Between The Strongest and The Weakest Family

Between The Strongest and The Weakest Family
Chapter 81: Haroldene Cliff



Ccrreaakk...


Cccrreeaakkk...


Reinherz dan Zeke memakan waktu perjalanan sampai dengan 8 jam, dan pada akhirnya mereka sedikit lagi sampai di Haroldene Cliff,


Briggs Mountain adalah gunung tempat dimana tambang Haroldene Cliff berada, Briggs Mountain memiliki medan yang cukup terjal, akan tetapi ada jalan yang cukup bagus untuk menuju gunung walaupun sudah rusak jalanannya, karena dulunya para Dwarf menambang di Harlodene Cliff, mereka membuat jalan untuk mempermudah mereka mengakses menuju pertambangan dengan mudah, jadi mereka membuat jalan.


“Paman apakah sudah sampai?” tanya Reinherz yang penasaran.


“sebentar lagi kita akan sampai” bilang Zeke.


“paman.. jalanan yang kita lewati cukup bahaya, akan tetapi kenapa jalannya lumayan bagus” tanya Reinherz.


“ya.., dulunya ini adalah salah satu tambang Dwarf yang mereka sukai, bijih besi yang dihasilkan dari gunung ini sangat bagus”


“tapi.., kenapa tambang ini sangat terbengkalai?, apakah hasil tambangnnya menipis atau sudah habis?”


“untuk itu.., aku tidak bisa menjawabnya sekarang, jika kamu masuk kedalam tambang, kamu akan tahu sendiri apa yang menyebabkan para Dwarf meninggalkan tempat ini”


“baiklah paman”


Ccrreeaakk...


Ccrreaakk...


Kambing durin mendorong kereta tanpa kendala, tak lama mereka berjalan, akhirnya Reinherz dan Zeke pun di dekat Harlodene Cliff, Zeke menghentikan keretanya, jarak tempat mereka berhenti dengan jarak Haroldene Cliff cukup lumayan jauh sekitar 500 meter.


“paman kenapa kita tidak berhenti didekat Haroldene Cliff?” tanya Reinherz


“jangan banyak bertanya..., keretanya kita parkir disini saja” bilang Zeke yang tegas.


Reinherz pun bigung dengan tingkah laku Zeke, Reinherz merasa seolah – olah Zeke sedang bersiaga jika ada sesuatu yang buruk sedang terjadi, akan tetapi Reinherz tidak merasakan dan tidak melihat ada sesuatu seperti penjahat bandit atau yang lain – lain, Zeke turun dari tempat kemudi, Reinherz pun juga begitu dia turun, kemudian mereka berdua saling berhadapan.


“*haa..*\, baiklah kalau begitu\, barang apa yang kita akan bawa?”


“hhhmmm..., bawa dua beliung untuk menambang...”


Belum Zeke menyelesaikan perkataannya, Reinherz langsung protes.


“Apa..?!, apakah kita akan menambang?” tanya Reinherz yang kaget.


“tentu saja bocah.., apa kamu fikir kita kesini hanya mengambil bijih besi kemudian pulang?, apakah kamu fikir menjadi Blacksmith hanya membuat senjata?!, kamu juga harus mempelajari cara menambang dan mengenal berbagai macam bijih besi, dasar bodoh...”


“uugghhh..., baiklah.., aku kira kita kesini mau belajar sesuatu tentang Blacksmith, apakah kita berdua akan menambang bersama?”


“huh...?!,kita berdua..?!, kamu saja yang menambang bukan aku”


“lalu.., kenapa kita membawa dua beliung?”


“tentu saja buat jaga – jaga, jika terjadi sesuatu maka ada cadangannya”


“*haa..*\, baiklah..”


Reinherz kemudian pergi ke dalam kereta untuk mengambil dua beliung, ketika Reinherz mengambil dua beliung, Zeke menyuruh Reinherz mengambil sesuatu lagi.


“Jangan lupa senjata palu ku, bawa kesini” bilang Zeke.


Reinherz pun mengambil senjata palu milik Zeke, ketika keluar dari kereta, Reinherz membawa dua beliung dan satu senjata palu.


