
“Selamat datang di [The Trial Of The Void], dimana kamu akan merasakan keputusasaan” bilang Lyx yang sambil tersenyum ke Reinherz.
Tap...
Tap...
Reinherz langsung mundur jauh ke belakang, Reinherz kemudian melihat sekitar, Reinherz melihat dia sedang berada di padang rumput yang luas, Reinherz melihat di kejauhan kalau area padang rumput di kelilingi pohon-pohon, dan sepertinya tak jauh dari pada rumput ada hutan.
Reinherz melihat sosok Lyx yang ada didepannya, Reinherz bisa merasakan aura yang sangat kuat yang berasal dari sosok tersebut.
“Siapa kau?!” tanya Reinherz yang masih was-was.
“orang-orang menyebut kami sebagai Lyx, tapi saat ini.., kamu adalah aku atau aku adalah kamu” bilang sosok Lyx.
“kau adalah Lyx..?!!!, dan Apa maksud dari perkataan mu?” bilang Reinherz yang kaget dan heran.
“aku hanya ingin cepat saja.., serahkan tubuh mu” bilang Lyx dengan tatapan yang tajam.
Reinherz yang bisa merasakan Lyx sangat kuat, Reinherz menjadi takut, akan tetapi Reinherz mempunyai janji dengan ayahnya, untuk kembali dengan hidup-hidup, Reinherz pun berpostur tegak dan menatap Lyx dengan tatapan yang penuh tekad.
“Aku tidak mau..!” bilang Reinherz dengan tegas.
“*haa..*\, baiklah kalau begitu\, seperti tak punya pilihan lain”.
Whosh...
Sosok Lyx dengan cepat menyerang Reinherz, Sosok Lyx menyerang dengan memukul dan membidik kepala Reinherz, Reinherz yang merasakan dirinya di serangan, Reinherz langsung melakukan posisi bertahan.
Whosh..
Brak...
Sosok Lyx memukul Reinherz dengan sangat kuat, Reinherz sampai terseret jauh akibat menahan serangan Sosok Lyx.
“uuugghhhh...” bilang Reinherz yang kesakitan
“tidak buruk juga kau bisa menahan serangan ku, tapi ini masih permulaan” bilang Lyx.
“(Sial..., pukulannya sangat kuat sekali)” bilang Reinherz dalam hati
“aku akan memberimu kemudahan, pilihlah senjata yang kamu mau” bilang Sosok Lyx.
“Apa..??, bagaimana aku bisa memilih senjata, aku bahkan tidak melihat senjata dimana pun” bilang Reinherz.
“kamu tidak perlu repot-repot, bayangkan saja senjata yang kamu mau”
Reinherz kemudian mencoba membayangkan senjata yang dia mau, senajata yang dia mau adalah dua belati, ketika sudah membayangkan apa senjata yang dia mau, tiba-tiba aura hitam berlapis ungu mengelilingi tangan kanan Reinherz, dan Reinherz merasakan sesuatu di tangannya, kemudian aura tersebut menghilang, setelah aura menghilang Reinherz melihat dua belati sudah ada ditangannya.
Reinherz belum menyadari kalau dirinya sedang berada di alam bawah sadar sedang melakukan kontrak dengan Lyx, Reinherz bahkan tidak tahu apa itu [The Trial Of The Void], yang Reinherz cemaskan saat ini adalah Lyx yang berada didepannya.
Reinherz kemudian meletakan dua belati di kedua tangannya, dan Reinherz melakukan posisi untuk siap menyerang, Reinherz melihat sosok Lyx yang ternyata dia juga memakai senjata yang sama dapakai sama Reinherz.
“seperti kau sangat percaya diri” bilang Lyx yang mengejek Reinherz.
Sebenarnya Reinherz tidak percaya diri kalau dia bisa mengalahkan Lyx, akan tetapi Reinherz tidak punya pilihan lain selain melawan dia, Reinherz mengeluarkan aura mana miliknya, dan Reinherz mulai menyerang.
Whosh....
Reinherz langsung menyerang, akan tetapi sosok Lyx hanya berdiam diri saja ketika Reinherz menyerang.
“sangat lambat” bilang Sosok Lyx.
Ketika Reinherz sedikit lagi menyerang Sosok Lyx, Lyx dengan cepat menyerang Reinherz.
Whosh...
Slash....
Pandangan Reinherz berputar-putar, Reinherz melihat sosok Lyx berdiri tegak ketika Reinherz berputar-putar, dan pada akhirnya Reinherz jatuh ketanah, kemudian Reinherz melihat kalau ternyata kepalanya sudah putus dari badannya.
“apakah ini endingnya, aku bahkan masih tidak berdaya dan aku tidak menepati janji ayah ku, sepertinya ini adalah akhir dari cerita ku” bilang Reinherz
Reinherz kemudian perlahan-lahan menutup matanya, dan pada akhirnya Reinherz jatuh dalam kegelapan.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Disisi lain di luar [The Trial Of The Void]....
Tap..
Tap...
“mudah-mudahan Reinherz tidak apa-apa” bilang Chealsea yang sangat khawatir.
“jangan khawatir Lady..., ayah dan ibu anda harusnya sudah datang” bilang Ragnar sambil berlari di samping Chealsea.
