
Minggu pagi pukul 8:00
Biasanya Axele sudah berkumpul bersama geng nya di markas. Tetap pagi ini, Axele terpaksa diam di rmah karena kedua orang tuanya baru saja pulang dari luar kota.
Mereka mengajak Axelle pergi keluar untuk bersepeda di taman kota. Walaupun Axelle anak yang tidak banyak bicara dan cenderung bersikap dingin, namun dia selalu menuruti apa yang selalu di katakan orang tuanya.
Karena Axelle adalah anak satu-satu nya, maka kedua orang tua Axelle sangat menyayangi nya dan selalu mmenuruti apa mau Axelle walaupun dari kecil dia bukan anak yang banyak mau nya .
"Sayang, kau sudah siap?" tanya Eva, ibu Axelle yang terlihat masih sangat cantik.
"Ya, Mom. sebentar..." jawab Axelle sambil merapikan tali sepatu nya.
Eva menunggu Axelle meerapikan sepatu di depan pintu kamar putra kesayangannya. Tanpa Eva sadari seseorang berjalan mendekat dari arah belakang dan langsung memeluk pinggang Eva.
Eva terkejut dan langsung membalikan badan.
"Syang, Kau mengagetkan ku saja." kata nya sambil mengelus pipi suami nya itu.
"Bagaimana? kalian sdah siap untuk bersepeda?" tanya Toni Edgarsyah suami dari Eva dan Ayah dari Axelle Edgarsyah.
"Sudah." Jawab Axelle lalu berdiri dan menghampiri kedua nya.
Toni menepuk pundak Axelle dengan snyuman bangga lalu menggajak nya pergi.
Tak butuh waktu lama, Axelle dan keluarga nya tiba di taman kota hanya dengan sepeda. saat mereka tiba di sana, suasana sudah mulai ramai walaupun masih pagi hari.
mereka bersepeda dengan tenang dan santai sambil menikmati suasana pagi. Mereka bersepeda sambil mengobrol tentang semua yang terjadi saat orang tua nya di luar negeri dan yang terjadi di sekolah.
Tiba-tiba Toni melambatkan kayuhan sepeda nya saat dia melihat seseorang yang seperti nya dia kenal di kejauhan.
Eva yang sedang asyik menobrol dngan Axelle ,menghentkan pembicaraan nya karena merasa heran dengan sikap suami nya yang tiba-tiba melambatkan kayuhan nya.
" Ada apa,sayang?" tanya Eva.
Toni langsung menghentikan sepeda nya saat dia benar-benar mengenal siapa yang di lihat nya.
"Dirga Dewangga!" Gumam Toni.
Eva mengikuti arah pandang Toni, sedikit terlihat perubahan wajah Eva.
"Setelah sekian lama akhirny aku kembali bertemu mereka," batin Dirga Dewangga seraya mengayuh sepedanya mendekati Toni dan Eva.
"Apa kabar?" tanya Dirga tersenyum sinis ke pada Toni, lalu ia menganggukkan kepala kepada Eva yang tengah memperhatikannya.
"Baik." Sahut Toni singkat lalu turun dari atas sepeda begitu juga dengan Eva.
Axele yang berada di depan, mengerutkan dahinya memperhatikan seorang gadis diatas sepeda tepat di belakang Dirga.
"Wajahnya mirip Alby, apa aku salah lihat? Batin Axele.
Gadis yang di perhatikan Axele tiba tiba berbalik arah dan mengayuh sepedanya meninggalkan tempat. Axele yang penasaran mengejar gadis itu.
Sementara Dirga dan Toni saling berhadapan tanpa bicara sepatah katapaun. Eva ikut terdiam memperhatikan, namun dari raut wajah dan tatapan kedua lelaki tersebut, cukup menyiratkan keduanya sedang tidak baik baik saja. Ada amarah dan kebencian jelas terlihat di mata Dirga Dewangga.
Eva berkali kali berdehem untuk mecairkan suasana, namun usaha Eva tidak berhasil. kedua lelaki dihadapannya semakin saling mendekat dengan tatapan tajam seolah olah ingin menelan satu sama lain. Beberapa detik kemudian sebuah sepeda mendekati mereka. seorang pria turun dari sepedanya dan mendekati Dirga Dewangga.
"Pa.." sapanya seraya menyentuh pundak Dirga.
" kita pergi."
Dirrga Dewangga mundur selangkah namun tatapannya tetap fokus ke arah Toni, lalu tersenyum miring lalu balik badan dan mereka berdua kembali naik ke atas sepeda dan mengayuh sepedanya meninggalkan tempat.
"Sebaiknya kita pulang, perasaanku tidak enak." Kata Eva.
Toni menganggukkan kepalanya dan mencari keberadaan Axele.
"dimana Axele?" tanya Toni memperhatikan sekitar.
"Aku tidak tahu, tadi dia disini," sahut Eva memperhatikan sekitar.
"Sayang, ayo kita cari." Ajak Toni.
Eva menganguk lalu mereka berdua naik ke atas sepeda dan mengayuhnya mencari Axele.
Sementara Axele yang di cari kedua orang tuanya tengah berada di pinggir jalan mencari keberdaan gadis tadi. Namun sayang, ia kehilangan jejak gadis tersebut.