
"Terserah kau mau berpacaran dengan laki laki manapun, tapi jangan Axelle!" Bentak Dani pada Marsha.
"Tapi kak...." ucapan Marsha tertahan di tenggorkan saat melihat tangan Dani diangkat hendak menamparnya.
"Sekali kau membantah, lebih baik kau tidak sekolah lagi dan aku akan memulangkanmu ke rumah Rafka!" ancam Dani.
"Jangan kak, aku mohon jangan lakukan itu," pinta Marsha dengan sangat.
BRAK
Seketika lamunan Marsha buyar, ia berjengkit kaget melihat Axelle menggebrak meja lalu menariik paksa tangan Marsha supaya berdiri.
"Apaan sih!" Marsha menepis tangan Axelle.
"Kenapa kamu pulang besama Haidar tanpa izin terlebih dahulu?" tanya Axelle kesal.
"Maaf, kemarin aku tidak sempat izin dulu." kata Marsha.
"Maaf, sudah berapa kali kamu melanggar hal yang tidak aku sukai." Jelas Axelle.
"Aku tahu..." ucap Marsha pelan. "Maaf."
Axelle menarik napas dalam, matany terpejam sesaat menahan emosinya supaya tidak meledak.
"Simpan permintaan maafmu, aku harap kau tidak mengulanginya lagi. Aku pacarmu, hargai aku. Setidaknya beri kabar, aku tidak akan melarang kau pergi kemanapun." Kata Axelle. Marsha menganggukkan kepalanya, lalu kembali duduk.
Axelle sejenak diam terpaku memperhatikan Marsha, lalu beranjak pergi meninggalkan kelas dan berpapasan dengan Farel dan Raymond.
"Ada apa lagi dengan dia??" tanya Raymond memperhatikan Axelle yang terus berjalan melewati mereka tanpa menyapa.
"Sepertinya dia sedang kacau," imbuh Farel.
"Sebaiknya kita ikuti, aku khawtir dia melakukan hal hal buruk." Usul Raymond.
Awalnya Farel menolak, namun Raymond terus memaksa, akhirnya mereka berdua membuntuti Axelle.
Farel dan Raymond mengikuti Axelle menggunakan sepeda motor, mereka berhenti di tepi taman.
"Tumben Axelle ke tempat sepert ini, mau menemui siapa?" tanya Farel, namun Raymond hanya menggelengkan kepalanya.
Mereka berdua mengendap lalu bersembunyi di balik rimbunnya bunga yang tengah mekar. Sementara Axelle tidak menyadari kalau kedua sahabatnya tengah memperhatikannya.
Axelle duduk dengan tenang di bangku, mempertanyakan rasa nya sendiri. Apakah ia benar benar menyukai Marsha atau sekedar hanya penasaran saja, karena sikap Marsha membuat Axelle kesal.
"Kemana Alby, sudah telat lima menit," gumam Axelle memperhatikan sekitar taman.
"Maaf terlambat,"
Axelle menoleh ke samping, melihat Alby sudah berdiri di sampingnya lalu duduk.
"Kakiimu kenpa?" tanya Axelle memperhatikan Alby menggunakan tongkat.
"Ah tidak apa aoa, anak cowok ya biasalah." Jawab Alby santai.
Alby hanya menggelengkan kepala, ia engggan membahas apa yang terjadi pada dirnya lalu mengalihkan topik pembicaraan.
"Ada apa kau menyuruhku datang ke sini?"
''Tentang Marsha," jawab Axelle cepat.
Alby menarik napas dalam, sedikit menggeser posisi duduknya. Sebenarnya ia malas berkomentar apalagi ikut campur tentang gadis itu, namun Alby merubah sudut pandangnya. Mungkin, dengan menjadi pendengar yang baik untuk Axelle, ia bisa lebih dekat dengan Axelle.
"Kok diam?" tanya Axelle memperhatikan Alby yang terdiam.
"Gak apa apa, memangnya ada apa dengan Marsha?" tanya Alby.
Axelle dengan penuh rasa semangat, dia menceritakan apa yang sedang di pikirkannya. Tentang perasaannya pada Marsha, dan tentang sikap Marsha yang seringkali membuatnya kesal.
Alby menarik napas dalam dalam, lalu ia tertawa seraya menepuk bahu Axelle cukup keras.
"Kau jangan terlalu keras padanya, nanti dia kabur. Coba kau lebih intens mendekatinya, siapa tau kau menemukan jawaban atas keresahannmu. Hei, cewek itu butuh di mengerti'' Jelas Alby, meski ucapanya tidak sepaham dengan hatinya sendiri.
Axellle terdiam sesaat, mencerna apa yang di jelaskan Alby. Meski bertolak belakang dengan pikirannya, tapi Alby mencoba untuk mengikuti cara Alby yang di sarankan.
"Aku coba..."
"Hei, santai saja. Kau masih sekolah, memangnya kau serius dengannya?" tanya Alby.
"Aku tidak tau, tapi soal hati aku ga main main," jawab Axelle.
Alby terdiam, pernyataan Axelle yang baru saja di dengarnya serasa menghentak ke dalam hatinya.
"Pikirkan lagi, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Siapa tau itu hanya emosi sesaat." Bantah Alby.
Axelle berdiri, menepuk bahu Alby.
"Akan aku buktikan, aku tidak main main dengan Marsha."
Setelah bicara seperti itu, Axelle beranjak pergi begitu saja. Di sela sela langkahhnya ia menoleh ke arah Alby yang masih duduk di bangku dan Alby tersenyum ke arah Axelle.
"Terima kasih, akan aku pikirkan saran darimu. Kau pulang sendiri bisa kan?"
Alby mengacungkan jempolnya, setelah itu Axellekemmbali melanjutkan langkahnya.
"Aku senang bisa membantumu, Xell...." gumam Alby.
Sementara Raymond dan Farel keluar dari persembunyiannya, mereka berdua memperhatikan Alby seperti sedang menangis.
"Ada apa dengan Alby, dan ada apa dengan Axelle." kata Raymond tidak mengerti dengan kedua sahabatnya.
"Sepertinya kita tidak di butuhkan lagi," kata Farel.
"Tidak, mereka membutuhkan kita. Tapi bukan sekarang, nanti..." sahut Raymond.