
Axelle pulang ke rumah dengn langkah gontai, seragamnya kotor dan rambutnya berantakan. Saat hendak menaiki anak tangga, ia berpapasan dengan Eva.
"Kau baik baik saja?" tanya Eva memperhatikan Axelle dari ujung kepala hingga kaki.
Namun Axelle hanya mengangguk, lalu berjalan menaiki anak tangga.
"Ada masalah apalagi..." gumam Eva, lalu memutuskan untuk membuatkan coklat panas kesukaan Axelle.
Sementara di dalam kamar, Axelle melampiaskan kekesalannya dengan memainkan bola basket lalu di lemparkan ke sembarang tempat, hingga menjatuhkan laptop miliknya ke lantai juga barang barang yang di atas meja jatuh ke lantai berserakan.
"Apa salahku, mencintai Marsha sampai kalian membenciku!" teriak Axelle.
PRANKKK
Guci kecil di atas meja terjatuh ke lantai, terkena lemparan bola basket.
"Aku tahu salah, tapi kalian sama sekali tidak mengerti apa yang sedang aku rasakan!" teriaknya lagi.
"Axele, apa yang kau lakukan?!"
Eva yang baru saja membuka pintu kamar terkejut melihat kamar Axelle berantakan.
"Exelle..." Eva berjalan perlahan mendekati Axelle, lalu memeluknya dengan erat.
"Letak kesalahanku di mana, mom?" tanya Axelle.
Eva diam, mendengarkan semua keluh kesah putranya, ia tidak memberikan komentar apapun. Eva hanya membiarkan putranya mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya.
"Raymond menjauhiku, Farel bilang aku bodoh. Alby marah padaku." Ungkap Axelle.
Eva mengusap punggung Axelle, lalu membawanya duduk di sofa.
"Dengar, mereka sahabatmu. Mungkin mereka kehilangan sosokmu yang mereka kenal." Ujar Eva.
"AKu tahu, mom. Tapi?" Axelle tidak melanjutkan ucapannya.
"Kau yakin dengan Marsha? sampai kau harus memberikan seluruh hatimu buat dia?" tanya Eva.
"Yakin, mom." Tegas Axelle.
Eva terdiam menatap kedua bola mata Axelle, ia melihat kesungguhan di mata putranya. Namun ia sadar, ada yang salah dengan putranya. Eva tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya, ia butuh suaminya untuk membantu Axelle.
Eva beranjak dari sofa lalu pergi meninggalkan kamar putranya. Beberapa menit kemudian, ia kembali mendatangi kamar Axelle. Namun, ia sudah tidak ada di kamarnya.
"Huff, kemana lagi perginya anak nakal itu." Gerutu Eva.
Sementara itu, Axelle nekat menemui ALby di rumahnya untuk menanyakan apakah ALby ikut dalam pertandingan atau tidak. Beruntung, Dirga dan Gerry tidak ada di rumah.
Alby berdiri di ambang pintu yang teruka berhadapan dengan Axelle.
"Boleh aku mask? ada yang mau aku tanyakan." Kata Axelle, namun di tolak oleh Alby dengan tegas.
"Tidak, katakan secepatnya ada apa?"
Axelle menarik napas panjang lalu melanjutkan pertanyaannya.
"Apa kamu ikut dalam pertandingan itu?" tanya Axelle.
"Ya," jawab Alby singkat.
"Apa kau tidak merubah keputusanmu?" tanya Axelle lagi.
"Tidak," jawab Alby ketus.
"Baik, jika itu keputusan kamu. Tapi ingat, aku tidak akan melawanmu saat pertadingan nanti. AKu tidak tertarik dengan kekuasaan." Ungkap Axelle.
"Kau pikir aku perduli, kau mau melawan atau tidak," jawab ALby.
"Tapi aku perduli sama kamu." Axelle menundukkan kepalanya sesaat.
"Oya?" ucap Alby meragukan kata kata Axelle.
"Terserah..." balas Axelle lalu balik badan dan meninggalkan rumah Alby begitu saja.
Alby tersenyum, memperhatikan Axelle hingga hilang dari pandangannya.
"Aku tidak di inginkan oleh siapapun, termasuk papa ku sendiri. Jika memang itu takdirku, akan aku percepat kepergianku." Batin Alby.
Alby kembali menutup pintu rumahnya, dan memilih untuk mempersiapkan diri untuk pertandingan esok hari.