AXELLE

AXELLE
Bab 42



Disekolah.


Alby yang baru saja tiba di halaman sekolah, langkahnya terhenti meihat ke arah kerumunan siswa dan siswi. Diantara mereka ada Raymnd, Farel, Axelle dan Marsha. Alby bergegas menghampiri mereka dan seketika semua siswa dan siswi memberikan jalan untuk Alby dan mereka tertawa mencemooh kepada Alby.


Alby tidak percaya dengan apa yang dia liht, beberapa foto seksi miliknya menggunakan gaun wanita dan beberapa foto pribadinya dengan berbagai fose rambut panjang tergerai indah.


Alby langsung melepas satu persatu poto yang terpajang di papan pengumuman lalu di masukkannya ke dalam tas.


'Bubar!" teriak Alby pada siswa dan siswi yang mengerumuninya.


"Huuuuuu!' teman temannya meneriaki dan ada juga yang mencibirnya.


Alby tidak perduli dengan mereka, yang ia takutkan adaah kekecewaan sahabatnya terhadap dirinya.


"Aku bisa jelasin," kata Alby menarik baju Raymond dan Farel, namun kedua sahabatnya menepis tangan Alby lalu beranjak pergi.


Alby mulai kebingungan, lalu ia menghampiri Axel yang masih berada di tempat menatp kecewa terhadap Alby.


"Aku...aku bisa jelasn,' kata Alby terbata bata.


Namun Axelle hanya diam dengan tatapan kecewa, membuat Alby semakin bingung.


"Xell, aku?" ucapan Alby menggantung, karena Axelle meninggalkannya dengan kecewa karena Alby telah membohonginya.


"Axelle!" Alby memanggil Axelle berkali kali, namun Axelle mengabaikannya dan tidak mau mendengarkan penjelasan Alby terlebih dahulu.


Alby bergegas mengejar Axelle menuju arah kantin, namun langkah Alby tertahan saat melhat Haidar ada di hadapannya. Alby langsung mendekati Haidar dan mencengkram kerah bajunya.


"Semua ini perbuatanmu bukn?" tanya Alby matanya merah menatap wajah Haidar.


Haidar tersenyum membalas tataan mata Alby.


"Ada dendam apa sebenarnya, sampai kau tega melakukan ini padaku?" tanya Alby.


Namun Haidar sama sekali tidak menjawab, bahkan sikapnya seolah olah membenarkan tuduhan Alby.


"Apa salahku!" teriak Alby seraya mendorong tubuh Haidar mundur ke belakang.


"kau begitu yakin, aku pelakunya. Kenapa di pertanyakan lagi." Jawab Haidar terus menatap mata Alby yang mulai berkaca kaca, bahkan siswa dan siswi yang ada di dalam kantin keluar dan mengerumuni mereka berdua.


Alby tersenyum di paksakan lalu melepas rambut palsunya. Rambut panjang sebahu tergerai indah, di perlihatkan kepada teman temannya. Ia tidak lagi menutupi siapa dirinya lagi.


"Kau puas sekarang!" teriak Alby pada Haidar.


Haidar hanya tersenyum sambil menunjukkan jempolnya kepada Alby, setelah itu beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Alby cantik!" seru teman temannya, ada juga yang mengumpatnya dengan kata kata kotor membuat hati Alby semakin sedih.


Matanya tertuju pada Axelle dan dua sahabatnya yang berdiri mematung memperhatikannya tanpa ada sedikitpun untuk membelanya seperti yang biasa mereka lakukan.


Nyatanya, Raymond dan Farel tidak benar benar meninggalkan Alby, mereka memperhatikan Alby dari jauh. Mereka masih shock, kenyataannya Alby bukanlah anak laki laki.


"Ingat ga, waktu kita berenang. Pantas saja Alby tidak mau ikut gabung bersama kita," kata Raymond mengingat kebersamaannya bersama Alby.


Farel mengangguk, membenarkan semua momen kebewrsamaan mereka.


"Aku ingat semuanya, waktu kita tidur dalam satu tempat tidur. Alby memilih tidur di sofa."


Mereka terdiam, mengingat semua momen persahabatn mereka.


"Sepertinya kita terlalu berlebihan, mungkin Alby punya alasan di balik penyamarannya.' Kata Raymond ang selalu bersikap bijak.


"Mungkin, ada baiknya kita bertanya. Bagaimana dengan Axelle, kita harus bicaraan ini dengan Axelle.


Raymond mengangguk, terdengar suara bel berbunyi. Mereka berdua bergegas masuk ke dalam kelas mengikuti pelajaran tanpa adanya Alby.


***


Di kantin.


Axelle dan marsha tengah menikmati makan siang bersama sambil membicarakan tentang Alby. Marsha memiliki satu permintaan pada Axelle setelah mengetahui Alby bukanlah anak laki laki.


"Berjanji padaku, untuk tidak dekat dekat dengan Alby lagi. Aku juga tau, kalau Alby menyukaimu.' kata Marsha.


"Ga mungkin Alby menyukaiku, dan aku juga ga punya perasaan apa apa selain rasa seorang sahabat, karena yang aku tau dia laki laki," sahut Axelle.


'Tidak mungkin dia menyamar jadi anak laki laki kalau tidak ada niat tertentu, mungkin dengan cara menyamar jadi laki laki, Alby bisa lebih dekat denganmu." Tegas Marsha.


Axelle diam menarik napas panjang, mungkin apa yang di katakan Marsha ada benarnya pikir Axelle, tapi hati kecil Axelle menolak tuduhan Marsha terhadap Alby.


"Pokoknya kamu tida boleh dekat dekat dengan Alby lagi." kata Marsha bersikeras.


"Aku berjanji, aku ga akn dekat dekat dengan Alby lagi. Tapi kamu juga harus menuruti apa mauku, tidak dekat dengan cowok manapun selain aku." pinta Axelle.


"Aku janji." Sahut Marsha.


Saaat mereka tengah asik berbincang, tiba tiba Raymond dan Farel duduk di sebelah Axelle dan mengabaikan keberadaan Marsha.


"Xell, bagaimana dengan Alby. Kasian loh kalau kita jauhi apalgi membencinya." kata Raymond.


"Benar, mungkin Alby punya alasan. Apa tidak sebaiknya kita dengarkan penjelasannya dulu?" sela Farel.


Axelle mendengarkan penjelasan kedua sahabatnya dan hati kecilnya membenarkan perkataan mereka. Namun Axelle terpaksa harus menolak dan tidak memberikan tanggapan apapun karena ia sudah terlanjur berjanji pada Marsha.


"Xel?" panggil Ramond melihat Axelle hanya diam.


Axelle menarik napas kasar, lalu berdirii dan menarik tangan Marsha pergi meninggalkan sahabatnya begitu saja.