
Tang..
Tang...
Sudah 1 bulan berlalu, Reinherz terus menerus menempa sebuah pisau, ketika Metal Ore sudah habis, Reinherz biasanya membeli di pasar di tempat Blacksmith lain, terkadang Zeke membawa Reinherz ke Haroldene Cliff untuk menambang lagi, Zeke terus membawa Reinherz ke tambang Haroldene Cliff untuk belajar tentang bijih – bijih besi, dan juga agar dia terbiasa menambang.
Tak hanya itu, setiap Zeke dan Reinherz pergi ke tambang Haroldene Cliff, sebelum menambang seperti biasa Reinherz selalu bertarung, hal itu dilakukan amanat dari Baron Raven agar skill bertarung Reinherz tidak pudar.
Kegiatan Reinherz setiap harinya berlatih, ketika pagi Reinherz seperti biasa melakukan latihan fisik, ketika siang sampai menjelang malam Reinherz bersama Zeke, malam biasanya Reinherz makan dan langsung tidur karena kelelahan.
Dan hari ini seperti biasa Zeke sedang duduk mengawasi Reinherz di workshop miliknya, ketika Zeke sedang duduk, tiba – tiba Zeke mendengar suara orang mengetuk pintu.
Tok..
Tok...
Suara ketukan pintu tidak terlalu kencang tidak juga pelan, Zeke yang mendengarnya merasa kesal karena orang tersebut menggangu waktu dia.
“Cih..., sialan... , siapa lagi yang datang ketika aku sedang bekerja” bilang Zeke yang kesal.
Tok..
Tok...
Pintu workshop Zeke terus di ketuk, Zeke pun kesal dan akhirnya berjalan membuka pintu.
Tap..
Ccrreeaakk...
“aarrrgghh..., sialan.., siapa bajingan yang mengang...”
Zeke membuka pintu dengan kepala ke bawah, ketika dia melihat ke atas, Zeke terkejut melihat sosok wanita, wanita tersebut menempelkan jari telunjuknya ke mulutnya, Zeke langsung mengenali sosok wanita tersebut, wanita tersebut adalah Lady Lizbeth.
“ssshhuu...” bisik Lady Lizbeth.
Zeke langsung merendahkan suaranya.
“Lizbeth.., apa yang kamu lakukan disini?” tanya Zeke dengan suara rendah.
“aku hanya ingin melihat anakku yang sedang bekerja keras, sepertinya dia sangat semangat, yang bisa dilihat bagaimana dia menempa besi” bilang Lady Lizbeth.
“ya.., memang anak muda adalah sesuatu” bilang Zeke sambil tersenyum.
“apakah kamu ingin duduk?” tanya Zeke.
“boleh.., awalnya aku ingin hanya melihat sebentar, akan tetapi istirahat disini tidak buruk juga” bilang Lady Lizbeth.
“ahahaha.., kamu tidak perlu sungkan” bilang Zeke sambil tertawa kecil.
Zeke pun mengambil dua bangku untuk dirinya dan Lady Lizbeth, kemudian bangku mereka diarahkan ke Reinherz, Zeke melihat Lady Lizbeth ingin sekali melihat Reinherz, dan mereka pun mengobrol lagi sambil melihat Reinherz sedang bekerja.
“Bagaimana keadaan di Haroldene Cliff sekarang?” tanya Lady Lizbeth.
“*haa..*\, seperti biasa.. masih banyak monster didalam\, terutama monster kalajengking sialan\, mereka tidak ada habis – habisnya” bilang Zeke.
“apakah hanya itu saja?” tanya Lady Lizbeth lagi.
“dasar..., kenapa kamu banyak nanya sekali, kenapa kamu saja yang tidak pergi kesana dan melihatnya sendiri” bilang Zeke sambil menghela nafasnya.
“*haa..*\, cepat katakan saja\, kalau aku pergi kesana\, akan sangat merepotkan nanti\, aku masih banyak urusan disini” bilang Lady Lizbeth.
“baiklah.., seperti yang kamu prediksi, Aura Void Magic disana semakin kuat, sampai aku bisa merasakan aura Void Magic dari jauh, aku saja merinding jika semakin dalam aku masuk” bilang Zeke.
“terus.., bagaimana dengan Reinherz” tanya Lady Lizbeth.
“ketika pertama kali menginjakan kaki di depan mulut tambang, dia merasa kaget dengan Aura Void Magic yang kuat dan sedikit mengeluh, akan tetapi entah kenapa dia tidak mengeluh lagi” bilang Zeke yang heran.
“itu adalah kelebihan Lyx, Reinherz sepertinya sudah bisa menahan efek [Fear] dari Aura Void Magic, akan tetapi aku tidak menjamin kalau dia melihat Balrog” bilang Lady Lizbeth.
