
2 Tahun kemudian....
Whossshhh...
Clang...
Clang....
Reinherz berlatih bersama ayahnya di area latihan, Reinherz masih tidak bisa menyentuh ayahya sedikit pun selama dia berlatih.
Clang...
Wwhhhoosshh...
Baron Raven menyerang Reinherz dengan kakinya, Baron Raven menendang perut Reinherz dengan keras.
“Aaarrgghhh....!!!” teriak Reinherz.
Kemudian Baron Raven melempar Reinherz yang masih berada di kakinya.
Wwhhoosshhh...
Brraakk...
“uhuk... uhuk...” Reinherz menjadi batuk karena tendangan Baron Raven.
Baron Raven melatih Reinherz dengan sangat keras, ketika berlatih Baron Raven menjadi guru yang sangat kejam, akan tetapi ketika diluar latihan Baron Raven menjadi ayah yang baik bagi Reinherz.
Baron Raven melakukan hal itu agar anaknya menjadi kuat dimasa depan, mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain.
“Berdiri lah Reinherz” bilang Baron Raven.
walaupun Reinherz masih berumur 10 tahun, Baron Raven tak segan menendang Reinherz dengan sangat keras.
“aarrgghhh... sial..” bilang Reinherz yang masih memegang perutnya yang kesakitan.
akan tetapi Reinherz tidak punya pilihan lain selain berdiri, tangan Reinherz bergetar karena masih menahan rasa sakit, Reinherz pun menaikan adrenalin dia dengan berkonsentrasi menggunakan Aura membunuh.
Baron Raven merasakan Aura membunuh Reinherz, akan tetapi Aura membunuh tidak kuat, Baron Raven hanya tersenyum anaknya mempunyai potensi yang bagus.
Whhooosshhh...
Reinherz menyerang Baron Raven dengan cepat, Reinherz melihat ayahnya masih tetap berdiri dan tidak melakukan apapun, Reinherz menyerang ayahnya dengan sekuat tenanga menggunakan dua belati miliknya.
Clang..
Clang..
Reinherz menyerang dengan bertubi-tubi, akan tetapi Baron Raven menangkis semua serangan.
Reinherz pun tak mempunyai cara lain untuk menyerang ayahnya, ayahnya sangat cepat dan kuat, Reinherz tak punya cara lain selain menggunakan magic.
Reinherz kemudian mundur sedikit dari ayahnya, Reinherz kemudian memusatkan mana miliknya ke belati miliknya untuk menggunakan serangan miliknya.
Whoosshh...
Reinherz maju menyerang seperti biasa, akan tetapi ketika ayahnya ingin menangkis Reinherz mengeluarkan magic miliknya.
“[Flame Thrust]” bilang Reinherz.
Whhhoosshhh....
Muncul api dari belati Reinherz, api tersebut menusuk tepat ke arah kepala Baron Raven, akan tetapu tak sesuai yang Reinherz harapkan, Baron Raven hanya membelokan kepalanya tanpa mengerakan badannya.
“Lumayan...” bilang Baron Raven.
Baron Raven pun mengepalkan tangannya, kemudian memukul Reinherz tepat di pipinya.
Bbrraaakkk.....
Reinherz langsung terpental karena pukulan Baron Raven yang keras, setelah terkena pukulan, Reinherz terbaring di tanah dan berdaya.
“(siaalll....!!!, pukulannya sakit sekali..!!!)” bilang Reinherz dalam hati.
Clap...
Clap..
Ketika di tengah-tengah latihan terdengar suara tepukan tangan, Reinherz dan Baron Raven langsung melihat ke sumber suara yang menepuk tangan, dan ternyata itu adalah Lady Lizbeth.
“Apakah kalian sudah cukup?, sekarang waktunya istirahat” bilang Lady Lizbeth.
“*haa...*\, baiklah kita sudahi latihannya dulu Rein” bilang Baron Raven.
Reinherz pun langsung tiduran terlentang dan merasa lega.
Lady Lizbeth kemudian menghampiri Reinherz yang tiduran terlentang, Reinherz yang awalnya menatap langit-langit, tiba-tiba muncul wajah ibunya.
“Rein..., sudah waktunya makan siang, ayah dan ibu akan menunggu di ruang makan” bilang Lady Lizbeth.
“Ibu duluan saja..., aku akan menyusul.., ah... sial badanku masih sakit” bilang Reinherz.
“Baiklah kami akan menunggu mu” bilang Lady Lizbeth.
Lady Lizbeth dan Baron Raven pergi duluan ke ruang makan.
Setelah Reinherz agak lama tiduran terlentang, Reinherz bangun dan pergi langsung menuju ke ruang makan karena dia sudah lapar, ketika Reinherz membuka pintu, Reinherz melihat satu keluarga komplit, kakak-kakak Reinherz sudah duduk bersama ayah dan ibu.
“Ayo duduk disini Reinherz” bilang Lady Lizbeth sambil menunjuk tempat duduk yang berada di samping Lady Lizbeth yang kosong.
Reinherz menuju tempat duduk yang di tunjuk ibunya dan duduk di bangku tersebut.
