AXELLE

AXELLE
Bab 31



Toni yangg sedang dalam perjalanan pulang, setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Tiba tiba di tengah perjalanan, ia melihat Angela sedang di ganggu dua pria tak di kenal.


Toni menghentikan laju mobilnya dan diam sejenak, ia ingin membantu tapi ragu untuk melakukannya. Tetapi saat melihat dua pria itu semakin gencar mengganggu Angela, akhirnya Toni memutuskan untuk menolong Angela.


Toni langsung keluar dari dalam mobil, menghampiri dua pria tersebut dan melayangkan bogem mentah ke wajah salah satu pria tersebut.


BUKKK


Pria tersebut terkejut dan tersungkur ke jalan, kemudan Toni kembali melayangkan tinju ke wajah satu pria lainnya.


BUKKK


Kedua pria tersebut menyerang Toni bersamaan, namun bagi Toni kedua pria tersebut bukanlah lawan yang tangguh, hanya dalam beberapa menit saja, Toni berhasil mengalahkan mereka berdua.


Kedua pria tersebut langsung melarikan diri, sementara Angela yang sedari tadi hanya memperhatikan, berlari ke arah Toni dan memeluknya erat.


Tanpa Toni sadari, dari kejauhan seseorang sedang mengambil gambar mereka yang tengah berpelukan.


Toni melepaskan paksa pelukan Angela, tanpa bicara sepatah katapun Toni beranjak pergi namun Angela menahan tangan Tonni dan menggenggamnya dengan erat.


"Tunggu sebentar,"


"Ada apa lgi?" tanyaToni.


"Sebagai ucapan terima kasih, maukah kau menemaniku untuk minum teh di tempat favorit kita dulu?" usul Angela.


"Maaf, aku harus pulang. Istriku sudah menunggu di rumah sakit." Kata Toni seraya menepis tangan Angela.


"Siapa yang sakit, putramu atau istrimu?" tanya Angela.


"Tidak perlu tahu," balas Toni lalu berjalan mendekati mobilnya dan di ikuti oleh Angela dari belakang.


"Kalau begitu, izinkan aku ikut bersamamu ke rumah sakit."


Toni terdiam sejenak, menatap wajah Angela, ia paham betul bagaimana kerasnya Angela kalau menginginkan sesuatu harus ia dapatkan. Toni berfikir, jika Angela ikut bersamanya ke rumah sakit maka akan terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Eva.


"Boleh?"tanya Angela agi.


"Tidak, bagaimana kalau aku menemani minum teh. Setelah itu, kau bebas dan jangan ikuti aku lagi." Kata Toni.


Angela mengangguk, kemudian masuk ke dalam mobil tanpa di minta. Toni menarik napas dalam dalam, ia tidak tahu apakah keputusannya ini benar atau tidak.


Sementara Eva masih berada di rumah sakit, menunggu kedatangan Toni. Ia duduk di ruang tunggu karena Axelle sedang beristirahat setelah di beri obat penenang. tiba tiba ponsel milik Eva berbunyi, dan membuyarkan lamunan Eva.


Eva mengambil ponsel miliknyayang ada di meja, lalu membuka beberapa pesan singkat yang isinya beberapa foto Toni sedang berpelukan mesra dengan Angela dari nomer tak di kenal.


"Drama," ucap Eva tersenyum sinis lalu ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja, namun detik berikutnya ponsel miliknya berbunyi kembali. Eva enggan memeriksanya dan memilih untuk diam.


Tak lama kemudian Eva brdiri melangkah masuk ke dalam ruangan lalu mencium kening Axelle sekilas, setela itu Eva beranjak pergi meninggalkan rumah sakit.


Selang beberapa menit sepeninggal Eva, Toni datang ke rumah sakit dan melihat kondisi putranya, namun Toni tidak menemukan Eva di sekitar rumah sakit.


****


Di tempat lain.


Angela yang baru saja keluar dari kafe favorit nya, tiba tiba kedatangan Eva dengan raut wajah tidak bersahabat.


Angela diam mematung di dekat mobil yang terparkir menatap ke arah Eva yang berjalan menghampirinya.


"Selamat siang nyonya Toni," sapa Angela tersenyum.


Eva, berdiri tepat di hadapan Angela dengan tatapan tajam.


"Oh aku lupa, tadi aku pinjam suamimu minum teh bersamaku." Kata Angela namun tetap tidak membuat Eva membuka suaranya.


"Sudah lama kami tidak menghabidkan waktu bersama, sejak kami pisah." katanya lagi.


Angela terus berbicara dan berusaha untuk memancing kemarahan Eva. Namun di luar dugaan, Eva sama sekali tidak terpancing.


Hingga Angela kesal dan menyebut nama putra Eva yang sedang terbaring di rumah sakit.


"Aku tahu, siapa sebenarnya Axelle," ucap Angela pelan.


Mendengar pernyataan Angel, tanpa basa basi. Eva langsung mencengkram rambut Angel dengan kuat, lalu mendorong dan membenturkan kepala Angela ke kaca mobil.


Tangan Eva, masih belum melepaskan cengkramannya, meski darah segar mengalir di pelipis Angela.


Dengan tatapan yang menusuk tajam seolah siap membunuh mangsanya.


"Jangan bicara omong kosong." Kata Eva.


Angela terlihat meringis dan ketakutan, tapi melihat Eva yang terlihat berbeda dan buas. Angela menahan rasa sakit, dari pada berurusan dengan Eva.


Eva menghempaskan cengkramannya, hingga Angela terjatuh. Setelah itu, Eva pergi meninggalkan Angela yang masih terlihat syok.


Angela bangkit dan berjalan tertatih, masuk ke dalam mobil. Dia coba menenangkan diri dan menarik napas panjang.


"Gila, siapa sebenarnya wanita itu." Gumam Angela.