
Eva duduk di kursi meja makan berhadapan dengan Alby.
"Luka lebam di wajahmu belum sembuh, sebaiknya kita ke rumah sakit dan jangan sekolah dulu." kata Eva pada Alby.
"Ga perlu tante aku bisa sekolah hari ini,' sahut Alby.
"Kau tidak boleh menolak ajakan momy," kata Axelle menyela sambil mengambil sepotong roti lalu memakannya.
"Kau dengar apa kata Axelle, pokoknya kau harus ikut tante ke rumah sakit." Pungkas Eva.
Axelle menyetujui usul ibunya, lalu ia berpamitan pada Eva dan mencium pipi kirinya.
"Kau ikuti apa kata momy," kata Axelle seraya menepuk bahu Alby lalu beranjak pergi.
Alby diam cukup lama, ia tidak masuk sekolah itu artinya tidak bisa memantau Axelle dan Marsha. Tetapi Alby juga tidak bisa menolak keinginan Eva yag sudah berbaik hati memberikan perhatian yang selama ini belum pernah ia dapatkan.
"Kita pergi sekarang," ajak Eva.
Alby mengangguk, lalu ia berdiri dan berjalan di belakang Eva keluar dari rumah meuju rumah sakit.
Selang 30 menit, Eva dan Alby sudah sampai di rumah sakit. Eva menemui dokter bersama Alby di ruangannya, lalu Eva keluar selama Dokter memeriksa Alby.
Eva duduk di kursi ruang tunggu, menghubungi suaminya. Sudah dua hari, Toni sulit di hubungi ponselnya dan tidak pulang ke ruma.
Berkali kali Eva berdecak kesal, karena nomer ponsel suaminya masih belum bisa di hubungi. Tiba tiba, perhatian Eva teralihkan pada seorang wanita yang tak lain adalah Angela bersama seorang pria sedang berbicara dengan dokter kandungan.
Eva bernapas dengan lega, sempat ia berfikir kalau suaminya sedang bersama Angea. Kini, semua pikiran buruknya hilang dan berfikir kalau pria yang sedang bersama Angela adalah suaminya.
"Tunggu, bukankah Angela belum menikah,"batin Eva terus memperhatikan mereka.
"Ah, mungkin pacarnya..." batin Eva lagi.
Tak lama kemudian, Eva melihat Angela dan pria tersebut menghampirinya dan berdiri tepat di depannya dengan senyum mengembang.
"Kau ingin mengucapkan selamat padaku?" ucap Angela seraya mengusap perutnya sendiri.
Eva berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun, tatapannya tajam pada kedua orang itu.
"Ah iya aku lupa," kata Angela sambil menepuk keningnya sendiri.
"Aku sedang hamil," katanya lagi.
Eva tersenyum sinis sambil berpangkut tangan.
"Bukan urusanku."
Angela mendekatkan wajahnya ke arah Eva.
"Mungkin sekarang bukan urusanmu, tapi andai kau tau anak siapa dalam perutku. Mungkin kau akan menangis dan tidak sesombong sekarang."
Eva tersenyum, tapi senyum di paksakan karenatidak iingin beerdebat dengan Angela.
"Apa peduliku?" kata Eva searaya balik badan lalu meninggalkan mereka berdua.
Pria yang sedari tadi diam dan mencoba mencerna pembicaraan antara Angela dan Eva, akhirnya angkat bicara.
"Dia siapa?" tanya pria itu.
"Aku suka gayanya." kata pria itu.
Angela tersenyum melirik ke arah pria di sampingnya, di dalam otaknya ia menemukan ide untuk memisahkan Toni dan Eva.
Sementara tidak perduli dengan ucapan Angela, namun kalimat terakhir yang di katakan Angela mengusik hatinya.
"Tante," sapa Alby membuyarkan lamunan Eva.
Eva menoleh ke arah Alby dan Dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
"Sudah tante," jawab Alby.
Eva menganggukkan kepalanya, lalu bertanya pada Dokter mengenai Alby. Dokter menjelaskan kalau pihak rumah sakit tidak dapat menjelaskannya sekarang. Dokter akan memberikan diagnosis setelah hasil tes darah Alby selesai.
Eva mengerti, lalu ia berpamitan pada Dokter.
"Makasih tante..." ucap Alby.
Namun Eva hanya diam, ia sama sekali tidak mendengar apa yang di katakan Alby. Rupanya Eva sedang melamun, memikirkan kata kata Angela. Alby bingung dengan perubahan sikap Eva, tapi ia takut untuk bertanya dan memilih diam dan melanjutkan langkahnya keluar dari rumah sakit.
Di perjalanan, di dalam mobil. Sikap Eva sama sekali tidak berubah, duduk diam dan melamun. Alby merasa tidak enak, dengan sikap Eva dan berfikir kalau dirinya sudah merepotkan. Alby memberanikan diri untuk bicara, namun sebelum Alby membuka suara. Tiba tiba dari arah berlawanan dua mobil menghadang mobil yang tumpangi Eva dan Alby, hampir saja bertabrakan dan terdengar suara ban mobil bergesekan dengan aspal karena sang sopir berhenti mendadak.
Eva dan Alby terkejut melihat ke depan, lalu keduanya keluar dari dalam mbil bersamaan dengan Dirga Dewangga dan Gerry keluar dari dalam mobil lain.
"Papa..." gumam Alby setengah berbisik namun terdengar oleh Eva.
"Dia papa mu?" tanya Eva tanpa mengalihkan pandangannya pada Dirga dan Gerry yang menghampiri mereka.
"Iya tante," kata Alby.
"Ayo pulang!" Tanpa basa basi, Gerry langsung menarik tangan Alby dengan kasar supaya menjauh dari Eva.
"Apa kabar nyonya Toni," sapa Dirga
Eva diam dan menelisik wajah Dirga, dan dia baru ingat siapa pria di hadapannya.
"Baik." kata Eva.
"Jangan ikut campur masalah keluargaku, dan jangan coba coba meracuni Alby." Tuduh Dirga.
"Pa, papa jangan bicara seperti itu. Tante Eva sudah baik padaku," sela Alby.
"DIAM!" Bentak Dirga.
"Kau tidak mengenal perempuan licik ini," kata Dirga lagi.
Eva hanya diam menanggapi umpatan Dirga, ia sama sekali tidak ingin berdebat dan memilih pergi dari hadapannya.
"Nyonya Toni, kau jangan sombong. Putraku lah yang akan menjadi ketua!" Seru Dirga lantang.
Eva diam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam mobil. Dirga menggeram kesal melihat sikap Eva seolah menantangnya.
"Aku tidak perduli siapa kau di masa lalu, kali ini aku harus tetap maju," gumam Dirga.