“ini palu milik paman” bilang Reinherz sambil memberikan senjata palu milik Zeke.


“ok baiklah.., apakah kamu sudah siap?” tanya Zeke.


“ya.., tapi kenapa paman membawa palu?, apakah kita mau melawan bandit dulu?”


“sebetulnya hanya untuk jaga – jaga, dari awal kita sampai kenapa kamu banyak bertanya.., dasar..., jika kamu penasaran kenapa tingkah laku ku seperti ini, kamu akan melihatnya sendiri ketika kamu sampai di mulut Harlodene Cliff, jadi..., bisa diam?”


“baiklah paman...”


“oohh.. iya.., jangan lupa membawa senjata milik mu juga”


“kalau untuk senjata, aku selalu membawa satu belati milik ku di pinggang”


“aaahhh..., Dagger Of Moonlight Stone?”


“iya..”


“hhhmmm..., seperti sudah cukup, jika itu kamu.., ini sudah cukup”


Reinherz dan Zeke kemudian berjalan menuju tambang Harlodene Cliff, Reinherz masih banyak pertanyaan di kepala akan tetapi, jawaban paman Zeke tetap sama, jadi dia harus sampai dia mulut tambang Harlodene Cliff, sekitar 15 menit mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di mulut tambang Harlodene Cliff.


Ketika sampai di depan mulut tambang Harlodene Cliff, Harlodene Cliff kelihatannya bukan tambang umumnya yang ada pintu masuk kayu, akan tetapi Harlodene Cliff adalah gua yang sangat besar, pintu masuk Harlodene Cliff cukup besar hingga 10 orang dewasa bisa masuk secara bersamaan, jarak antara tanah dan langit – langit tambang sekitar 25 meter.


“wooww..., besar sekali, apakah ini benar – benar tambang?” bilang Reinherz yang takjub.


“Ya.., dulunya..., akan tetapi ada sesuatu hal yang mengusir para Dwarf dari tambang ini”


Reinherz penasaran dengan kata – kata Zeke, bukankah Dwarf merupakan bangsa yang cukup kuat, Reinherz pun berfikir apa yang mengusir para Dwarf, akan tetapi Reinherz tidak ingin memikirkan hal tidak berguna baginya dulu, yang terpenting dia harus melakukan apa yang dia lakukan.


“apakah paman tak ingin masuk?” tanya Reinherz.


“kamu saja coba duluan” bilang Zeke.


“*haa...*\, baiklah”


Reinherz pun berjalan masuk ke dalam Harlodene Cliff, baru beberapa langkah Reinherz masuk kedalam Harlodene Cliff, Reinherz merasakan sesuatu yang aneh.


Wwwhhoosshhh...


“(Sial.., perasaan ini jangan – jangan..)” bilang Reinherz dalam hati.


Reinherz pun menengok kebelakang, dia masih melihat Zeke masih belum bergerak.


“paman Zeke jangan – jangan ini...” bilang Reinherz yang terkejut.


Reinherz pun mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang dia fikirkan, tak heran para Dwarf meninggalkan tambang ini, The Void Magic memang sangat berbahaya, terlebih lagi, Aura yang Reinherz rasakan sangat kuat, sudah pasti ada sesuatu didalam tambang ini.


“apakah paman tidak mau masuk?”


“aku ingin masuk, tapi sebelum masuk sebaiknya persiapkan diri mu” bilang Zeke.


Zeke mengeluarkan Aura Mana miliknya, kemudian mengangkat senjata palu miliknya dan menghentakan gagang palu miliknya ke tanah.


Wwwhhhoosshhh...


Dduuaarr...


“paman Zeke apa yang kamu lakukan?” bilang Reinherz yang kaget.


Tiba – tiba terdengar suara dari dalam gua.


Tap...


Tap..


Suara tersebut adalah suara dari binatang yang berkaki lebih empat, tak lama terdengar suara, binatang tersebut pun muncul, jumlahnya hanya satu ekor, binatang tersebut adalah monster kalajengking yang besar, warna tubuh kelajengkir tersebut berwarna ungu kehitam – hitaman, capitnya besar bewarna biru, buntut sengatannya berbentuk seperti kristal, di ujung sengatannya berbentuk seperti sebuah sabit, itu adalah Scorpion Crystal Scythe, Monster Rank B,


Kkkiiiaaakkkkk.....


