AXELLE

AXELLE
Bab 17



Di perusahaan.


Toni Edgarsyah baru saja keluar dari ruangan rapat dan berpapasan dengan sekertaris Han.


"Ada Dirga Dewangga." Kata Hans.


Tony menghela napas panjang mendengar Hans menyebut nama Dirga.


"Mau apa lagi dia menemuiku..." gumam Tony.


"Mari Pak."


Hans mempersilahkan Tony untuk berjalan lebih dulu menemui Dirga di ruangan.


Sekertaris Hans membuka kan pintu untuk Toni saat mereka sampai di depan Ruangan di mana Dirga menunggu.


Saat pintu terbuka lebar nampak Dirga Dewangga sedang duduk di kursi sementara sekertaris pribadi Dirga berdiri di sampingnya.


Toni masuk dan berjalan meuju kursi kerja nya. Sekertaris john memberi salam pada Toni namun Dirga sepertinya tak berniat untuk memberi salam bahkan melihat ke arah Toni pun dia enggan.


suasana sedikit tegang untuk beberapa saat karena keduanya hanya diam dan saling menatap curiga.


Tak lama kemudian, Toni dan Dirga mengisyaratkan agar kedua sekertarisnya keluar ruangan.


Sepeninggal kedua sekertaris itu, akhirnya Toni angkat bicara.


"Katakan, ada keperluan apa kau menemuiku."


Dirga Dewangga menghela napas panjang, sebelum ia menjawab pertanyaan Tony. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi dan menyilanhkan kedua kakinya.


"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apapun, kau pasti sudah tau maksud kedatanganku." Jawab Dirga dengan nada sinis.


"Apa kau ingin bernegosiasi tentang pengumuman yang di berikan ketua kemarin?" Kata Toni sambil duduk di atas kursi dengan kedua tangan menangkup dagunya di atas meja.


"Rasa percaya dirimu terlalu tinggi," jawab Dirga Dewangga dengan santai.


Toni tertawa terkekeh seraya menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Jadi, apa yang bisa aku bantu? Suapaya kedatanganmu tidak sia sia?" sindir Toni.


"Jangan senang dulu, aku tidak akan menyerah." Dirga mulai terpancung emosi.


"Bagus, aku suka gayamu." sahut Toni.


"Maksudmu aku tidak sanggup mendapatkan nya?" Dirga mulai berdiri.


"Aku tidak sedang meremehkanmu, aku sekedar mengingatkanmu."


"APA???" Wajah Dirga mulai memerah karena dia mulai emosi mendengar perkataan Toni.


Toni beranjak dari kursi mendekati Dirga.


"Kau tau, aku tidak suka bersaing dalam hal apapun. Tapi, jika kau berani melakukan kecurangan. Dan melibatkan putraku, aku tidak akan tinggal diam." Ancam Toni.


Raut wajah Dirga semakin memerah, menahan emosi.


"Aku tidak perduli, kau mau bicara apa. Asal kau tau, kedudukan itu hakku dan milikku." Balas Dirga.


Toni tersenyum dan menundukkan kepalanya sesaat.


"Ambil, aku tidak perduli dengan kedudukan itu."


"Sombong sekali, lihat saja nanti." Ancam Dirga, diakhiri dengan tertawa cemooh.


"He he he he."


Toni hanya diam memperhatikan Dirga mentertawakannya, ia tidak ingin membalas ucapan Dirga. Sejak dulu, Dirga selalu menganggap Toni asalah saingan dalam hal apapun. Dan toni mengerti, mengapa Dirga bersikap seperti itu padanya.


Toni menarik napas dalam dalam, tangannya menyentuh pundak Dirga.


"Pulanglah, aku tidak akan merebut kedudukan itu. Jangan khawatir."


"Omong kosong!" Dirga menepis tangan Toni dengan kasar.


"Tidak perlu berpura pura baik di depanku."


Toni tersenyum.


"Di matamu, apapun..aku selalu salah."


Dirga semakin geram, dan merasa kalau Toni sudah merendahkannya. Tanpa bicara lagi, Dirga Dewangga berlalu dari hadapan Toni.


"Andaikan saja, aku memiliki anak laki laki. Toni tidak akan merendahkanku seperti ini ." Batin Dirga.


Dirga semakin mempercepat langkahnya di ikuti sekertaris. Ia susah di kuasai emosi ketika mengingat kenyataan, bahwa ia tidak memiliki anak laki laki. Anak semata wayangnya adalah perempuan, sementara Gerry hanya anak pungut yang di rawatnya sejak bayi.


Sesampai di halaman kantor, Dirga menghubungi Alana. Putri semata wayangnya