
Sementara itu, Alby dan kedua sahabatnya masih berada di lokasi pertarungan dengan genk motor. Mereka masih setia meenunggu Aexellee yang mengejar Haidar dan Marsha.
" Al, gak mau di obatin dulu lukamu?" tanya Farel memperhatikan luka di tangan Alby.
"Tidak." Tegas Alby.
Farel dan Alby saling pandang sesaat, namun Farel tidak menyerah karena ia khawatir melihat luka di tangan Alby, kulit di tangaannya terlihat mengelupas.
"Al, luka ditanganmu serius. kamu yakin gak mau di obatin?"
Alby menoleh ke arah Farel dan menatap tajam.
"Kau tuli?!" Sahut Alby dengan nada membentak membuat Farel dan Raymond terkejut.
Farel mendorong pelan bahu Alby.
"Ada apa denganmu?" tanya Farel tidak mengerti dengan sikap Alyby belakangan ini lebih sensitif dari sebelumnya, dan perubahan itu di benarkan Raymond.
"Apa yang di katakan Farel benar, belakangan ini kau mudah sekali marah. Jika kau ada masalah, cerita. Kita sahabat sejak kecil."
Alby terdiam sejenak, ia membenarkan pernyataan kedua sahabatnya. Namun perubahan Alby sekarang ini bukan tanpa sebab.
"Aku tidak ada masalah." Kata Alby ketus.
Farel dan Raymond tidak percaya, mereka berdua sangat yakin kalau Alby sedang tidak baik baik saja. Saat Farel hendak membuka suara lagi, tiba tiba ponsel milik Alby berdering. Farel mengurungkan niatnya, ia memperhatikan Alby berbicara dengan seseorang di ponselnya. Nampak terlihat jelas raut wajah Alby terlihat murung .
Farel dan Alby baru saja hendak bertanya, namun Alby berlalu begitu saja meninggalkan mereka berdua, lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Raymond dan Alby saling menatap.
"Apa yang terjadi dengan Alby?" tanya Farel.
Raymond menggeleng cepat.
"Aku tidak tahu."
"Sudahlah, sebaiknya kita susul Axelle." Usul Farel.
Raymond mengangguk, lalu keduanya meninggalkan tempat tersebut.
***
Sesampainya Alby di rumahnya.
Ia dengan sangat hati hati melangkahkan kakinya mendekati sang papa dan kakaknya yang berdiri tepat di samping Dirga Dewangga.
Gerry Dewangga, maju mendekati Alby dan menarik tangannya yang terluka.
"Kau terluka?" tanya Gerry.
Gerry tertawa mencemooh seraya berjalan mendekati Dirga Dewangga.
"Lihat anakmu pa, baru terluka sedikit saja sudah menangis."
Dirga Dewangga menarik napas dalam, lalu ia beranjak mendekati Alby.
"Ingatkan dia kembali, pa! Bahwa dia harus menjadi seorang anak laki laki!" kata Gerry Dewangga, memprovokasi Dirga.
"Plak!!"
Satu tamparan keras mendarat di wajah Alby. Namun tamparan dari papa nya tidak lagi membuat Alby bergeming dari tempatnya. Matanya menatap tajam sang papa.
"Berani kau menatapku?"
Sekuat kuatnya Alby mendapatkan perlakuan tidak adil dari papa nya, Alby tetaplah anak gadis yang berusaha untuk menjadi anak laki laki seperti maunya Dirga Dewangga.
"Berani kau melawanku?!" bentak Dirga.
Mata Alby berkaca kaca, ia berusaha menahan air mata supaya tidak jatuh.
"Aku sudah melakukan apa yang papa mau, apa masih kurang? Kenapa tidak kau bunuh aku saja sekalian!!" teriak Alby akhirnya ia berani protes setelah sekian lama ia hanya mampu terdiam menerima kekerasan dari Dirga Dewangga.
Dirga Dewangga dan Gerry terdiam menatap Alby dengan penuh kebencian. Mereka berdua tidak sadar, atau dengan sadar telah melakukan pembullyan.
Banyak orang tua yang percaya dan meyakini bahwa bullying hanya akan dialami anak-anak di sekolah dan oleh anak-anak lain
Sayangnya, bullying bisa dialami oleh anak-anak di mana saja, termasuk di rumah oleh orang tua mereka sendiri.
Mungkin aneh rasanya jika kita berpikir bahwa orang tua bisa membully anaknya sendiri. Namun, inilah yang tanpa disadari terjadi pada kebanyakan anak di luar sana. Perilaku orang tua yang terlalu mengintimidasi anak, terus-terusan meremehkan kemampuan anak, mengendalikan segala aspek kehidupan anak dan berusaha menegakkan aturan dengan agresif, ternyata bisa digolongkan ke perilaku “bullying” pada anak.
Mungkin orang tua beralasan ingin mengoreksi perilaku anak yang dianggap keliru, namun bukan berarti orang tua bisa terus mengendalikan segala aspek kehidupan anak, kan?
"Bunuh, aku pa!" teriak Alby lagi membuat Dirga marah besar lalu meminta Gerry untuk mengambilkan tongkat kayu yang tak jauh dari meja.
Gerry, dengan senang hati mengambilkan tongkat kayu itu lalu di berikan pada Dirga.
"Berani kau melawanku!!"
Buk
Buk
Buk
Dirga Dewangga memukulkan tongkat kayu itu di tubuh Alby, dan Alby sama sekali tidak bergeming. Matanya terpejam, air mata mengalir deras. Fisik dan mentalnya tengah di bantai habis habisan oleh papa dan kakak nya sendiri.
"Lakukan, lakukan sepuasmu pa.." batin Alby.