AXELLE

AXELLE
Bab 75



Alby masih duduk di atas tempat tidur dengan tatapan kosong, Axelle dan dua sahabatnya masih berdiri tak jauh dari tempat tidur memperhatikan Alby.


Axelle memberanikan diri untuk mendekati ranjang Alby dan memintanya untuk istirahat.


"Al, sebaiknya kau istirahat.."


Axelle berniat untuk merebahkan tubuh Alby dengan menyentuh bahunya, namun rupanya Alby tidak menyukai kehadiran Axelle.


"Pergi.." ucap Alby lemah.


"A, apa?" tanya Axelle lalu menarik tangannya kembali.


"Kau juga pergi, aku tidak ingin melihatmu lagi." Ungkap Alby masih dengan tatapan kosong.


"Tapi Al?" Axelle tidak melanjutkan ucapannya, karena Raymond dan Farel menarik tangan Axelle pelan supaya tidak berdebat dengan Alby.


"Pergi dan jangan pernah datang lagi."


"Tapi Al, aku mau disini menemanimu." Jawab Axelle.


Alby tersenyum sinis mendengar pernyataan Axelle.


"Kau mau menemaniku, karena aku sedang sekarat. Bukan begitu?"


"Tidak Al, bukan begitu.." sahut Axelle mau menjelaskan, tapi Alby sudah tidak mau lagi mendengar apa apa dari orang yang ia cintai sekaligus ia benci.


"Cukup!" Alby mengalihkan pandangannya pada Axelle.


"Al..."


"Semua yang kau butuhkan aku ada, semua yang kau pinta aku berikan. Semuanya sudah aku lakukan. Bahkan apapun yang kau bilang aku selalu turutin, saat kau dalam situasi apapun aku ada." Ungkap Alby.


"Tapi sekarang hatiku sudah hancur tak terbentuk lagi, kita sudahi persahabatn kita sampai di sini. Aku lelah, sampai aku harus mengemis dan perhatianmu." Sambungnya lagi.


"Sakit hatiku, aku tidak butuh kamu apalagi perhatianmu. Pergilah, dan jangan pernah tunjukkan batang hidungmu di hadapanku." Pungkas Alby.


"Apa aku dan raymond termasuk orang yang tidak boleh menemanimu?" tanya Farel.


Alby diam, ia enggan menjawab.


"Baiklah, jika itu maumu." Kata Raymond lalu mengajak dua sahabatnya untuk meninggalkan ruangan, namun Axelle menepis tangan raymond lalu mendekati Alby dan memberanikan menggenggam tangannya.


"Al..." ucap Axelle pelan.


Axelle menundukkan kepalanya, lalu menoleh ke arah Raymond yang menyentuh pundaknya dan menganggukkan kepala.


"Alby butuh istirahat, ayo kita keluar."


Axelle menghela napas dalam, sejenak menatap punggung Alby lalu beranjak pergi dari ruangan bersama kiedua sahabatnya. Di luar ruangan, Axelle enggan untuk pergi. Dia berjanji dalam hatinya untuk tetap ada di dekat Alby meski tidak di inginkan.


Sementara di luar rumah sakit, di area parkiran. Dirga yang berada di dalam mobil, diam diam menangisi putrinya dan menyesali semua perbuatannya. Tiba tiba, ia teringat dengan ketua, dan ia memutuskan untuk menemuinya.


Sesampainya di kediaman ketua, ia langsung menghadapnya dan kebetulan Haidar sedang ada di rumah bercengkrama dengan ketua. Dirga langsung menunjuk wajah ketua dan tidak memperdulikan hal lain selain menyalahkan semua keadaan yang menimpanya adalah kesalahan ketua yang tak lain adalah ayahnya sendiri.


"Kau yang menyebabkan putriku terbaring di rumah sakit, kau juga yang menyebabkan hidupku berantakan." Tuduh Dirga.


Ketua dan Haidar langsung berdiri menghadapi kemarahan dirga dan semua tuduhannya.


"Apa kau tidak salah berucap?" tanya ketua.


"Ini semua salahmu!" tunjuk Dirga.


"Kalau memang kau sudah menemukan putramu, kenapa kau adakan pertandingan yang tidak masuk akal!"


Ketua tersenyum dengan tatapan lembut menatap putra ketiga nya.


"Kenapa kau baru menyadarinya, kenapa tidak dari awal menolak? bukankah kau yang memintaku untuk mengadakan pertandingan itu, apa kau lupa?"


Dirga diam sejenak, dan mengakuinya dalam hati namun ia yang tidak mau di salahkan tetap bersikeras menuduh ketua penyebab putrinya terbaring di rumah sakit. Haidar yang sudah mengetahui semua kejahatan Dirga yang sudah me3nyiksa putrinya sendiri sejak kecil akhirnya angkat bicara.


"Jaga bicaramu kak, aku tahu semua apa yang sudah kau lakukan terhadap Alby. Kakak siksa putrimu sendiri, dan tidak pernah bisa menerima kehadirannya sebagai perempuan." Ungkap Haidar.


"Diam kau!" tunjuk Dirga pada Haidar.


"Kau yang diam!" ucap ketua dengan nada tinggi, membuat Dirga diam.


"Asal kau tahu, kau hanyalah anak angkat istriku. Bukan anak kandungku, sama seperti kau angkat Gerry. Tetapi, aku tidak menyangka, kau bisa memperlakukan anak angkatmu seperti anak sendiri tapi buas terhadap putri kandungmu sendiri. kau terlalu ambisi dengan kekuasaan Dirga!"


Bagai di sambar petir, mendengar kebenaran yang seki8an lama di tutupi oleh ayahnya. Dirga mundur satu langkah, dadanya bergemuruh tubuhnya gemetar coba untuk menguasai perasaan dan emosinya.


"Kenapa baru sekarang kau katakan ini semua..."


"Karena kau terlalu berambisi, kau tidak mau mendengar apapun bahkan kau selalu membangkang tidak seperti Toni putraku." Jawab ketua.


"Toni! Toni! kalian sama saja!" teriak dIrga sambil mengacak rambutnya lalu beranjak pergi meninggalkan kediaman ketua dengan perasaan hancur.