
10 Oktober, bertepatan dengan hari ulang tahun Marsha. Axelle sudah bersiap siap untuk menemuinya di rumah untuk mengajanya jalan jalan. Sebuah hadiah sudah ia siapkan untuk di berikan kepada Marsha.
Axelle membuka pintu kamar, lalu memperhatikan suasana rumahnya. Ketika di rasa aman, Axelle menutup pintu kamarnya pelan dan berjalan mengendap Keluar rumah.
Di halaman rumah, Axelle mendorong motornya sampai luar gerbang lalu melajukan motornya dengan kecepatan maksimal menuju rumah Marsha.
Dalam benak Axelle sepanjang jalan, ia akan menghabiskan waktu sepajang hari bersama Marsha dan sedikit kejutan darinya pasti akan menambah romantis suasana.
Sesampainya di halaman rumah Marsa.
Axelle masih duduk di atas motornya menatap ke arah pintu rumah Marsha yang tertutup rapat, tak lama kemudian nampak pintu terbuka lebar. Terlihat Dani keluar dari dalam rumah dan memperhatikan Axelle.
Axelle bergegas turun dari motor dan menghampiri Dani.
"Kau mencari siapa?" tanya Dani bertanya lebih dulu.
"Bang, Marsha ada?" tanya Axelle.
Dani terdiam, memperhhatikan wajah Axelle. Ia tersenyuum, dan menganggukkan kepalanya.
"kau, Axelle?" tanya Dani balik, dan Axelle mengangguk.
"Ah, sayang sekali. Baru saja Marsha di jemput temannya." Jelas Dani sengaja memberitahu keberadaan Marsha.
"Di jemput?" tanya Axelle dadanya tiba tiba panas.
Dani mengangguk, dan menjelaskan kalau Marsha pergi di jemput temannya untuk merayakan ulang tahunnya. Axelle terdiam sesaat, lalu bertanya pada Dani kemana mereka perginya.
Setelah mendapatkan informasi dari Dani, Axelle berpamitan pada Dani dan bergegas pergi untuk memastikan apakah yang di katakan Dani itu benar atau tidak.
Sesammpainya di halaman sebuah restoran, Axelle menepikan motornya kemudian masuk kedalam restoran tersebut. Langkah Axelle terhenti, saat melihat Marsha tengah duduk berhadapan bersama Haidar di salah satu meja paling ujung.
Axelle mundur selangkah demi selangkah keluar dari restoran dengan perasaan kecewa. Ia berdiri di dekat motornya lalu merogoh saku celananya, hadiah yang sudah ia siapkan di lemparkannya ke tengah jalan, lalu ia bergegas pergi meninggalkan restoran menuju markas tempat berkumul bersama genknya.
Sesampainya di markas, Axelle menghubungi Alby dan memintanya untuk menemuinya di markas.
Selang lima belas menit Axelle menunggu, akhirnya Alby datang ke markas menemui Axelle dengan kaki masih di topang tongkat.
Axelle langsung menarik tangan Alby dan memintanya duduk tanpa bertanya apakah Alby baik baik saja atau tidak.
"Ada apa?" tanya Alby meski ia tahu, Axelle memanggilnya hanya untuk menceritakan Marsha.
Tanpa harus menunggu lama, Axelle menceritakan kekecewaannya terhadap Marsha. Alby Menundukkan kepalanya, matanya terpejam mendengar semua keluh kesah Axelle mengenai gadis itu.
"Aku tidak mengerti, kenapa dia terus melakukan hal yang tidak aku sukai. Selama ini dia anggp aku ini apa. Bukankah aku pacarnya dan dia seenaknya jalan dengan cowok lain." Jelas Axelle di ujung ceritanya.
"Maumu seperti apa, kenapa kau tidak mengatakannya langsung pada Marsha. Mungkin selama ini Marsha kurang memahami apa maumu," kata Alby.
"Aku sudah mengatakannya, Al. Bahkan dia sudah tahu apa yang tidak aku suka dan apa yang aku mau." Pungkas Axelle.
Alby menarik napas dalam dalam, menatap wajah Axelle.
"Coba kalian bicara dari hati ke hati, kau juga harus dengarkan apa maunya. Jangan cuma mau kamu yang di dengarkannya."
Axelle terdiam mendengarkan saran saran dari Alby.
"Nih, makanlah Ice Cream dulu biar kau tenang." Alby menyodorkan satu kotak sedang ice cream pada Axelle.
"kau memang paling mengerti aku. Andai kau seorang perempuan, mungkin aku sudahh jatuh hati padamu." Kata Axelle di akhiri tertawa lebar.
deg
Albyy tersetak mendengar pernyataan Axelle.
"Andai kau tau, aku seorang perempuan. Mungkin kau akan membenciku, Xell...' batin Alby.
"Kau mau?" Axelle menawarkan ice cream pada Alby.
'Gak, kau makan sendiri." Jawab Alby.
****
Sementara di tempat lain.
Toni sedang berdiri di dekat mobil miliknya di halaman perusahaannya setelah menghubungi Eva untuk datang ke kantornya. Tiba tiba Toni di kejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang pernah ia cintai.
"Angela."
"Apa kabarmu?" sapa Angela hendak mencium pipi Toni, namun Toni munddur satu langkah Menjauh dari Angela.
"Kenappa, apa kau tdak merindukanku?" tanya Angela.
"Mengapa kau datang lagi di kehidupaku, hubungan kita sudah berakhir sejak lama." kata Toni mulai menyeka eringat di keninggnya.
"Apakah tidak ada keesempatan buatku lagi, aku menyesal Ton,"
Toni memalingkan wajahnya memperhatikan sekitar, ia takut Eva datang dan mengetahui keberadaan Angela.
"Pergilah, aku tidak mau ada masalah gara gara kkamu," ucap Toni.
Angela mengikuti arah pandang Toni, dan benr saja. Eva datang dari arah lain dan langsung menghampiri mereka membuat Toni panik.
"Cepat pergi, istriku datang." kata Toni mendorong bahu Angela, namun Angela sengaja menangkap tangan Toni dan menggenggamnya erat.
Eva yang melihat aksi Angela menggenggam erat tangan suaminya, diam mematung dengan tatapan tajam ke arah Angela dan Toni.
"Sayang..." sapa Toni serayya menepi tangan Angela, lalu berjalan mendekati Eva. "Jangan salah paham, aku tidakmeakukan apa apa."
Eva tetap diam tanpa mengalihkan pandangannya pada Angela.
"Sayangg, ayo kita pergi." Ajak Toni menarik tangan Eva, namun Eva menepisnya.
"Sayang?"
Eva balik badan, lalu beranjak pergi meninggalkan Toni dan Angela.
"Sayang!"
Toni berlari mengejar Eva. Sementara Angela tersenyum puas, ia berfikir sudah bisa memecah keharmonisan antara Eva dan Toni.
"Tunggulah pembalasanku selanjutnya, sampai kau benar benar hancur Eva." Gumam Angela.