AXELLE

AXELLE
Bab 38



Di sekolah.


Marsha baru sampai di sekolah dan seperti biasa, Axelle sudah menunggunya di halaman sekolah.


"Tiga hari kamu ga masuk sekolah, kabar tidak ada, pnsel tidak aktif, aku kerumahmu tidak ada. Kemana saja kamu?" tanya Axelle dengan tatapan marah.


Marsha yang baru saja datang di berondong banyak pertanyaan menjadi bingung harus menjawab apa.


"Aku..." Marsha tidak melanjutkan ucapannya, ia bingung apa harus berterus terang atau merahasiakannya pada Axelle, jauh dari lubuk hati Marsha. Ia sudah mulai nyaman dan menyukai sosok Axelle.


"Cepat katakan!" Axelle mulai kesal.


"Maaf, aku ada acara keluarga. Sepupuku menikah, dan ga sempat pegang ponsel karena aku sibuk banget." Jawab Marsha.


"Begitu?"


Marsha menganggukkan kepalanya dan berkali kali meminta maaf dan meminta Axelle untuk tidak marah padanya.


"Tidak sampai satu jam, kamu ngabarin aku. Apa itu juga hal yang sulit?" protes Axelle.


Marsha menggeleng pelan. "Iya, aku tahu."


"Kalau memang tau, kenapa tidak di lakukan?" Axelle tampak masih kesal.


Tiba-tiba Marsha memeluk Axelle dengan erat yang membuat Axelle terkejut karena untuk pertama kalinya Marsha memeluknya dengan erat.


" Sudah jangan tanyakan apapun lagi. Maafkan aku." ucap marsha sambil terus memeluk Axelle.


Axelle bingung sekaligus ada rasa senang karena Marsha bersikap seperti itu padanya.


Dengan pelan tapi pasti, Axelle membalas pelukan Marsha. Rasanya dia tidak bisa marah jika Marsha bersikap manis padanya.


"Tapi lain kali kau harus menghubungiku agar aku tidak khawatir dan berpikiran jelek." Axelle menatap Marsha sambil mencubit pipi nya.


Marsha mengagguk dengan senyuman kecil di bibirnya. Dia sangat merasa bersalah hars merahasiakan semua dari Axelle.Padahal Axelle sebaik dan sepengertian ini padanya.


Walaupun Axelle selalu marah-marah, itu karena dia sangat mencintai Marsha. Mata Marsha berkaca kaca antara percaya dan tidak, dia diperlakukan baik oleh seorang Axelle.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Axelle kaena Marsha terus menatapnya dengan lembut.


"Apa kau mulai sangat mencintaiku?" goda Axelle sambil merangkul pundak Marsah dan mendekatkan ke tubuhnya.


"Apaan, sih." Marsha terlihat malu-malu.


"Ayo masuk." Ajak Axelle.


Saat mereka berjalan menuju kelas, Axelle dan Marsha melihat Farrel yang berlari ke arah mereka . Farrel berlari karena menghindari seorang gadis di belakngnya yang mengejar sambil mengacungkan sapu kepadanya.


"Tunggu kau dasar pembohong!!" teriak gadis itu.


Farrel langsung berlari ke belakang Axelle dan bersembunyi di belakang punggung Axelle.


"Tolong aku, Xell." kata Farrel


"Apa lagi sekarang?" tanya Axelle.


Gadis yang mengejar Farrel berhenti di depan Axelle, dia terlihat sedikit takut dan malu saat di depan Axelle.


"Maaf bisakah kau tidak menghalangiku?" tanya gadis itu.


Axelle tidak menjawab ddan menatap gadis itu.


"Jangan, Xell.Halangi aku saja." ucap Farrel sambil terus bersembunyi di belakang Axelle.


"Farrel!!" Teriak kesal si gadis karena Farrel terus bersembunyi.


Axelle dan Marsha hanya berdiri melihat kelakuan Farrel dan Anna.


"Kau ini benar-benar, ya!!!" Anna langsung berlari ke belakang Axelle dan memukul Farrel dengan sapu.


'Aduh.' Farrel kesakitan dan kembali berlari menghindari Anna.


