
Axelle menjatuhkan tubuh nya di atas tempat tidur. Matanya menatap langit langit kamar dengan segala pertanyaan di benaknya. Pikirannya mulai berperang dengan hati nuraninya yang paling dalam. Akhir akhir ini cukup melelahkan bagi Axelle, apalagi mengingat sikap dan ucapan Masha yang sering tidak masuk akal dan terlalu berbelit belit. Padahal, Axelle hanya butuh penjelasan bukan perdebatan.
Lamunanya tiba tiba buyar saat mendengar suara pesan masuk di ponsel nya. Axelle mengecek ponselnya dan ada pesan dari nama tak di kenal di ponsel nya.
"Datanglah ke Cafe Mentari sekarang."
Axelle mengerutkan dahinya dan bertanya tnya, siapa yang memintanya datang ke tempat itu. Awalnya Axelle mengabaikan pesan singkat tersebut dan merebahka kembali tubuhnya menatap langit langit kamar.
Namun pesan singkat itu tiba tiba mengusik pikirannya mengusik lamunannya, apa salahnya kalau ia datang ke kafe tersebut pikir Axelle.
Axelle langsung bangun, dan turun darin atas tempat tidur. Bersiap siap menuju kafe yang di sebutkan dalam pesan singkat tersebut.
Tak lama kemudian ia sudah berada di kafe mentari. Namun ia bingung, ada apa di kafe mentari? tidak ada yang aneh. Dari pada bingung, akhirnya Axelle memesan minuman segar.
Axelle duduk di kursi dekat kaca jendela kafe dan memperhatikan semua pengunjung yang ada di kafe tersebut.
Saat minuman datang, Tiba tiba mata Axelle tertuju pada gadis yang duduk di kursi pojok bersama dua orang pria.
"Marsha?" Axelle mengenali gadis itu.
"Sedang apa dia disini dan bersama siapa?" Axelle bertanya tanya.
Axelle memperhatikan dengan seksama, dan dia mengenali salah satu pria itu.
Rafka!!!
Marsha terlihat sedang berbicara dengan serius bersama mereka.Tapi sebenarnya hanya pria yang di sebelah Marsha yang banyak bicara. Marsha terlihat beberapa kali menolak apa yang dibicarakn dan Rafka hanya diam mendengarkan.
"Siapa laki laki itu?!" Axelle bertanya tanya siapa pria yang di sebelah Marsha selain Rafka.
Karena Axelle duduk cukup jauh dari mereka dan pengunjung disana lumayan banyak membuat Marsha tak menyadari keberadaan Axelle.
Axelle sudah tak sabar, rasanya ingin sekali dia menghampiri Marsha dan bertanya siapa sebenarnya Rafka dan pria itu.
Namun Axelle kembali berpikir, mungkin dia salah satu keluarga Marsha dan mereka sedang membicarakan hal yang serius.
Tapi Axelle kembali terganggu dengan keberadaan Rafka disana. Apa hubungan Marsha sebenarnya dengan Rafka?
Axelle bangun dari tempat nya dan hendak menghampiri Marsha untuk menanykan ada hubungan apa antara mereka berdua. Bukan hal yang harus Axelle abaikan, karena mereka sering kedapati tengah bersama.
"Tidak mungkin kalau hanya sebatas kebetulan, kalau sekali itu bisa aku maklumi tapi kalau berkali kali, apa namanya?" gumam Axelle.
Axelle berdiri, dan memutuskan untuk bertanya langsung saat mereka bersama untuk mendappatkan sebuah kejelasan. Namun langkah Axelle di halangi Haidar yang tiba tiba saja sudah berdiri di hadapannya dan tersenyum.
"Kau mau kemana?" tanya Haidar.
'Jangan halangi langkahku." Balas Axelle berjalan ke arah kiri untuk mendekati marsha. Namun Haidar kembali menghalngi langkah Axelle.
Axelle tidak perduli dengan Haidar, ia tidak ingin kehilangan jejak Marsha lagi dan menangkap basah mereka brdua.
Namun, kali ini Axelle kembali harus pasrah. Secepat kilat, Axelle kehilangan jejak Marsha dan Rafkka lagi. Axelle menatap tajam Haidar dan dengan kesal mendorong tubuh haiar hingga mundur ke belakang.
"Kenapa kau selalu menghalangiku, dann kenapa kau selalu ada di waktu aku tidak menginginkan kehadiranmu,"
Haidar tersenyum lebar.
"Kau jangan marah dulu, suatu hari nanti kau akan sangat berterima kasih padaku," imbuh Haidar.
Axelle diam menatap marah wajah Haidar.
"Berterima kasih? padamu?" tanya Axelle dengan senyuman sinis dan di jawab anggukkan kepala oleh Haidar.
"Pergi dari hadapanku!"
Axelle mendorong lagi tubuh haidar lalu meninggalkannya.
"Axelle!" panggil Haidar sambil mengejarnya dan berhasil mensejajarkan langkahnya ketika sudah sampai di halaman kafe.
"Aku akan memberitahu siapa Marsha, saat kau bertanding denganku nanti." Bisik Haidar di telinga Axelle dan membuatnya menghentikan langkah, menatap Haidar yang pergi menjauh.
"Menyebalkan!" gerutu Axelle.