Between The Strongest and The Weakest Family

Between The Strongest and The Weakest Family
Chapter 45: Assasins Magician



“Class yang aku pilih adalah Assasins Magician” bilang Reinherz dengan lantang.


Baron Raven dan Lady Lizbeth yang mendengar Reinherz, mereka berdua tersenyum, akan tetapi pilihan Reinherz untuk memilih class Assasins dan Magician adalah jalan yang sangat panjang..


“Pilihan yang bagus Rein” bilang Baron Raven.


“Ibu rasa jalan mu akan panjang Rein” bilang Lady Lizbeth.


Reinherz merasa setelah dia mengatakan class miliknya, ekpresi ibu dan ayahnya terlihat biasa-biasa saja, seakan-akan ayah dan ibunya tidak bangga sama sekali..


“Lalu siapa yang akan guru ku?, Orlom?, atau kakak Chealsea?” tanya Reinherz.


Lady Lizbeth memberikan senyum ke Reinherz yang membuat dia agak kesal.


“Huh.?!, sudah jelas untuk Class Assasins dan Magician gurunya adalah......, Ayah dan Ibu” bilang Lady Lizbeth.


“APA?!, SIALL!!!!” bilang Reinherz yang kaget.


Reinherz berharap tidak ingin bertemu dengan dua monster ini selama latihan, ketika latihan fisik dan magic bersama mereka, mereka tidak kenal ampun.


“ahaha...., boleh kah aku ganti class?” bilang Reinhez sambil memalingkan mukanya.


Akan tetapi Baron Raven dan Lady Lizbeth tahu kalau Reinherz tidak ingin berlatih dengan ayah dan ibunya, karena terlanjur Reinherz menyebutkan Class yang benar-benar keahlian mereka berdua, Baron Raven dan Lady Lizbeth menjadi sangat bersemangat mengajarkan Reinherz.


“hehehehe....., perkataan mu yang pertama adalah yang mutlak, benarkan suamiku?” bilang Lady Lizbeth


“Ya..., benar, sebagai pria kamu tidak boleh menarik ucapanmu yang pertama, heheheh...” bilang Baron Raven.


Lady Lizbeth dan Baron Raven mengeluarkan senyum jahat mereka ke Reinherz, Reinherz pun tidak berkutik sedikit mau tak mau dia harus berlatih bersama dua monster yang paling mengerikan.


“(AAAARRRRGGGHHHH...., SIAALLL...!!!!)” bilang Reinherz dalam hati.


Keesokan harinya....


Reinherz dibawa ke lapangan latihan sama Baron Raven setelah latihan rutin pagi Reinherz, Reinherz melihat ayahnya bersama Orlom, akan tetapi Orlom berada di luar lapangan hanya disuruh ayahnya mengawasi.


“Ayah kenapa Orlom ada disini?, bukankah seharusnya Elron yang biasa menemani ku” bilang Reinherz.


“Selama ayah melatih mu, Orlom akan menjadi asisten pelatih ayah, jika tidak ada ayah, Orlom yang akan menggantikan ayah dan juga dia sepertinya entah kenapa sangat keras kepala ingin menjadi asisten pelatih ayah” bilang Baron Raven sambil melihat Orlom.


Reinherz kemudian melihat Orlom dari kejauhan, Reinherz melihat Orlom tidak seperti biasanya.


“Baiklah..., tapi entah kenapa dari kejuhan Orlom kelihatan bersemangat”


“*haa...*\, begitulah dia jadi biarkan saja”


Kemudian Reinherz melihat ayahnya telah menyiapkan beberapa belati kayu, Reinherz yang melihat ayahnya membawa belati kayu menjadi heran, seharusnya mereka belajar menggunakan pedang.


“ayah kenapa ayah berlatih belati?, bukankah seharusnya berlatih dengan pedang” tanya Reinherz yang heran.


“Ya.. benar, seharusnya begitu, akan tetapi akan sangat mudah jika dibawa kemana-mana, dan jika kamu sedang berada di tempat sempit melawan musuh, belatilah senjata yang paling berguna, akan tetapi belati tidak mudah dipelajari” bilang Baron Raven.


“Hah?!, bukankah belati sangat mudah digunakan?, lihatlah aku ini”


Reinherz kemudian mengayunkan belatinya, Reinherz sangat cepat mengayunkan belatinya, semua itu berkat latihan fisik yang dia jalani, akan tetapi Baron Raven melihat Reinherz mengayunkan belatinya layaknya sebuah mainan bukan senjata.


“Reinherz cukup...” bilang Baron Raven.


