
5 bulan kemudian...
Tang...
Tang...
Tang...
Suara benturan besi di Workshop terdengar sangat nyaring, akan tetapi suara tersebut tidak hanya satu, melainkan dua orang yang sedang menempa sesuatu, dua orang tersebut tak lain adalah Zeke dan Reinherz, mereka berdua sedang membuat senjata, akan tetapi berbeda dengan Reinherz, Zeke sedang membuat senjata untuk orderan seperti biasa, kalau Reinherz masih terus belajar membuat senjata.
Reinherz kali ini membuat senjata tombak yang dia design sendiri tanpa bantuan Zeke, Reinherz terus menempa sampai akhirnya tombak yang dia inginkan jadi, tombak yang dia buat memiliki dua pisau tombak yang berada di samping kanan dan kiri, dua pisau berada di sebelum ujung tombak, dua pisau tombak tersebut agak melengkung untuk menyisakan ruang pada tengah tombak, dan di ujung tombaknya terdapat mata tombak yang runcing, mata tombaknya melebihi dua ujung pisau yang berada di samping kanan dan kiri.
“huu..., sepertinya sudah jadi, setelah berhari – hari aku mendesignnya, akhirnya jadi juga” bilang Reinherz sambil mengusap keringat di keningnya.
Reinherz pun melihat tombak miliknya yang sudah jadi, Reinherz merasa masih ada yang kurang, hal yang kurang bagi Reinherz yaitu dia belum mewarnai tombak miliknya.
“hhhmmm..., sekarang aku bigung ingin mempercantik tombaknya seperti apa, tapi itu aku akan fikirkan lain kali saja” bilang Reinherz yang bergumam sendiri.
Reinherz kemudian berdiri dari tempat duduknya, Reinherz kemudian berjalan menghampiri Zeke yang sedang mengerjakan pekerjaannya.
“Paman senjata yang ku buat sudah jadi, bisakah paman menilai bagaimana hasilnya?” tanya Reinherz.
“aarrrgghhh..., kamu mengganggu saja.., aku akan lihat hasil mu nanti, aku lagi sibuk” bilang Zeke yang sedang menempa senjata tanpa melihat ke arah Reinherz.
“*haa...*\, baiklah” bilang Reinherz yang sedikit kecewa.
Reinherz melihat tombak yang dia buat, Reinherz berfikir alangkah baiknya sambil menunggu Zeke, Reinherz ingin mencoba menggunakan tombak miliknya.
“aku coba saja dulu untuk berlatih sekalian menunggu paman Zeke” bilang Reinherz.
Reinherz pun berjalan keluar, ketika didepan pintu Reinherz menoleh ke Zeke.
“Paman aku keluar ingin mencoba tombak ku” bilang Reinherz yang sudah didepan pintu.
“Baiklah... baiklah..., pergilah keluar daripada kamu mengganggu pekerjaan ku” bilang Zeke.
Ccrreaaakkk....
Bbbrraakkk...
Tap...
Tap....
Setelah Reinherz keluar, Reinherz berjalan menjauh dari rumah Zeke, Reinherz tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan.
“lebih baik aku menjauh ke ruang yang lebih luas, daripada rumah paman Zeke kenapa – kenapa, aku tidak mau terjadi hal yang merepotkan diriku” bilang Reinherz.
Reinherz mengambil posisi untuk mengayunkan tombak miliknya, Reinherz kemudian menarik nafas dalam – dalam, Reiherz kemudian menggunakan Mana miliknya.
Wwwhhhoosshhh...
Wwwhhooshhh....
Reinherz mengayunkan tombak miliknya menggunakan mana, teknik tombak miliknya sekarang sudah terbilang sangat bagus, Reinherz beberapa bulan terakhir terus belajar menggunakan tombak daripada dual dagger miliknya.
Wwwhhhoosshhh...
Wwhhoosshh....
Reinherz terus mengayunkan tombaknya, melompat, menusuk dan berputar agar lebih efektif untuk serangan AOE (Area Of Effect).
Wwwhhhoosshh...
Sssttaabbb...
Reinherz menusukan tombak miliknya ke tanah, Reinherz sudah berlatih selama 30 menit dan sudah lumayan berkeringat, Reinherz ingin beristirahat sejenak, Reinherz berbaring terlentang di samping tombak yang miliknya.
“haa... haa..., masih kurang..., aku masih kurang menguasai penuh Mana dan Void Mana ku, serangan ku masih terlalu kaku, jika dibandingkan pada saat aku melawan monster itu...”
Reinherz tiba – tiba teringat dengan pada saat dia melawan monster Nuckelavee, pada saat itu dia masih lemah, rasa takut yang dia rasakan pada saat kematian sudah didekatnya masih tidak pernah terlupakan.
“aaarrgghh sial..., kenapa aku teringat masa lalu, aku harus fokus mengembangkan skill milikku” bilang Reinherz yang kesal sendiri.
Wwwhhhoosshhh....
