergerak.


Akan tetapi tak lama Blood Serpent berdiri tegak, pada akhirnya Blood Serpent tumbang karena kehabisan darah.


Brak...


Reinherz melihat Blood Serpent jatuh ke tanah dan mati, Reinherz yang melihatnya kemudian tersenyum lebar dan tertawa.


“AHAHAHAHAHA....., akhirnya... aku... bisa.. ber.. is.. ti.. rahat...”.


Reinherz langsung menutup matanya karena kelelahan, dia sangat senang bisa beristirahat dengan tenang setelah pertarungan yang sengit, dan Reinherz berharap hingga matanya terbuka dia masih bisa melihat matahari atau bulan yang cerah.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Reinherz sudah pulih kesadarannya, sebelum membuka mata Reinherz mendengar kicauan burung yang ada di sekitarnya, Reinherz kemudian membuka matanya sedikit demi sedikit dan melihat cahaya matahari yang cerah, Reinherz kemudian meraba-raba dirinya sendiri, Reinherz tidak percaya apa telah terjadi pada dirinya, dan sudah berapa hari semenjak ia tertidur.


“ahahahah..., ternyata aku masih hidup” bilang Reinherz yang senang dan tertawa kecil.


Reinherz kemudian melihat kedepan, Reinherz melihat Blood Serpent yang telah mati dibunuh oleh, Reinherz kemudian bangun dari tidurnya.


“sial..., badanku masih terasa sangat sakit” bilang Reinherz yang kesakitan.


Reinherz langsung berjalan perlahan-lahan mendekati Blood Serpent, ketika sampai di depan mayat Blood Serpent, yang Reinherz lakukan pertama adalah mengambil belati miliknya yang tertancap dii mulut bawah dan mata Blood Serpent.


“Dasar ular sialan...” bilang Reinherz yang kesal.


Reinherz kemudian memeriksa keseluruhan tubuh Blood Serpent, Reinherz memeriksa material yang dia butuhkan dari mayat Blood Serpent, yang akan dia bawa ke markas.


“Sepertinya taringnya sangat berguna dan sangat tajam bagus untuk dijadikan tombak, kulit kerasnya bagus untuk dijadikan sesuatu, dan apa lagi ya....” bilang Reinherz sambil memeriksa tubuh Blood Serpent.


Beberapa saat kemudian......


Reinherz sudah mengambil bahan material yang dia butuhkan, dan Reinherz memutuskan untuk mengambil sedikit saja karena dia tidak membawa tas.


“Hu...., sepertinya sudah cukup” bilang Reinherz yang sudah mengemas barang bawaan.


Akan tetapi sebelum pergi ke markas, Reinherz masih penasaran apa yang ada didalam gua tersebut.


“aku masih penasaran apa yang ada didalam gua tersebut, sepertinya aku akan melihat dulu apa yang ada didalam gua tersebut, siapa tahu ada material yang aku butuhkan nanti dan aku bisa balik lagi ke sini” bilang Reinherz yang penasaran.


Reinherz kemudian pergi untuk memeriksa gua tersebut, apa yang ada didalam gua tersebut, dan dia berharap tidak ada bahaya yang akan menantinya lagi didalam gua.