“lihatkan..., aku sudah bisa mengayunkan belati dengan cepat” bilang Reinherz dengan percaya diri.


“*haa...* dasar...\, apakah kamu bermain dengan sebuah mainan?\, biarkan ayah akan memperagakan cara bertarung dengan belati”


Baron Raven langsung mengeluarkan belati sungguhan bukan kayu, kemudian Baron Raven melihat Orlom.


“Orlom kemari..!!” bilang Baron Raven.


“Yes Lord.”


Orlom pun menghampiri Baron Raven dengan cepat.


“Orlom kita akan sparing ringan untuk menunjukan seni berpedang menggunakan belati ke Reinherz” bilang Baron Raven.


“Baiklah Lord” bilang Orlom.


Baron Raven pun memberikan belati sungguhan ke Orlom, mereka pun langsung posisi kuda-kuda bersiap menyerang.


“Reinherz perhatikan baik-baik, ini adalah cara bertarung jika ingin menjadi seorang Assasins”


Whooosshhh...


Clang....


Baron Raven dan Orlom bertarung, kecepatan serangan mereka berdua sangat cepat, tak hanya itu pattern serangan mereka berdua sangat indah layaknya mereka menari sambil bertarung, Reinherz yang melihatnya menjadi kagum, tak hanya itu mereka tidak menggunakan Aura Mana sama sekali dengan serangan secepat itu.


Clang....


Clang....


Baron Raven dan Orlom saling menyerang dan bertahan sambil menyontohkan cara bertarung mereka, mereka bertarung dengan kecepatan yang masih biasa, dan kemudian Baron Raven menyudahi pertarungan mereka berdua dengan menghempaskan belati milik Orlom.


Whooosssh....


Clang...


Belati milik Orlom terlempar dan kemudian Orlom angkat tangan, pertarungan pun di sudahi.


“Aku menyerah” bilang Orlom


“Huuu..., pemanasan yang lumayan, terimakasih Orlom” bilang Baron Raven.


Baron Raven kemudian menghampiri Reinherz.


“apa kau sudah faham sekarang bagaimana cara bertarung dengan belati?” tanya Baron Raven.


“Ya..” bilang Reinherz sambil menganggukan kepalanya.


“*haa..* baiklah kalau kamu sudah mengerti ayah akan memulai latihannya”.


Keesokan harinya di pagi hari......


Reinherz sedang bersantai di mansion sambil memijit-mijit badannya yang masih sakit karena latihan kemarin bersama ayahnya, dan keesokan harinya dia harus belajar Magic bersama ibunya.


“Argh..., sialan badan ku masih sakit, ayah menyiksa ku kemarin, aku harus belajar menggunakan belati bersamaan dengan belajar Martial Art, dan hari ini aku berlajar Magic dengan ibu ku, dan kata ayah satu hari berlajar senjata dan satu hari berlajar Magic”.


Tak lama Reinherz bersantai, datang Lady Lizbeth bersama dengan Zerith yang berada di belakang ibunya, Reinherz pun menyapa ibunya yang menghampiri dia.


“Ah..., ibu sudah datang” bilang Reinherz.


“Apakah kamu sudah siap Reinherz?” tanya Lady Lizbeth.


“Ya sepertinya.., tapi ngomong-ngomong kenapa ada Zerith bersama ibu?”


“Zerith akan menjadi asisten ibu, Zerith sangat ahli dalam mengkontrol mana dan Magic karena dia mempunyai Artifact” bilang Lady Lizbeth sambil menunjuk ke Zerith.


“Mulai saat ini mohon kerjasamanya Tuan Reinherz, hehehe.....” bilang Zerith sambil tersenyum dan tertawa manis ke Reinherz.


“Baiklah..” jawab Reinherz.


“Baiklah sudah cukup untuk mengobrolnya, ayo pergi ke ruang latihan seperti biasa” bilang Lady Lizbeth.


Setelah perbincangan singkat mereka bertiga langsung pergi ke tempat latihan Magic.


Setelah didalam ruang seperti biasa asisten pengajar alias Zerith berada di belakang Lady Lizbeth hanya memperhatikan, dan pelajaran pun langsung di mulai.


“Lalu kita belajar apa ibu?” bilang Reinherz.


“pertama-tama kamu harus belajar mengontrol mana dan Magic secara bersamaan” bilang Lady Lizbeth.


“Huh..?!, bukankah aku sudah mengusai kontrol mana?, seperti ini kan”


Reinherz membukan telapak tangannya dan menggunakan magic.


“[Fire]”


Wwwhhhoosshh.....


