Between The Strongest and The Weakest Family

Between The Strongest and The Weakest Family
Chapter 83: Something From The Depth



“Balrog” bilang Zeke.


Balrog adalah monster yang seluruh badannya diselimuti oleh api yang membara, kepala Balrog berbentuk seperti tulang seekor monyet, di kepalanya terdapat dua tanduk seperti kambing yang agak melingkar, sedangkan badannya seperti Minotaur begitu pula dengan kaki dan tangannya, Balrog mempunyai senjata pedang, pedang miliknya diselimuti oleh api dan lava yang sangat panas, ukuran Balrog sangat besar dan Balrog dikategorikan monster Rank S.


“Apa..?!” bilang Reinherz dengan ekspresi kaget.


Reinherz yang mendengarnya langsung kaget, Reinherz tidak percaya monster seperti itu ada didalam sana, akan tetapi Reinherz berfikir lagi, jika hanya satu Balrog yang muncul, seharusnya para Dwarf bisa menanganinya.


“Tapi paman jika hanya satu Balrog saja yang menyerang, bukankah kekuatan Dwarf cukup untuk menanganinya?” bilang Reinherz.


Zeke yang mendengar Reinherz bekata seperti itu, Zeke mengeleng – gelengkan kepalanya.


“yang datang tidak hanya satu, melainkan empat Balrog, satu mati ketika melakukan penyerang di tambang melawan para Dwarf, yang jadi masalah bukan hanya Balrog yang menyerang, melainkan monster lain juga, seharusnya kamu seharusnya tahu apa yang menarik monster lain dan Balrog menyerang Haroldene Cliff” bilang Zeke.


“ya.., yang menarik mereka adalah The Void Magic” bilang Reinherz.


“benar.., tapi informasi yang kudapatkan lagi sekarang Cuma tersisa dua Balrog, satu dibunuh mati oleh sekelompok Hunter, dan dua lainnya masih menjaga tambang Haroldene Cliff, jadi kita harus berhati – hati untuk tidak masuk terlalu dalam ketika di tambang” bilang Zeke.


“huh..?!, Hunter..?, kenapa Hunter melakukan perburuan di Haroldene Cliff, bukankah disini tidak ada apa – apa”


“*haa...*\, entahlah..\, sepertinya Dwarf yang membuat Questnya\, akan tetapi Dwarf tidak memberitahukan detailnya kalau ada Balrog didalam”


“dasar.., sepertinya akan ada masalah besar untuk kedepannya” bilang Reinherz.


Reinherz menyadari sepertinya ada maksud dibalik dia harus menambang di Haroldene Cliff, ayah dan ibunya pasti terlibat dalam hal ini, Reinherz pun penasaran dan menanyakannya sama Zeke.


“tapi paman.., aku menyadari sepertinya ada maksud dibalik semua ini” bilang Reinherz sambil menatap Zeke.


Zeke yang melihat Reinherz menatap dirinya dengan pandangan yang curiga, Zeke langsung tertawa kalau Reinherz menyadari apa maksud dibalik semua ini.


“ahahahaha...., memang kamu adalah anak yang cerdas, sepertinya kamu menyadari hal ini nak, aku tidak akan mengatakan secara detail, tapi... dimasa depan nanti kamu harus mengalahkan Balrog” bilang Zeke sambil tertawa.


“Sial..., aku tahu itu.., dua orang tua itu memang sangat menyebalkan” bilang Reinherz yang kesal.


“ahahahah.., sepertinya kamu menyadarinya, akan tetapi tenang saja, itu adalah rencana masa depan, aku tidak akan membahayakan murid ku, tugas ku sekarang ini adalah menjadi guru Blacksmith mu, bukan guru bertarung, aku hanya menyampai sesuatu yang dititipkan oleh ayah mu.” bilang Zeke.


“uuugghhh..., memang mereka berdua tidak bisa membuat hidup ku sedikit tenang,”.


“tapi tenang saja, aku juga tidak ingin terlibat dengan sesuatu yang merepotkan, jadi sekarang kamu fokus saja belajar ilmu Blacksmith, aku akan menjadikan mu seorang Blacksmith terbaik” bilang Zeke sambil menepuk – nepuk punggung Reinherz.


“Baiklah paman..”


Zeke yang sudah cukup mengobrol langsung berdiri.


“baiklah nak.., sudah waktunya tidur.., kita akan berangkat besok pagi, jadi istirahatlah dulu” bilang Zeke sambil berdiri.


Reinherz yang mendengar itu langsung berdiri juga, mereka berdua masuk ke tenda mereka dan mereka istirahat untuk perjalan di besok pagi.


Keesokan harinya..


Ssrruuttt...


Pagi pagi Zeke dan Reinherz bagun, mereka langsung merapihkan tenda serta barang – barang milik mereka dan siap untuk berangkat, kemudian Zeke dan Reinherz naik ke kereta milik mereka.