“Sial..., paman Zeke kenapa kamu melakukan itu?!” bilang Reinherz yang kesal.


“*haa..*\, ayah mu menyuruh ku untuk melihat skill bertarung mu\, bukankah sudah lama kamu tidak menghadapi musuh sungguhan?”


Reinherz pun berfikir sejenak dan kemudian menghela nafasnya, Reinherz tak punya pilihan lain selain melawan Scorpion Crystal Scythe, Reinherz pin mengambil belati miliknya dipinggang.


“*haa..*\, seperti mau tak mau aku harusnya melakukannya” bilang Reinherz sambil menghela nafas.


Reinherz menarik nafasnya dalam – dalam, kemudian mengeluarkan Aura Mana miliknya.


Wwwhhhoosshhh....


Reinherz melakukan posisi menyerang, Reinherz mengalirkan Aura Mana miliknya ke belati milikna, dan Reinherz langsung maju menyerang.


Wwwhhoosshhh...


Kkkiiiiaakkk....


Scorpion Crystal Scythe mangaum keras, Scorpion Crystal Scythe yang melihat Reinherz menyerang dia, Scorpion Crystal Scythe menggunakan ekor sabitnya yang besar untuk menyerang Reinherz.


Wwwhhhoosshhh...


Sssllaasshhh...


Reinherz yang melihat Scorpion Crystal Scythe menyerang, Reinherz loncat ke atas.


Tap...


Wwhhoosshhh...


Scorpion Crystal Scythe tidak diam, dia langsung dengan cepat mengayunkan ekornya ke atas.


Wwhhoosshhh...


“sial..”


Clang...


Reinherz menahan serangan ekor Scorpion Crystal Scythe menggunakan belati miliknya, dengan kuat Scorpion Crystal Scythe melempar Reinherz ke langit – langit.


Wwhhhoosshh...


Reinherz pun terpental ke atas, akan tetapi Reinherz menancapkan belati miliknya di langit – langit gua.


Stab...


“cih.., aku tidak mau lama – lama, lebih cepat membunuh monster ini, maka lebih cepat juga perkerjaan ku” bilang Reinherz yang sedang bergelantung di langit – langit gua.


Reinherz langsung mengeluarkan Aura Void miliknya.


Wwhhhoosshhh....


Reinherz mengalirkan Aura Void miliknya ke belati miliknya, kemudian Reinherz melepas belati miliknya dari langit – langit tambang, Reinherz pun turun ke bawah.


Wwwhhhoosshhh...


Scorpion Crystal Scythe pun melihat Reinherz turun, Scorpion Crystal Scythe melakukan posisi siap menyerang.


Reinherz yang tak mau main – main, langsung mengeluarkan tebasan Aura Void miliknya.


Wwwhhoosshhh...


Sssllaasshhh...


Tebasan Aura Void milik Reinherz langsung mengenai bagian tengah badan Scorpion Crystal Scythe, yang berujung Scorpion Crystal Scythe terbelah menjadi dua.


Ssppllaassshhhh...


Ketika Scorpion Crystal Scythe mati, Reinherz dengan tepat mendarat di tanah.


“*hhuu..*\, tak ku sangka perkejaan ku kali ini menjadi lebih cepat” bilang Reinherz.


Ketika Reinherz berbicara sendiri, Zeke pun berbicara ke Reinherz.


“apa kau fikir sudah selesai?, ada banyak perkejaan yang masih harus kamu lakukan” bilang Zeke.


Ketika Zeke berbicara seperti itu, Reinherz melihat kedepan, didalam kegelapan gua, muncul banyak mata berwarna ungu terang, mata – mata tersebut tak lain adalah segerombolan Scorpion Crystal Scythe yang sangat banyak.


“*haa...*\, sepertinya aku tak punya pilihan lain\, keluarlah... Varmound” bilang Reinherz sambil tersenyum