Kemudian setelah Reinherz duduk, mereka pun mulai makan, setelah makan seperti biasa mereka saling berbincang-bincang tentang apa yang terjadi dan sharing tenang sesuatu, tak lama suasana pun hening semua mata melihat Reinherz, akan tetapi Reinherz tidak menyadarinya.
“Reinherz apakah kamu sudah siap untuk ke latihan stage selanjutnya?” tanya Baron Raven.
“Huh..?!, walaupun aku bilang tidak, ayah akan tetap melatihku ke stage selanjutnya kan?” bilang Reinherz.
Benar apa yang dikatakan Reinherz, Baron Raven akan tetap melanjutkan latihan Reinherz ke tahap yang lebih keras dari biasanya, akan tetapi tahap ini adalah tahap yang paling keras.
“kalau sudah mengerti, minum air digelas ini kita akan mulai latihannya” bilang Baron Raven sambil menyodorkan segelas air putih.
Reinherz tanpa fikir panjang langsung mengambil gelas tersebut.
“*haa..*\, walaupun pahit tapi baiklah akan aku lakukan” bilang Reinherz.
Reinherz kemudian meminum segelas air yang ayahnya berikan, setelah meminum air yang diberikan ayahnya, mata Reinherz menjadi sangat berat.
“Huh..?!” bilang Reinherz yang kebingungan.
Reinherz menjadi sangat ngantuk dan penglihatam Reinherz menjadi buram, sampai akhirnya Reinherz pun menutup matanya dan tertidur.
Beberapa saat kemudian........
Reinherz pun terbangun, ketika Reinherz terbangun, pertama yang dia lihat adalah pohon yang rimbut dan Reinherz merasakan tanah serta rumput-rumput yang agak rimbun disekitarnya, Reinherz langsung duduk dan melihat sekitar, tidak ada siapapun di sekitar Reinherz, hanya ada pohon-pohon yang banyak disekitarnya, dan Reinherz sadar dia sedang berada di tengah-tengah hutan yang lebat, Reinherz tidak tahu dia berada di hutan apa dan apa yang ayah dan ibu dia fikirkan.
Akan tetapi Reinherz melihat tas besar yang berada di samping dirinya, dan di samping tas tersebut terdapat secarik kerta yang bertuliskan sesuatu, dan tulisan tersebut sangat Reinherz kenal.
Dear Reinherz....
Latihan kali ini adalah bertahan untuk hidup, kami sudah menyiapkan perlengkapan awal untuk bertahan hidup di liar, mulai dari senjata, stock makanan untuk beberapa hari, buku tentang hewan dan tumbuhan, obat-obatan, dan tentang Alchemist, kami tidak akan menjemput mu selama mungkin sebulan atau bahkan lebih, bertahan hiduplah selama mungkin, kami akan selalu mendoakan keselamatan mu
Love From Father dan Mother.
Reinherz yang membaca surat tersebut menjadi kesal, karena dia tidak mengetahui latihan apa yang dia akan lalui, Reinherz serasa ingin berteriak dan memarahi ayah dan ibunya.
“DASAR SIALAN......!!!!” Teriak Reinherz.
----------------------------------------------------------------------------------------------
Krek...
Krek...
Beberapa prajurit dan kereta kuda berjalan menyusuri hutan, didalam kereta kuda Baron Raven, Lady Lizbeth dan Reed sedang duduk berdiskusi.
“Apakah tidak apa-apa Reinherz di tempatkan di hutan tersebut?” tanya Reed.
“Ya..., hutan tersebut sangat bagus untuk tempat dijadikan tempat latihan, walaupun aku harus meningkatkan level bahaya dari hutan tersebut” bilang Baron Raven.
“*haa...*\, bukankah ayah terlalu berlebihan menempatkan Reinherz di hutan seperti itu?” bilang Reed.
“sudah cukup Reed kekhawatiran mu untuk adikmu, hutan tersebut adalah tempat yang bagus untuk melatih Aura Mana” bilang Lady Lizbeth.
“*haa..*\, baiklah jika ibu berkata itu\, akan tetapi hutan tersebut masih menyimpan banyak misteri\, walaupun bagian depan hutan tidak berbahaya\, akan tetapi bagian dalam sangatlah bahaya” bilang Reed yang masih khawatir.
“tenang Reed, kekhawatiran mu itu bukan hanya ada padamu, kami juga sedikit khawatir, akan tetapi ini demi Reinherz” bilang Lady Lizbeth.
“apakah ayah dan ibu tahu hutan apa yang Reinherz tempati” bilang yang semakin khawatir.
“Ya.., Hutan dengan Void Magic dan terkadang Monster tingkat S muncul, Rohirir Forest” bilang Baron Raven.
“Tenang Reed, ibu sudah memberikan manual Book ke Reinherz tentang tempat yang dia tidak bisa lalui, walaupun dia melakukannya dia akan merasakan Aura yang kuat keluar dari hutan dalam” bilang Lady Lizbeth.
“baiklah kalau begitu, aku masih sangat khwatir untuk keselamatan dia, dan semoga tidak ada Monster Rank S yang muncul ke hutan luar” bilang Reed.
“Ya..., untuk saat ini kita hanya bisa mendoakan Reinherz.” Bilang Lady Lizbeth sambil menatap ke luar jendela.