“apakah kamu sudah siap nak?” tanya Zeke.


“sudah paman” jawab Reinherz.


“baiklah kita akan berangkat”


Zeke dan Reinherz melakukan perjalan selama 8 jam lagi untuk pulang, untungnya di jalan mereka pulang lancar dan tidak hambatan.


8 jam kemudian....


Zeke dan Reinherz sudah sampai di depan rumah Zeke, Zeke turun dari kereta duluan kemudian menghampiri Reinherz.


“Kamu turunkan barang – barangnya, aku mau mengurus kambing – kambing ku untuk digiring ke kandang” bilang Zeke.


“taruh saja di depan Workshop milikku dulu”


Reinherz kemudian mengerjakan apa yang di katakan Zeke, Reinherz menurunkan barang – barang milik mereka dari kereta dan menaruhnya di depan Workshop milik Zeke, sedangkan Zeke memasukan kambing – kambing miliknya ke kandangnya, tak lama kemudian mereka pun selesai, Zeke menghampiri Reinherz yang sedang menunggu di depan Workshop.


“apakah kamu sudah selesai?” tanya Zeke


“sudah paman.., lalu apalagi yang harus aku lakukan?, apakah aku sudah bisa belajar tentang Blacksmith?” bilang Reinherz.


“*haa..*\, sepertinya kamu sudah tidak sabar\, alangkah baiknya kamu istirahat dulu sejenak\, ayo ikuti aku” bilang Zeke.


“mau kemana paman?”


“kita beristirahat dulu di rumah ku, istri ku pasti akan menyambut mu” bilang Zeke.


Reinherz baru ingat, dia tidak pernah melihat istri Zeke, selama Reinherz ke sini, Zeke yang selalu membuka pintu dan selalu Zeke mengarahkan ke Workshop miliknya, Reinherz yang ingin tahu istri Zeke, Reinherz pun setuju untuk beristirahat dulu.


Reinherz dan Zeke pun berjalan sekitar 10 meter ke rumah Zeke dari Workshop miliknya, ketika sudah di depan rumahnya, Zeke mengetuk pintu.


Tok...


Tok...


“sayang aku sudah pulang...” bilang Zeke.


Tak lama Zeke ngomong, pintu pun terbuka.


Ccrreeaakkk....


Pintu pun terbuka, Reinherz melihat seorang Dwarf wanita berambut keriting panjang berwarna hitam sampai pundak miliknya, kulit miliknya berwarna coklat, wanita tersebut memakai pakaian sehari – hari seperti gaun yang panjang sampai mata kaki miliknya, dia adalah istri Zeke, Delia.


Name: Delia


Gender: Female


Race: Dwarf.


Mata Delia ketika membuka pintu adalah melihat Zeke yang didepannya, Delia pun menyambut Zeke.


“aahh.. suamiku, kamu pergi lama sekali, bukankah kamu bilang kamu tidak sampai seharian pergi, kukira kamu di culik” bilang Delia yang mengomel.


“ahahaha..., karena perjalanan yang cukup jauh dan situasi tertentu, aku bermalam disana” bilang Zeke sambil tertawa kecil.


“*haa..*\, dasar...\, tapi syukurlah kamu kembali dalam keadaan selamat dan sehat” bilang Delia dengan senyum yang manis.


Ketika Delia mengobrol dengan Zeke, Delia melihat sosok anak manusia yang ada dibelakang, dia adalah Reinherz yang sedang menunggu.


“anak di belakang mu mukanya seperti mirip dengan seseorang, jangan – jangan...” bilang Delia yang bertanya – tanya.


“aahh.., aku lupa mengenalkan dia, dia adalah anak keempat dari Raven dan Lizbeth, Reinherz” bilang Zeke.


“ooohhh..., pantas saja kamu mirip sama ayahnya” bilang Delia.


“halo bibi, maaf menganggu...” sapa Reinherz.


“ayo nak masuk.., aku akan membuatkan kalian makan dan minum” bilang Delia.


“Ayo Reinherz masuk, kita harus memulihkan tenaga sebentar dan langsung bekerja” bilang Zeke.


Reinherz dan Zeke beriistirahat sejenak, mereka makan dan minum yang disediakan sama Delia, kemudian mereka pun bersantai dan mengobrol sebentar, setelah istirahat mereka cukup, Zeke pun membawa Reinherz ke Workshop.


Cccrreeaakk....


Zeke membuka pintu Workshop miliknya, Zeke merindukan Workshop miliknya walaupun hanya sehari di tinggal pergi, Zeke kemudian berjalan kedalam duluan dan kemudian mengambil palu yang terletak di salah satu meja miliknya.


“Cepat kesini bocah.., aku tidak suka orang malas, sekarang aku akan mulai pembelajarannya” bilang Zeke.