AXELLE

AXELLE
Bab 73



Di rumah sakit.


Axelle masuk ke dalam rumah sakit menggendong Alby dan berteriak memanggil suster.


"Suster! Tolong aku cepat!"


Dua orang suster mendorong brangkar lalu Axelle meletakkan tubuh Alby di atas brangkar tersebut lalu mendorongnya bersama kedua suster tadi menuju ruang IGD.


"Dek maaf. Kamu tidak boleh masuk." kata suster menghalangi Axelle untuk masuk ke dalam ruanmgan.


"Tolong selamatkan sahabat saya, sus." Kata Axelle panik.


"Adek tenang ya, kami akan berusaha." Jawab suster lalu menutup pintu ruang IGD.


Axelle menunggu dengan perasaan yang campur aduk, semua hal yang sudah ia lewati bersama Alby terbayang di benaknya. Bibir Axelle, bersamaan dengan bulir air mata jatuh membasahi pipinya.


Axelle jongkok di depan pintu ruangan sambil memegang kepalanya. Rasa penyesalan hadir memenuhi dada dan membuat sesak. Di saat bersamaan, Axelle terbayang wajah Marsha dan semua pengakuannya. Ruangan yang begitu luas terasa sempit bagi Axelle.


"Ah sial, bodohnya aku!" teriak Axelle sambil memukul kepalanya.


Tubuh Axelle bergetar, menahan tangisannya supaya tidak terdengar.


Axelle teringat Farel dan Raymond, saat ini ia membutuhkan mereka berdua. Axelle mengambil ponsel di saku celananya sambil mengusap air mata lalu menghubungi kedua sahabatnya.


Setelah beberapa saat berbicara dengan kedua sahabatnya, ia menutup sambungan telpon dan memasukkannya lagi ke dalam saku celana.


"Maafkan aku, By..." ucapnya dengan suara parau.


Axelle kembali larut dalam kesedihan dan penyesalannya telah mengabaikan ketulusan Alby padanya. Sementara wanita yang ia cintai, tega membohonginya. Axelle tidak menyadari suara langkah orang yang berlari ke arahnya dan menyentuh pundaknya.


"Xell..."


Axelle menoleh, saat mengetahui yang datang itu dua sahabatnya. Axelle langsung berdiri dan memeluk keduanya dengan erat.


"Alby..." ucap Axelle terisak.


"Sudah, jangan menangis. Jangan perlihatkan air matamu di depan ALby," sambung Farel.


Axelle menganggukkan kepalanya, lalu melepaskan pelukannya. Mereka bertiga saling menguatkan dan memberikan dukungan pada Axelle. Mereka berdua tidak menyalahkan Axelle meski Axelle sendiri menyalahkan dirinya.


Raymond mengajak Axelle duduk di kursi, mereka berdua terus berusaha meneangkan Axelle karena perasaan bersalah terhadap Alby. Disaat mereka tengah menenangkan Axelle, mereka bertiga di kejutkan dengan kedatangan Dirga dan Gerry yang berniat membawa pulang Alby.


Axelle yang masih di kuasai emosi, langsung berdiri dan menghajar Dirga tanpa basa basi. Gerry langsung bereaksi hendak membalas Axelle, namun di halangi oleh Raymond dan Farel.


"Apakah Tony tidak mengajarkamu sopan santun terhadap orang tua??" tanya Dirga sambil mengusap wajahnya akibat pukulan keras Axelle.


"Apa paman? sopan santun?" tanya Axelle tersenyum sinis.


"Kau perlakukan Gerry seperti raja, sementara putrimu kau perlakukan seperti binatang. Apa kau tidak salah, menasehatiku?" sambung Axelle geram sambil menunjuk wajah Dirga.


"Diam kau!" bentak Dirga.


"Ayah macam apa kau ini!" ucap Axelle dengan nada tinggi. "Aku akan melaporkannya ke polisi!" ancam Axelle, seraya maju satu langkah hendak memukul wajah Dirga namun di halangi olehh Raymond.


"Cukup!" bentak Raymond, dan Axelle menurunjkan tangannya tidak jadi memukul Dirga.


"Biarkan dia menyesali perbuatannya, sebaiknya kita fokus ke Alby." Sambung Raymond menarik mundur tubuh Axelle supaya tidak ada keributan lagi.


Disaat bersamaan, Doktewr keluar dari ruangan dan memi8nta mereka untuk tidak membuat keributan. Dirga hanya diam, pura pura tidak perduli dengan keadaan putrinya. Namun saat dokter mengatakan bahwa kanker darah yang di derita ALby sudah ada di stadium akhir. Antara percaya dan tida, Dirga masih menutup hatinya untuk menerima kebenaran bahwa usia Alby tidak akan bertahan lama.


Setelah bicara panjang lebar, dokter kembali masuk ke dalam ruangan. Axelle mundur beberapa langkah lalu duduk di kursi sambil meremas rambutnya sendiri dan merasa bersalah terhadap Alby.


Sementara Dirga balik badan dan meninggalkan rumah sakit tanpa bicara sepatah katapun di susul oleh Gerry. Raymond dan Farel jongkok di hadapan Axelle.


"Kau tidak perlu merasa bersalah, ini sudah pilihan Alby." Kata Raymond di benarkan oleh Farel.


Axelle tidak dapat berkata apa apa lagi, ia tetap merasa bersalah pada Alby karena sikapnya telah membuat Alby patah hati dan tidak mau melakukan pengobatan. Bahkan, ia tidak ada di sisi Alby saat menjalani hari harinya yang menyakitkan.