Api pun langsung muncul dari telapak Reinherz, kemudian Reinherz mengontrol api tersebut dengan mudah, dengan cara mengecilkan dan membersarkan api yang telah di ajarkan oleh ibunya.


“ya.., tapi itu hanyalah awal, yang kamu butuhkan sekarang adalah membuat perwujudan dengan Magic, Magic yang ibu ajarkan kali ini membutuhkan kontrol mana yang baik, karena kamu akan membuat perwujudan dengan menggunakan elemen Magic dasar, perhatikan ibu baik-baik” bilang Lady Lizbeth.


Lady Lizbeth membukan telapak tangannya dan menggunakan skill Magic.


“[Water]”


Blop..


Blop...


Muncul segumpal air di tangan Lady Lizbeth.


“Lihatlah ini Rein..”


Lady Lizbeth kemudian membuat air yang ada ditangannya menjadi seekor burung, dan burung tersebut bertengger di tangan Lady Lizbeth.


“ini adalah mulanya dan kemudian kamu harus menggerakannya” bilang Lady Lizbeth.


Lady Lizbeth kemudian membuat burung tersebut terbang mengelilingi ruangan.


“Wow...” bilang Reinherz dengan takjub.


“Apakah kamu suka?, walaupun kelihatannya bagus, kamu harus mempunyai kontrol mana dan Magic yang bagus untuk menggerakan dan membentuk burung seperti ini” bilang Lady Lizbeth.


“aku ingin belajar agar bisa seperti ibu...” bilang Reinherz yang sangat antusias.


“Tak hanya itu kelas kamu yang lainnya adalah Assasins, kamu bisa memanfaatkan ciptaan kamu sebagai alat untuk mengintai dengan magic tertentu dan juga sebagai alat untuk menyerang, lihatlah ini baik-baik Reinherz”


Lady Lizbeth mengarahkan burung air miliknya ke arah dummy, kemudian burun tersebut bertengger di puncak dummy, kemudian Lady Lizbeth menggunakan Magic.


“[Lighting Blast]”


Bbbzzzzttt....


Duar....


Seketika burung air tersebut membuat ledakan petir dan menghancurkan Dummy yang sentuh oleh burung air milik Lady Lizbeth, kemudian Lady Lizbeth melihat Reinherz.


“seperti itulah Reinherz, skill ini akan dibutuhkan oleh mu di masa depan nanti, jadi kamu tidak boleh bermalas-malas dan berlatihlah dengan keras”


“baiklah ibu..”


“Kalau begitu jika kamu sudah mengerti mari kita mulai latihannya, ibu tidak akan memberikan ampun untuk hehehe....”


“Uggghh... Sialan....”


Hari-hari Reinherz pun menjadi seperti neraka, latihan yang ia jalani sangat sulit dan berat, hari ini berlatih ilmu pedang dan Martial Art yang membuat fisiknya sangat sakit dan lelah, keesokan harinya dia harus belajar Magic yang bisa menguras habis Mana miliknya sampai dia menjadi sangat lemas, akan tetapi latihan yang dia jalani setiap harinya membuat dirinya menjadi lebih kuat secara fisik berkat ilmu pedang dan Martial Art yang dia pelajari, dan kuat secara Magic karena Mana dan Aura Mana Reinherz meningkat dengan pesat.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------


2 Tahun Kemudian di tengah-tengah hutan.......


Reinherz bersandar di pohon dengan luka-luka akibat terkena tebasan yang cukup parah, kemudian Reinherz pun menatap ke arah depan.


Reinherz melihat bayangan Monster tingkat S yang sangat kuat perlahan-lahan berjalan menuju ke dirinya, akan tetapi kali ini tidak ada yang bisa menolong dirinya, bahkan ayah dan ibunya bahkan kakak-kakaknya tidak ada, karena Reinherz berada di tengah-tengah hutan, walaupun dia berteriak minta tolong, tidak ada yang bisa menolong, bahkan orang lain mungkin akan langsung lari melihat sosok monster yang berdiri didepannya.


“uhuk.. uhuk..., sial...., apakah aku akan mati sekarang” bilang Reinherz sambil batuk yang mengelarkan darah miliknya.


Reinherz tak punya pilihan yang menguntungkan, lari pun dia akan mati, melawan juga akan mati, akan tetapi Reinherz tak ingin menyerah, Reinherz memegang erat belati miliknya dan berusaha sampai mati melawan monster tersebut, Reinherz pun maju dengan sekuat tenaga dan....


Whhhoosshhh....


Spppllaasshh......