AXELLE

AXELLE
Bab 68



Alby keluar dari ruangan setelah pemandu acara mengumumkan kalau Alby pemenangnya, tak lama kemudian Raymond dan Farel menyusul Alby ke ruangan lain.


Alby menyadari kedatangan kedua sahabatnya yang sudah berdiri di hadapannya. Alby diam menundukkan kepala sambil duduk di kursi menyembunyikan air matanya.


"Puas kalian..." ucap Alby masih trtunduk. Raymond jongkok di hadapan Alby, memperhatikan bulir air mata yang jatuh ke lantai.


"Aku tidak bermaksud begitu, tolong maafkan aku..."


"Kalian sudah menghancurkan rencanaku, mungkin kalian senang aku menjadi boneka papa tanpa merasakan kasih sayang yang tulus dari papa ku sendiri.


Raymond menelan salivanya dan tertunduk untuk sesaat, mungkin ia mengerti apa yang Alby alami. Tetapi tidak mungkin sama bagaimana rasanya berada di posisi Alby.


"Sungguh maafkan aku..." ucap Raymond berkali kali, tak lama Farel ikut jongkok di hadapan Alby dan coba menenangkannya.


"Axelle sahabat kita, dia salah atau tidak terhadap kita, tetap kita harus berikan dia pelajaan. Dengan mendiamkannya itu sudah cukup untuk membuatnya sadar. Tetapi, jangan sampai kita meninggalkannya." Ungkap Farel.


Alby mengangkat wajahnya, menatap kedua sahabatnya sambil mengusap air mata di matanya.


"Lalu, bagaimana dengan aku?" tanya Alby.


"Kau tahu, apa bedanya teman dan sahabat?" tanya Farel pada Alby.


"Teman, teman datang silih berganti di saat kita senang. Berbeda dengan sahabat, seseorang yang tidak meninggalkanmu saat kau terpuruk." Sambung Farel.


Alby menatap serius wajah Farel dengan senyuman samar.


"Teman dan pacar, yang menyebabkan kita meninggalkan sahabat. Tapi sahabat, selalu ada ketika teman dan pacar meninggalkanmu." Pungkas Raymond.


"Dan, kita adalah sahabat. Sahabatmu dan sahabat Axelle." Imbuh Farel.


Alby kembali menundukkan kepalanya, dan kembali menangis tanpa suara. Tanpa mereka sadari, Axelle sudah berdiri di belakang mereka.


"Maafkan aku..."


Raymond dan Farel langsung berdiri dan menatap ke arah Axelle.


"Aku bukan sahabat yang baik, aku juga yang mennyebabkan persahabatan kita menjadi renggang," ucap Axelle.


"Al, maafkan aku.." sambung Axelle memperhatikan punggung Alby yang masih duduk membelakangi.


"Aku.." Axelle tidak melanjutkan ucapannya, karena Alby langsung berdiri dan menoleh ke arah Axelle.


"Alby!!" panggil Axelle hendak mengejar Alby namun di halangi oleh Raymond dan Farel.


"Biarkan Alby tenang, kau tidak tahu apa yang sudah di lewatinya selama ini." kata Raymond.


"Mengapa dia menganggapku musuh, apa salahku?" tanya Axelle.


"kau serius ingin tahu?" tanya Raymond.


Axelle menoleh ke arah Raymond.


"Apa yang sudah aku lewati?" tanyanya.


"Alby tidak [pernah menipumu, atau menipu kita. Dia berpura pura menjadi laki laki bukan tanpa alasan," ucap Farel.


Raymond menceritakan pada Axelle, selama ini ALby terpaksa berpenampilan layaknya laki laki hanya demi melindiungi dirinya dari setiap pukulan dan siksaan yang di terimanya.


Raymond terus menceritakan semua hal tentang Alby yang selama ini tidak mereka ketahui. Alby yang ceria, menyimpan banyak luka dan trauma. Keluarga, yang seharusnya menjadi rumah ternyaman untuknya pulang justru sebaliknya bagai neraka buat ALby.


Axelle terdiam, ia menyesal karena pernah menganggap ALby telah menipunya.


"Alby yang sudah mendonorkan hati, mendonorkan darahnya buatmu. Tapi, berapa kali Alby meminta pertolonganmu, kau sama sekali tidak ada. kau sibuk dengan Marsha, cewek yang kau ratukan." Ungkap Raymond panjang lebar dengan sedikit kesal saat menceritakan itu semua.


Axelle menjatuhkan tubuhnya dan duduk diatas lantai, di ikuti dua sahabatnya. Raymond menyentuh pundak Axelle.


"Masih ada kesempatan, buatmu memperbaiki hubungan dengan Alby. Jangan sampai kau menyesal saat Alby sudah tiada." Pesan Raymond.


"Alby, maafkan aku...' ucap AXelle.


"Alby tidak butuh kata maafmu, tapi tunjukkan lewat sikapmu." Kata Farel.


"Tapi, bagaimana dengan marsha. Aku sudah berjanji padanya, dan aku ga bisa membohonginya." Kata Axelle bingung.


"Kau menjaga perasaan marsha, dan mellukai perasaa sahabatmu?" tanya Raymond.


"Bagaimana dengan perasaan Alby? tapi itu terserahmu saja, mungkin kau akan tahu rasanya jika di posisi Alby." Pesan Farel lalu berdiri, di ikuti oleh Raymond.


"Aku dan Farel, sebagai sahabatmu dan ALby. Tidak akan pernah meninggalkan kalian."


Setelah bicara seperti itu, mereka berdua meninggalkan tempat pertandingan, di ruang pertandingan terdengar pemandu acara sedang mengumumkan untuk lusa. haidar melawan Axelle, dan sebagai puncaknya. Alby akan berhadapan dengan Haidar jika mampu mengalahkan Axelle.