“ahahahaha..., aku tidak menyangka kamu mengkhawatirkan dia terlalu berlebihan, apalagi dia sudah punya Lyx, apakah kamu merasa kasihan setelah kamu sering menusuk anakmu dengan tombak” bilang Zeke sambil tertawa
“Reinherz lah yang bercerita, dia memang anak kecil yang cukup aktif, akan tetapi di sisi lain dia juga sangat dewasa, kuharap aku bisa melihat anakmu bersinar di masa depan nanti” bilang Zeke.
“ya aku juga begitu..” bilang Lady Lizbeth.
Zeke dan Lady Lizbeth seketika terdiam sebentar, Zeke kemudian menanyakan pertanyaan.
“Bagaiamana dengan kabar Raven?” tanya Zeke.
“*haa..*\, tidak kabar selama satu bulan\, karena dia menghilang entah kemana aku yang harus mengejarkan tugas dia\, dasar sialan..” bilang Lady Lizbeth.
“dia pasti melakukan sesuatu yang berbahaya lagi, jadi seperti biasa dia tidak memberitahu mu kan?, bahkan tidak ada boleh yang mengikuti dia” bilang Zeke.
“Ya.., kebanyakan anggota Night Hawk sedang berada di Kota Phantom Harlow, dan prajurit menjaga ketat kota atas perintah Raven, akan tetapi yang membuatku kesal, kenapa dia tidak memberitahu istrinya dasar suami sialan...” bilang Lady Lizbeth yang kesal.
“ahahahaha...” tawa kecil Zeke.
Tang...
Tang....
Ketika Lady Lizbeth dan Zeke mengobrol, mereka mendengar suara Reinherz sedang menempa berhenti.
“*huu..*\, sudah berapa lama aku membuat menempa” bilang Reinherz sambil mengusap keringat di kepalanya dengan tangannya.
Reinherz melihat pisau – pisau yang sudah dia buat, kebanyakan pisau tersebut adalah hasil yang gagal.
“sial...\, kenapa hanya membuat pisau saja susah\, aku ingin sekali langsung membuat senjata\, *haa..*” bilang Reinherz sambil menghela nafas.
ketika Reinherz berbicara sendiri, Reinherz melihat ke belakang, Reinherz ingin minta waktu istirahat sejenak, Reinherz pun melihat ke belakang, ketika melihat kebelakang Reinherz kaget, Reinherz melihat ibunya sedang duduk bersama Zeke.
“Ibu..?!” bilang Reinherz yang terkejut.
Reinherz langsung meninggalkan pekerjaannya dan berlari ke ibunya, Reinherz belari dengan senang dan langsung memeluk ibunya, Reinherz pun menatap ibunya.
“apakah kamu senang belajar tentang Blacksmith?” tanya Lady Lizbeth.
“aku senang ibu, setiap aku menempa besi jiwa ku menjadi membara” bilang Reinherz.
“ahahahaha..., sepertinya kamu menikmatinya nak” bilang Lady Lizbeth sambil tertawa kecil.
“ya.., walaupun paman Zeke sangat cerewet sekali” bilang Reinherz.
“apa yang kamu bilang dasar bocah sialan...” bilang Zeke yang kesal sambil mengepalkan tangannya.
“dia seperti itu dari dulu, walaupun dia sering marah – marah, tapi paman Zeke baik kan?” bilang Lady Lizbeth.
“iya dia baik.., akan tetapi bibi Delia lebih baik” bilang Zeke.
“*haa..*\, anak ini memang sangat menyebalkan” bilang Zeke sambil menghela nafasnya.
Seketika terbesit sesuatu di fikiran Reinherz, dia sudah lama tidak melihat ayahnya, Reinherz penasaran kemana ayahnya pergi.
“Ibu.., ayah pergi kemana?” tanya Reinherz yang penasaran.
“ayah mu..?, dia pasti pergi ke tempat yang sangat jauh yang bahkan ibu tidak bisa kesana” bilang Lady Lizbeth.
Reinherz yang mendengar itu menjadi bertanya – tanya, Reinherz penasaran dengan perkataan ibunya tentang ayahnya, selama ini biasanya ibunya tau kemana ayahnya pergi, walaupun bilangnya ada di suatu tempat atau di suatu daerah mana, tapi Reinherz melihat wajah ibunya yang berubah seketika tentang ayahnya, sepertinya Lady Lizbeth sangat mengkhawatirkan Baron Raven.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tap...
Tap...
Baron Raven sedang berjalan di daerah hutan yang Cuma ada jalan setapak, Baron Raven menggunakan jubah yang bertudung untuk menutup wajahnya, pohon – pohon di sekitar Baron Raven daun – daunnya berwarna merah, sedangkan batang pohonnya berwarna violet, sedangkan rumput - rumput di jalan setapak berwarna hijau tua, Reinherz terus berjalan dan kemudian berhenti, Baron Raven melihat ke arah depan.
“Sudah lama aku tidak kesini, apakah mereka masih tidak ramah seperti bisa, kita lihat saja nanti” bilang Baron Raven sambil tersenyum dan mengeluarkan Aura Mana miliknya