Ketika mereka berlari, mereka berdua melihat aura yang membentuk kotak besar berwarna hitam, Ragnar dan Chealsea merasakan aura yang tajam dan kuat yang berasal dari kotak hitam tersebut, kekhawatiran Chealsea menjadi meningkat, Chealsea langsung menambah kecepatannya.
Whosh....
Tap..
Tap...
“Huh..?!”
Ketika Chealsea dan Ragnar sampai, mereka melihat Baron Raven, Lady Lizbeth, Reed dan Zerith sedang duduk di dekat kotak hitam tersebut, Chealsea tidak melihat Reinherz sama sekali, Chealsea kemudian bertanya.
“Dimana Reinherz..?” tanya Chealsea ke semua orang.
Reed yang mendengar Chealsea bertanya, Reed menunjukan jarinya ke arah kotak besar hitam, ketika Chealsea melihat adiknya terperangkap di aura kotak besar, Chealsea pun melihat ke yang lainnya, kenapa mereka tidak bertindak sama sekali.
“Apa yang kalian lakukan...?!, kenapa kalian hanya diam saja melihat Reinherz terjebak di sana” teriak Chealsea ke yang lainnya.
Reed yang melihat Chealsea yang khawatir, Reed menghampiri Chealsea dan menjelaskan apa yang terjadi.
“jadi seperti itu..., sekarang bagaimana solusinya” tanya Chealsea.
“ayah mu bilang tidak usah berbuat apa-apa karena ini adalah pertarungan adikmu” bilang Lady Lizbeth.
“*haa..*\, sepertinya aku datang ke sini sia-sia” bilang Chealsea yang kecewa.
Ketika mereka sedang mengobrol, tiba-tiba Baron Raven mengucapkan hal yang dipertanyakan semua orang.
“satu...” bilang Baron Raven.
“huh..?!, apa maksud ayah satu” bilang Reed yang penasaran.
“Adikmu sudah mati satu kali” bilang Baron Raven.
“Bagaimana bisa kamu tahu..?” tanya Lady Lizbeth.
“aku bisa merasakannya karena berkat [Blood Needle] milikku yang ada di dalam tubuh Reinherz, aku bisa merasakan apa yang sedang terjadi di alam bawah sadar miliknya, karena Void Magic milikku kuat, aku bisa menembusnya, mungkin Lyx sadar aku masuk ke alam bawah sadar miliknya, tapi sepertinya dia membiarkannya” bilang Baron Raven.
“terus..., apa yang harus kita lakukan?, apakah kita harus membantu Reinherz dengan mengalirkan Aura Mana ke dalam [The Trial Of The Void], agar kita bisa membantu Reinherz?” tanya Chealsea.
Baron Raven yang duduk langsung berdiri, kemudian Baron Raven mengelus-ngelus kepala Chealsea yang khawatir dengan adiknya.
“cara seperti itu tidak akan mempan Chealsea, jadi untuk saat ini kita harus percaya sama Reinherz, kalau dia bisa melawan Lyx, dan itu yang bisa kita lakukan sekarang” bilang Baron Raven.
“*haa...*\, sepertinya begitu...\, sekarang kita harus melakukan apa suamiku?” tanya Lady Lizbeth sambil berdiri.
“Aku akan memerintahkan anggota Night Hawk dan Prajurit untuk berjaga-jaga dan langsung membawa Reinherz jika dia berhasil melakukan kontrak dengan Lyx, karena kita tidak tahu kapan pertarungan ini selesai” bilang Baron Raven.
“sepertinya tidak ada yang bisa kita lakukan disini lagi, kalau begitu aku pulang, aku serahkan penjagaan ke kamu suamiku, Zerith ayo kita pergi” bilang Lady Lizbeth.
“Baik.., My lady..” bilang Zerith.
Tap..
Tap..
Lady Lizbeth dan Zerith langsung pergi untuk kembali pulang ke kota Phantom Harlow.
“Ragnar bawa Chealsea pulang juga” perintah Baron Raven.
“baik.. Lord..” bilang Ragnar.
“*haa..*\, memang sepertinya aku sedang tidak dibutuhkan disini\, jadi lebih baik aku pulang\, baiklah aku pulang juga ayah..” bilang Chealsea.
Ragnar dan Chealsea pun langsung pergi kembali ke kota Phantom Harlow, dan sekarang tinggal Reed dan Baron Raven.
“apakah ayah akan pulang juga?” tanya Reed.
“sepertinya aku ingin disini lebih lama lagi, Reed pergi ke pos terdekat dan beritahu situasi yang terjadi, kemudian persiapkan penjagaan” bilang Baron Raven.
“Baiklah ayah.., kalau begitu aku akan mengatur pernjagaan Reinherz” bilang Reed.
Reed kemudian pergi juga, ketika semuanya pergi tinggal Baron Raven, Baron Raven pun menatapi [The Trial Of The Void] sambil berdiri.
“Kau harus kuar Rein, ayah akan selalu mendoakan mu, ayah berharap kamu bisa melakukan kontrak dengan Lyx, jika tidak ayah akan..” bilang Baron Raven sambil mengepalkan tangannya.