AXELLE

AXELLE
Bab 80



Di pemakaman.


Se mua Guru dan teman teman Alby, mereka semua mengantarkan Alby sampai di peristirahatan yang terakhir.


Mereka masih tidak percaya, Alby pergi begitu cepat dan mereka juga tidak menyangka jika Alby korban pembulyan sang papa dan mengidap kanker.


Diantara yang datang, yang paling terpukul adalah Dirga dan Axelle. Mereka berdua memiliki penyesalan yang sangat mendalam.


Satu persatu meninggalkan pemakaman, tinggallah Axelle, Haidar dan dua sahabatnya.


Haidar yang berdiri di belakang Axelle, diam diam menyesali semua kesalahannya. Ia sempat berfikir, jika ia dari awal memberitahu semuanya mungkin Alby tidak akan meninggal terlalu cepat. Haidar sama sekali tidak tahu, kalau ALby mengidap penyakit kanker.


"Maafkan aku, Al...maafkan aku..."


Sementara Farel dan Raymond dalam diamnya menangis sambil menundukkan kepala.


"Kau sudah sakit lagi Al, semoga kau mendapatkan tempat di sisiNya..." ucap mereka berdua pelan.


Axelle yang sedari tadi diam berdiri di dekat Dirga yang masih duduk di depan pusara sambil mengusap usap tanah yang masih merah, tiba tiba menjatuhkan tubuhnya lalu memeluk nisan yang bertuliskan nama Alana.


Axelle masih belum menerima kepergian ALby yang begitu cepat, di tambah rasa penyesalannya yang dalam. BElum sempat Axelle membalas semua yang Alby berikan, ia sudah lebih dulu meninggalkannya dengan banyak kenangan.


Hidup tak selamanya adil untuk semua orang. Alby, hanyalah gadis biasa yang memiliki cinta yang tulus buat Axelle, dan membawa cintanya sampai ia mati. Gadis yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, harus mati dengan cara yang tragis setelah di aniaya oleh ayahnya sendiri.


"Xell..." panggil Raymond menyentuh pundak Axelle.


"Kita pulang, kayanya mau hujan." Sambungnya lagi.


Namun Axelle terus memeluk batu nisan dan tidak mau meinggalkan pemakaman. Raymond dan Farel menatap ke arah langit yang semakin gelap tertutup awan. Angin berhembus dengan kencang.


"Axelle, ayo kita pulang," ucap Raymond lagi, lalu keduanya menarik paksa tangan Axelle.


"AKu tidak mau pulang,. aku mau temani Alby. Alby pasti kedinginan...." tolak AXelle tidak mau beranjak pergi.


Tak lama hujan pun turun, Raymond dan Farel terus menyeret paksa tubuh AXelle menjauh dari makam menuju mobil yang terparkir, sementara Haidar berlari menyusul mereka dan melupakan Dirga yang masih memeluk tanah merah, meski hujan semakin deras di sertai gemuruh petir.


Mereka semua memperhatikan dIrga dari dalam mobil, yang di guyur hujan deras. Mereka menangis melihat dIrga berteriak histeris memanggil nama putrinya.


ALANA!!


JANGAN TINGGALKAN PAPA!!


ALANA!!


Axelle dan Haidar yang tidak tega, akhirnya keduanya keluar dari dalam mobil menghampiri dIrga dan menarik kedua tangannya supaya bangun dan berteduh. namun dIrga terus berteriak histeris.


ALANA BANGUN!!


JANGAN TINGGALKAN PAPA!!


MAAFKAN PAPA ALANA!!


"Alby sudah ga ada, sadar paman!" teriak Axelle sambil memeluk tubuh Dirga, di bantu Haidar lalu mereka berdua menyeretnya menjauh dari makam Alby. Namun dIrga terus memberontak hingga terlepas, kemudian ia merangkak kembali mendekati makam dan memeluk pusara putrinya.


Axelle dan Haidar tidak dapat membujuk Dirga lagi. Pria paruh baya itu setengah gila setelah di tinggalkan putrinya. Kata kata penyesalan, terus memanggil nama putrinya berharap bangun lagi dan memulai segalanya dari awal.


***


Bab 81


Hari berganti, bulan berlalu. Hari ini adalah hari kelulusan Axel dan sahabatnya.


Tetapi, tidak satupun dari mereka yang bahagia meski dengan hasil yang memuaskan, karena salah satu sahabat mereka sudah tidak ada.


Axelle, memtuskan untuk datang ke pemakaman membawa seikat bunga untuk di berikan kepada Alby.


Sesampainya di pemakaman, langkah Axelle tertahan tepat di bawah pohon besar tak jauh dari pusara Alby.


Ia melihat Dirga dengan pakaian lusuhnya berbaring di samping pusara putrinya, padahal waktu terus berlalu semenjak kepergian Alby.


Dirga seperti orang gila, terus berada di makam Alby dan tidak perduli hal lainnya meski perusahaan dan harta kekayaannya sudah di kuasai Gerry, Dirga tidak perduli lagi.


Pria paruh baya itu larut dalam penyesalan. Berpisah dengan suami, namanya mantan suami. Berpisah dengan istri namanya mantan istri.


Berbeda dengan anak, tidak ada bekasnya. Dirga terus berada di sisi pusara Alby, dan berharap putrinya bangun, dan seolah olah lupa bahwa Alby sudah tiada.


Axelle menyandarkan tubuhnya di pohon besar itu dan menjatuhkan seikat bunga di tangannya. Matanya berkaca kaca menatap langit.


Entah apa yang di pikirkan Axelle, ia menatap langit cukup lama. Namun, detik berikutnya ia melangkah pergi meninggalkan pemakaman.


Naik ke atas motor dan melajukannya dengan kecepatan maksimal. Axelle menyusuri tempat tempat yang sering ia kunjungi saat bersama Alby.


Tak terasa, motor yang ia lajukan mengarah ke puncak Bogor. Sepanjang jalan dalam hatinya ia sangat menyesal dan masih belum siap kehilangan Alby.


Hari semakin sore, matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Axelle menepikan motornya di pinggir jalan lau berjalan menuju kebun teh.


Di kebun itu ia berteriak sepuasnya memanggil nama Alby. Hingga waktu terus berlalu dan langitpun telah gelap gulita.


Axelle mulai menyadari kalau hari semakin gelap dan memutuskan untuk pulang.


Sepanjang jalan, air mata penyesalan terus mengalir hingga menghalangi pandangan matanya.


Di saat bersamaan, dari arah berlawanan, satu buah mobil Avanza melaju dengan kecepatan tinggi di belokan curam.


Pandangan Axelle yang terhalang air mata, tak sempat menghindari tabrakan.


BRAKKKKKK


Motor Axelle terseret jauh oleh mobil tersebut hingga mobil yang menabrak terguling di jalan aspal bersamaan dengan tubuh Axelle terpental jauh dan berguling guling di jalan aspal.


Dari balik helm yang ia kenakan, darah segar mengalir dengan deras membasahi jalan aspal.


Axelle masih bisa melihat cahaya dari kejauhan sebelum akhirnya menutup mata.


"Al..aku akan menyusulmu..." batin Axelle.


Hargai selagi ada, sebelum penyesalan datang menghampiri.