Angin pun berhembus dengan pelan, Reinherz pun merasakan kesejukan yang luar biasa dan juga merasakan kedamaian, Reinherz merasakan selama beberapa bulan terakhir tidak ada sesuatu yang merepotkan menghampirinya.
“*haa..*\, sungguh damai sekali akhir – akhir ini” bilang Reinherz sambil menatap langit yang biru.
Ayah dan ibunya sudah sibuk masing – masing, Baron Raven mengurusi masalah Phantom Harlow dan Lady Lizbeth juga membantu suaminya dan mengurusi urusan Guild miliknya, jadi tidak ada yang mengganggu Reinherz sama sekali, jadi Reinherz bisa fokus belajar dengan Zeke.
“kuharap kedamaian ini bisa aku rasakan selama – lamanya” bilang Reinherz yang menikmati suasana.
Wwwhhhoosshh...
Taap....
Reinherz yang sudah cukup beristirahat langsung berdiri.
“hupp... aaahh..., sepertinya aku sudah cukup istirahat, sekarang saatnya kembali ke workshop” bilang Reinherz sambil berdiri.
Tap...
Tap..
“*haa..* sepertinya paman lagi sibuk\, jadi sepertinya aku harus menunggu lebih lama lagi” bilang Reinherz yang sambil menghela nafasnya.
Tok...
Tok...
Reinherz mendengar suara ketukan dari pintu begitu pun dengan Zeke.
“Reinherz.., bilang ke orang yang mengetuk pintu aku sedang sibuk, dasar..., menggangu sekali” bilang Zeke yang kesal.
“baiklah paman...” bilang Reinherz.
Reinherz bangun dari duduk, kemudian Reinherz berjalan ke arah pintu dan membuka pintu.
Cccrreaaakk...
Reinherz pun membuka pintunya, akan tetapi Reinherz langsung berbicara tanpa melihat orangnya.
“Maaf paman Zeke sedang sibuk.., kamu bisa datang lain kali saja” bilang Reinherz.
Ketika Reinherz memberitahu orang tersebut, orang yang dihadapan Reinherz tidak langsung pergi, Reinherz melihat sepertinya dia hanya sendirian datang ke paman Zeke.
“hhhooo..., kamu benar – benar mirip bajingan itu, pantas saja aku merasakan Aura yang sama” bilang orang tersebut.
Reinherz yang mendengar orang tersebut berbicara langsung melihat ke arah orang tersebut, orang tersebut adalah pria yang memakai kimono, kimono miliknya berwarna biru dan emas, pria tersebut berkulit merah violet, badan pria tersebut terlihat ramping dan kokoh.
“(Huh..?!, siapa orang ini)” bilang Reinherz dalam hati
Reinherz kemudian melihat lebih atas untuk melihat mukanya, akan tetapi muka miliknya tidak kelihatan karena di posisi titik gelap rumah Zeke, akan tetapi rambutnya agak panjang dikuncir ponytail dan bewarna biru kehijauan.
“aku tidak tahu apa yang anda bicarakan, akan tetapi paman Zeke sedang tidak bisa diganggu” bilang Reinherz yang mencoba memberitahu pria tersebut agar pergi.
Akan tetapi pria tersebut mengepalkan tangannya, dan dengan cepat mencoba menyerang Reinherz dengan upper cut.
Wwwhhhoosshh....
Reinherz pun reflek dengan sangat cepat langsung melakukan posisi bertahan.
Wwhhoosshhh....
Bbbraaakk...
“kkkuuueekkk...” bilang Reinherz yang menahan pukulan.
Pukulan pria tersebut sangat kuat, Reinherz sampai terpental ke atas dan menghancurkan atap bagian depan workshop milik Zeke.
Wwwwhhoosshhh...
Bbbrraaakkk.....
Reinherz terpental ke atas dan mendarat tak jauh dari rumah milik Zeke.
“sial..., siapa bajingan yang mencoba menyerang tiba – tiba, apakah dia bandit?!” bilang Reinherz yang kesal.
Tanpa memberikan jeda pria tersebut dengan cepat menyerang memukul Reinherz.
Wwwhhhoosshh...
Reinherz yang melihat pria tersebut menyerang Reinherz melakukan posisi bertahan lagi dengan menyilangkan tangannya.
Wwwhhoosshh...
bbraakk....
Reinherz yang terkena pukulan, terpental sangat jauh dari rumah Zeke, akan tetapi Reinherz bisa mempertahankan posisinya.
“Siapa kamu bajingan..?!” teriak Reinherz yang kesal ke pria tersebut.
Tap..
Tap...
Pria tersebut perlahan – lahan berjalan menghampiri Reinherz, pria tersebut masih belum terlihat jelas sosoknya, ketika pria tersebut berjalan, pria pun berbicara ke Reinherz.
“kamu bertanya siapa aku...?!, aku akan memberitahu mu jika kamu bisa mengalahkan ku terlebih dahulu” bilang pria tersebut.
Tap...
Tap...
Tap....
Pria tersebut berjalan semakin dekat dan semakin dekat, ketika sudah dekat terlihat jelas wajah dan sosok pria tersebut, dan ternyata pria tersebut adalah.....