Anna pun tak ingin kalah dan langsung mengejar Farrel kembali. Farrel berlari ke arah Raymond dan Alby yang sedang berjalan, namun Farrel hanya melewati mereka karena Anna semakin dekat mengejarnya.


Raymond dan Alby hanya tertawa melihat kelakuan temannya yang satu itu. Begitupun dengan Marsha, dia tersenyum geli melihat kelucuan Farrel.


Raymond dan Alby berjalan menghampiri Marsha dan Axelle. Senyuman Alby pun perlahan menghilang saat melihat Marsha dan Axelle pergi bersama.


"Xell." panggil Raymond.


"Kenapa si Farrel?" tanya Axelle.


" Biasalah, ketauan selingkuh lagi." jawab Raymond sambil tertawa.


Axelle dan Marsha pun ikut tertawa tapi tidak dengan Alby yang sepertinya tidak menyukai situasi saat ini.


"Ayo masuk." Axelle menggenggam tangan Marsha dan mengajaknya masuk ke kelas.


Raymond dan Alby pun mengikutinya. Tiba-tiba Marsha melihat Haidar saat dia akan memasuki kelas. Raut wajah Marsha langsung berubah, dia terlihat marah.


"Aku ke toilet sebentar, ya." Marsha meminta ijin pada Axelle.


"Ah, ya baiklah." kata Axelle.


Marsha langsung pergi setelah Axelle mengijinkannya. Alby yang melihat ada keanehan dengan sikap Marsha langsung mengikutinya.


"Aku ke kantor sebentar, ada perlu sedikit.' Alasan Alby.


Marsha berjalan sangat cepat untuk mengejar Haidar. Dia langsung menarik tangan Haidar dan membawanya ke belakang gedung sekolah yang sepi.


Marsha terlihat sangat marah dan menataap tajam Haidar.Tapi Haidar malah senyum-senyum melihat Marsha seperti itu. Alby yang mengikuti mereka pun merasa aneh, ada apa dengan sikap mreka berdua, dan Alby bersembunyi di balik dinding tak jauh dari Marsha dan Haidar bicara.


"Sebenarnya apa maksudmu?" tanya Marsha.


"Apa?" Haidar malah balik bertanya dengan senyum menyebalkannya.


"Kenapa kau melakukan itu padaku?" Marsha setengah berteriak dan mencengkram kerah baju Haidar.


"Memang aku melakukan apa?" lagi-lagi Haidar bersikap menyebalkan dengan bicara seolah tak melakukan apapun.


"Kau ini...sebenarnya apa maumu? kau sudah menjebakku!!" Marsha sangat marah dan mulai menahan airmatanya.


Alby yang sedang menguping pembicaraan mereka pun mendengarkan baik-baik apa yang mereka bicarakan. Namun karena jarak yang lumayan jauh membuat Alby tak bisa mendengar dengan jelas keseluruhan pembicaraan mereka.


"Menjebak? bukankah aku sudah membantumu?" Ucap Haidar.


"Membantu? apanya yang sudah kau bantu? kau justru malah membuatku menikahi orang lain!!" Airmata Marsha tak bisa terbendung lagi.


Marsha melampiaskan kekesalannya pada Haidar hingga dia tak bisa membendung semua perasaannya.


Marsha menangis mengingat apa yang sudah di lakukan Haidar, tapi Haidar malah tersenyum seolah dia puas sudah membuat Marsha terjebak dan menderita seperti ini.


"Aku benci padamu. Aku sangat membencimu." Karena kesedihan dan kekesalan yang begitu besar membuat tubuh Masha menjadi lemas hingga membuatnya terduduk di lantai.


Marsha menangis sedangkan Haidar hanya berdiri namun kali ini raut wajah Haidar tidak tersenyum menyebalkan lagi tapi tanpa ekspresi apapun.


Alby yang sedari tadi bersembunyi dan mendeengarkan pembicaraan Marsha dan Haidar pun meras sangat aneh.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mreka, pernikahan, jebakan?" Pkiran Alby tak menentu karena mendengar beberapa potong dari percakapan Marsha dan Haidar.